Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Ketemu ibu


__ADS_3

"Hhhhhh, apakah aku bisa ketemu mereka kembali? Sedangkan jarak kota telah memisahkan kami. Semoga saja kalau ada rezeki lebih, aku akan segera menyambangi mereka lagi," guman hati yang rindu akan ketemu kekasih hati dan ibu


Pekerjaan proyek pembangunan di Semarang telah selesai, dan akhirnya aku kembali lagi untuk mengerjakan proyek baru, yaitu kembali ke kota jakarta. Walau perasaan ini begitu berat dan tak rela, saat belum terlalu puas bertemu Amel dan ibu, terpaksa sekali diri ini harus tetap pergi lagi dari hadapan mereka. Tapi untungnya alamat mereka sudah kukantongi, jadi dengan mudahnya bila ada kesempatan diri ini akan bisa menemui mereka kembali.


"Kue ... kue ... gorengan ... ayo gorengannya," Suara keras seorang perempuan, sedang menjajakan dagangannya di pagi hari.


Deg, aku yang mendengar suara itu begitu terkejut, yang rasa-rasanya begitu tak asing lagi dengan suara Ibu-ibu penjajal gorengan tersebut.


"Bukankah suara itu ... suara itu? Emm, seperti suara ibu?" Bathin hati sedang berbicara.


Tanpa banyak kata, aku langsung keluar dari rumah kos yang menjadi tempat tinggalku sekarang ini. Alangkah tak percayanya atas takdir yang kulihat barusan, ternyata yang kulihat sekarang benar ibuku, yang rupanya juga sudah pindah ke jakarta sekarang.


"Apakah ini yang dinamakan sebuah takdir kebetulan, atau hanya jalan Allah yang mencoba untuk mempersatukan kami lagi. Ternyata Tuhan selalu adil atas semua umatnya, contoh atas semua jawaban doa-doa yang kupanjatkan selama ini, yang selalu berkeinginan agar terus tetap melihat ibu," Rasa syukurku dalam hati.


"Aku harus mendekati dan menemui beliau, walau tak akan bisa menyentuhnya," Kemantapan hati yang ingin bertemu ibu.


"Buk ... buk, sini ... sini! Saya mau beli gorengannya" panggilku yang tetap memakai masker.


"Oh, iya ... iya nak. Mau beli apa?" tanya beliau ramah.


"Semua dagangan ibu hari ini aku akan borong, gimana?" tanyaku mencoba membantu meringankan beban ibuku.


"Apa? Benarkah itu?" Kekagetan beliau.


"Alhamdulillah, terima kasih, ya! Kamu baik banget. Ibu tadi sudah lama sekali berkeliling-keliling dikompleks ini, tapi sedikit sekali yang mau beli, tapi berkat kamu dagangan ibu laris manis sampai habis, atas semua kebaikanmu. Terima kasih!" ucap beliau senang, terlihat dari wajahnya yang tersenyum gembira.


"Sama-sama, buk."


Rasa bahagia terpancar sekali dari wajah ibuku, akibat kuborong semua dagangan beliau. Sebenarnya aku melakukan ini akibat tak tega melihat beliau terus berpanas-panasan berkeliling. Rasa sedih dan tak tega yang melihat beliau sudah tua, masih saja mencari nafkah untuk terus berjualan sungguh menyayat hatiku, tapi nak berkata apa! Semua sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, yang telah mengatur semua ini.


Gorengan begitu banyaknya, tak mungkin aku dapat menghabiskan sendirian, jadi terpaksa kubagikan pada teman-temanku satu kerjaan dan para tetangga dikos.


Walau aku tak sehari-hari bertemu dengan ibuku, uang untuk membeli gorengan kadang kutitipkan ibu kos maupun kepada tetangga, yaitu untuk selalu memborong dagangannya, sebab diri ini tak ingin beliau bersusah payah menjual gorengan lagi. Hanya ucapan terima kasih tiap hari tersampaikan olehku saat pulang kerja, sedang makanan kue yang sudah terbeli, harus kubagi-bagikan pada siapapun yang mau, termasuk anak-anak kecil disekitaran komplek kosku.


Beliau masih tak mengetahui bahwa aku adalah anak kandungnya. Karena tiap kali saat bertemu, masker yang menutupi wajah tak pernah terlepaskan.


