Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Akhirnya semua berakhir


__ADS_3

Setelah peristiwa penyerangan papi tiri bersama anak buahnya, kini kehidupanku kembali bahagia lagi.


Hukuman mati telah diputuskan pengadilan untuk papi tiri, karena kasus penculikan, dengan pembunuhan atas nama pak Tono dan orang lain. Serta ditambah lagi atas pembunuhan berencana, yaitu mencelakai kedua orangtuaku, akibat sebuah perencanaan yaitu dengan memutuskan kabel mobil, sehingga orangtua meninggal dalam kecelakaan. Setelah penantian panjang dalam peliknya musibah, akhirnya kini semua satu-persatu telah terungkap.


"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya Engkau telah menunjukkan jalan siapa yang sebenarnya bersalah disini. Dengan terungkapnya semua kasus kemarin, akhirnya papa kandung dibalik semua dalang, telah mendapatkan hukuman yang setimpal atas kesalahannya," guman hati sudah tenang dan gembira.


Walau papi yang membuat masalah adalah ayah biologis yang kejam, namun hati ini tetap tak tega saat melihat beliau telah mendapatkan hukuman mati segera. Jika melihat kebelakang atas sifatnya, beliau sebenarnya orang baik namun terlalu dibutakan oleh harta dan dendam, hingga membuat beliau melakukan segala cara untuk melampiaskan segalanya.


"Semoga saja papi kandung akan menyesali perbuatan beliau, bahwa kesalahannya sangat besar. semoga nanti dia masih ingat diriku, bahwa aku adalah anak kandung yang sepatutnya dia sayangi bukan musuhi," rancau hati sedikit berdoa.


Sedangkan dua orang anak buah berambut cepak dan berkepala botak yang telah mencelakai Alex, kini dipenjara seumur hidup karena kasus penganiayaan dan membunuh dalam penculikan, serta telah membantu dalam perencanaan pembunuhan kedua orangtuaku. Sedangkan yang lain hanya dipenjara lima belas tahun, sebab hanya membantu penculikan dan penyerangan penganiayaan. Sedangkan mami dan adik tiri, mereka dipenjara cuma enam bulan, sebab tidak ada bukti kuat mereka ikut-ikutan dalam perencanaan kejahatan papi tiri. Mereka hanya menikmati hasilnya saja, jadi tak ada hukuman yang bisa memberatkan atas kasus yang melibatkan mereka.


Alex yang terluka dikaki akibat serangan pistol sudah diobati, dengan jalan operasi mengeluarkan peluru dirumah sakit. Walau cara berjalannya masih terpincang-pincang, kini keadaannya sudah mulai agak membaik, terlihat sekali saat dia mulai berakfisitas membantu semua pekerjaan dalam rumahku.


"Kamu kok sudah banyak gerak, Alex! Seharusnya bisa minta tolong mamang tukang kebun saja yang mengerjakan," ucapku mencoba mencegah apa yang dilakukan Alex.


"Ngak pa-pa, Amel. Lagian aku bosen jika berbaring terus dikasur. 'Toh kakiku rasanya sudah kian membaik, kok!" jawabnya santai.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Cuma mengigatkan kamu saja, supaya baik-baik dan hati-hati mengerjakan semuanya," ucapku memperingatkan.


"Iya."


Kini aku menuju dapur, untuk mencoba mencari camilan yang bisa meredakan rasa laparku pada perut. Terdengar suara bel rumah telah dibunyikan, yang tanda ada tamu ingin masuk. Aku hanya sibuk menatap dari atas sampai bawsh isi kulkas, untuk mencari yang cocok untuk kumakan.


"Siapa sih yang datang, kayak tamu penting saja," guman hati saat kesal bel rumah dibunyikan berkali-kali.


"Hei sayang," sapa suara Iwan.

__ADS_1


"Hei juga," jawabku santai masih sibuk berkililing melihat-lihat dalam kulkas.


Ternyata tamu yang barusan datang adalah Iwan calon tunanganku. Karena perut terasa belum kenyang setelah sarapan pagi, kedatangan Iwan tak serta merta kusambut dengan baik.


"Amel, bisa kita bicara sebentar," pinta Iwan.


"Emm, bicaralah!" jawabku yang sibuk memilih.


