Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Penyelamatan


__ADS_3

Aku yang melihat Amel akan melompat, seketika langsung berlari bergerak cepat, yang mencoba menangkap tangannya, yang sudah benar-benar ingin meloncat ke bawah. Akhirnya penjuanganku tak sia-sia saja atas cepatnya diriku berlari, yang akhirnya tangannya telah berhasil kupegang, sehingga Amel sekarang bergelayut berpegangan pada tanganku. Rasanya kekuatanpun sudah mulai agak terkuras, saat menahan kuat tubuh berat Amel yang mulai terayun-ayun ingin jatuh.


"Pegangan yang kuat Amel, jangan kamu lepaskan!" ujarku yang mulai bercucuran keringat saat menahan tubuhnya, dengan sekuat tenaga.


"Jangan lepaskan tangan Amel. Ayo selamatkan dia, Alex!" Perasaan ibu khawatir dibarengi suara tangisan beliau.


Para tamu ternyata tak hanya diam saja, yang melihat keadaanku saat mulai kepayahan akibat menahan. Mereka semua segera berbodong-bodong datang, yang ikut membantu dalam menyelamatkan dan secepat mungkin mengangkat tubuh Amel.


"Ayo, kami akan bantu mengangkatnya. 1, 2, 3!" ucap salah satu tamu ingin membantu.


Tangan semua orang sudah terulur memegangi tanganku dan Amel, hingga sekali tarik akhirnya kami semua kompak bisa mengangkat, yang pada akhirnya tubuh Amelpun kini bisa terselamatkan oleh kami.


"Heeh ... huuf ... huff," nafasku kelelahan, dengan tubuh terlentang di lantai, sudah mendongak ke atas menatap langit, berusaha mencerna apa yang barusan Amel lakukan.


Amel dari tadi hanya bisa menangis sesegukan, dan rasanya diri ini begitu muak mendengarnya. Setelah kekuatanku agak pulih, langsung saja diri ini bangkit dari terlentangnya habis menolong.


"Sini kamu! Sini, ikut aku sekarang," perintahku yang sudah menarik kuat tangan Amel secara kasar.


Semua orang hanya menatap terdiam, tanpa ada yang menahan maupun mengunjing termasuk ibu dan calon mertua Amel.


Deru langkah kuperlebar-lebar, yang secara paksa masih menarik tangan Amel. Langkahnya terasa sekali begitu lelet, akibat tak bisa mengimbangi langkahku yang sudah cepat-cepat, karena kemarahan yang membuncah terasa sampai di ubun-ubun.


Kalau bukan wanita saja sudah kutonjok wajahnya biar dia sadar, tapi Amel adalah wanita yang kucinta, maka harus berbicara secara empat mata dengannya, biar tersadar dari kebodohan yang barusan dilakukannya.


Bugh, tubuhku menyenggol bahu Iwan kasar ketika sedang berlalu melewati, yaitu saat dia hanya tertegun atas melihat apa yang sedang kulakukan kini. Ketika bersimpangan mata kami sempat sama-sama terkunci, yaitu saling melirik menatap tajam tak suka. Tak kepedulikan Iwan lagi, yang jelas aku harus secepatnya berbicara kepada Amel.

__ADS_1


"Sini ... sini kamu, ayo cepat!" suruhku kasar.


Kini kami berdua sudah masuk ke dalam kamar rias pengantin. Dalam emosi yang kesal, kulempar tangan Amel begitu saja agar secepatnya terlepas dari tanganku.


"Apa yang barusan kamu lakukan tadi, hah!" lengkingan suaraku dalam kegusaran amarah.


Amel terus saja masih diam dalam uraian airmata. Entah mengapa mulutnya sekarang tidak bisa mengatakan sepatah katapun.


"Apa kamu sudah gila! Sehingga kamu ingin bunuh diri, apakah kamu tak memikirkan perasaanku jika engkau tadi mati? Apa kamu tidak kasihan sama ibu, hah?" bentak-bentakku yang sudah tak terkontrol lagi emosi.


"Aku mau kamu, Alex. Diriku sudah bilang bahwa tidak mau menikah dengan Iwan," jawabnya sesegukan.


"Astaga Amel. Sudah kubilang beberapa kali kita tak bisa bersama lagi, kenapa kamu tidak bisa ngerti-ngerti, sih!" kekesalanku yang tak suka atas jawabannya.


"Maka dari itu, jika aku tak mendapatkanmu, dalam pikiranku sekarang hanya bisa berpikir harus bunuh diri. Buat apa diri ini hidup, jika kekuatan dan semangatku sudah jauh tak bisa kudapatkan. Disaat orang-orang sudah mengangapmu mati, aku masih saja mempercayai bahwa kamu masih hidup, sehingga hatikupun tak pernah mati untukmu. Aku benar-benar tak bisa hidup lagi tanpamu, paham!" Sautnya bergetar berbicara dengan mimik muka masih sedih.


"Sudah beberapa kali kubilang juga, bahwa aku akan tetap mencintaimu, walau raga ini nantinya akan jadi milik orang lain. Ingat itu, Alex!" balik kesalnya marah.


"Terserah kamu Amel. Pusing rasanya memikirkan kamu yang semakin gila saja tentang cinta," Diri ini menimpali ucapannya dengan emosi, dimana nafasku kini sudah kembang kempis tak karuan akibat sekuat tenaga menahan kepuncakan amarah.


