
Acap kali rasa rindu yang datang membuat terlena akan menemui dirinya diseberang sana, namun semua dapat dicegah saat ancaman sang majikan begitu tergiang-ngiang ditelinga. Setengah bulan lebihpun telah berlalu, namun kerinduan ini tetap tertahan. Perjalanan sepasang kekasih ternyata tidak berjalan dengan lancar, yaitu perjalanan kisah cintaku bersama Amel disaat cinta kami kurang bahagia akibat hubungan jarak jauh (LDR).
Kerapkali diri ini tergungu bahagia, saat netra hitamnya itu terus kupandang mesra, jelas ada gurat rasa kebahagiaan terlihat disana.
Sungguh kau adalah bidadari hatiku, penawar obat untuk segala penyakit atas kerinduan ini.
Kita begitu menghabiskan waktu bersama-sama, saat dalam kisah perjumpaan.
Engkau selalu saja terlihat banyak terdiam, dan melamun saat-saat kutatap dari kejauhan, ketika kita akan bertemu.
Hubungan jarak jauh begitu berat, karena selama ini kita bisa menikmati hari-hari bersama berdua saja baik di rumah maupun sekolahan, namun semua kini telah hadir atas kesirnaan .
Dapat kurasakan sesuatu yang berbeda dari pandanganmu yang seringkali terlihat kosong, disaat kita sudah mencoba untuk saling bertemu.
Hanya ada hempasan nafasmu yang berkali-kali terasa berat sekali, saat mencoba tersenyum.
Tapi terasa pilu sekali yang dapat kau berikan padaku, di saat kita duduk memadu asmara hanya berdua.
Sudah lama kami menjalani cinta jarak jauh, tapi komunikasi tetap masih berjalan lancar seperti biasanya, walau handphonelah yang menjadi korban atas saksi cinta kami. Kadang komunikasi kami hanya dua kali dalam seminggu, tapi tak menyurutkan niatku untuk terus mencintainya. Rasa senang saat mengetahui kabarnya yang baik-baik saja di seberang kota sana, cukup bagiku untuk mengetahui keadaannya tetap terjaga atas kesehatannya.
[Kamu baik-baik saja 'kan, Alex?]
[Alhamdullilah, aku tetap baik, non!]
[Syukurlah]
[Kapan kita ketemuan lagi? Aku sungguh sangat ... sangaaaat merindukanmu, nih!]
[Perasaan baru 2 hari yang lalu, kita baru saja ketemuan? Sudah main rindu aja, nih! ]
[Memang gak boleh 'kah? Memang kamu gak merindukan aku?]
[Boleh sih non, Aku juga sangat-sangat rindu yang seakan-akan tak ingin lepas darimu. Tapi takutnya kalau kita sering ketemuan, nanti mama non Amel bisa curiga pulak sam kita]
[Aah, bodo amat sama mama. Semakin lama semakin dilarang ini dan itu rasanya aku semakin ingin membantahnya saja, sebab beliau terlalu mengekang tak bisa mengerti perasaan yang ada didalam hatiku]
__ADS_1
[Non Amel, kok ngomongnya begitu? Ngak baik lho! Nyonya itu bisa melarang, pasti ada sebab musababnya, ngak mungkin main larang-larang begitu saja]
[Iya ... iya, Alex. Aku akan mencoba memahami beliau. Oh ya, kapan kita bisa ketemuan lagi? Secepatnya kalau bisa, boleh ... boleh ... ya ... ya, pleaseeee!]
Diri ini tak habis pikir apa yang sedang ada dalam pikiran Amel sekarang. Baru kemarin ketamuan, sekarang sudah merengek-rengek minta ketemuan lagi. Bukannya diriku tidak mau ketemu dengan dirinya, tapi rasa takutku atas ancaman mamanya cukup bagiku untuk menepati janji, tapi anaknya sepertinya acuh tak acuh atas ucapan mamanya.
[Iya, boleh. Dimana kita bisa ketemuan?]
[Biasa di tempat kemarin-kemarin! Dibawah apartemenku, gimana?]
[Heeh, ok 'lah. Jaga kesehatan di sana dan banyak-banyakin makan, yang terpenting matanya jangan melirik sana-sini, Ok?]
