Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Mencoba pergi


__ADS_3

Keadaanku yang selalu merepotkan keluarga pak Ahmad membuatku cepat-cepat ingin keluar dari rumah beliau. Awalnya mereka tidak setuju atas keinginanku untuk pergi, tapi karena aku ngotot ingin mencari keberadaan ibuku dan kekasih hati, akhirnya mereka mengizinkan walau berat hati.


"Kamu jaga baik-baik kondisi kamu, Alex!" ujar pak Ahmad menasehati.


"Baik pak, terima kasih atas kebaikan keluarga bapak terhadapku," balik ucapku.


"Kak Alex ... kak Alex?" panggil Budi.


"Iya Budi, kenapa sayang?" Aku langsung menghampirinya. Terlihat sekali dia bersedih ketika akan berpamitan denganku.


"Kak Alex, jangan lupakan Budi. Kalau ada waktu mainlah ke sini! Budi pasti akan merindukan kak Alex!" Tangisan ucapan Budi saat kupeluk.


"Baik Budi. Jangan nangis lagi, ok! Masak anak jagoan kebangaan kakak bisa cengeng. Kakak janji, kalau ada kesempatan akan selalu mampir dan menjenguk Budi," ujarku menenangkannya.


"Janji, ya?" ucapnya tak percaya.


"Pasti, janji!" kutautkan kelingkingnya dengan punyaku.


"Kalau begitu saya pamit pergi dulu, pak, bu?" ujarku yang mencium takzim tangan bu Asih dan pak Ahmad.


"Saya juga pamit legi juga, bibi, paman!" cakap Niko yang ikut-ikutan.


"Iya, nak Alex. Kamu hati-hati, jangan lupa kabari kami jika sudah sampai sana," jawab serak bu Asih.


"Iya, bu. Pasti itu. Da ... da, Assalamualaikum," tutur lembutku mengucap salam sambil melambaikan tangan.


"Walaikumsalam, hati-hati kalian di jalan. Bye ... bye ... bye," balik ucap semua orang dengan melambaikan tangan.

__ADS_1


Niko dan aku sekarang mengendarai motor, untuk kembali ke dusun tepat ibuku kerja, tapi karena ibu tidak lagi ada di dusun itu, dengan terpaksa aku ikut Niko kerja dan mengontrak rumah untuk tempatku tinggal sementara ini.


Dengan berbekal ilmu bela diri, kenekatan untuk mencari tahu kabar ibu dan Amel, tak mengurungkan niatku untuk secepatnya menyerah, walau aku tak tahu harus dari mana memulainya untuk mencari informasi tentang mereka.


Aku bekerja menjadi buruh bangunan, sedangkan Niko yang menjadi mandor, dalam proyek-proyek pembuatan rumah. Karena tidak memililki izasah, pekerjaan apapun harus kujalani demi menyambung hidup.


"Alex?" panggil Niko mengagetkanku disaat tengah melamun.


"Iya, Niko. Ada apa?" tanyaku.


"Gak pa-pa, apa sudah makan siangnya?" tanyanya.


"Sudah."


"Maafkan aku Alex, sebab tak bisa mencarikan kamu pekerjaan yang layak seperti orang lain. Kamu gak apa-apa 'kan dengan pekerjaan ini?" tanyanya ragu yang kini ikut duduk lesehan ditanah.


"Aku baik-baik saja dengan pekerjaan ini. Yang terpenting adalah bisa menyambung hidupku dan untuk menyewa tempat tinggal. Justru diriku mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas jasamu yang selalu kurepotkan, hingga susah-susah telah memberiku pekerjaan," ucapku berterima kasih.


"Oh ya, Alex. Apakah kamu sampai sekarang masih mencintai Amel?" tanyanya yang membuatku terkejut.


"Entahlah, Niko. Di hati masih ada rasa cinta yang tetap sama buatnya, tapi karena wajahku yang telah rusak, rasa-rasanya membuatku takut untuk memiliki dan kembali padanya lagi!"


ujar penjelasanku.


"Tapi? Bukankah engkau orang yang pantang menyerah selama ini?" imbuh tanyanya lagi.


"Aku dulu memang tidak pernah menyerah walau karena keadaan yang miskin, tapi keadaannya sekarang sungguh berbeda. Wajahku yang seperti moster ini, nanti takut-takut kalau akan membuatnya merasa malu untuk bisa mencintaiku lagi," ketakutan ucapku.

__ADS_1


"Kurasa Amel tidak alan begitu. Waktu dia mendengar kamu meninggal, Amel 'lah orang yang pertama kali begitu terpukul, sampai seminggu tak masuk sekolah. Badannya kian hari kian kurus, ditambah kematian orang tuanya. Tapi sekarang dia banyak berubah lho! lebih dewasa dan tak manja lagi seperti waktu bersama kamu," Niko mencoba mengodaku.


"Iyakah? Baguslah kalau dia bisa lebih dewasa apalagi mandiri. Patutnya dia memang harus berubah bisa menjaga dirinya sendiri, ujarku membenarkan.


"Ayo kita kembali kerja, biar bisa menyelesaikan pekerjaan renovasi rumah ini dengan cepat, lagian terik matahari kian lama kian meninggi," kata-kataku menyuruhnya.


"Oke 'lah."


"Oh ya, Alex. Kalau ngak ada halangan, sekitar lima bulanan lagi kita akan mendapatkan proyek besar, yaitu dipembangunan Sekolahan baru, tapi itu jauh yaitu di kota Semarang. Kalau kita semua bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, lumayan 'lah nanti bonusnya gede," Niko menjelaskan.


"Betulkah itu? Berarti kita bisa pesta makan-makan nih?" godaku merayu.


"Apa sih yang Niko ngak bisa. Pasti dong! Kita dan teman yang lainnya, akan tetap pesta makan yang enak-enak," Setujunya jawaban Niko.


"Hore ... hore. Wah asyik itu, bos! Mantap pokoknya," suara semua teman sepekerjaan gembira atas ucapan Niko barusan.


Rindu yang tak tertahan tak bisa dipungkiri lagi, tapi nak berbuat apa lagi saat orang yang dicintai tekah jauh dimata, yang tak tahu keberadaannya kini dimana?.


Hati salalu bertanya-tany gundah dan cemas, apakah kabarnya dia sekarang baik-baik saja atau justru sebaliknya.


"Aku begitu mengkhawatirkan ibu dan kamu, Amel. Apakah kalian baik-baik saja menjalani hidup ini tanpa ada saudara yang menemani?" kegelisahan hati berbicara.


Ingin sekali aku melihat wajahmu, walau sedetik saja.


Rasa ingin mendengar suaramupun, kini juga terasa kuatnya.


Ingin sekali rasanya mendengar celoteh-celotehmu yang selalu cerewet bercerita, serta dengan candaanmu yang selalu memancarkan senyuman.

__ADS_1


Kerinduanku padamu, sekarang begitu tak tertahan lagi, terasa sekali sekarang bahwa aku begitu kehilangan sosokmu.


Hati mengatakan ingin sekali bertemu, tapi disisi lain aku begitu takut bertemu dengannya. Saat melihat kondisi wajahku sekarang ini, apakah dia akan tetap mencintaiku atau justru menghindarinya, yaitu disaat melihat wajahku yang sudah seperti monster hantu berjalan yang menakutkan.


__ADS_2