Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Ibu yang kusayang


__ADS_3

Rasa letihpun seketika hilang akibat ditelan keseriusan dalam mencari nafkah demi memanjakan ibu seorang. Aku tak akan pernah mengeluh, walau peluh terus saja mengalir demi membahagiakan ibu Suri yang selama ini hadir menemani hari-hari sepiku.


Alhamdulillah, hari ini dapat bonus gajian karyawan yang rajin dan tekun bekerja. Walau tak seberapa besar jumlahnya, tapi cukuplah untuk diriku menambah tabungan, serta sisanya akan kubelikan lauk enak untuk ibuku di rumah.


"Assalamualaikum," ucap salamku memasuki rumah saat sudah pulang kerja.


"Walaikumsalam," Jawab ibu dari dalam rumah.


Kaki langsung saja menghampiri ibuku, lalu mencium tangan punggungya. Ternyata beliau sedang sibuk mengiris bahan-bahan untuk dijadikan jualan besok.


"Tumben, nak. Kok cepet banget pulang kerjanya?" ujar beliau bertanya.


"Ada perenovasian di tempat kerja, bu. Jadi dua hari kedepan Amel akan cuti kerja. Emm, berarti bolehlah Amel nanti membantu ibu untuk jualan keliling!" penjelasanku.


"Kamu ngak usah bantu-bantu ibu jualan, nak. Kamu sudah kerja juga, pasti juga merasa capek! Jadi istirahat saja dirumah, tak payah repot-repot bantuin ibu," suruh ucapan beliau.


"Tapi, bu. Amel ngak suka dirumah akibat rasa bosan. Lebih baik Amel bantu-bantu biar kerjaan ibu jadi ringan, serta ngak akan terlalu kelelahan dalam bekerja!" timbal balik ucapku.


"Kamu kalau diomongin suka bandel, ya!" tangan beliau kini mentoel hidungku dengan tepung.


"Iih, ibu. Geli ini rasanya," ucapku tak suka akibat tepung sudah menempel dihidung sehingga membuatnya jadi kotor.


"Oh ya. Kamu mau ibu ambilkan makanan?" tawar beliau.


"Oh tentu, dong bu! Perutpun minta diisi sudah laper banget, nih!" jawabku menyetujui.


"Tapi hari ini ibu hanya masak sayur bening dan mengoreng tahu, sebab tadi pulang jualannya agak siang harus berkeliling dulu menghabiskan dagangan," ujar beliau tak enak.


"Gak pa-pa, bu. Jangan capek-capek kerja, Amel 'kan sudah dapet kerjaan walau tak besar gajinya tapi cukuplah untuk kita berdua makan," pintaku penuh rasa sayang.


"Ibu paham Amel. Tapi kalau bisa uang kamu lebih baik disimpan dan digunakan untuk biaya kuliah. Biarlah ibu yang mencari nafkah untuk makan kita," nasehat beliau.


"Iya, bu. Amel paham. Kita akan sama-sama menabung dan uangnya sama-sama kita gunakan untuk makan kita. Kita harus bahu membahu demi kehidupan kita agar lebih baik," jawabku menyetujui.


"Oh ya. Amel hampir kelupaan, tadi ada sedikit bonus bulan ini. Jreng ... jrenng. Amel tadi sekalian beli lauk masak untuk ibu ketika dalam perjalanan pulang," Kutunjukkan sebuah kantong kresek hitam berisikan lauk.


"Memang lauk apaan itu, nak?" tanya beliau penasaran.


"Ayam."


"Wah, pasti itu enak!" Antusiasnya beliau menjawab.

__ADS_1


"Pasti itu. Ayo bu, kita makan. Dari tadi siang kerja terus, sampai -sampai Amel lupa kalau belum sempat makan," pintaku.


"Iya, sayang. Kamu tunggu disini, ibu akan ambilkan peralatan makan," suruh beliau.


"Emm."


Setelah ibuku mengambil piring dan peralatan makan dari dapur, beliau hanya melamun menatap lauk yang baru saja kubeli. Nampak sekali ada guratan wajah beliau tengah bersedih, yang mana terlihat dari pelupuk mata beliau sedang berkaca-kaca.


"Kenapa bu? Kok mukanya ditekuk begitu? Tidak suka atas pembelian lauk yang barusan aku beli?" tanyaku sudah merasa heran.


"Eh, bukan ... bukan, Amel. Ibu bukan ngak suka, cuma lauk ini mengigatkan ibu atas kenangan bahwa lauk itu adalah kesukaan Alex. Ibu rasanya jadi sedih karena tiba-tiba teringat kembali akan dirinya," ucap beliau sambil menghapus lelehan aliran airmatanya.


"Ibu jangan sedih begitu, bu!" ucapku mencoba menenangkan beliau sambil mengelus pelan bahunya.


"Kita sudah dua tahun lebih ada dikota ini, Amel. Ibu melihat ayam balado ini rasanya jadi ingin menyambangi makam Alex saja, heeeh!" imbuh ucap beliau dengan sendu.


"Amel juga sama rindunya untuk pergi ke makam orangtua dan Alex. Gimana kalau ada rezeki lebih nanti kita pergi ke sana saja, bu?" ucapku memberi ide.


Supaya beliau merasa tenang akibat telah terkenang kembali bersama Alex, kini kupeluk beliau dari belakang dan kucium pipinya, biar rasa nyaman menghampiri untuk tak terus larut dalam kesedihan masa lalu.


