
Kami hanya sama-sama terdiam menuju rumah kediaman majikanku. Tangan kami tak lepasnya untuk terus saling berpegangan.
"Assalamualiakum," salam kami berdua berjalan masuk rumah.
Tapi betapa terkejutnya aku saat kedua orangtua Amel telah menyambut kami, yang seperti sengaja tengah menunggu. Wajah mama Amel sudah tak bisa kujelaskan lagi oleh kata-kata. Tatapannya begitu tajam menyiratkan ada sebuah kemarahan yang sedang membuncah. Dan sinar matanya begitu melotot yang sudah kemerahan-merahan, membuatku merinding takut untuk menatap beliau.
"Dari mana saja kalian, baru pulang jam segini?" tanya mama Amel lantang.
"Bersama-sama dan bareng berdua pulang pulak. Semalam kalian itu berada dimana?" imbuh cecar majikanku bertanya dengan ketus.
"Kami ngak ke mana-mana kok, ma! Karena hujannya deras sekali, jadi kami terpaksa nginep dirumah teman." jawab Amel dengan wajah terlihat mulai ketakutan.
"Bohong kamu Amel. Teman yang mana? Semua teman-teman kalian sudah kuhubungi, mereka mengatakan kalau tidak ada tugas kelompok dari sekolahan. Jawab yang benar kalian ini?" bentak majikan yang sudah mengagetkanku.
"Anu ... ma ... itu ... aaa ... aku tadi malam?" suara terbata-bata Amel tak bisa menjawab.
"Kami kemarin sedang bermain ke taman hiburan, nyonya!" ucapku membela menjawab dengan jujur supaya Amel tak kena marah.
Kepala ini secepatnya kutundukan tak berani menatap wajah majikan, yang kelihatan ada guratan kemarahan.
"Apa? Wah ... wah, kamu sekarang sudah berani berbohong dan berani-beraninya kamu pergi tanpa seijin mama," Teriak beliau berbicara dalam emosi.
"Sudah ... mama. Mereka itu sudah dewasa, biarkan saja kesalahan mereka. Mungkin Amel jenuh dalam rumah, jadi sekali-kali dia ingin jalan-jalan keluar," pembelaan majikan laki-laki.
"Tapi pa, kita tidak pernah mengajari Amel untuk berbohong. Kalau mau pergi, 'kan bisa pamit. Semenjak berteman dengan Alex anak kita semakin lama telah berani membatah dan bahkan bisa berbohong," jawab nyonyaku pada suaminya.
"Iya. Papa paham, tapi bukankah mereka masih remaja yang butuh bimbingan kita. Jadi maafkanlah kesalahan mereka kali ini," ujar tuanku masih membela.
"Haaaiccc, papa ini selalu saja membela mereka!" jawaban tak suka nyonyaku.
"Mama kecewa sama kamu Amel. Dan untuk kamu Alex, kamu itu pasti tahu bahwa kamu siapa? Kamu itu hanya anak pembantu, dan sekarang sudah berani mempengaruhi Amel dengan semua sifat-sifat jelekmu." ucap beliau yang tak ramah mencoba sedang menyinggung statusku.
Plakkk, tangan majikan berhasil melayangkan tamparan ke pipiku.
"Mama?" ucap kaget Amel bersamaan dengan papanya.
"Diam kamu Amel!" bentak mamanya.
Sikap mama Amel yang mulai memusuhi sekarang terasa sekali bagiku. Ucapan yang terlontar dari mulut mama Amel kerap kali membuatku cukup tersinggung dan akupun telah menyadari semua itu, bahwa batasan dan melawan keluarga mereka sungguh mustahil. Kenyataannya aku memanglah orang yang miskin, yang tak sepantasnya bermimpi untuk bersanding bersama Amel.
Namun semuanya akan kuterima dengan berbesar hati demi ibu. Majikanku seperti mengangap diri ini adalah hama bagi Amel, yang mana hal itu sedikit membuat jiwaku terus saja terguncang.
"Dan kamu Amel, mama akan menghukum atas semua tindakanmu itu. Bawa ke sini handphonemu beserta ATM. Mulai sekarang mama akan menyitanya, cepat bawa kesini!" pinta beliau memerintah, yang langsung saja dituruti Amel untuk segera menyerahkan barangnya.
"Ini, ma!" Kartu kredit Amel langsung diberikan pada mamanya.
"Sekarang kamu masuk ke kamar sana!" bentak majikan menyuruh.
