
Kami sudah berkunjung kerumah pak Ahmad, yang kata Alex keluarga beliau sangat berjasa atas penyelamatan nyawanya kemarin. Tanpa mereka, mungkin nyawa alex tidak tertolong sehat begini, akibat sudah tenggelam dan hanyut ke dasar sungai.
"Assalamualaikum," ucap salamku dan Alex kompak.
"Walaikumsalam," jawab suara seseorang pria.
"Nak Alex?" sapa beliau ketika melihat kami tengah berdiri didepan pintu rumah beliau.
"Pak Ahmad. Gimana kabarnya?" tanya Alex yang menghampiri beliau untuk langsung mencium tangan punggung.
Aku yang melihat aksi alexpun, tanpa ragu kini ikutan juga hormat mencium tangan punggung beliau.
"Alhamdulillah, kami sekeluarga baik-baik saja, nak Alex!" jawab beliau ramah.
"Ayo mari masuk-masuk, jangan berdiri terus didepan pintu begini," suruh beliau mempersilahkan.
"Iya, pak. Terima kasih," jawabku sambil menganggukkan kepala pelan.
"Buk ... buk, kesini. Ini ada nak Alex sedang bertamu," teriak Pak Ahmad memanggil istrinya.
"Iya, pak. Sebentar," jawab teriakkan balik istrinya.
__ADS_1
Tak begitu lama kini akhirnya istri Pak Ahmad muncul menemui kami juga, dengan membawa beberapa minuman dan camilan diatas nampan.
"Kak Alex?" ujar teriak anak kecil yang langsung memeluk pria yang kini jadi suamiku.
"Sini ... sini, sayang!" panggil Alex ramah.
"Kak Alex lama sekali tidak datang kesini untuk menjenguk? 'Kan aku kangen untuk bermain sama kakak seperti kemarin," celoteh bocah kecil itu yang sepertinya akrab sekali pada suami.
"Ini sudah datang, Budi. Maaf, ya. Kakak kemarin sibuk sebab banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi tidak sempat untuk bertandang kesini," jawab Alex ramah mencoba memberi pengertian.
"Iya, Budi. Kak Alex ada kerjaan yang sibuk, jadi harap dimaklumi. Sini nak, kita kebelakang saja, bantuin ibu memasak," suruh istri Pak Ahmad.
"Nanti juga kak Alex bakal main sepuasnya sama Budi. Sekarang kita pergi dulu, karena kak Alex mungkin ada perlu penting sama bapak. Jadi ayo kita pergi sebentar kebelakang," pinta istri Pak Ahmad membujuk.
"Heeh, iya bu. Kak Alex, Budi pamit kebelakang dulu, ya. Jangan pulang dulu sebelum nanti main sama Budi," celoteh permintaannya.
"Sipp, jagoan. Pasti itu."
Akhirnya anak itu pergi digandeng oleh ibunya, sedangkan aku dan Alex hanya tersenyum-senyum manis melihat kelucuan dia saat berbicara.
"Ini siapa nak, Alex?" tanya Pak Ahmad menunjuk ke arahku.
__ADS_1
"Dia istri saya, pak. Dan kami baru semingguan ini menikah."
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah menikah. Apakah dia wanita yang bernama Amel?" tanya beliau penasaran.
"Iya, pak. Saya Amel. Bapak kok tahu nama saya, yang padahal kita baru pertama kali ini bertemu?" tanyaku merasa heran.
"Dulu waktu Alex masih dalam keadaan tak sadarkan diri, dia sering kali mengigau menyebut nama kamu. Mungkin akibat besarnya cinta kepada nak Amel, hingga dia menyembut nama kamu terus-menerus walau keadaan mata terpejam," terang Pak Ahmad.
"Benarkah itu, pak?" tanyaku tak percaya.
"Benar, nak Amel. Kalau tak percaya tanya sendiri sama anaknya," suruh beliau.
Netra hanya bisa menatap penuh selidik, saat Alex kini hanya tersenyum malu-malu, dengan tengkuk punya dia sendiri diusap-usap pelan.
"Bapak senang sekali atas persatuan cinta kalian. Tak menyangka bahwa takdir yang telah menghalangi akhirnya bisa berakhir juga dengan berbuah manis, atas kesabaran kalian dalam menghadapi cobaan. Bapak senang atas sikap kamu, Alex. Yang masih mempertahankan cinta pertama dan kini menjadi terakhir dengan penuh rasa kasih sayang. Jagalah cinta itu jangan sampai kau melukainya, sebab tak mudah mendapatkan seseorang yang benar-benar tulus mencintai kita dalam sehidup semati. Bapak hanya bisa berpesan itu saja, semoga kalian bahagia sampai kakek nenek suatu saat nanti," ucap nasehat pak Ahmad.
"Iya, pak. Terima kasih atas doanya. Pasti aku akan menjaga istriku ini dengan baik. Cinta memang perlu dipertahankan, saat seseorang itu ikhlas mencintai kita dunia akhirat," jawab Alex sudah mengenggam erat tanganku.
Akhirnya obrolan kami lanjutkan, sampai hari tak terasa sudah menjelang sore. Budi yang anaknya aktifpun sempat kami ajak bermain bercanda bersama. Sungguh beruntung Alex kemarin ditolong oleh keluarga yang baik dan selalu legowo untuk menerima keadaan Alex yang sedang terluka.
Kami akhirnya merencanakan berbulan madu ke Singapura, dengan tujuan selain jalan-jalan, ingin memberi parawatan terbaik atas luka wajah Alex, yang sempat membuatnya tak percaya diri yaitu dengan menjalani operasi disana.
__ADS_1