
Engkau bagaikan laksana pelipur lara tiada henti membuat bahagia.
Suaramu yang yang khas gagah, kini telah tak terdengar lagi.
Senyuman yang manis, kini bagaikan hilang ditelan oleh masa.
Sunyi senyaplah hari-hari kini tanpa bayanganmu.
Dunia seakan-akan tersenyum ikhlas saat kepergianmu tiada disini lagi.
Selamat tinggal wahai kekasih hatiku, Alex.
Jenazah yang hanya tersisakan kerangka kini sudah diletakkan di tandu, dengan diiringi-iringi oleh para pelayat, untuk mengantar kepergiannya sampai di tempat peristirahatan terakhir. Pemakaman berlangsung secara khidmat, dengan gundukan tanah sudah ditaburi begitu banyaknya bunga mawar dengan berbagai warna. Sekarang pemakaman Alex telah dikelilingi oleh teman sekolah, guru, serta para tetangga terdekat kami.
Para pelayat satu persatu mulai telah meninggalkan area pemakaman. Aku dan kedua orang tuaku belum beranjak jua dari area pemakaman, rasanya kami begitu tak tega meninggalkan bik Sari tengah sendirian. Beliau terlihat begitu terpukul, menatap kosong ke arah gundukan tanah yang masih memerahkan warnanya. Bik Sari terus saja mengelus-elus pusaran gundukan tanah. Entah berapa lama air mata beliau menetes, seperti tak akan ada habisnya bercucurkan airmata. Alex telah berhasil membuat semua merasa berduka dan kehilangan sosoknya, termasuk guru sekolah dan para sahabat-sahabat karibnya.
Bunga kamboja mulai berguguran dari pohonnya, jatuh di tempat pemakaman yang sudah sepi. Bik Sari sekarang besimpuh memeluk begitu lamanya digundukan tanah pemakaman, matanya masih saja sama yaitu sedikit sembab akibat tak henti-hentinya beruraian airmata.
"Bik ayo kita pulang, hari sudah mulai sore!" ucapku yang sudah mengagetkan bik Sari.
"Tapi aku masih ingin melihat anakku," jawabnya pilu.
"Kami tahu, bik. Kamu sangat mencintai anakmu, Alex. Tapi lepaskan dan ikhlaskan dia disisiNya, biarkan dia tenang didunianya yang baru. Bibi jangan begini, sebab jika kamu larut-larut dalam kesedihan, Alex juga tidak akan tenang dialam sana," ujar mama membantu membujuk bik Sari.
"Iya, bik. Benar apa yang dikatakan mama itu. Ikhlaskan Alex biar dia juga tersenyum bahagia, saat melihat engkau bahagia tak menangisinya terus. Ayo bik, kita pulang dulu. Kalau ada waktu kita bisa kesini kapanpun yang kita mau," cakapku memberitahu.
__ADS_1
"Baik non!" jawab beliau lirih.
Tangannya beliau kini membelai lembut nisan yang sudah terpancang, seakan-akan hati beliau terasa berat untuk meninggalkan. Dengan kupapah bahunya, aku mencoba menuntun bik Sari untuk segera meninggalkan area pemakaman. Hatiku sudah teriris perih saat meninggalkan pusarannya, tapi wajah masih berusaha tersenyum manis di depan kedua orang tuaku dan bik Sari. Dunia seakan-akan sudah begitu runtuh memikirkan bagaimana selanjutnya kehidupanku, tanpa keberadaan Alex disisi ini lagi.
Tak menyangka semua begitu cepat terjadi, dan kini aku mencoba bebesar hati untuk mengihklaskan semuanya. Setiap manusia akan meninggalkan dunia yang fana ini, pasti semua orang akan mengalami bercerainya ruh dari badannya, yaitu untuk menghadapi kematian. Aku berusaha menerima semuanya dengan bersikap tabah, walau kenyataanya begitu memahitkan hatiku.
Tak peduli lagi dengan keadaan diri ini, fokusku sekarang hanya pada ibu Alex saja, sebab tatapannya selalu begitu kosong, seperti tak rela bahwa anak semata wayangnya kini telah tiada meninggalkan dunia ini.
"Bik Susi, makanlah!" Suruhku.
Tanganku sudah membawa nampan berisikan makanan, mencoba menawarkan makanan pada Bik Sari, sebab sudah beberapa hari tak ada makanan yang masuk diperut beliau.
"Taruh saja, non. Bibi sekarang sedang tidak berselera!" jawab beliau lesu.
"Tapi bik, sudah tiga hari ini bibi hanya melamun saja dan jarang sekali untuk makan," ucapku membujuk.
"Tapi bik," ujarku tak setuju.
"Beneran non, taruh saja disitu. Nanti akan bibi makan," jawabnya meyakinkanku.
