Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Rasa aneh yang merajai jiwa


__ADS_3

Bijaklah dalam membaca karya iniπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™usia dibawah umur dilarang membaca karya author ini.


******


Mungkin kehadiran Amel didekatku belum terbiasa bagiku. Perasaan canggung hanya berdua dalam satu ruangan membuatku terasa tak nyaman sekali.


Sebenarnya aku tidak mau terperangkap berdua saja dengan Amel di dalam kamar hotel, tapi keadaanlah yang mengharuskan kami melakukan ini. Semenjak sembari tadi membayangkannya saja sudah bergindik merinding, yang semoga saja nafsu syetan yang mengoda iman nanti tak menghampiriku.


Suasana mendadak hening saat tangannya masih mencoba mengeringkan rambutku, hingga untuk beberapa saat tatapan kami sudah sama-sama saling mengunci. Terjebak dalam kamar yang sama membuat situasinya terasa semakin canggung saja, sehingga membuatku rasanya sudah gugup setengah mati.


Sapuan nafas yang hangat mulai terasa diwajah, membuat degub jantung dalam dada kian cepat memompa. Perasaan hatiku yang kini terguncang tapi terasa nyaman, diakibatkan oleh sebuah ciuman mendadak dilakukan oleh Amel begitu saja dibibirku.


Matanya sekarang mulai terpejam mungkin menikmati moment-moment berciuman, membuatku sedikit agak kewalahan atas tindakannya. Rasa yang barusan terjadi, membuat raga seakan-akan semakin mengila. Rasa gugup kini berubah bagai melayang-layang mengudara. Kini malu sudah bercampur menjadi satu dengan hasrat, membuat hatiku kian lama kian berdebar terasa sudah tak karuan.


"Amel ... eeem?" panggilku dengan berusaha melepaskan aksi ciumannya.


Dia tak kunjung menjawab. Sorot matanya yang tajam terus saja menatap seakan tak suka atas panggilanku barusan. Dia terus saja mencoba menciumku dengan lembut, tanpa sedetikpun ada perasaan ingin melepaskan bibirnya dari dibibirku.


Aku mendongak tak percaya, mencoba menetralkan semua debaran di dada yang semakin lama semakin terguncang dengan kuatnya.


Diri ini sudah sedikit terbuai dan terpikat, detik-detik saat tangan Amel mulai menautkannya ditanganku untuk tetap sama-sama saling mengengam erat.


"Jangan Amel!" ucapku lirih yang mulai tak nyaman dengan tingkahnya saat ini.


"Amel jangan lakukan ini! Aku mohon," ucapku yang berusaha menjauhkan kepala dan mengesernya.


Disaat tangan Amel sudah mulai meraba-raba dadaku, langsung saja kusingkirkan tubuhnya dengan sedikit memberi dorongan agar dia tak mendekatiku lagi supaya menjauh.


Seketika dia memalingkan muka dengan wajahnya sudah terlihat pias-pias kemerahan, mungkin sudah ada seutas rasa kekecewaan yang tengah tersembunyi darinya.


Kini Amel telah berjalan merangkak ke tepi pembaringan dan langsung saja bersembunyi menutupi tubuhnya dengan selimut. Mungkin sudah merasa malu dengan aksinya yang terlalu agresif barusan.

__ADS_1


Aku hanya berdiri mematung mencoba menjauh dari kasur. Helaan nafas yang panjang tak cukup jua untuk meredakan debaran hati yang sempat berdegup kencang sekali. Tekuk leher terus saja kuusap-usap, sebab binggung atas benar atau tidaknya tindakan yang barusan kulakukan tadi.


Lama sekali aku menjauh, tapi majikanku itu tak kunjung jua membuka selimut yang menyembunyikan tubuhnya.


"Non ... non Amel," pangilku yang sudah mendekatinya lagi.


"Kamu sudah tidur 'kah?" tanyaku yang mencoba mencairkan suasana yang tadinya sempat menegang.


