Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Terbongkar


__ADS_3

Akhirnya jati diri yang selama ini terjaga telah terbongkar dengan sendirinya, tanpa menunggu lama-lama waktu untuk menjelaskan. Ibu yang melihat kami berdua dalam kesedihan teramat dalam, hingga kini telah memeluk kami berdua dengan eratnya sampai-sampai beliaupun ikut menitikkan airmata.


"Kalian bicara baik-baiklah. Ibu akan meninggalkan kalian, biar bisa leluasa berbicara dari hati ke hati. Kamu baik-baik bicara sama Amel, nak!" tutur lembut ibu memberikan peringatan.


Hanya anggukan pelan dapat kuberikan saat ini, saat Amel masih saja menangis dalam pelukanku.


"Apa yang harus kulakukan pada Amel sekarang? Saat dia masih enggan untuk putus segera?" Kebingungan hati memikirkan Amel.


Aku begitu merindukannya, tapi saat rindu ini terobati, aku telah teringat untuk berusaha menghindar menjauhinya.


"Kamu kejam, Alex. Kenapa kamu melakukan ini, padahal aku sangat mencintaimu," cakapnya lemah masih sedih.


"Maafkan aku, Amel. Atas sikapku yang kemarin tak langsung mengungkapkan ini semua. Dan untuk sekarang, kita tidak bisa melanjutkan semua hubungan ini!" ujarku melepaskan pelukannya.


"Apa? Tidak ... tidak, jangan lakukan itu, Alex. Aku tak bisa tanpamu," tolaknya sambil mengeleng-geleng kuat kepala.


"Maafkan aku, Amel."


Tubuh mulai melenggang ingin pergi, tapi belum sempat kaki kuayunkan, Amel sudah mengenggam erat tanganku. Rasanya diri ini tak bisa mengelak lagi atas tindakannya.


Tergiang sebuah bayangan, saat-saat kenyataan yang tak bisa bersamanya hingga membuat mataku kini mulai memerah, cukup membuktikan bahwa akupun sedang sama dengan dia yaitu terluka. Meskipun tiada air mata yang meluncur dari sudut pelupuk mata ini, akibat sebuah keputusan yang terasa bagiku juga sungguh menyakitkan, diri ini sebisa mungkin tetap baik-baik saja dan tegar.


"Maafkan aku Amel, kita harus putus," Kulepaskan perlahan genggaman tangannya.


"Jangan Alex ... jangan, sebab aku sangat mencintaimu. Aku mohon jangan lakukan ini padaku ... jangan," tolak suaranya tertahan sudah menyimpan kekecewaan.


"Tapi, Amel. Kita benar-benar ngak bisa bersama lagi dan melanjutkan hubungan ini," kekuhnya pendirianku.


"Kenapa kita ngak bisa bersama lagi? Kenapa, hah? tidak ... tidak ... tidak, aku tahu sekali bahwa kamu masih mencintaiku juga," Isak tangisnya berbicara.


Amel menangis dengan terisak pilu secara keras, kepalanya sembari tadi terus saja mengeleng-geleng, memberi tahu bahwa dia tetap kekuh tak mau berpisah denganku. Hati terasa berdenyut nyeri, saat menatap wajahnya yang sudah kacau oleh airmata.


Tangan ini telah mencoba mengusap tangisan itu dengan perlahan-lahan penuh oleh kelembutan sayang.


"Bukankah kamu sudah bertunangan dengan Iwan dan akan menikah," jelasku berucap.


"Tidak Alex, kami masih bertunangan saja dan semua itu masih bisa dibatalkan," Tak mau kalahnya Amel memberi penjelasan.


"Jangan lakukan itu, Amel. Kamu nanti akan menyakiti semua orang, dan dirimu akan terluka lebih dalam, akibat keputusanmu yang hanya dalam kebinggungan sesaat. Jadi pikirkanlah baik-baik atas keputusanmu nantinya," ujarku memperingatkan.

__ADS_1


"Tapi Alex, apakah kamu tak memikirkan hatiku yang sakit ini, saat diriku masih sangat mencintaimu," ucapnya memelas sedih.