"Nak, kamu kok baik banget sih, tiap hari mau membeli dagangan ibu. Memang kamu kenal denganku?" tanya beliau serius.


"Eghm, Enggak kok, bu. Aku cuma kebetulan sekali membeli dagangan Ibu," Ngelesnya jawabanku.

__ADS_1


"Bolehkah ibu berteduh, dan istirahat sebentar diteras kos kamu, sebab rasanya ibu capek banget hari ini?" pinta beliau sambil mengelap peluh.


"Boleh bu, silahkan!" ujarku ramah.


Gendongan ibu yang berisikan dagangan kini sudah ditaruh diteras kos rumahku. Aku yang tak tega membiarkan beliau duduk sendirian, kini diri ini juga ikut-ikut duduk diemperan teras tepat disebelah beliau.


"Bolehkah ibu bertanya padamu, nak?" Izin beliau yang kelihatannya begitu serius.


"Silahkan, bu."


"Apakah kamu beneran tak mengenal, ibu?" imbuh tanya beliau lagi.


"Benar, bu."


"Tapi kayaknya aku tahu siapa kamu dari bentuk dan ciri-ciri fisikmu itu. Kamu teman Niko yang kemarin bertandang dirumah ibu yang sedang berada dikos-kosan Semarang kemarin, 'kan? Yang waktu itu sedang memakai masker dan saat Amel datang kamu malah kabur, Iya 'kan?" ujar beliau yang kelihatan begitu penasaran.


Deg, pertanyaan beliau begitu mengejutkanku. Walau beliau sudah tua ternyata ingatan ibuku masih kuat saja.


"Bagaimana beliau bisa mengetahui, bahwa akulah orang yang benar-benar bertamu dirumahnya," guman hati sudah merasa heran.


"Maaf bu, mungkin anda salah mengenali orang!" ucapku panik dan langsung berdiri, mencoba untuk melenggang pergi.


"Jawablah, nak. Aku begitu merindukan anak ibu itu, jadi aku minta jawablah yang sejujurnya," suruh beliau dengan bulir-bulir airmata sudah terdengar pilu.


"Aku yakin kamu adalah Alex? Ibu mohon sekarang, katakanlah bahwa kamu benar-benar Alex" Tangan beliau sudah terulur ingin menyentuhku, yang masih bertutupkan memakai masker.


"Maaf buk. Aku sudah bilang, diri ini bukanlah Alex anak ibu, jadi aku benar-benar minta maaf," ujar diri ini berpaling ke arah lain, mencoba menghapus airmataku tanpa beliau ketahui.


"Kamu ngak usah mengelak lagi, jangan bohong lagi, Alex! Niko sudah menceritakan semuanya, bahwa siapa dirimu yang sebenarnya!" kata-kata beliau meyakinkan.


"Benarkah? Tidak ... tidak, itu tidak mungkin," ujarku tak percaya.


"Benar, nak. Waktu itu kamu sedang tidak ada dirumah dan hanya ada Niko saja, hingga tabir kehidupan kamu sudah ibu ketahui sekarang dari semua pengakuan cerita Niko, jadi jangan berbohong lagi. Aku merindukan kamu, nak!" tutur lembut beliau yang kian menyayat hati saat titikkan embun terus saja mengalir.


"Ibu, maaf ... maafkan Alex, bu. Maafkan ... maafkan anakmu yang telah berdosa ini. Aku juga merindukanmu ... maafkan Alex, buk!" ujarku dalam tangisan tersedu-sedu sambil bersujud, dibawah telapak kaki beliau.


"Jangan begini Alex, bangunlah nak. Ibu memaafkan kamu, bangunlah," Pelukan kata-kata beliau.


Kami berdua telah terhanyut dalam tangisan, saat rindu yang sudah sekian tahun tertahan, kini telah membuncah untuk melepaskan semuanya. Dengan perasaan yang sudah mulai tenang, aku mengajak ibu masuk kedalam rumah kosku.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan wajah kamu, hingga tiap kali kita bertemu kamu selalu saja menutup memakai masker?" tanya beliau penasaran sambil membelai lembut pipiku.