"Gimana bu?" tanyaku.


"Baiklah, Amel. Kita akan sama-sama menyambangi makan Alex dan kedua orang tua kamu," ujar beliau setuju.


Kami berdua tersenyum riang, tapi airmata bening tak luput jua dari pelupuk mata kami untuk tak mengeluarkannya. Kami berdua sama-sama terhanyut dalam kesedihan, atas teringat kembali kepada orang-orang yang sudah tenang dialam sana.


Tok ... tok, tiba-tiba pintu rumah kos diketuk seseorang.


"Siapa ya bu, malam-malam telah bertamu ke rumah kita?" tanyaku pada ibu heran.


"Buka saja, siapa tahu ada orang yang penting ingin bertamu," ucap beliau menyuruh.


"Baiklah. Amel akan bukakan pintu sebentar," ujarku meminta izin.


Ceklek, pintu telah terbuka. Tapi begitu kagetnya diri ini, saat orang yang bertamu ternyata adalah teman lamaku yaitu Iwan.


"Iwan? Kamu? Kok bisa?" panggilku kaget.


"Hai, amel. Iya, ini aku Iwan. Bolehkah aku masuk dan bertamu?" ujarnya dengan tersenyum ramah.


"Oh ... oh, iya. Silahkan masuk!" ucapku yang sudah hilang keterkejutan.

__ADS_1


"Terima kasih," ucapnya yang langsung masuk.


"Silahkan duduk. Kamu kok tahu aku disini, dari siapa?" Pertanyaanku dengan perasaan heran.


"Iwan gitu lho! Masak orang kaya begini, ngak bisa mencari keberadaanmu," ujarnya santai.


"Iih, sombong amat," ketus ucapku tak suka.


"Ha ... ha, jangat sewot gitu kenapa! Ada deh, orang yang ngasih tahu informasi tentang kamu!" jawab santai Iwan.


"Eh, ternyata ada nak Iwan. Gimana kabarnya sekarang?" Sapa ibuku dengan membawa nampan minuman.


"Alhamdulillah baik, bu!" jawab Iwan sambil segera mencium tangan punggung ibu.


"Silakan diminum nak Iwan. Aku mau kebelakang dulu, sebab ibu banyak kerjaan didapur," pamitnya ibuku.


"Oh iya, bu. Terima kasih."


Ibupun sudah hilang dari pandangan kami, hingga kami berdua tak sabar lagi ingin bercakap-cakap lebih, sebab sudah lama tak bertemu.


"Gimana kuliah kamu di luar negeri? Apakah sudah selesai?" tanyaku penasaran.


"Belum sih! Cuma mau melanjutkan semester selanjutnya di Indonesia saja, soalnya kesepian disana. Terlalu sendirian tak ada teman," jelas ucap Iwan.


"Ooh, begitu."


"Aku sudah lama mencari-cari tentang kamu, ternyata susah juga mencari keberadaan kamu dan bik Sari!" ungkapnya.


"Maafkan aku, Iwan. Jika kami tidak memberitahu kamu dulu, karena kami ingin diam-diam pergi, sebab memang sengaja untuk menjauh dari keluarga baruku yang kejam itu," penjelasanku.


"Memang mereka itu, dasar kurang kerjaan. Seenaknya saja memperlakukan kamu dengan kejam, patutnya mereka harus diberi pelajaran. Kenapa kamu tidak melaporkan kepihak kepolisian saja! Biar mereka mendapatkan hukuman yang setimpal, atas tindakan yang semena-mena sama kamu?" Iwan mencoba memberikan ide.


"Aku tidak bisa melakukan itu semua dengan mudah, karena ada sebuah surat yang menyatakan bahwa almarhum mamaku telah mewariskan harta pada mereka!" ujarku memberi penjelasan.


"Maafkan aku Amel, sebab tak bisa membantumu lebih. Hanya ucapan sabar yang dapat kuberikan, agar kamu tetap semangat menjalani kehidupan ini," Tangan Iwan sedang menepuk-nepuk halus pundakku.


"Terima kasih, Iwan!" ucapku dengan balasan senyuman.


Aku begitu bahagia bertemu dengan teman lama, tapi disisi lain aku takut dan tak ingin orang lain tahu kebenaran siapa diri ini.


Keluarga tiriku yang membuat hidup ini begitu hancur. Sebenarnya tak ingin rasanya dendam ini terus tersimpan, karena bisa merusak ketenangan jiwa raga diri ini. Ingin sekali semua kejadian yang menyakitkan bisa terlupakan, tapi apalah diri ini saat penyiksaan demi penyiksaan begitu membekas dihati dan terekam dalam pikiran, sehingga luka amarah yang sempat tertoreh susah sekali dihilangkan, apalagi mereka secara kejam mengambil hak yang kupunya dengan cara paksaan.

__ADS_1


Bukankah Allah itu maha pengampun, kenapa aku yang hanyalah manusia biasa yang penuh dengan segala dosa tidak bisa memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.


Aku hanya bisa pasrah, diam, dan bersabar. Hanya waktulah yang bisa menjelaskan kebiadapan atas kelakuan dan kekejaman mereka yang telah menzholimi diriku. Sikap mengalah atas kekejaman siksaan bukan berarti diri ini sudah kalah dari semuanya, tapi mengalah demi kebaikan Insyaallah suatu saat akan tergantikan oleh rasa kebahahagiaan yang tiada tara, diberikan oleh Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, amin.


__ADS_2