Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kangen sama dia


__ADS_3

Kenapa kamu diam, Alex?" tanya Niko penasaran saat kami sedang menaiki bis untuk melanjutkan perjalanan.


"Aku baik-baik saja, kawan!" jawabku lemah.


"Kamu yang sabar," ujarnya yang seakan-akan tahu apa yang terjadi padaku.


Pertemuan yang barusan terjadi semakin membuatku rindu akan dirinya. Begitu bahagianya diri ini setelah tiga tahun terpisah, akhirnya takdir yang tidak disengaja mempertemukan kami kembali. Tapi rasanya aku tak ingin lebih mendekatinya, sebab bayang-bayang atas wajahku yang telah rusak seperti monster hantu, membuatku semakin takut jika dia akan lebih menjauhiku jika sudah melihatnya.


"Alex, apakah kamu baik-baik saja? Dari tadi aku lihat tatapan kamu selalu saja kosong," tanya Niko ketika kami sudah sampai ditempat kerja.


"Aku baik-baik saja, Niko!" jawabku lemah.


"Tapi wajah kamu menampakkan ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan. Aku tahu kamu sekarang pasti bohong, Alex. Diriku sudah mengenalmu sejak lama, kamu pasti memikirkan pertemuan dengan Amel tadi, benar 'kan?" imbuhnya tanyanya lagi.


"Heeh, apa kelihatan sekali wajahku seperti itu? Aku memang memikirkan dia, yang pasti juga telah merindukan akan dirinya. Tapi mau gimana lagi! Rasanya aku belum siap untuk menghadapinya. Aku begitu sangat takut jika wajahku yang menakutkan ini, akan membuatnya semakin lari menjauhiku," jawabku serak.


"Apakah kamu sangat yakin atas tindakanmu yang ingin menjauhinya? Amel itu sangat mencintaimu. Aku yakin sekali pasti dia akan menerima semua keadaanmu sekarang, walau wajah kamu sudah rusak sekalipun," ujar Niko meyakinkan.


"Aku tahu, Niko. Tapi menurutku, diri ini tak pantas lagi jika bersanding dengannya, yang wajah dia begitu sempurna elok dan cantik. Pasti dia akan lebih baik jika suatu saat dapat mencari seseorang yang lebih pantas untuknya, tidak seperti diriku ini yang sudah jelek," ucapku merendahkan diri.


"Baiklah, terserah kamu saja, Alex. Semua keputusan saat ini berada ditanganmu. Sebagai teman kamu aku hanya bisa menyokongmu dari belakang. Jika engkau bahagia, pasti diriku ini juga akan ikut merasakan kebahagiaan yang ada pada dirimu," ujarnya sendu.


"Terima kasih, Niko. Kamu adalah teman yang selalu ada untukku," cakapku membalas sambil tersenyum manis.


"Iya, Alex. Sama-sama."


Diri ini yang syok atas pertemuan yang tak disangka-sangka barusan, sekarang membuatku hanya mampu terdiam seribu bahasa. Pikiran kini sudah melayang-layang, mengingat masa-masa kisah cinta yang kemarin.


Aku harus tetap berpikir positif berulang kali, agar semua terasa menyenangkan.


Harus bangkit lebih baik lagi dari semua kehidupan yang sudah terjalani, yaitu sebuah tragedi yang menyakitkan dari masa lalu.

__ADS_1


Cinta memanglah indah dan memabukkan, siapa yang terkena akan rasanya pasti akan terhayut ke dalamnya.


Tapi cinta yang malu yang tak sepadan dengan orang yang dicintai, akan membuat rasa itu berubah menjadi ketakutan.


Tanpa terasa bulir-bulir airmata bening, telah mencoba menyeruak mengalir membasahi pipi. Keputusan terhadapnya yang ingin tetap menjauhi, nantinya akan membuatku terasa menjadi terpuruk. Tapi apa boleh buat, semua sudah direncanakan oleh Allah yang maha pengasih. Mungkin suatu saat nanti rasa minder akan hilang dengan sendirinya, jika seandainya dia mau menerima ikhlas keadaan diri ini.


Jika kesabaran dalam cobaan dapat dilalui, semoga saja rasa keterpurukan akan diganti oleh Yang Maha Kuasa pecipta alam semesta ini dengan sesuatu rasa kebahagiaan.


"Wajahmu begitu mengerikan sekali, Alex. Pasti Amel akan malu jika bersanding dengan kamu, jadi mundurlah untuk menjauhinya. Kamu harus jauh-jauh darinya. Ya, benar kamu harus menjauhinya," ucapku dalam hati pada diri sendiri.


Tangan mengusap wajah dengan kasar, terasa sekali ingin berteriak sekencang-kencangnya, untuk meluapkan sebuah kebebasan atas kerinduan. Walau berada tepat didekatnya, tapi diri ini sungguh cukup tertahan sekali, agar tak usah menyentuhnya segera.