"Ini akibat kejadian penculikan itu, bu. Sebuah sayatan pisau telah mengiris dalam wajahku, hingga membuat sebagian muka telah rusak," jelasku.


"Apakah ibu boleh melihatnya, nak?" pinta izin beliau.


Perlahan tapi pasti, sekarang ini kucoba membuka masker penutup wajah, untuk kuperlihatkan wajah yang seperti monster hantu ini.


"Astagfirullah hal adzim, Alex? Begitu parahnya wajahmu sekarang," Tangis pilu beliau pecah lagi dengan tersedu-sedu.


"Ngak pa-pa, bu. Ini mungkin sudah menjadi takdir Alex," ucapku menenangkan beliau sambil ikut-ikutan menitikkan airmata.


"Kamu harus tetap sabar, sebab kamu adalah anak ibu yang tak pernah patah semangat," ujar beliau menyayangi.


Tangan beliau mulai meraba-raba pelan lukaku, dari atas hidung dengan miring ke bawah sampai berhenti ku ujung dagu. Airmata kami sudah tak terbendung lagi, sebab mencoba menumpahkan segala kesedihan akibat kejadian yang sedang menimpaku, yaitu saat wajahku ini sudah rusak mengerikan.


"Lihatlah, bu. Wajahku yang seperti monster hantu ini, menjadi alasan kenapa diriku tidak ingin menemui ibu, karena jika melihat wajah ini, aku merasa khawatir jika ibu akan takut maupun jijik melihat wajah mengerikan yang sudah buruk rupa," ujarku menerangkan.


"Maafkanlah kekagetan ibu tadi. Kamu jangan katakan itu, nak. Walaupun wajahmu yang sudah buruk rupa, tapi buatlah hatimu jangan buruk terhadap orang lain, karena Allah tidak menyukai sifat tercela dan buruk. Selamanya kamu tetap menjadi anak kesayangan ibu, walau wajah kamu cacat sekalipun. Ibu tidak akan takut ataupun jijik, sebab bagiku kamu tetaplah pria tertampan dihati ibu. Ibu sangat senang melihatmu masih hidup, apalagi sehat bugar seperti ini. Terima kasih, Alex! Kamu masih hidup kembali dan baik-baik saja untuk ibu," ucap beliau tersenyum manis.


"Iya, bu. Maafkan Alex yang sudah bertemu kamu, tapi alex malah menjauhi ibu sebab wajahku yang tak patut dilihat ini," tuturku pilu lagi.


"Iya, Alex. Ibu tetap memaafkan kamu."


Air mata kami kembali luruh bersamaan saat saling berpelukan. Pikiranpun kini sedang melayang mengigat kejadian-kejadian yang miris dua tahun silam itu. Sakit wajah akibat wajah yang rusak, sempat membuatku frustasi dan semakin minder, kini berkat ibu sudah mengetahui keadaanku sungguh cukup-cukup sekali untuk menenangkanku.


Sungguh sangat-sangat melegakan diri ini, saat kasih sayangnya kembali tercurah.


Ibuku adalah sebuah rasa nyaman, aman, tentram, dan damai saat bersamanya.


Pelukan kasih sayangnya 'lah yang hanya mampu menghilangkan rasa kegundahan, dan kegelisahan yang sempat menerpa dalam diriku.


"Oh, ya bu. Ada pintaku satu yang ingin aku sampaikan, yaitu jagalah rahasia ini, jangan beritahukan Amel dulu bahwa diri ini masih hidup," permintaanku pada ibu.


"Tapi, Alex! Bukankah kamu sangat mencintainya? Bukankah alangkah baiknya, jika kamu memberitahukan tentang diri kamu sekarang," tolak perkataan ibu.


"Aku tahu, bu. Alex masih tetap sama yaitu mencintainya, tapi diriku rasanya belum siap untuk menghadapinya dengan kondisi wajahku yang seperti ini. Jadi kumohon-mohon dengan sangat-sangat rahasiakan ini semua dulu, biar nanti kalau ada kesempatan Alex yang akan berbicara sendiri padanya," jelasku.


"Baiklah, Alex. Jika itu permintaan kamu, ibu hanya bisa mendukung jika itu memang yang terbaik untukmu," balas ucap ibu menyetujui.

__ADS_1


"Terima kasih, bu."


__ADS_2