
Klik, motor telah kumatikan saat kami sudah sampai dirumah kos tempat kami tinggal.
"Terima kasih, Alex. Atas bantuannya tadi. Sekarang aku jadi pemberani melawan mereka berkat kamu," ucap Amel.
"Sama-sama. Kita secepatnya harus mencari pelakunya, karena informasi dari kepolisian kurang akurat. Aku yang telah menjadi korban atas kekejaman mereka, alangkah baiknya harus turun tangan sendiri kayaknya," jawabku serius.
"Tapi, Alex. Apakah kamu tidak takut pada mereka? Aku tidak mau kejadian yang lalu, lagi-lagi akan mengancam jiwamu. Aku tak ingin kehilangan kamu lagi seperti kemarin, hingga semua orang akan merasa sedih lagi," lirih kecemasan Amel sedang mengkhawatirkanku.
"Tenang, Amel. Insyaallah, kali ini aku akan bisa menjaga diri dengan baik," Kudekati dia, yang sedang berjauhan duduk denganku, saat kami sedang duduk diemperan rumah kos.
"Tapi Alex, aku benar-benar tidak ingin kamu terluka lagi, apalagi sampai meninggalkanku dan ibu seperti hari-hari kemarin," aliran sebuah embun dari netranya telah terurai, dengan kata-kata yang terkenang oleh kesedihan.
"Aku tahu, atas semua kekhawatiranmu itu, tapi kita harus bergerak cepat untuk mencari pelaku, biar tak merajalelanya tingkah mereka yang suka menyakiti orang. Semoga saja dugaanku selama ini benar adanya, yaitu terhadap keluarga tirimu. Jika itu benar, maka aku akan mengembalikan semua fasilitas yang menjadi hakmu, yang sudah dirampas paksa oleh mereka," ujarku menenangkannya sambil kupeluk dia, biar hilang rasa cemasnya.
Sedetik, dua menit kupeluk dia, rasanya begitu nyaman dan damai. Sungguh suasana yang tak pernah terduga.
Kenyamanan yang dulu terindukan, kini kembali hadir.
Walau rasa itu tidak disengaja, dengan sedetik kehangatan pelukan.
Rasa terbuai akan dekatnya jarak antara kami, berhasil mendesirkan hati yang lama terindukan.
Sungguh terasa melayangkan diri, bagai mengambang diudara kebahagiaan.
Dert...dert, bunyi handphone Amel tiba-tiba berbunyi. Kami yang sama-sama terbuai dalam pelukan, langsung membenahi diri masing-masing, akibat sama-sama kaget dalam suasa yang kurang mengenakkan. Kekikukkan kami kini telah menimbulkan rasa malu-malu pada diri masing-masing.
"Maafkan aku, Amel. Atas tindakan yang barusan terjadi," Kata-kataku dalam menghilangkan rasa kikuk akibat malu.
"Hemmm," hanya senyuman manis yang dapat diberikan Amel, atas rasa malu yang telah menyerangnya juga.
Mata Amel langsung menatap kearah gawai, yang sempat berbunyi membuyarkan pelukan yang tak sengaja tadi.
"Dari siapa?" tanyaku membuyarkan rasa tak enak.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa, hanya orang yang iseng nyasar menelpon saja," terang Amel yang kini sudah meletakkan handphone ke dalam tasnya lagi.
"Oh ya, bagaimana dengan pengacara pribadi ayah kamu, siapa tahu kita bisa meminta bantuan pada beliau. Mungkin beliaulah yang telah menyimpan surat-surat sah yang sebenarnya," Ide dalam pertanyaanku.
"Kemarin-kemarin aku sudah menghubungi beliau, tapi dia sedang ada di luar negeri," jawab Amel.
"Ooh, begitu. Sepertinya kita harus benar-benar meminta bantuan, pada pengacara pribadi ayah kamu itu. Sebelum kejadian penculikan, ayah kamu pernah memberi pesan dan amanah padaku, bahwa pengacaranya 'lah yang hanya bisa membantu kamu disaat kesulitan datang, contohnya atas kepemilikan harta. Mungkin akan ada bukti-bukti yang kuat yang tersimpan pada beliau, jadi kita bisa mudah dapat mematahkan surat-surat palsu keluarga tirimu itu," Kuberi ide pada Amel.
"Entahlah, Alex. Beliau kemarin-kemarin susah sekali untuk dihubungi, dan kalau tersambungpun mengatakan bahwa sementara beliau tidak bisa balik ke Indonesia secepatnya," terang Amel.