"Baiklah, aku akan menunggu kamu duduk disana," Pemberitahuannya.


"Iya, tunggu disana. Sebentar, aku mau cari camilan dulu," jawabku.


"Oke."


Iwan yang sudah duluan berjalan disofa ruang tamu, dan kini aku mulai menyusul membawa segelas air putih dan beberapa camilan snack.


"Uhuk ... uhuk," Tersedaknya diri ini yang sedang minum, akibat mendengar ucapan Iwan.


"Ini ... ini! Maaf, jika membuat kamu kaget, hingga tersedak begini," Iwan menyodorkan segera tisu, karena air yang kuminum sudah belepotan dimulut.


"Terima kasih, Iwan."


"Apa? Kok cepat banget hari H 'nya, bukankah masih setengah tahun lagi, rencana akan pernikahan kita. Apa kamu ngak salah, atas apa yang barusan kau katakan?" ujarku sedikit ada penolakan.


"Tidak, Amel. Aku secepatnya ingin memilikimu, jadi apa salahnya jika pernikahan kita dipercepat! Lagian bukakah sekarang sudah tidak ada masalah lagi, yang menunda pernikahan kita seperti hari kemarin-kemarin" Tetap kekuhnya permintaan Iwan.


"Tapi Iwan, semua persiapannya belum ada yang dipersiapkan, dan rasanya aku belum telalu siap jika mendadak begini," ujarku mencoba menghindari permintaannya.

__ADS_1


"Masalah itu, gampang. Aku akan menyewa orang-orang untuk membantu menyiapkan semuanya, tanpa ada kesalahan sedikitpun. Siap tak siap, kalau kamu setuju pasti semuanya akan berjalan lancar nanti," Kata-kata iwan yang masih tetap ngeyel.


"Iya 'kan, Alex. Gimana menurut kamu, Alex?" tanya Iwan pada Alex, yang sudah menyusul kami sedang duduk diruang tengah.


Kini netra mencoba melirik tajam ke arah Alex, mencoba menerka dan menebak apa yang akan dikatakan Alex tentang percakapan Iwan.


"Maksudnya? Gimana apanya?" polosnya pertanyaan Alex.


"Aku berencana secepatnya menikah dengan Amel, dengan cara merubah segera rencana kami, yaitu pernikahannya dipercepat jadi minggu depan," penjelasan Iwan yang menambah diriku tercengang atas penuturannya.


"Itu terserah kalian. Aku hanya bisa merestui dan mendoakan saja, agar kalian bahagia selama-lamanya. Lagian semua harus tetap terelakan, walau ada sebuah rasa sakit," santainya Alex menjawab.


"Eghmm ... heemm," Iwan tiba-tiba berdehem pada kami.


Deg, mata terbelalak kaget agak sedikit tertegun, hatiku merasa begitu bergetar terkejut, rasanya begitu menyebalkan, akibat mendengar penuturan Alex. Apa segitunya 'kah hilangnya cinta Alex padaku, sehingga dengan mudahnya dia berucap merestui.


"Wah, mudah sekali kamu bicara kayak gitu, Alex. Apakah maksud dari perkataan kamu barusan?" guman hati merasa heran.


Dan keanehanku sekarang adalah ketika melihat tatapan Alex, yang seakan-akan ada sesuatu yang dia sembunyikan. Matanya terus saja melirik menatapku, walau tangan sedang memegang minuman untuk diteguknya. Lirikan matanya sungguh memesona, tapi sedikit ada guratan rasa kekecewaan. Tapi entahlah, aku bukanlah peramal, yang bisa mengartikan gambaran ekspresinya. Tapi diri ini sungguh yakin, bahwa ada sesuatu yang ingin diungkapkan tapi tertahan.


"Aaah, apakah disebalik dalam ucapan restunya tadi, ada arti bahwa dia masih mengingikanku? Tapi kenapa dia kayak begitu rela dan melepasku begitu saja?" guman hati merasa aneh.


Aku sedang menghela nafas panjang.


Berusaha meredakan kesal, yang mulai bangkit menjalari dada.


Kemarahan didada bagai menyengat jiwa.

__ADS_1


Dan sedikit menghanguskan akan rasa cinta, yang selama ini sudah tersimpan dihati.


__ADS_2