
Rasa sakit di punggung sudah agak mendingan tak sepedih seperti sebelum-belumnya, mungkin akibat obat oles dan pil yang diberikan tuanku yaitu untuk mengobati luka luar dan dalam. Semua efeknnya sangat ampuh sekali sampai rasa nyut-nyutannya sudah sedikit mereda.
Dengan hati yang diselimuti rasa takut, kini langkah mencoba berjalan menemui majikannku, yang ada di dalam ruangan kerja mereka. Diri ini mencoba secepatnya menemui mereka untuk meminta maaf.
Tok ... tok, suara pintu sudah kukentuk.
"Siapa?" tanya mereka di dalam.
"Ini Alex, tuan!" jawabku.
"Masuk saja," jawab suara beliau dari dalam.
Ceklek, pintu langsung kubuka saat mereka menyetujuiku masuk.
"Ada apa Alex?" tanya tuanku dengan ramah.
Berbeda sekali dengan mama Amel yang terlihat ketus sekali pandangannya, seperti orang tak suka aku datang.
"Itu tuan dan nyonya. Maksud kedatanganku kesini adalah ada yang ingin aku sampaikan?" jawabku dalam kegugupan.
"Bicara saja, cepat. Muter-muter saja dari tadi kamu ngomong," sewot ucapan nyonyaku menjawab.
"Mama, jangan begitu. Kasih Alex waktu untuk ngomong sebentar, atas apa yang ingin dia sampaikan. Ngomonglah Alex, apa yang ingin kamu sampaikan?" suruh tuanku ramah dengan sikap pembelaannya.
"Aku ingin memintaa maaf yang sebesar-besarnya pada tuan dan nyonya, atas apa yang telah kami lakukan kemarin!" ucapku yang sudah terselimuti rasa grogi, dengan pelipis telah dibanjiri oleh buliran-buliran keringat kecil.
"Kamu gak usah lebay meminta maaf, gitu. Semua sudah terjadi, yang tak bisa mengulang kejadian itu lagi," ketusnya ucapan mama Amel.
"Sudah, ma! Jangan tak enak begitu ngomongnya," pembelaan tuanku lagi.
"Iih, papa ini. Selalu saja membela Alex," ucap nyonya tak suka.
"Bukan gitu, ma."
"Aaah, sudahlah."
"Heeeh," hembusan nafas panjang majikan laki-laki.
"Kamu tidak perlu bersalah terlalu dalam gitu, Alex. Yang terpenting kalian tak terjerumus atas godaan nafsu yang bisa menghancurkan masa depan kalian, kami bisa mengerti dan memahami akan hal itu. Mungkin kamu melakukan itu semua karena tak sengaja atas permintaan manja Amel. Permintaan maafmu sudah kami maafkan, jadi tidak usah terlalu dipikirkan kejadian yang sudah terjadi," ujar sabarnya ucapan majikan laki-laki.
__ADS_1
"Iya tuan. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf atas semua kelakuanku," ucapku sekali lagi.
"Iya, Alex."
"Papa, terlalu baik sama dia. Oh...ya Alex, kalau kamu dan bik Sari masih mau bekerja disini, maka secepatnya kamu harus menjauhi Amel. Dengarkan baik-baik perkataanku itu, mulai detik ini dan seterusnya jangan pernah berbicara lagi sama Amel apalagi menemuinya. Jika kamu tak menuruti perkataanku, maka secepat mungkin kamu dan ibumu itu bisa angkat kaki dari sini. Cukup sudah kami berbaik hati pada kalian berdua, di kasih hati yang enak malah minta empedu yang pahit," Kejamnya permintaan nyonya tempatku bekerja diiringi kata-katanya yang pedas.
"Baiklah nyonya. Asalkan tuan dan nyonya tidak memecatku dan ibu, aku akan menuruti semua perintah nyonya," mudahnya jawabanku menyetujui.
"Bagus 'lah kalau kamu sadar," imbuhnya lagi.
Hati rasanya tak ingin jauh dari kekasihku Amel, tetapi demi ibu aku akan rela mengesampingkan dulu masalah percintaan kami. Pikiran begitu binggung bagaimana dengan Amel nantinya, sebab pasti dia tidak akan menerima keputusanku yang telah menghindarinya. Mungkin akulah yang sudah bermimpi dan berangan terlalu tinggi, yaitu mengharapkan untuk bersanding dengan Amel seorang wanita cantik dan kaya.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, Alex!" imbuh ucap tuanku.
"Iya, tuan."
"Mama boleh keluar sebentar. Sebab ada hal penting yang ingin kubicarakan pada Alex," perintah tuanku pada istrinya.
"Heem, baiklah."
"Ingat, kata-kataku Alex. Awas saja kalau kamu mengingkarinya!" ancam majikan perempuan, sebelum benar-benar pergi.
