Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Grogi akan menikah


__ADS_3

Diri sudah tak karuan lagi rasa deg-degkannya, akibat status baru yang akan kusandang yaitu sebagai imam untuk Amel.


"Hey, pengantin pria. Mukanya kok tegang banget, sih? Jadinya susah untuk meriasnya ini. Memang tidak mau lebih tampan 'kah?" ujar si mbak perias pengantin.


"Dia tegang, sebab takut bakal seatap dan sekasur dengan pengantin perempuan!" ledek Iwan ketika menemaniku berias.


"Aku bukan tegang karena itu. Gila saja kamu ini! Pikiran kalau jomblo akut memang begitu, suka ngeres. Aku itu tegang karena takut salah ucap dalam ijab qobul, yang akan terlaksanakan sebentar lagi" sahutku kesal pada Iwan.


"Ha ... ha, banyak ngelesnya! ada satu bocoran yang bisa membuat kamu klepek-klepek nanti malam, mau ngak aku kasih tahu?" goda Iwan sekali lagi, yang pikirannya sudah mulai ruwet memikirkan hal-hal yang tak terjabarkan.


"Husstt," ujarku menyuruh diam Iwan, sebab malu ada si mbak perias.


"Ha ... ha, gak usah malu gitu kenapa? Lagian mbaknya sudah menikah, iyakan Mbak?" sahut Iwan bertanya dengan alis dinaikkan bergerak-gerak sedikit.


"Hi ... hi, yang pastinya benar itu. Ngak pa-pa, kok. Lanjutkanlah!" imbuh mbaknya tertawa geli.


"Gimana Alex? Mau ngak?" tanya Iwan lagi dengan serius.


"Aaah, dasar kamu ini. Memang suka mengila, kalau sudah berotak mesum," balasku berkata yang langsung melemparkan kertas ke wajah Iwan, saat sudah kuremas-remas jadi bulatan.


"Hahahahha," tawa riang Iwan akibat menang habis mengerjaiku.


Setelah berias hampir 15 menit, kini wajahku terlihat gagah dan tampan. Baju pengantin yang sempat dipakai Iwanpun, sekarang beralih membalut tubuhku.


"Wah, ganteng sekali anak ibu sekarang! Selamat ya Alex, kamu sekarang benar-benar menjadi pengantin pria untuk Amel. Semoga rumah tangga kamu menjadi sakinah mawardah warohmah," Antusiasnya ibu berkata.


"Amin, doakan Alex, bu. Supaya acara kami berjalan lancar, dan bisa membina biduk rumah tangga dengan bahagia," ujarku sambil tersenyum.


"Amin, nak. Doa ibu tak akan pernah luput untuk kalian berdua," sahutan kebahagiaan ibu.


Pukul 10 tepat acara akan dimulai. Mataku tak berkedip melihat perempuan yang kucintai, ketika kini telah berjalan dengan anggunnya mendekati, yaitu dengan berpakaian kebaya putih dibagian atasnya, sedangkan bagian bawah memakai jarik kain batik khas jawa. Saat Amel sudah duduk dibelakangku, sekarang jantung mulai berdegup kencang tak tentu arah.


Kini aku menjabat tangan pak penghulu, untuk mengucapkan ikrar sehidup semati dengan Amel. Jantungku begitu dag dig dug tak karuan, saat detik-detik mengucapkan ijab qobul.


"Apakah, sah?" tanya pak penghulu.


"Sah ... sah," suara semua orang bergema, menyambut statusku yang baru.


"Alhamdulillah," ucap rasa syukur pak penghulu.


Doa-doapun terus digemakan, saat acara ijab qobul akhirnya selesai juga tanpa ada kendala.


Sekarang Amel beralih duduk tepat disampingku, yang segera mencium tangan punggung, lalu diri ini berbalik untuk segera mencium keningnya. Amel nampak begitu sumringah bahagia, terlihat sekali dalam gambaran wajahnya.


"Alhamdulillah, kalian sudah sah menjadi suami istri," ucap pak penghulu.


"Iya, pak!" jawabku ramah.


Setelah kami selesai menandatangani surat nikah dan berkas-berkas lainnya. Sekarang kami menuju ke tempat ibu, yang wajah beliau sudah terbanjirkan oleh uraian airmata, saat melihat kami berdua ingin datang dengan tujuan bermaksud sungkem pada beliau.


