
Rasa lelahpun terasa sekali disekujur tubuhku sekarang, berkali-kali tangan telah mengusap-ngusap tekuk saat bagian itu terasa kaku dan berat ditambah sedikit ada rasa pusingnya juga. Dari kejauhan kini nampak dua sejoli yang tengah duduk mesra, dengan wajah sumringah tesenyum sama-sama saling bercanda ria.
"Ya ampun, mereka ini. Apa ngak malu bermesra-mesraan didepan rumah kayak gitu. Mentang-mentang sudah mau menikah, seenaknya saja bermesraan tanpa melihat kondisi tempatnya," guman hati yang tak suka.
"Oh ya, Amel. Nanti ketika acara resepsi pernikahannya, kamu mau nuansa yang bagaimana?" tanya Iwan pada Amel, saat aku baru mulai melangkahkan kaki diteras rumah.
"Wah sayang, tentunya harus mewah dan indah dong! Ini 'tuh pesta untuk kita sekali seumur hidup. Ya, tentunya harus mewah dan meriah, biar orang-orang bisa melihat dan mengenang betapa indahnya pernikahan kita," ujar Amel berbicara pada Iwan, tapi matanya menatap tajam kearahku seperti sedang menyindir.
"Assalamualaikum," Salamku mencoba menyapa mereka.
"Walaikumsalam. Eeh, ada Alex. Baru pulang kerja ternyata?" tanya Iwan yang kini sudah melihatku.
"Iya, Iwan. Aku mau pergi kedalam dulu, sebab aku capek sekali. Oh ya, turuti saja semua permintaan tuan putri kamu itu, biar nanti ngak ngambek. Seandainya jika dia itu marah, bisa-bisa batal juga pernikahan kalian itu," balik sindirku.
"Iiiiih, kalau ngak suka bilang saja, ngak usah doakan yang jelek-jelek, pakai ngomong batal nikah segala. Sorry ... sorry saja, kami ngak akan bakal batalin nikah, demi hama-hama penganggu seperti kamu itu," balas ucapnya ketus.
"Apa? Hama? Gak salah dengar akunya? Kalau mau menikah, ya harus betul-betul menikah, jangan matanya lirik sana-sini, paham!" Langkah kaki kini sudah dipertengahan pintu sambil membalas ucapan Amel.
"Ciieh, siapa juga lirik-lirik orang, kamunya saja baperan jadi orang, pede amat kau ini," celetuknya ketus lagi.
"Kamu?" ujarku dengan gigi mulai gemerutuk marah.
"Sudah aah, aku mau pergi saja. Malas rasanya meladeni orang yang tak peka, bikin lelah hati dan pikiran saja," balik lagi kusinggung ucapan Amel.
__ADS_1
"Heh, siapa yang ngak peka, kamu atau aku. Dasar cecungguk ngak tahu perasaan orang," teriak-teriak ucap Amel saat aku sudah melenggang pergi masuk rumah betulan.
"Sudah, sayang. Jangan marah-marah melulu, tak baik itu," ucap Iwan mencoba menenangkan Amel, yang masih sedikit terdengar oleh telingaku.
Pertengkaran yang adu mulut tak akan habis, jika diantara kami tidak ada yang mau mengalah. Iwan dari tadi hanya bisa terdiam, atas ucapan-ucapan sindiran kami. Ekspresi wajahnya begitu tenang, tapi menyimpan sesuatu yang tak bisa tergambar olehku untuk mencoba menebaknya apakah itu.
"Dasar wanita aneh. Mau menikah saja pamer melulu. Pakai menghina aku pulak. Lama-lama Amel ini aneh bener," ucapan hati yang kesal.
Amel tadi kelihatan begitu menatapku marah, mungkin sudah merasa bahwa omonganku, selalu ditujukan padanya.
Setelah selesai mandi, kini diri ini mencoba menyantap makan sore yang sudah disiapkan ibuku, sebelum beliau pergi untuk ke acara pangajian ibu-ibu dekat kompleks perumahan.