"Alex?" panggil tuanku.
"Iya tuan, ada apa?" tanyaku penasaran.
"Ini semua ada kaitannya tentang hubungan kamu dan Amel," ujar beliau serius.
"Aku tahu bahwa kamu sangat menyayangi dan mencintai Amel, maka dari itu ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu. Seandainya aku tidak bisa merawatnya lagi, aku benar-benar minta tolong padamu agar bisa merawat dan menjaga dia kelak. Amel memang tak salah memilih orang, mungkin hanya dirimulah yang dapat menjaganya dengan baik. Tetaplah bersabar menghadapi istriku, walau dia marah tak suka tapi hatinya sebenarnya sungguh baik. Mungkin nyonya hanya ingin Amel fokus ke sekolahnya dulu, yaitu yang tak ingin bermain-main dalam hal pacaran sebab bisa menganggunya dalam belajar, sehingga untuk sementara ini mamanya kekuh melarang untuk berpacaran sama kamu," jelas majikan.
"Ada sesuatu yang penting sekali kuberitahukan padamu. Jika suatu saat ada masalah di keluarga kami dan aku sebagai orang tua tak bisa menemani Amel, maka temuilah pangacara khususku yang kamu sudah mengenalnya juga yaitu pengacara Doni. Sebab semua hal penting pada keluargaku aman berada ditangannya. Jadi itulah pesan dan amanat yang ingin kusampaikan padamu. Semangatlah Alex, karena aku akan memberi dukungan penuh padamu untuk mendapatkan Amel, jadi sebagai lelaki jangan mudah patah semangat," ucapan pemberian semangat yang diberikan tuanku, dengan pesan panjang lebarnya khusus untukku.
"Baiklah tuan, aku akan menjaga semua pesan dan amanat tuan," jawabku santai.
"Terima kasih, Alex."
"Sama-sama, tuan."
"Kalau begitu saya permisi dulu, tuan!" pamitku.
__ADS_1
"Ooh, iya Alex. Ingatlah semua pesan-pesanku barusan. Pasti suatu saat nanti kalian akan memerlukannya," imbuhnya sekali lagi.
"Iya, tuan.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan," ujarku menundukkan badan sambil ingin melangkah pergi.
"Iya, Alex."
Perasaan dan pikiran begitu binggung atas ucapan majikanku. Kenapa amanat yang penting disampaikan hanya khusus untukku? Dan anehnya istri majikan tadi disuruhnya keluar. Apakah beliau mengetahui atau justru sebaliknya beliau tidak mengetahui sama sekali semua pesan tuanku? Otak sedang pusing berpikir. Bagaimana bisa aku hanyalah seorang pembantu dirumahnya, bisa-bisanya diamanati beban yang begitu besar, yaitu menjaga Amel? Semoga saja aku bisa dan selalu menjaga amanat itu.
Sudah beberapa jam, sembari tadi aku tak melihat batang hidung Amel. Mungkinkah dia masih di kurung dalam kamar? Ingin sekali rasanya melihat wajahnya, walau cuma sedetik saja, tapi rasanya itu akan begitu sulit. Rasa ingin melihatnya sudah begitu mengebu, tapi tadi aku sudah berjanji pada kedua orang tuannya untuk menjauhinya. Mungkin nanti waktu dia makan malam aku bisa melihatnya walau dari kejauhan, yang terpenting bisa melihatnya sebentar sudah cukup untuk bisa menenangkan jiwaku.
*******
Beberapa jampun telah berlalu. Aku sekarang telah mondar-mandir didapur sebab gelisah sekali rasanya menunggu Amel keluar untuk makan malam.
"Kamu kenapa, Alex? Kulihat dari tadi mondar mandir terus?" tanya ibu sudah menghampiriku.
"Hehehehe, ngak ada apa-paa kok, bu!" jawabku cegegesan.
"Oh ya bu, itu mau dibawa ke mana?" tanyaku sebab tangan ibuku membawa nampan berisi makanan.
"Untuk non Amel," jawab ibuku.
Deeg, kagetnya diriku sekarang.
"Kok?" tanyaku binggung.
"Nyonya besar yang menyuruh membawa ini semua," jawab ibuku.
"Ooh."
"Sudah sana. Kamu pergi ke dapur 'gih! Bantuin kerjaan ibu untuk mencuci piring," suruh ibu.
"Baik, bu!" jawabku lesu.
Ternyata impian untuk melihatnya pupus sudah, yang malam ini tak dapat melihat Amel lagi. Mungkin hukuman masih diberlakukan mamanya, membuat makanannya harus diantarkan dalam kamar.
"Heeeh. Tak apalah, jika hari ini tak bisa melihatnya, pasti besok di sekolah bisa bertemu sepuasnya," gumanku dalam hati.
__ADS_1