Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Tidak Mengerti Sikap Majikan. Season 2


__ADS_3

Hal yang paling tidak kusuka dari sebuah kedatangan adalah kepergian. Sesuatu yang tidak bisa kulerai hingga harus kurelakan. Belajar untuk merelakan dan ikhlas akan membuatmu lebih dewasa dan mampu kembali menatap masa depan tanpa beban masa lalu.


Semua orang yang kita kenal akan pergi. Tapi sebelum merelakan mereka pergi. Genggam mereka, sekuat yang kita bisa. Tidak semua yang hilang dari kita, harus kita cari kembali. Ada banyak kehilangan yang cukup kita hadapi dengan merelakan. Karena hanya dengan merelakan, kita akan mendapat pengganti yang lebik baik. Mungkin inilah yang terjadi padaku, merelakan semua walau sempat putus asa mencari keberadaan suami.


"Kamu kenapa Amel? Bibi, lihat akhir-akhirnya kebanyakan melamun, tidak fokus sama kerjaan. Lihat! Sudah gosong gitu!" tegur Bik Arni saat tahu yang kugoreng sudah berwarna kecoklatan.


"Astagfirullah. Maaf ... maaf, Bik!" Tangan langsung saja menyerok tahu yang agak mulai gosong.


"Lain kali jangan diulangi gini. Takutnya berbahaya, bisa-bisa kalau kamu tidak sadar bisa jadi kebakaran," imbuh beliau menegur.


"Iya, Bik. Maaf."


"Ya sudah, kamu jangan lalai lagi. Memang ada apa, sih? Apa kamu sedang kepikiran suami lagi? Kok, Bibi lihat banyak melamunnya," tebak beliau.


Bik Arni tahu akan semua masalahku. Beliau adalah penganti Ibu dikampung, dan selalu menjaga diri ini agar tetap aman dan bahagia selama bekerja. Setiap keluh kesah yang terjadi selalu kuceritakan pada beliau, makanya sekarang bisa menebak apa yang menjadi beban pikiran.


"Entah 'lah, Bik. Akhir-akhir ini mencoba tidak memikirkan, namun semua hadir tiba-tiba dan membuat tidak fokus sama kerjaan."


"Bibi tahu kalau ini berat sekali bagimu. Bagaimana tidak, suami yang kita cintai tiba-tiba hilang tidak ada jejak sama sekali."


"Tapi aku sudah bersabar menjalani ini semua, tapi pikiran selalu berpusat tentang dirinya terus."

__ADS_1


"Kamu yang sabar. Sebuah penantianmu nanti pasti akan tergantikan dengan kebahagiaan. Mungkin semua misteri ini belum terjawab, sebab Tuhan masih ingin menguji kesabaranmu lagi. Tingkatkan lagi, sebab Bibi yakin kamu orang pilihan yang mampu melewati ini semua."


"Iya, Bik. Atas nasehat dan pengertiannya."


"Iya, sama-sama."


"Bibi, sedikit melihat gelagat aneh pada tuan Arnald pada kamu. Tidak macam-macam sama majikan kamu 'kan, Amel?" Kecurigaan beliau.


"Iiihhhh, Bibi ini ngomong apa'an, sih!" jawab tidak suka.


"Kan siapa tahu, sebab gelagat dia begitu aneh, apalagi kelihatan dekat-dekat sama kamu."


"Tidak ada 'lah, Bik. Mana mungkin aku ada apa-apanya sama tuan Arnald, sedangkan tunangannya ada disini. Bibi, saja nih yang ngadi-ngadi."


"Bibi, jangan asal nebak."


"Bibi bersama kalian, ya pasti tahu. Dari sorot mata dan muka sudah bisa dilihat dan mudah ditebak."


"Iihhh, Bibi sekarang berubah jadi peramal 'kah, bisa menebak kami begitu kejamnya."


"Kan siapa tahu?"

__ADS_1


"Serius tidak ada, Bik. Kami masih punya batasan sebagai pembantu dan majikan, jadi tidak aneh-aneh sikap kami itu."


"Ya sudah. Bibi akan percaya sama kamu kali ini, jika memang kalian tidak ada apa-apa. Kamu anak baik dan selama ini selalu jujur, maka dari itu Bibi sangat percaya sama kamu. Kalaupun itu ada benarnya, kamu harus segera menghentikan itu, karena sekarang pekerjaan yang terjadi sama kita lebih penting dari pada urusan hati. Majikan sudah punya pasangan, jadi kalau bisa kamu jangan ikut campur apalagi mengusik," nasehat panjang lebar beliau.


"Iya, Bik. Pasti itu. Amel, tahu diri siapa dan dari mana berasal," Tubuh beliau langsung kepeluk dari belakang.


Pekerjaan yang sedang sibuk mengoreng tahu tadi sudah digantikan beliau. Karena posisi bik Arni yang sibuk dan fokus membolak-balik tahu, makanya hanya bisa memeluk dari belakang saja.


Sifat manjaku pada orang yang lebih tua tidak bisa lepas, termasuk sama Bibi sekalipun. Walau kami bukan keluarga, tapi berulang kali baliau mengatakan kalau aku boleh jadi anak angkatnya selama bekerja.


"Maafkan aku, Bik. Mungkin kebohonganku kali ini tidak bisa dimaafkan."


"Tebakanmu memang benar, kalau tuan Arnald sikapnya mulai aneh padaku. Maaf, jika harus menyembunyikan ini semua. Aku tidak mau Bibi khawatir berlebihan."


"Entah mengapa sikap tuan Arnald akhir-akhir ini begitu agresif sekali ingin mendekati. Insyaallah, Amel bisa mengatasi ini. Bibi memang yang terbaik sebagai Ibu angkat disini. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," guman hati yang menyesal.


"Mungkin lain kali akan cerita sama kamu, Bik. Saat semuanya sudah jelas kenapa tuan Arnald berusaha mendekatiku terus. Sekarang cukup doakan saja Arnlad tidak melampaui batasnya, sebab Alena pasti tidak akan membiarkan ini semua terjadi."


Banyak teka-teki belum terpecahkan, termasuk gelagat Arnald yang tak gencar ingin mendekati. Walau sudah berulang kali menjaga jarak, namun status sebagai pembantu telah mengalahkan semuanya.


Setiap kali ada kesempatan, Arnald berusaha menyuruh ini itu dengan alasan yang tidak masuk akal. Sebab berkerja sebagai bawahan, jadi ya semua harus dituruti. Tapi heran sekali kenapa tiap kali hanya berduaan, dia mencoba mencari kesempatan untuk memepet terus.

__ADS_1


"Apa yang terjadi sekarang, Tuhan? Apakah ini jalan atas semua doa-doaku selama ini? Tapi kenapa harus berurusan dengan orang kaya? Sungguh aku tidak bisa menghadapi ini sendirian, jika dia benar-benar nekat ingin merampas segala benteng yang kujaga selama ini."


"Wajahnya sangat mirip sekali, tapi mengapa hati ini selalu bertolak belakang kalau dia bukan suamiku. Kalaupun benar tolong dekatkan dia padaku, tapi kalau bukan buatlah dia jauh sejauhnya agar tidak ada kesalahpahaman diantara kami semua," rancau hati yang terus berdoa dalam kebingungan.


__ADS_2