"Aku benar-benar tak bisa, Amel. Sebab selain alasan Iwan, sekarang lihatlah wajahku yang rusak ini?" ujarku sambil menarik kuat penutup wajah.


Masker yang menutupi wajahku telah terbuka kuat, untuk diperlihatkan pada Amel. Ekspresi wajahnya begitu tersentak kaget, yang lama-kelamaan isak tangisnya kian menjadi-jadi dia keraskan.


Membayangkan betapa sulitnya sebuah perpisahan, tak akan cukup untuk menahan keadaan hati yang sudah tak utuh lagi.


"Aku tetap tidak mau, Alex. Hanya dirimulah yang kumau sekarang. Tidak kupedulikan lagi dengan wajahmu yang sekarang ini, karena diriku sungguh-sungguh mencintai kamu sampai mati," ucapnya berulang-ulang memohon, yang tanpa hentinya untuk terus menangis.


"Maaf, Amel. Jangan lakukan itu, kita beneran tak bisa," ulang cakapku menolak.


"Kenapa, Alex? Kenapa? Aaaaaa, kenapa?" teriaknya keras.


Bersamaan dengan pengakuannya, suara nyaring teriakkannya begitu terdengar mengema kuat sekali sampai diluar rumah.


Hatiku begitu teremas-remas mendengar ucapannya, hingga menimbulkan rasa hati ini seakan sakitnya sangat luar biasa. Suara Amel begitu menyayat hati, saat mengungkapkan ingin tetap bersamaku.


"Maafkan aku, Amel. Iwan adalah sahabat baikku dan diri ini tidak mau menyakitinya yang sudah meminangmu. Selain itu aku tidak mau kamu malu atas wajahku, yang sudah menjijikkan seperti moster hantu ini!" Mulutku berbicara serak yang ingin ikut menangis.


"Apa? Apa yang kamu katakan tadi? Bisa-bisanya kamu mementingkan perasaan orang lain, tapi bagaimana denganku? Apakah kau lupa akan semua janjimu dulu bahwa tak akan pernah meninggalkanku," Ngotot ucapannya yang sudah ada nada marah.


Tangan langsung menyambar jaket yang tergeletak dikursi, bertujuan ingin segera keluar rumah. Niat hati sebenarnya cuma ingin menenangkan pikiran, amun belum sempat memegang kenop pintu, Amel lagi-lagi kembali menghalangi langkahku dengan memeluk tubuhku dari belakang.


"Aku mohon, Alex! Jangan kau tinggalkan dan mengucapkan kata-kata perpisahan lagi," ucapnya sendu.


Diri ini sungguh tercekat dan sedikit terbuai atas ucapan kekasih lama, hingga sekarang perlahan pelukan tangannya kulepas. Dengan menghela nafas panjang, aku mencoba memberi penjelasan lagi supaya Amel lebih mengerti dan memahami.


"Aku mohon, Alex. Apa salahku padamu, hingga kamu tega sekali melakukan ini?" tanyanya masih sedih.


"Kamu ngak salah, Amel. Akulah yang salah, karena memang diri ini tak bisa bersamamu lagi. Suara orang lain yang kata-katanya bisa saja pedas tak mau kudengar lagi, akibat aku gila jika nanti telah memiliki wanita secantik kamu ini. Wajahku sudah mengerikan seperti monster hantu, jadi diri ini sungguh tak mau mempermalukanmu!" jelas perkataanku padanya.


"Aku tidak mangangapmu sebagai manusia monster hantu. Tidak kupedulikan cemooh orang lain, sebab kamu tetaplah Alex yang masih sama seperti dulu. Jadi kumohon jangan ucapkan kata putus lagi, kembalilah padaku," ujarnya memelas.


Kepala terasa sedikit berdenyut nyeri, ketika mendegar permintaannya. Kini kutatap wajahnya yang ayu inci demi inci, mencoba merasakan cinta yang sudah terajut indah kemarin-kemarin, namun akibat sebuah tragedi yang terjadi padaku, mengharuskan mengambil sikap yang tegas agar tetap bisa untuk putus.


"Maafkan aku, Amel. Sungguh, aku benar-benar minta maaf atas semua ini," Hanya kata maaf yang berulang-ulang dapat kuucapkan sekarang.


