Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kemenangan hak kepemilikan


__ADS_3

Dengan bantuan Alex, kini diri ini telah berani mengajukan gugatan tentang harta gono gini milik kedua orang tua. Awalnya aku begitu takut menghadapi keluarga tiri, sebab teringat atas kekejaman mereka, yang telah menyiksa pada masa-masa kemarin. Namun semangat Alex yang tulus membantu, rasa akan ketakutan terasa hilang begitu saja. Disebalik itu juga, Alex bersiasat ingin mencari pelaku yang sudah merusak wajahnya.


"Alex, tunggu?" panggilku pelan.


"Hem," jawabnya santai.


Diri ini tertunduk diam dihadapannya. Tangan terasa sudah dingin sekali akibat grogi, dalam ketakutan ingin segera memasuki ruang pengadilan, yang dapat menentukan siapakah yang akan menang nantinya.


"Ada apa Amel?" tanya Alex merasa aneh dengan mengambil tangan ini untuk digenggamnya.


Aku hanya bisa diam membisu, tak langsung menanggapi ucapannya.


"Kenapa tangan kamu dingin sekali?."


"Aku takut, Alex. Untuk ikut masuk ke dalam ruangan itu," jawabku menunjukkan pintu pengadilan yang terbuka.


"Ngak usah takut, sebab ada aku disini untuk tetap setia menemani kamu," suara pengap sungau Alex sebab sedang memakai masker.


"Tapi, Alex. Mereka bukan lawan yang mudah untuk kita hadapi, jadi aku sekarang benar-benar takut jika kita nanti akan kalah," Kegelisanku yang sudah kembali timbul.


"Tenanglah Amel, diriku ini akan selalu berada didekat kamu. Jika mereka berbuat macam-macam padamu, maka aku adalah orang yang pertama kali akan menghajar mereka," Kata-kata Alex yang penuh keberanian.


"Terima kasih, Alex. Atas jasa-jasa kau, yang selalu mementingkan diriku duluan. Kamu selalu saja ada untukku disetiap diri ini selalu membutuhkan." Nada bicaraku pelan.


Cuup, sebuah ciuman bibir kulayangkan cepat dipipi Alex, yang wajahnya sedang bertutupkan masker. Lalu langkah secepatnya berlari kecil melenggang pergi dari hadapannya, saat dia masih dalam keadaan terbengong-bengong atas tindakanku yang sempat ada rasa malu kepada diri sendiri.


Beberapa argument terus saja terlontar dari mulut ayah kandung, saat ngotot sekali bahwa dia adalah pemilik harta yang sah. Namun pengadilan akhirnya memberikan keputusan yang adil, dan ternyata akulah yang akhirnya jadi pemenang. Dengan perbandingan tipis akan kepemilikan harta, antara mama dan papaku, yaitu 41% milik mama dan 59% milik papa. Karena banyak harta kepunyaan papa, jadi semua hartanya bisa kumiliki sekarang.


Kertas punya papi kandung tentang surat yang tempo hari dinampakkan padaku, yaitu atas sahnya kepemilikan harta, ternyata oleh pihak pengadilan telah ditolak mentah-mentah, karena keasliannya kurang akurat dan tidak ada saksi yang membenarkan bahwa kertas itu sah menjadi miliknya, sehingga beliau kini benar-benar hancur kalah.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah, ternyata kamu telah mengabulkan doaku, untuk bisa mendapatkan kembali harta yang sempat hilang dari tanganku akibat terampas," Rasa syukurku dalam hati.


Rasa syukur tak lepasnya terus saja kupanjatkan, yang akhirnya rumah satu-satunya peninggalan orang tua kini telah kembali ketanganku lagi.


"Awas kamu, Amel. Aku akan membalas semua ini!" Ancam papi kandung sebelum beliau benar-benar pergi meninggalkan pengadilan.


"Aduh ... duh, sudah kalah tapi kelihatan ngak terima, tidak usah marah-marah gitu, kali! Kalau papi mau uang akan aku berikan, tak payah memunculkan tanduk banteng begitu," jawabku balik sambil menghina.


"Cuuiih. Tak sudi, dasar!" hinanya dengan air liur terdarat dilantai.


"Kalah ya kalah, tidak usah sok segalanya gitu. Dasar manusia aneh," pelan suaraku mengerutuinya.


"Apa yang kau bilang barusan? Dasar anak kurang ajar sekali kamu," Kemarahan beliau ingin menabok menampar.


"Jangan sok kuasa ingin melakukan hal-hal seenaknya saja, sebab ingatlah disini masih banyak orang," cegah Alex saat tangan tercekal tak jadi memukulku.


"Biarkan saja, Alex. Ingat ya, papi. Ini semua belum berakhir, karena aku akan menemukan pelaku penculikan, serta mencari penyebab kecelakaan orangtua," balik ancamku melototi beliau.


Rasa ketakutan dalam sidang pengadilan tadi tak begitu terasa, sebab Alex selalu berdiri tepat dibelakangku untuk siap siaga menjaga diri ini. Ternyata walau dia bukan siapa-siapaku lagi, kesetiaannya yang tak meninggalkanku tetap saja terjaga. Rasa benci yang sempat singgah, akibat dia meminta putus kemarin-kemarin, benih-benih cinta baru kini telah mulai hadir untuknya lagi.


