Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Tak senang pulang


__ADS_3

Pulang ke rumah adalah hal yang paling tidak menyenangkan buatku. Rasanya bagus sekali kalau seandainya harus pergi, tapi binggung mau pergi ke mana? Sebab tidak ada sanak saudara sama sekali.


"Heeh, malas betul rasanya aku pulang. Kalau rumah itu bukan milik orangtua saja, ogah banget datang kerumah itu lagi, tapi mau berkata apa saat amanat orang tua suruh menjaga masih kuingat!" ucap kepasrahan hati.


Begitu tak tahannya aku melihat keluarga baru tiriku, mereka melakukan semuanya semena-mena, tanpa bertanya dulu apakah aku mengizinkan mereka, contohnya kamar tidur orangtuaku, sekarang ini telah ditempati orang tua tiri.


"Kamu itu ngak usah ikut campur urusan kami mau tidur dimana? Yang jelas hak kepemilikan tumah sudah atas nama kami, jadi kami ada hak untuk melakukan apa saja dalam rumah ini, mengerti anakku sayang!" ujar papa kandung yang bagiku sangat menjijikkan.


"Iya, ayah!" jawabku ikhlas dengan kepala tertunduk tak berani menatap wajah beliau yang nampak garang.


"Bagus itu. Kamu patutnya memang harus jadi anak penurut. Sudah sana, pergi kedapur bantu pembantu kamu masak untuk menyiapkan makan malam," ucap si mami tiri menyuruh.


"Baik."


"Heeh, nasib ... nasib yang harus kurima dengan lapang dada," keluhku dalam hati.


Lama-kelamaan sikap mereka semakin memuakkan, kesal, dan amarahpun tak luput terhadap mereka. Kian hari tingkah mereka membuatku semakin membenci dan ingin sekali mengusir mereka, tapi aku tidak bisa melakukan semua itu karena ada kertas hitam putih yang menyatakan mereka dapat mewarisi rumah peninggalan kedua orang tua. Semua usaha telah kulakukan tapi hasilnya tetap nihil tidak ada kemajuan sama sekali, termasuk meminta bantuan pada pengacara pribadi papapun sementara tidak bisa, sebab beliau sedang tidak ada di Indonesia, hingga membuatku semakin kesulitan untuk mengatasi masalah ini.


********


Dihari libur sekolah kerjaan hanya bermalas-malasan didalam kamar, yang mana dari dulu sudah menjadi kebiasaan saat orang tua masih hidup. Rasa ingin tidur kembali terus saja terjadi, saat tubuh rasanya sudah terasa remuk redam ketika perkerjaan rumah tak pernah kulakukan. Semenjak kedatangan keluarga baru yang sok kuasa itu, diri ini terus saja disuruh ini itu layaknya sebagai pembantu.


"Amel ... Amel, sini kamu!" teriak panggil mami tiri.

__ADS_1


"Ada apa, mi?" tanyaku tergopoh-gopoh lari langsung menghampiri beliau, saat niat hati ingin tidur bermalasan dalam kamar.


"Bhaagh. Bawa semua baju-baju ini ke tempat cucian, kamu jangan jadi pemalas mulai saat ini. Oh ya, cucinya harus memakai tangan ngak boleh memakai mesin cuci, biar kita bisa hemat biaya, mengerti!" suruhnya kasar.


"Tapi mi, kenapa harus susah-susah pakai tangan, sedangkan memakai mesin cuci tak akan repot?" tolak ucapanku.


"Aah, jangan banyak membantah kamu, atau kamu ingin menerima siksaan lebih dari semua ini, hah!" ujarnya kesal dengan menjambak rambutku.


"I--ya ... iya, mi. Aku akan segera melaksanakan perintahmu, tapi tolong lepaskan dulu rambutku," pintaku memohon.


"Bagus 'lah kalau kamu mengerti, sudah cepetan pergi sana! Lakukan pekerjaan kamu," imbuhnya berbicara sambil menepuk-nepuk pipiku, yang tangan beliau sudah melepas jambakan rambut.


"Oh ya, sebelum mencuci bawakan semua camilan dalam kulkas ke sini!" perintahnya lagi dengan mata beliau kini fokus menatap layar televisi.


"Heeh ... baiklah," jawabku lirih tanpa perlawanan lagi.


Aku tidak bisa menolak semua perintah mereka, jika ada kata penolakan pasti mereka akan semakin bringas menyiksa dan menyuruhku dalam melaksanakan pekerjaan. Kadang tamparan dipipi menjadi santapanku sehari-hari, jika keinginan mereka tidak segera dipenuhi.


"Ya Tuhan, apakah nasibku akan seperti ini terus? Aku harus kuat menjalani ini semua, demi orang tua yang selalu kusayangi walau mereka sudah tiada," gumanku dalam hati.


Kini tangan sibuk membuatkan minuman dan pesanan camilan para peguasa keluarga tiri. Selesai melakukan tugas itu, tak lepasnya diri ini mengerjakan perintah yang lain untuk segera mencuci baju.


"Ya Allah, non. Kenapa mencuci baju memakai tangan?" Keterkejutan bik Sari habis pulang dari pasar.

__ADS_1


"Biasalah bik, mami tiri yang menyuruhnya!" jawabku lemah saat mulai kelelahan, yang berkali-kali sudah mengelap peluh dikening.


"Sini, biar bibi saja yang mengantikan," ujar beliau menawarkan.


"Gak usah, bik. Nanti mami kejam itu akan melihatnya dan tambah marah-marah," tolakku.


"Tapi non."


"Gak pa-pa, bik. Aku baik-baik saja kok!" jawab kepasrahanku.


"Heeeh, dasar mereka itu. Mereka kian hari semakin kejam saja sama non Amel . Geram sekali rasanya bibi atas ulah dan sikap mereka. Ingin sekali menjites serta mengusir kutu-kutu hama seperti mereka itu dari rumah ini," ucap kekesalan bik Sari.


"Biarkan saja, bik. Semua badai ini pasti akan berlalu, jadi kita harus banyak-banyak bersabar untuk menghadapi masalah ini," jawabku sabar.


"Iya, non. Kita harus bersabar. Seandainya pengacara itu ada, pasti nasib non ngak akan kayak gini. Bibi aja benci betul sama sifat mereka yang sok-sok'an itu. Memang dasar kampungan sok belagu, baru merasakan jadi orang kaya saja sudah pada sombong semua," keluh bik Sari.


"Sudah ... sudah, bik. Mau gimana lagi? Mereka itu memang sekarang jadi orang kaya baru, ya mungkin wajib harus disombongkan," ujarku membenarkan.


"Bener non itu, baru jadi kaya saja belagunya minta ampun. Non Amel sekarang harus belajar ilmu ikhlas dan sabar, bibi yakin suatu saat nanti pasti ini semua akan berlalu dan indah pada waktunya," ujar bik Sari agar aku kuat atas cobaan ini.


"Oya bik. Makasih."


Kini aku diperlakukan oleh mereka, layaknya seperti pembantu. Makanpun kadang dijatah, mereka bisa enak-enakan makan ayam, sedangkan aku dan bik Sari kadang hanya diberikan nasi putih berlaukkan krupuk saja. Tetesan airmata kami kadang menjadi lauk dalam piring yang berisikan nasi saja. Tapi semua kujalani dengan sabar, demi menjaga peninggalan warisan kedua orangtuaku.

__ADS_1


__ADS_2