"Ibu sekarang sangat bahagia melihat kalian berdua yang akhirnya dipersatukan dalam ikatan pernikahan," ujar beliau beruraikan airmata saat aku sungkem pada beliau.


"Iya, bu. Ini semua berkat doa dan keikhlasan ibu yang selalu mendukung dan menjaga kami," balik ucapku saat pipi kami melekat untuk saling meluapkan kasih sayang.


"Ibu hanya bisa berdoa semoga kalian selamanya akan tetap bahagia," imbuh ucap beliau.


"Terima kasih, bu."


********


Setelah kelelahan dalam acara resepsi, kami berdua segera memasuki kamar. Dalam kamar pengantin, ternyata Amel sudah mempersiapkan segalanya dengan penuh romantis. Kasur miliknya sudah dihiasi kelopak-kelopak bunga mawar merah, yang sudah berserakan ke segala arah. Sungguh bau akan keharuman kamarnya, membuat gairah semakin membuncah bahagia.


Kami berdua kini membersihkan diri dari bekas make up, dan aku berusaha membantu Amel melepaskan aksesoris dari tubuhnya.


Suasana terlihat canggung diantara kami, ketika rasa yang tak pernah kami rasakan akan menjadi awal eratnya hubungan pernikahan.


"Aku mau ke kamar mandi dulu?" alasanku membubarkan rasa canggung.


"Hemm," hanya itu sahutan Amel, saat tangannya masih sibuk melepas anting ditelinga.


Dalam kamar mandi, hati sudah dilanda rasa gemuruh luar biasa akibat gemetaran. Walau tekad memberi kewajiban sebagai suami, rasa jantungan masih saja terhinggapi seperti belum siap menjalankanya. Entah mengapa diri ini begitu gugup tak karuan, walau berulang kali mengusahakan tetap tenang, tapi rasa gugup tetap saja tak mau hilang. Mungkinkah karena sebuah kehalalan ikatan pernikahan, yang membuat diri ini begitu grogi di malam pertama pernikahan kami.


Gigi terus saja kugosok-gosok dengan sikat gigi sampai berulang-ulang melebihi tiga kali. Walau tak memakai penyemprot mulut, tapi bolehlah mulut seksiku ini nanti terpakai dengan mesranya.

__ADS_1


Ceklek, pintu kamar mandi terbuka.


"Kok lama banget dalam kamar mandinya?" tanya Amel yang kini masih duduk ditempat rias.


"He ... he, perut tadi rasanya mules, jadi lama dalam kamar mandi," jawabku berbohong diiringi cegegesan.


"Ooh."


Malam kian beranjak cepat saja, yang sudah memutarkan waktunya. Terlihat Amel sudah berdiri didekat lemari pakaian. Rasa gugup datang melanda kembali tapi semuanya dapat ternormalkan, akibat langkahku secara diam-diam mendekatinya dimana Amel tengah sibuk menata pakaian. Tanpa basa-basi kupeluk Amel dari belakang, membuat diriku manahan nafas sesak sebentar akan rasa kecanduan cinta pada Amel.


Saat pipi kenyalnya kucium, langsung saja dia membalikkan badan, yang sesegera mungkin Amel menatap lekat wajahku, sehingga membuat bulu kudukpun terasa agak meremang berdiri semua.


"Aaah, apakah aku harus segrogi ini? Jangan sampai diriku ketahuan Amel, bahwa aku begitu dilanda rasa grogi akut," guman hati ada rasa takut.


Mata kami begitu sama-sama terkunci, menatap penuh atas jawaban cinta yang sudah terpatri dalam hati.


"Wah, rambut kamu mulai putih itu!" ujarku menggoda.


"Masak sih, Alex?" kebinggungan Amel dengan tatapan agak polos.


"Masak aku masih muda sudah ubanan," imbuhnya menjawab dengan tangan meraba-raba rambut.


"Iya, beneran putih. Yaitu putih bersihnya hati kamu hanya untukku," rayuan kegombalan yang sudah keluar.


"Iihh, gombal mautnya datang," ucapnya manja sambil memonyongkan bibir.


"Ha ... ha, jangan sewot gitu, kenapa! Tambah cantik saja kalau marah," bujuk rayuanku lagi.


"Udah ah, ngegombalnya. Mending kita bobok saja, memang kamu ngak capek?" tanyanya masih dalam pelukanku.


"Cepek sih! tapi?" ucapanku terhenti.


"Tapi apaan?" jawabnya binggung.