"Urus saja urusanmu sendiri, aku belum ngantuk!" jawabnya dengan wajah masih tertutupkan oleh selimut.


"Maafkan aku non. Kita tak bisa melakukan semua itu," ujarku dengan menarik-narik selimutnya.


"Kamu sudah gak mencintaiku lagi?" tanyanya.


"Bukan begitu non Amel. Aku benar-benar sangat mencintaimu, tetapi tindakanmu tadi sangat salah dan aku tidak mau itu semua akan menjadi penyesalanmu kelak," jawabku yang sejujurnya


"Aku tidak akan menyesal sama sekali, jika melakukannya bersama orang yang kucintai."


"Terserah!" ucapnya kasar yang masih dalam selimut.


"Lebih baik kita putus saja, ngak usah melanjutkan hubungan ini! Terserah pada siapa hatimu akan berlabuh," nada ucapannya ketus terdengar sudah marah.


"Apa? takkan baru berapa jam jadian, sudah main putus saja?" ujarku berpura-pura bertanya.


"Terserah kamu, mau ngelanjutin atau tidak Pokoknya terserah ... terserah ... ya tererah. Lebih baik dan bagus jika kita gak usah ada hubungan lagi alias PUTUS," ujarnya kasar lagi.


"Hik ... hik ... hiks," suara lirihnya sedikit tertahan seperti sedang menangis.


"Non Amel menangis?" polosnya pertanyaanku.


"Aku gak nangis, tapi sedih aja sudah putus sama kamu."

__ADS_1


"Tadi non Amel sendiri yang minta putus, tapi sekarang kok menyesal. Hi ... hi ... hi," ucapku menjawab. Dimana hati mulai tertawa atas kelucuan ucapannya barusan.


Hampir tiga puluh menit kubiarkan majikan menumpahkan airmatanya. Ketika suara tangisannya terhenti, dia masih tetap dalam keadaan yang sama yaitu tetap kekuh tidak mau membuka selimutnya.


"Non Amel sudah selesai menangisnya?" tanyaku dimana majikan masih diam membisu dalam selimut.


"Non Amel ... non?" panggilku sebab tak kunjung jua dia menjawabnya.


"Apaan sih, Alex? Gangguin orang saja. Aku tak mau mendengarkan suaramu lagi. Jadi tolong pergilah dari sini, kalau perlu menjauhlah dariku selama-lamanya, mengerti!" ketusnya dia menyuruh.


"Apa? Apa yang non Amel barusan bilang?" tanyaku sebab hati sudah mulai panas marah kerena ucapannya.


"Aku bilang pergilah menjauhiku, sebab kita sekarang sudah putus! Paham," jawabnya serius.


"Putus? Putus?"" tanyaku sekali lagi sebab tak percaya.


"Iya," jawabnya singkat.


Tanpa menunggu lama langsung saja kutarik selimut dengan kuatnya, yang sempat menyembunyikan tubuhnya tadi.


"Sini kamu ... sini!" panggilku kasar.


"Lepaskan aku Alex!" permintaan kasarnya berontak, karena aku sekarang telah mengkunci kedua tangannya.


Sekarang aku sedang duduk di atas perutnya, dengan matanya berpaling ke kanan seakan tak mau melihat wajahku sekarang.


"Ucapkan sekali lagi, apa yang kamu katakan tadi?" pekikku menyuruhnya.


"Tatap mataku, AMEl?" bentakku yang tak ada rasa kesopanan lagi kerena amarah sedang menguasaiku.


"TATAP AMEL! Katakan sekali lagi yang barusan terlontar dari mulutmu itu," ucapku dengan gigi sudah mulai gemerutuk, terasa ada kemarahan sudah mencapai ubun-ubun.

__ADS_1


Tanpa melihat wajahku lagi, majikan masih saja diam tak mau mengatakan sesuatu atas semua perkataannya tadi, hingga membuatku sudah terasa geram dan kesal saja. Karena kemarahan yang tak tertahan rasanya sudah tak muak ingin sekali aku melakukan sesuatu padanya.


__ADS_2