"Tapi, ma!."
"Ngak ada tapi-tapian. Cepetan masuk!" gertak beliau penuh emosi
Amelpun tanpa membatah kini berjalan atas perintah mamanya. Sedangkan aku masih berdiri tertunduk tak berani menatap majikan perempuan maupun laki-laki.
"Tunggu, Amel?" panggil majikanku pada anaknya.
Dan tatapan mata beliau sekarang mulai menuju ke arah tubuh Amel, dengan menyimpan sesuatu kecurigaan.
__ADS_1
"Apa ini?" imbuhnya tanya beliau lagi, sambil tangan menyibakkan rambut melihat leher Amel ada sesuatu.
"Apa yang tengah kalian lakukan semalam, JAWAB?" bentak beliau.
Dengan rasa kemarahan majikan, yang sudah mulai memuncak penuh emosi, sekarang membuatku dan Amel gemetaran karena ketakutan.
Plaak, kali ini tamparan ditujukan pada Amel.
"Mama, sudah ... sudah!" pembelaan papanya mencegah apa yang telah dilakukan istrinya barusan.
"Diam pa, beginilah akibatnya kalau kita sering memanjakannya. Jawab pertanyaan mama Amel, apa yang telah kamu lakukan semalam bersama Alex?" tanya paksa beliau.
Kami tak bisa mengelak lagi, kemungkinan kecurigaan majikanku memang benar adanya, bahwa rahasia kami yang sudah tidur bersama sekasur sekarang telah terbongkar.
"Kanapa kamu diam? Jawab?" bentak paksa beliau.
"Kami ngak ngapain-ngapain dan aneh-aneh, ma! ini semua bukanlah apa yang sedang dipikirkan oleh mama," jawab Amel berani.
"Bohong kamu, ngak mungkin itu!" ucap majikan tak percaya.
Tangan majikanku tiba-tiba sudah melayang diudara, dan secepat kilat aku bisa menahannya agar tak menampar Amel lagi.
"Kamu? Minggir kamu," sorot matanya berbalik ingin memarahiku.
"Maafkan aku nyonya, jangan salahkan Amel tapi salahkan aku yang telah berani membawanya," groginya diriku menjawab.
Plaaak, untuk yang kedua kalinya tamparan telah terdarat dipipiku.
"Mama sudah!" ucap Amel membelaku.
"Diam semuanya. Kalian ini!" Suara majikan sudah mengemerutukkan gigi tanda ada emosi penuh.
Seketika semuanya terdiam tanpa ada yang mengeluarkan kata-kata lagi.
"Minggir Amel! Jangan kamu bela Alex. Dia itu sudah tak sopan membawa kamu tanpa seizin kami," tangan majikan kini berusaha menamparku lagi.
Dengan sigap Amel memelukku, berusaha menghalangi hujaman tangan mamanya saat ingin menamparku lagi.
"Mama bilang minggir! Minggir ... minggir Amel," perintahnya.
"Tidak ma ... hik ... hik, Amel sangat mencintai Alex. Jangan salahkan dia, Amel 'lah yang mengajaknya duluan untuk pergi bersama," Pembelaan Amel dengan sikap terus memelukku.
"Apa?" Suara terkejut mamanya.
"Aahh, mama benar-benar kecewa dan benci kamu, Amel! Kamu jangan gila menjalin hubungan sama anak pembantu" kekesalan mamanya atas tak percaya ucapan anaknya barusan.
"Ada apa ini nyonya? Kok ribut-ribut? Dan kamu Alex, kenapa memeluk non Amel?" Pertanyaan ibuku yang sudah datang.
Beliau sempat berjalan tergopoh-gopoh, mungkin penasaran ketika mendengar keributan kami, yang mana telah datang bersamaan pak Jono sang supir pribadi. Dan wajah ibuku kini terlihat kaget atas pelukan yang tengah dilakukan Amel padaku.
"Bagus bibi telah datang, lihatlah apa yang dilakukan anakmu pada Amel! Apakah kamu tak pernah mengajari anak kamu tentang sopan santun? Dan cara belajar menjaga anak orang," tanya mama Amel sedikit mengejek.
"Maksud nyonya apa?" tanya ibuku yang kurang mengerti.
"Dia sudah mengajari Amel cara berbohong dan berani membantah orang tuannya," penjelasan majikan perempuanku seraya sedang memijit pelipisnya.
"Apakah benar itu Alex? Cepat kamu ke sini!" suruh ibuku untuk mendekati beliau.