Kepala Amel tergeleng kuat, lalu berlari lagi memeluk kakiku disaat ingin kabur. Hatiku begitu trenyuh luluh dengan teremasnya, ketika dia tetap memohon untuk merubah keputusanku. Tak tega rasa hati melihatnya yang sudah bersujud di kakiku. Disaat aku luluh juga, langsung kurangkul tubuhnya, yang mana disisi lain tangannya tak henti-hentinya terus memberi pukulan keras didadaku.

__ADS_1


"Kamu kejam, bhugh ... bguh," ujarnya marah.


Saat dada sakit terpukul tangan lembutnya kini lama-lama pukulannya kian melemah, lalu tangannya mencengkeram kuat kaosku, yang belum sempat terpakaikan oleh jaket. Seraya itu juga Amel berteriak menangis dengan histerisnya. Ibuku yang melihat adegan pertengkaran kami mencoba masuk menghampiri kami lagi, hingga beliau tak kuasa juga untuk tak meneteskan airmata, dengan memeluk kami berdua lagi, sehingga kami bertigapun sekarang telah kembali tengelam dalam tangisan yang mengharu biru.


Sore ini menjadi begitu kelamnya, saat putus cinta terjadi pada kami. Amel tiada henti memohon, agar kesempatannya untuk memadu asmara denganku, tetap harus berlanjut seperti sedia kala.


Sakitnya hati akibat hujaman hati yang terasa seakan mati, sebenarnya teramat mengiris.


Kini diri ini sudar tercebur dalam lupanya akan apa arti itu cinta?.


Walau tak bisa kembali padanya, diri ini tetap semangat terus mencintainya.


Terasa sekali diri ini bagaikan tercampak dalam sekatan kubangan lumpur, sudah tercebur basah menerima kotoran pula.


Diri ini terlibat dalam asmara bersama Amel yang mengebu-gebu, asmara yang sesungguhnya telah menguras akan rasanya perasaan. Karena semua rasa yang ada padaku, demi cinta mati kini semua tak akan habis oleh lekangnya waktu.


Amel begitu sempurna sebagai seorang wanita, tak ada kurangnya, semua hampir melekat padanya.


Aku begitu mengagumi, mata, senyum, kebaikkan, sifat manja, nada lembut tutur kata-katanya, kehangatan cinta, pokoknya semuanya tanpa ada yang ketinggalan.


Hingga membuatku sering semakin tergila-gila, dan berkobar-kobar atas semua rasa cinta itu, tanpa bisa kukendalikan kala kemarin-kemarin itu.


Kadang cintaku terdahulu begitu menyala-nyala tanpa mengenal waktu.


Serta menciptakan rasa cinta itu, yang kian hari makin mengebu-gebu.


Ingin sekali dulu rasanya setiap waktu, dan detik bersamanya terus.


Jika seharipun tak bertemu bagaikan seratus tahun tak dapat berjumpa dengannya. Sungguh rasa itu begitu menyiksa sekali raga ini, kadang di saat waktu longgar aku berusaha mencari celah, saat kerinduan ingin bertemu dengan dirinya sudah memuncak, cara dengan melampiaskan rasa walau hanya sekedar saling sapa, itu saja sudah menjadi obat penawar rindu untukku.


Tapi rasa itu kini sudah terkikis akan cintaku sendiri, yang sudah sedikit habis tak tersisa, akibat kagetku bahwa Amel telah berani menerima pinangan Iwan temanku.


Kesetiaan yang selama ini sempat kujaga terasa mulai rapuh dan layu.


Wajahku yang cacatpun menjadi alasan utamaku untuk meminta putus padanya.


Biar harga dirinya bisa selalu kujaga, dengan memintanya untuk tak mencintaiku lagi.


Karena cinta adalah sebuah jalan hidup, yang tak akan pernah tahu jalannya dimasa akan datang, maka keputusan itu sungguh bulat-bulat terjadi kulakukan.

__ADS_1


Kamarin sempat berpikir, cinta itu akan abadi bersamanya, dengan jalinan kisah cinta yang terbaik, tapi ternyata semuanya pupus sudah harapan sekarang.


__ADS_2