Dalam kesadaran bathin, hati telah mengetukkan suatu cinta, yang terpatahkan.


Ternyata bayangan kekasih selalu kembali hadir menari-nari memenuhi pikiranku.


Tawa riangnya yang selalu cerewet dalam berbicara, seakan-akan mengalun dengan merdunya dalam imajinasiku.


Nyesek, sakit, tapi rasa ini harus tetap kutahan dalam kesabaran, yang telah terasakan saat ini.


terindah yang pernah dilewati, tak dapat terulang kembali untuk bersamanya.


Sungguh dia adalah gadis yang ramah, dan baik hati, pantas saja aku tertarik akan dirinya.


Sungguh suatu keberuntungan, ternyata dia juga telah mencintaiku.


Karena adanya komplek yang ada diwajahku ini, membuatku merasa takut.


Sungguh ketakutan yang begitu mendera, tak mampu lagi untuk menyapanya dan kembali mencintainya.


Beberapa jam yang lalu atas pertemuan dengannya, terasa membuat tenggorokanku terasa tercekat, bahwa diri ini tak mampu berucap sepatah katapun. Aku hanya bisa diam seribu bahasa memandangi mimik mulut kekasih yang tanpa henti berbicara santai bersama Niko.

__ADS_1


"Aku sangat rindu sekali padamu, Amel. Ingin sekali aku memelukmu, setelah sekian tahun kita tak lagi bersama. Apakah engkau juga rindu padaku? Aah, mungkin kamu juga rindu, tapi rasa itu mungkin sudah hilang saat engkau tahu bahwa aku sudah tiada didunia ini," rancau hati yang masih ada bayang-bayangnya yang kian menyiksa diri ini.


Kegundahan banyangannya kembali berseliweran, wajah cantiknya yang sudah lama tak dapat dilihat oleh diri ini, sungguh membuat hatiku kian terasa meneduhkan, untuk terus saja merindukannya.


"Hei kawan, melamun saja dari tadi. Makan tuh nasi bungkusnya, keburu dingin dan nanti tak enak dimakan," ujar Niko memberitahu saat lagi-lagi aku melamun.


"Iya, Niko. Makasih sebab mengingatkan. Heeh aku tak tahu apa yang terjadi padaku sekarang ini?" keluhku.


"Kamu pasti sangat merindukan Amel, hingga banyangannya selalu saja ada dalam pikiran kamu sekarang ini," tebak Niko.


"Bener kata kamu, Niko. Rasanya susah sekali untukku melupakannya begitu saja," jawabku pasrah.


"Semua itu memang nampak sulit, tapi kalau kamu perlahan-lahan menguasai ilmu itu untuk melupakan pasti bisa, aku yakin sekali sebab kalian sekarang telah dipisahkan oleh jarak. Mungkin kamu terbayang Amel, sebab sudah lama tak ketemu dia setelah bertahun-tahun lamanya," imbuh ujar Niko sambil memberi nasehat.


"Benar sekali, Niko. Aku akan tetap berusaha menguasai ilmu itu, biar dia tak berharap lebih padaku. Lagian aku ini dikira Amel sudah mati, jadi mungkin dia sudah lama melupakanku," jawabku membenarkan.


"Kamu yang santai dan sabar. Pasti semua bisa kamu lakukan dengan mudah," ucap Niko memberi semangat.


"Iya, Niko."


Ada rasa nyeri yang mengiris, di saat aku tengah berupaya keras mempertahankan cinta kami kala itu.


Diri ini teramat yakin bahwa tidak akan ada seorangpun, yang akan bisa membuatku berpaling dari Amel selamanya cintaku hanya terpatri untuknya.


Tapi Allah ternyata telah membelokkan kisah itu, dengan memberi ujian kepada kami, dengan memisahkan jalinan cinta kisah asmara kami.


"Aah, apalah daya diri ini. Aku hanyalah manusia biasa yang tak mampu berontak akannya takdir yang sudah ditentukan oleh Maha Yang Memberi Hidup. Lebih baik aku harus banyak-banyak bersyukur atas nyawa yang masih lekat dibadan untuk tak meninggalkan dunia ini," ujarku dalam hati.


Cuma sabar dan ikhlas dapat menguatkan hati, yang sedang galau tak terperih lagi oleh rasanya. Airmata seakan tak mau berhenti menetes, walau tangan sedang mengerjakan pekerjaan, sebab pikiran terus saja melayang-layang memikirkannya.


Perpisahan ialah cara yang disediakan tuhan, agar bisa mendewasakan apa arti cinta yang sesungguhnya.

__ADS_1


Aku tetap menyakini, bahwa rasa sakit akibat sebuah perpisahan, bisa menjadi pintu memasuki jalan kesadaran.


Bahwa seorang pacar belum tentu jodoh yang terbaik, untuk kita menjalani kehidupan rumah tangga kelak.


__ADS_2