__ADS_1
"Dan lihatlah ini sekarang?" mamanya menarik Amel.
Seketika majikanku menyibakkan rambut Amel memperlihatkan ada sebuah stempel berwarna merah akibat ulahku semalam.
"Apa yang telah kamu lakukan pada non Amel, jawab Alex?" kekesalan ibuku bertanya.
"Mungkin mereka sudah tidur bersama semalam, mungkin!" celetuk majikanku.
"Benarkah itu Alex? Jawab? Dari kecil ibu tidak pernah mengajari kamu hal-hal yang dilarang. Dan sekarang kamu ... kamu?" Merah padamnya muka ibuku akibat kemarahan.
"Aku ngak ngapa-ngapain sama non Amel, bu. Ini hanya kesalahpahaman kalian saja," jawabku berusaha membela diri.
"Ngak ngapa-ngapain gimana? Ini jelas-jelas ada buktinya," ujar majikan yang tak percaya.
"Beneran, nyonya. Kami ngak ngapa-ngapain," ujarku berusaha membela.
"Sudah ... sudah, tahan emosi kalian. Kita selesaikan semua ini dengan kepala dingin," ujar papa Amel berusaha menengahi ketegangan.
"Maafkan anakku tuan dan nyonya, takkan kubiarkan Alex melakukan semuanya seenak saja. Jawab Alex?" tanya ibuku lagi dengan nada membentak.
"I ... yy ... yaa ... bbuuk. Tapi sungguh ini tidak seperti yang kalian tuduhkan," jawabku terbata-bata.
"DIAM, kamu. Inikah yang selama ini kuajarkan padamu?" cakap ibu ikutan emosi.
Plaakk, kini gantian ibuku yang ikut-ikutan menampar pipiku dan langsung berlalu pergi, tapi secepatnya kembali dengan membawa seikat sapu lidi.
"Duduk kamu sekarang, cepat ... cepat, duduk! Dan tundukan badan kamu!" perintah ibuku.
"Tapi, bu."
"Ayo, cepat! Ibu akan mengajarkan kamu bagaimana caranya mengerti atas kesalahan," perintah bentak ibu.
Bhugg ... plak ... bhugh ... pelak, suara sapu lidi bertubi-tubi sudah terdarat di punggungku.
"Bik sari, jangan ... bik aku mohon ... jangan, bik. Hiik ... hiks," suara tangisan Amel pecah saat melihatku.
"Diam kamu Amel," bentak mamanya.
Tangan Amel ternyata sudah terpegang nyonyaku ingin mencoba mencegah semuanya, dengan cara ingin segera menghampiriku saat aku tengah kesakitan mendapatkan hukuman.
"Bawa Amel ke kamarnya, pak Jono," suruh mamanya.
"Ayo non!" suara sang sopir pak Jono, mencoba menarik tangan Amel untuk segera mengikutinya.
"Sudah bik Sari. Istighfar bik, sudah ... istighfar," papa Amel mencoba menyelamatkanku.
"Biarkan saja tuan, ini adalah hukuman buat dia, karena telah membuat masalah. Plak ... bhug ... bhugh ... plak." jawab ibuku dengan tangannya tanpa berhenti terus saja memukulku.
"Bhugh ... bhuugh, Aaa ... aa ... plaak ... aaaa," suaraku sedang tertahan menahan sakit akibat layangan pukulan yang bertubi-tubi.
Emosi ibuku kini begitu meluap-luap, bahkan dengan ganasnya beliau semakin kuat memukul, tanpa ada rasa kasihan lagi padaku, yang sudah terpedih-pedih menahan rasa sakit. Apalah dayaku yang tak berkutik sama sekali, karena ini adalah hukuman atas kesalahanku sendiri. Saat ini aku cuma bisa menghela nafas secara dalam-dalam serta mengeluarkan hembusannya secara kasar, sebab menahan pedih yang sudah tak terperi lagi rasanya.
"Tidak bik ... tidak, Amel tiba-tiba berlari menghampiri dan memelukku. Hik ... hiks," ujarnya sembari menangis.
Sekarang Amel telah berhasil menghentikan pukulan ibuku, yang tangannya sudah tertahan melayang terangkat diatas tidak bisa memukulku lagi.
Brukgh, suara sapu lidi di buang ke sembarang arah oleh ibuku. Dimana nafasnya sudah terlihat begitu tersengal ngos-ngosan akibat kemarahan.
__ADS_1