Ceklek, pintu perlahan-lahan sudah dibuka Iwan.


Sekarang aku hanya bisa duduk di kursi, tak ada ucapan lagi yang terlontar dari mulutku. Diri ini mencoba menenangkan amarah yang sudah tak terkontrol lagi, sedangkan Amel masih saja sesegukan menangis.


Tatapan mataku hanya bisa sinis melotot, saat Amel berpelukan dengan Iwan.

__ADS_1


"Kita akan selesaikan ini semua, dengan berbicara dari hati ke hati," Kedewasaan Iwan berucap pada kami berdua, yang masih saling berdiaman.


Diri hanya menatap ke arah Iwan sekejap, lalu menangkupkan tangan kasar ke wajah dan menyapunya secara halus, kemudian diiringi hembusan nafas dari dalam diri agar supaya tenang.


"Aku tahu bahwa kalian selamanya masih sama-sama tetap mencintai, dan akulah orang yang selama ini menjadi penghalang cinta kalian, maafkan aku, Alex. Dari dulu, diri ini memang sudah mencintai Amel, tapi hatiku terasa sakit sekali, ketika dia kerap kali hanya menyebut namamu, lalu saat dia terus menerus hanya berbicara tentangmu, dan saat dia menangis sedihpun hanya dirimulah yang Amel ingat. Apalah dayaku ini saat cinta memang tak bisa dipaksakan dan semuanya harus terelakan. Dalam hati Amel hanya ada satu nama yaitu kamu, Alex. Jadi mulai hari ini, sebisa mungkin aku akan menyerahkan wanita yang kucintai kepadamu!" ujar Iwan sambil tersenyum ramah, sedang berusaha menyatukan tangan kami.


"Tapi Iwan, aku tidak mau pertemanan kita hancur gara-gara dihati Amel masih ada diriku, jadi kumohon jangan lakukan ini!" sahutku menolak.


"Aku tahu Alex. Masalah pertemanan akan baik-baik saja oleh masalah itu semua. Kita selama-lamanya akan tetap terus berteman. Aku benar-benar akan merelakan Amel menjadi milik kamu. Jagalah dia, sebab diri ini sungguh yakin sekali hanya dirimulah yang sangat Amel cintai, dan bisa menjaganya di setiap waktu yang Amel butuhkan," Suara Iwan sudah bergetar menyimpan semburat kekecewaan.


"Heeeh, Apakah kamu benar-benar akan melakukan ini semua kepada kami? Maafkan aku Iwan, sebagai teman baik diri ini selalu saja mengecewakan dan mematahkan hati kamu," ujarku trenyuh akan sikapnya.


"Tidak apa-apa, kawan. Aku baik-baik saja dan akan benar-benar melepaskan Amel. Tak usahlah kamu meminta maaf, karena dari awal-awal diri ini sudah mengerti, saat posisiku masih saja tak akan bisa menerobos dalam hati Amel," Kata-kata sedihnya yang mencoba memecah ketegangan diantara kami.


"Terima kasih, Iwan. Aku tak tahu lagi apa yang kukatakan, saat hatimu kini hancur melepaskan orang terkasih untuk teman kamu sendiri," ucapku sambil memeluknya, dengan menepuk-nepuk bahunya.


"Sama-sama, Alex. Aku akan bahagia, jika Amel bahagia juga bersama orang lain," imbuh ucapnya menepuk pelan bahuku saat kami masih berpelukan.


Rasa bahagiapun tak bisa terlukis lagi, ketika perasaan itu kini telah menghampiri pada diriku sekarang. Saat keputusan kedewasaan Iwan, yang telah berani dengan gagahnya menyerahkan wanita yang dicintai yaitu Amel. Walau dia sedang merasakan begitu teriris terluka, kata Iwan akan lebih pedih lagi jika Amel terus saja merengek menangis yang mencoba meratapi cintaku.


Akhirnya aku menuruti permintaan Iwan untuk memiliki Amel. Ternyata keluarga dan para tamu undangan, ikut juga menyokong penuh atas lanjutan percintaan kami. Ibu begitu terharu, yang tanpa henti menangis dalam pelukanku dan Amel. Hingga tangisan kami bertiga sudah begitu menyayat hati, sampai-sampai banyak orang yang ikut menitikkan airmata.


Ternyata perjuangan cinta yang sempat terpisah karena sebuah tragedi, atas izin Allah cinta, keluarga, dan kehidupan kami, kini telah berakhir dengan bahagia.


Dulu dalam ketepurukan sempat terbesit dalam diri ini, yang selalu saja mengutuk dan menyalahkan atas sebuah ujian yang diberikan Allah. Tapi dengan buah kesabaran, keikhlasan, dan ketenangan, akhirnya diri ini bisa memetiknya, walau untaian airmata mengiringi perjuanganku dalam keputusasaan yang mendera.

__ADS_1


Calon pria yang sudah mengundurkan diri, kini telah digantikan oleh diriku. Rasa cemas terasa begitu mendera jiwa, apakah diri ini bisa membuat bahagia Amel lagi? Yaitu tantangan menjaganya dengan segenap jiwa raga, sekarang akan menjadi tugasku berikutnya sebagai imam dalam kehidupan Amel.


__ADS_2