Sudah beberapa jam Iwan masih setia bertandang kerumah, yang kini beralih duduk didalam rumah. Betapa bahagianya tawa Amel bersama Iwan sekarang, hingga entah mengapa rasanya hati bagai teriris oleh sembilu, yang melihat dan mendengarkan mereka.
Pikiran kembali mencoba mencerna kecemburuan yang tengah melanda diri ini.
Tak seharusnya aku telah cemburu, sebab aku sendirilah yang mempersilahkan dan merestui hubungan mereka, dan mengapa bodohnya diri ini yang telah tak waras atas sikap mereka.
"Eghmm ... hemm ... ekgh," Dehemanku kuat saat berhasil memergoki mereka, yang tengah asyik ingin berciuman bibir.
"Eghkm, uhuk ... uhuk. Bisa ngak kalau mau ciuman ditempat lain, jangan bermesum ria disini, cari tempat sepi yang bisa aman gitu! 'Kan bisa sepuas-puasnya kalau sepi, atas apa yang kalian lakukan sekarang. Kalau ketahuan warga 'kan bisa gawat, terciduklah kalian atas perbuatan tak sen*n*h disini," ucapku tak suka yang terdengar berlebihan.
"Dasar aneh, ya ... ya. Sudah Iwan, kita pergi saja dari sini. Jangan pedulikan orang sinting ini, ganggu orang lagi bermesraan saja. Maklum dia itu jomblo akut, jadi sukanya hanya bisa ngusilin orang pacaran saja," Kemarahan Amel menyinggungku.
__ADS_1
"Apa kamu bilang sinting, jomblo akut?" teriakku pada Amel tak suka.
"Hei ... hei, mau kemana kamu? Kita belum selesai ngomong, jangan main pergi saja kamu" teriakku lagi saat Amel sudah menarik Iwan, untuk berlalu pergi menghindariku.
"Dasar wanita aneh, masak sudah ngatain aku sinting dan jomblo akut! 'Kan ngak etis banget ngatain kayak gitu. Sungguh-sungguh kasar kata-katanya tadi. Awas saja kalau kita berhadapan muka lagi, akan kubuat perhitungan sama kamu. Tunggu saja Amel," Kekesalanku dalam hati dikuasai oleh emosi.
Kepala kugaruk-garuk, sebab mengingat tindakan yang barusan kulakukan, apakah salah atau benar. Kenapa juga aku harus ikut mencampuri urusan mereka.
"Aaah, kenapa juga tadi aku melarang mereka berciuman, itukan hak mereka yang akan menikah menjadi suami istri yang sah. Sungguh-sungguh aneh yang terjadi padaku sekarang," Dongkolnya hati akibat sudah lancang mencampuri urusan Amel tadi.
Saat aku mencoba menyalahkan apa yang kukatakan tadi. Kini Amel sudah nampak masuk rumah kembali dengan tatapan tajam kearahku.
"Bilang saja kamu itu tadi cemburu. Ngak usah banyak ucapan yang ngegas segala! Jadinya aku tak enak sama Iwan," ucap Amel berkata padaku, sambil langkahnya melewati tubuhku untuk menuju kamarnya.
"Siapa juga yang cemburu, pede amat kau ini," Ngegasnya perkataanku lagi, dengan bibir monyong-monyong kumajukan.
"Hiiittss, kalau tidak cemburu jangan ngegas marah gitu, ketahuan sekali tahu! Kalau kamu itu benar-benar cemburu," sindirnya lagi.
Braak, pintu Amel kini dibanting tertutup secara kasar.
"Aku ngak cemburu, ingat itu! Aku tidak akan pernah cemburu, paham! Jangan ngatain orang sembarangan. Mentang-mentang kita dulu pernah pacaran, bukan berarti aku cemburu sama Iwan. Aku tadi hanya tak suka atas tindakan kalian yang tengah mes*m dalam rumah, bukan berarti cemburu, paham!" Teriak-teriakku diluar kamar Amel mencoba menjelaskan.
"Terserah," jawab Amel tak peduli.
__ADS_1
Sungguh kesal sekali kata-katanya itu, hingga aku mau marah tak bisa kuluapkan dengan baik sebab Amel telah mengurung diri dalam kamar.