"Bu ... bu, lihat ... lihat. Amel telah berhasil mendapatkan rumah itu lagi, sebab menang dipengadilan tadi, ujarku melompat-lompat penuh kegirangan dengan memegang tangan beliau.


"Benarkah itu? Wah, ibu juga ikut senang. Sudah ... sudah melompatnya, nanti kakinya bisa terkilir," cegah ibu.


"Iya, bu."


"Ibu tahu sekali, nak. Kamu pasti akan mendapatkannya lagi. Inilah buah kesabaran kamu dalam menghadapi masalah ini, hingga apa yang selama ini kamu inginkan tercapai juga," ujar beliau dengan menitikkan airmata.


"Kenapa ibu menangis?" tanyaku sambil memeluk beliau.

__ADS_1


"Ibu menangis bukan berarti sedih, tapi airmata ini adalah tanda rasa kebahagiaan, yang sedang menyelimuti ibu sekarang," penjelasan beliau.


"Terima kasih, bu. Disaat Amel jatuh dan terpuruk, ibu selalu ada untuk tetap menemani Amel. Semangat yang engkau berikan sungguh berarti bagiku kala itu. Kalau tidak ada ibu, pasti Amel sudah seperti orang gila, sebab tak tahannya atas cobaan yang bertubi-tubi. Terima kasih atas semua dukunganmu, bu." Kucium berkali-kali pipi beliau.


"Sama-sama, Amel. Walau seandainya kamu sekarangpun masih menjadi majikanku, ibu akan tetap selalu setia menjagamu dengan segenap jiwa dan raga yang ibu punya," tutur keterangan beliau pilu.


"Terima kasih, bu. Emuaach ... emuach, aku sangat menyayangi kamu," Berkali-kali pipi ibu terus saja kucium.


Alex yang melihatku, sedang berkasih sayang pada ibu, dia hanya bisa tersenyum-senyum bahagia melihat ke arah kami.


Setelah kemenangan yang kuraih, langsung saja Alex dan ibu kuboyong untuk pindah kerumah peninggalan orangtua. Dulu mereka adalah pembantu dikeluargaku, tapi sekarang status mereka sudah berbeda, yaitu sudah kuanggap sebagai keluarga.


Walau kenyataannya bahwa mereka hanya keluarga angkat, jasa-jasa mereka yang sudah banyak mengeluarkan tenaga dan airmata yang selalu membantu, tak bisa membalas lebih dari segalanya, kecuali mengangapnya sebagai keluarga sendiri. Tiap hari waktu mereka sering terbuang hanya untukku termasuk ibu. Disaat jatuh tiada orang yang menemani, beliau dengan sabar dan tanpa lelah selalu mencari solusi keadaan diri ini dengan baik saat sudah terpuruk kacau, yang mana beliau tanpa sedikitpun ada rasa berkeluh kesah.


Ibu memberi ide untuk mengadakan pengajian, atas rasa syukur yang barusan kudapatkan. Selain mengadakan pengajian yang mengundang kerabat dan para tetangga, dengan kekayaan harta atas peninggalan orangtua, kusumbangkan uang ke anak-anak fakir miskin, yatim piatu, serta tak lupa ke panti asuhan.


Akhirnya rasa puncak diatas kemenangan, begitu terasa membahagiakan sekarang. Semua perjuangan tidak mudah didapatkan, dengan hanya membalik telapak tangan, semuanya butuh proses pengorbanan dan airmata untuk melewati jalan hidup yang berliku-liku.


"Ma, pa. Lihat Amel sudah berhasil mendapatkan rumah kita lagi. Rasanya Amel, begitu bahagia dengan keberhasilan ini, tapi sekarang tinggal satu kesedihan yang sedang menderaku, yang saat ini masih saja belum tercapai, yaitu memiliki hati Alex sepenuhnya. Apakah Amel akan mendapatkannya lagi, ma, pa? Amel begitu mencintai Amel," ucapku dalam tangisan plu saat berkunjung dipusaran pemakaman orangtua.


Bunga mawar berwarna putih dan merah, tak lupa mengiringi saat berkunjung. Tangan terus sibuk menabur kelopak-kelopak mawar yang sudah tercerai berai dari tangkai, hingga memudahkan diri ini membubuhkan diatas gundukan tanah yang sudah lama mengering. Lama sekali diri ini tergolek memeluk tanah pemakaman, dengan cara tangan terentang seperti memeluk.


"Neng ... neng, bangun! Ayo bangun," Suara seorang laki-laki tiba-tiba membangunkanku.


Tak terasa aku tadi sudah menangis tertidur, dengan memeluk sedih pusaran terakhir milik papaku.


"Oh iya, pak. Maaf ... maaf, dan terima kasih sudah dibangunkan," ujarku pada tukang perawat kuburan.


"Iya neng, cepat pulang sana. Hari sudah mau gelap ini," ucap beliau memberitahu.

__ADS_1


"Oh, iya pak. Terima kasih," jawabku.


Sekarang hari-hari terasa bahagia, namun kebahagiaan itu sudah ternodai oleh rasa kesedihan, akibat Alex yang tak bisa kumiliki seutuhnya. Sikapnya sekarang terasa biasa-biasa saja padaku yaitu seperti seorang teman, rasa kecewa begitu mendera atas semua sikapnya yang kini benar-benar melupakan kisah cinta kami, yang sempat terajut indah diwaktu dulu.


__ADS_2