"Heeh, baiklah bik!" Kepasrahanku menjawab tak mau melanjutkan membujuk beliau lagi.
Semenjak kematian Alex, bik Sari jadi lebih banyak diam dan tak banyak kata-kata yang keluar dari mulut beliau, berbicarapun hanya seperlunya saja, rasanya diri ini begitu khawatir atas keadaan beliau.
Hari ini berusaha membujuk beliau makan, dengan membawa makanan ke dalam kamarnya, niat hati agar beliau ada kekuatan yang dapat membangkitkan tenaga, sebab diri ini sudah mengkhawatirkan keadaan bik Sari yang kian hari kian seperti mayat hidup pucat dan lemah. Kerjaan beliau sekarang hanya melamun dikamar saja tak mau makan. Keadaanku kini sungguh sangat berbanding terbalik karena mau melayani pembantu sendiri, tapi tak apalah yang terpenting beliau sehat-sehat saja sudah dapat membahagiakan diriku.
__ADS_1
Entah mengapa hati merasa cukup tidak tenang dan gelisah, seolah-olah Alex masih saja berada didekatku. Sungguh terasa ironis hidup ini, karena terlalu berharap Alex bisa hadir dan hidup kembali dihadapanku sekarang, yang berangan-angan dan berharap bisa menjalin asmara kami lagi.
Hening, dalam rumahku sekarang. Biasanya selalu ada gelak tawa dan suara-suaranya yang menghiasi hidupku, namun kini sudah terasa sepi sekali dan begitu hampanya.
Terasa sekali begitu hening, hingga terasa sekali ada sesuatu yang berbeda dan kurang. Aku tertegun dalam pembaringan, mencoba menghela nafas panjang, dengan wajah menengadah keatas menatap langit-langit rumah, kepala berusaha kugeleng-gelengkan dengan cepat saat bayangan wajah Alex kembali hadir yang sudah menari-nari dalam pikiran.
"Ah, apa yang terjadi padaku sekarang? Sering betul wajah Alex muncul dan itu sungguh sangat mengangguku?" gumanku seraya mengusap wajahku kasar.
Malam sudah beranjak kian melewati pertengahan, cukup genap seminggu sudah Alex telah meninggalkanku. Aku kembali lagi dan lagi tidak bisa tidur, rasanya mata ingin sekali terpejam tapi susah sekali melakukannya, bayangan Alex selalu saja kembali hadir memenuhi pikiranku. Tawa riangnya begitu terdengar mengalun merdu memenuhi imajinasiku, seolah-olah Alex tengah mengajakku berbicara dan bencanda gurau bersama-sama.
"Ah sialnya! Kenapa aku sampai begini? Rasanya wajah, suara dan tawanya tak bisa kulupakan begitu saja. Ooh ... Alex, kenapa bayanganmu selalu menghantuiku? Aku begitu mencintaimu hingga wajahmu selalu saja tak bisa hilang dalam ingatanku. Oh Tuhan, hilangkanlah rasa dan pikiranku tentang dia, sebab aku sungguh-sungguh tersiksa akan bayangannya yang terus saja hadir," Aku telah mengacak-acak rambut sendiri, ternyata khayalan kembali lagi dan lagi menghantui diri sendiri.
Hanya diamlah diri ini dapat mengubur semua rasa dengan dalam-dalam. Sekarang cukuplah semua menjadi kenangan dan angan-angan belaka.
"Gimana keadaan kamu, bik?" tanya mama saat bik Saei menghidangkan makanan.
"Alhamdulillah, saya baik dan ikhlas atas semua ini, nyonya!" jawab beliau tersenyum sumringah.
"Alhamdulillah kalau begitu, bik. Kami turut merasa senang juga atas kembalinya dirimu seperti sedia kala bisa tersenyum lagi," cakap mama merasa senang juga.
"Iya, bik. Amel juga senang, bibi bisa tersenyum lebar lagi!" Sela-selaku berkata.
"Iya, non, nyonya. Kini bibi mulai sadar atas kepergian Alex. Lagian buat apa kita bersedih terus, saat orang yang kita ingat itu sudah tidak ada didunia ini," jawab beliau penuh kesabaran dan pengertian.
"Bener, bik. Kamu harus tetap berjuang mengarungi hidup ini. Tetaplah semangat, bik. Jika kamu bahagia, pasti Alex akan bahagia dan tenang dialam sana," tutur famah mama lagi.
__ADS_1
"Iya, nyonya. Pasti itu!" jawab setuju bik Sari.
Akhirnya ibu orang yang kucintai bisa keluar juga dari rasa kesedihan, sebab aku begitu takut jika terjadi apa-apa sama beliau yang kian hari kian gak mau makan dan kurusnya badan beliau.