[Siap komandan, pasti akan kuturuti nasehatmu. Tapi yang terakhir ngak bisa menjamin, soalnya diaparteman banyak sekali oppa-oppa ganteng dan kece badai]
[Amel? Ckckck, waah...perlu diawasi ketat nih! Awas saja kalau ketahuan berpaling ke hati yang lain]
[Aduh ... duh, benar- benar luar biasa cemburunya]
[Ha ... ha ... ha, cemburu itu tanda sayang. Kalau tidak ada rasa cemburu berarti cintanya kurang kuat]
[Hi ... hi ... hi, benarkah itu? ]
[Betul Alex. Kapan sih aku bohong sama kamu]
[Siip deh non! Memang kamu pacarku yang terbaik. Ok, nanti kita akan ketemuan hari minggu saja, gimana?]
[Baiklah. Aku akan sabar menunggu kedatanganmu]
[Siip deh. Bye ... bye, selamat malam. Mimpikan aku dalam tidurmu, ok! Assalammualaikum]
[Bye ... bye juga, ok! Walaikumsalam]
Rinduku pada Amel semakin lama kian menjadi terbiasa. Walau kulakukan dengan lapang dada atas semuanya, tapi tak begitu meruntuhkan semua cintaku padanya, walau dia begitu jauh dari pandangan mata. Rasa tak enak hati pada Iwan, kerap kali membuat canggung sebab hanya dialah yang bisa menolongku untuk ketemuan. Iwan kurasa juga mencintai Amel, hingga sering kali membuatku tak nyaman atas pertolongannya. Aku cukup salut dan patut diacungi jempol padanya, bahwa dia telah merelakan Amel bisa bersamaku. Katanya kalau melihat Amel bisa tersenyum bahagia, pasti diapun akan merasa bahagia juga.
Takut-takut akan menyakiti Iwan sering kali membuatku tak enak hati, sebab ketika ketemuan dengan Amel, si pujaan hati begitu tak malu-malunya langsung memelukku di depan Iwann temanku itu. Aku acap kali diri ini menangkap ekspresi wajah Iwan yang tak senang atas semua itu yaitu saat kami berpelukan.
__ADS_1
*******
"Iwan, nanti aku boleh minta tolong lagi ngak sama kamu? Amel ngebet banget, minta ketemuan lagi nich?" tanyaku padanya dalam kelas.
Rasa tak enak kembali menyelimutiku, sebab selalu merepotkannya terus. Karena hanya dialah teman terbaik yang bisa dipercaya merahasiakan semuanya dan bisa membawaku ketemuan dengan motornya.
"Kapan?" balik tanyanya.
"Biasalah, hari minggu."
"Baiklah, sepertinya waktuku sedang kosong nanti, yang tak ada kegiatan juga pada hari itu."
"Terima kasih Iwan, selama ini kamu selalu membantuku!" ucapku.
"Sama-sama, ngak usah sungkan-sungkan begitu. Kita 'kan teman baik," jawabnya sambil menepuk pundakku.
"Iya, iwan. Terima kasih lagi untukmu!" ucapku tak enak hati padanya.
"Heem."
Akhirnya kesepakatan ingin ketemuan mengajak Iwanpun telah disepakati. Aku harus membalas semua jasa-jasanya nanti, sebab dia adalah teman terbaikku dikala dalam kesusahan Iwan selalu datang menolong. Tak ada yang bisa kuucapkan selain terima kasih atas semua tindakannya, yang sering kali terus membantuku.
Jasamu begitu begitu berharga, kawan.
Tiada tempat yang bisa kunaungi lagi selain dirimu.
Dukunganmulah yang kini kuperlukan, saat diri ini sedang kesusahan dalam menghadapi peliknya atas nama cinta.
Aku tahu engkau merasakan sesak yang luar bisa dalam hatimu, sebab kita ini mencintai orang yang sama.
Tapi nak berkata apa lagi, saat pelabuhan hati wanita itu telah mengusai hatiku juga.
*Aku hanya bisa mendoakan kamu mendapatkan yang lebih baik dari apa yang kumiliki sekarang in**i*.
Terima kasih kawanku yang baik hati dan setia.
__ADS_1