"Kita coba saja menghubungi beliau lagi, siapa tahu kali ini tidak sibuk, sehingga dapat menemui kita segera," imbuh ideku.
"Baiklah kita akan telephone beliau sekarang, sebentar aku akan ambil gawaiku," ujar Amel mengambil teleponnya ditas lagi.
Dert ... dert, lagi-lagi gawai Amel telah berbunyi sebelum melakukan panggilan.
"Sebentar, aku angkat ini dulu," izinnya.
Amel telah mengangkat telepon menjauhiku, mungkin tak suka saat pembicaraan pada orang yang menelpon nanti telah kudengar.
"Heeeh, mana sih Amel tadi, kok jadi lama banget gini," keluhku dalam hati tidak sabar.
Diri ini telah lama menunggu tindakan Amel, untuk kembali dan segera menelpon pengacara, namun dia tak kunjung jua datang dari telepon masuknya tadi.
"Dari siapa sih tadi? Lama banget kamu menelpon saja," keluhku kesal.
"Bukan dari siapa-siapa. Hmm, biasalah Iwan menanyakan aku ada dimana sekarang?" ujarnya menerangkan.
"Ooh. Kasih tahu saja, kamu dimana! 'Toh kita tidak ngapa-ngapain, nanti takutnya dia salah faham juga," kata-kataku memberi saran.
"Tapi--?" jawabnya ragu.
"Beritahulah," desakku.
__ADS_1
Amel awalnya ragu antara tidaknya ingin menelpon Iwan kembali, tapi karena desakanku akhirnya dia mau menelpon calon suaminya itu dan mencoba menjelaskan semuanya atas kemana kami barusan pergi.
Tut ... tut, nada suara handphone Amel, kini mencoba menghubungi sang pengacara.
[Hallo, permisi. Apakah ini dengan pengacara pak Bobi, yaitu pengacara pribadi papaku]
[Mohon maaf, ini dengan siapa ya?]
[Ini dengan Amel, om]
[Oh kamu Amel, ada apa?]
[Aku mau meminta tolong pada, om. Mengenai surat-surat kepemilikan harta peninggalan orangtuaku. Jadi apakah anda bisa membantuku memberikan bukti-bukti, yang akurat tentang surat itu? Ingin sekali rasanya mengambil hakku yang diambil keluarga tiri]
[Memang ada apa dengan surat-surat itu? Keluarga tiri? Apa maksudnya? Bisa diperjelas lagi masalahnya]
[Mereka sudah mengambil semua aset mama dan papa secara paksa, dengan menunjukkan beberapa bukti surat yang ditanda tangani almarhum mama. Jadi Amel sekarang boleh dikatakan sudah terusir dari rumah sendiri, om]
[Oh, begitu rupanya. Maafkan om, Amel. Kemarin-kemarin tidak bisa membantu kamu segera, sebab anak om kecelakaan, jadi ada sedikit luka cacat yang harus menjalani pengobatan di luar negeri. Kamu yang sabar, sebab tak bisa membantu kamu segera. Nanti kalau kita ketemu, tolong ceritakan dengan detail jadi aku bisa memprosesnya. Oh ya, kebetulan aku akan pulang ke Indonesia sekitaran dua bulan lagi. Nanti surat-surat itu akan kutunjukkan dan berikan padamu, karena kamu adalah pemilik asli yang sesungguhnya setelah kedua orangtua kamu meningggal, jadi kamu tidak usah khawatir mengenai masalah itu. Kita pasti akan bisa melawan mereka di pengadilan nanti]
[Terima kasih, om, Semoga saja apa yang om katakan benar-benar bisa membantuku merebut harta itu lagi]
[Iya, Sama-sama]
Tut ... tut, gawai Amel telah terputus habis menelpon. Terlihat sekali wajahnya berbinar-binar ada rasa kegembiraan, atas ada kemajuan dalam kehidupannya sebentar lagi.
"Bagus Amel, selangkah penyelidikan kita ternyata ada kemajuan, walau harus menunggu beberapa bulan lagi. Jadi kamu harus tetap sabar, jangan melakukan tindakan gegabah untuk melawan mereka sendirian," ujarku memperingatkan.
"Iya, Alex. Terima kasih atas semua bantuan kamu," jawab Amel ada kebinaran kebahagiaan.
"Sama-sama."
Diri ini merasa amat senang, sebab telah membantunya. Asalkan dia bahagia, akupun akan merasa bahagia.
__ADS_1