"Tapi ini dulu. Cuuup!" ciuman langsung kudaratkan dibibir Amel.


"Emmph, nakal amat. Ceetit," ujarnya yang tiba-tiba secepatnya melepaskan ciuman, diiringi langsung saja mencubit lenganku.


"Hi ... hi ... hi, rasain pembalasanku, makanya jangan usil."


"Awas kamu! Sini ... sini kamu," kukejar Amel untuk segera mengelitik tubuhnya.


"Ampun Alex. Ha ... ha ... ha," Permohonan Amel.


"Tiada ampun bagimu," jawabku terus mengelitiknya.


Setelah lelah bercanda, Kini kuangkat dagunya pelan, dengan tangan mencoba merangkup wajahnya agar mau menatapku.


Pipi ini rasanya sudah mulai meremang memanas, akibat sorotan netra kami yang sudah mendesirkan perasaaan cinta dalam kegairahan. Pelan-pelan kudekatkan wajahku padanya, yang tanpa mengikiskan jarak lagi diantara kami. Cuup, ciuman kedua penuh mesra sedang kami lakukan, hingga bibir Amel sungguh terasa lembut dan kami terus saja saling membalas.


Tak menyangka tangannya kini sudah memegangi kepalaku, yang sedikit meremas-remas rambut. Sedangkan tanganku sudah mulai erat melingkar di pinggangnya, dimana wajah kami saling bertatap muka dengan penuh gairah, yang terus saja tanpa henti bibir kami saling mengatup, akibat merasakan ciuman keganasan kemesraan.


Perlahan-lahan langkah kami mundur-mundur mendekati kasur, hingga diriku langsung saja cepat-cepat mendorong tubuh Amel keatas ranjang, yang mana kami terus saja melanjutkan ciuman lembut yang terasa begitu melunakkan.


Kau sangatlah cantik dewiku.


Hatiku kian berdebar bila melihatmu.


Dulu aku telah behasil mengentuk pintu hatimu, akankah kau akan membukakannya lagi untukku sekarang.


Tapi hatimu sempat tertutup buatku.


Aku sempat juga memberimu sensasi yang sudah tersembunyi.


Sudah ada rasa kekhawatiran dalam matamu.


Ternyata kau jatuh cinta padaku kembali.


Jangan takut karena cinta adalah jalan.


Pelan-pelan, aku telah mendapatkanmu kembali.


Dan aku telah berhasil merambat ke dalam hatimu lagi.

__ADS_1


Aku telah berhasil membalikkanmu.


Aku telah berhasil menghancurkanmu, dan menelan hatimu


Aku telah berhasil menculik hatimu.


Aku telah sempat menikmatimu, dan terus mengacaukanmu.


Aku begitu terukir indah dalam hatimu.


Walau aku mati, selamanya aku akan hidup dihatimu.


Datanglah kesini gadisku.


Aku akan terus pergi menuju hatimu.


Tapi engkau telah sempat memanggilku monster.


Dia mendapatkanku sedang mengila.


Dan kamu begitu mengetahuinya.


Aku sedikit tak sabar.


Aku juga tak lembut.


Aku sudah sangat membencimu.


Tetapi aku juga menginginkanmu.


Ya betul, kau adalah tipeku.


Hatiku tak akan pernah berbohong untuk itu.


Kini telah dimulai, dimana aku telah mengirimkan, sinyal-sinyal bahaya dalam hatiku.


Aku sungguh bergetar.


Saat aku sempat memutar balikkan kehidupanmu.


Maafkan aku telah membuatmu menggila.


Kau sebenarnya tahu aku melakukannya.


Semuanya telah takut padaku.


Sekarang aku adalah pria yang tak dapat disentuh.


Tapi pada akhirnya kau tak bisa menolakku.


Kau akan bersembunyi dan mencuri pandang padaku, lalu kau akan terkejut (Siapa?).


Nikmatilah rasa sakit yang sempat kurasakan.


Aku akan bermain denganmu, kapanpun yang kumau.


Bermain-mainkah dibalik tanganku.


Janganlah kau terus-menerus memanggilku moster.


Aku adalah salah satu keberadaanmu.


Terimalah jati diriku sekarang.


Hilangkan semua rasa kekhawatiranmu.


Hilangkan sebuah rasa kecemasanmu.


Jangan pernah melarikan diri lagi dariku.


Diriku akan tetap selamanya ada dihatimu.


Sumber lagu : by Exo (Monster)

__ADS_1


__ADS_2