Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Mengajak Bicara Berduaan


__ADS_3

Alhamdulillah, kali ini ada tambahan gaji dari majikan. Semua para pembantu wajahnya sudah berseri-seri. Kata majikan itu hadiah dari nona Alena, sebab sudah melayaninya dengan baik selama dirumah ini. Sikap manja dan keras kepalanya ternyata masih ada sisi baiknya juga.


"Aku akan kirim semua ke kampung. Alhamdulillah, ini bisa membantu keuangan dikampung. Semoga lebihnya bisa dijadikan tabungan," rancau hati yang gembira.


Amplop coklat begitu tebal penuh dengan lembaran biru, hati tak terperi lagi rasa bahagianya untuk digambarkan. Langkah satu persatu mulai menuruni anak tangga bersama pembantu lainnya. Ruang penerimaan gaji diruang kerja pribadi majikan.


Suara tawa canda Nona Alena dan Arnald terdengar mengelikan. Wajah sudah menatap iri saja ke arah mereka, yang nampak begitu bahagia tertawa riang.


"Terima kasih atas bonusnya, Nona!" cakap pembantu lain.


Aku hanya diam mengikuti barisan para pembantu, dan posisi berdiri berada dibelakang sendiri sama para sopir.


"Hmm, sama-sama. Kalau kalian melakukan pekerjaan dengan baik dan benar, maka akan terus mendapatkan tambahan gaji dariku, tapi kalau selalu mengeluh apalagi berani membantah bukannya dapat tambahan bonus malah bisa-bisa kalian akan kupecat," jelas Alena.


"Iya, Nona. Maafkan sikap kami," bik Arni sudah mewakili menjawab, sebagai orang yang paling tua diantara kami.


"Hmm, kalian silahkan pergi sekarang."


"Baik, Nona. Terima kasih.


"Terima kasih, Nona!" ucap kami kompak berkata satu-persatu untuk segera meninggalkan posisi mereka.


Sempat melirik sejenak. Tatapan Arnald begitu beda ke arahku, sehingga sempat salah tingkah juga dibuatnya karena tidak nyaman. Tadi matanya melihat tanpa berkedip sama sekali. 'Kan rasanya aneh saja dan risih diperhatikan seksama begitu, padahal banyak orang yang berdiri didepannya tadi, tapi kenapa hanya fokus tertuju kearahku seorang.


Gaji sudah kutaruh dikamar. Kusembunyikan dibawah tumpukan baju. Alhamdulillah, selama berkerja disini aman-aman saja sama gaji, jadi tidak khawatir jika ada yang berniat mencurinya walau menaruh sedikit ceroboh.


Pekerjaan tadi belum beres untuk mengepel seluruh bagian rumah. Langkah sudah menuju gudang penyimpanan sapu dan alat-alat untuk membersihkan. Posisi ruangan berada dibelakang rumah dengan ruangan sempit namun memanjang.


Saat berjalan santai, tiba-tiba ada sebuah tangan sedang nenarik pergelangan ini. netra terbelalak kaget saat mengetahui siapakah yang berani menarikku kuat.


"Tuan, ada apa ini?" tanyaku mencoba menarik tangan.


"Shuuuut, diam dulu."

__ADS_1


Seketika aku jadi diam beneran menuruti perkataannya itu. Gudang dibukanya dan mencoba mengajakku masuk ke dalam.


Klek ... klek, tanpa diduga Arnald sudah mengunci gudang.


"Apa yang kamu lakukan, Tuan!" tanyaku ketakutan.


"Shuuuut, jangan keras-keras bicaranya, takut kalau nanti ada orang yang mendengarnya," suruhnya lagi sehingga akupun tak mampu berkutik.


"Astagfirullah, apa yang sebenarnya dilakukan Arnald sekarang, sampai dia berani mengunci gudang agar bisa berduaan begini," guman hati merasa aneh.


"Maafkan aku jika melakukan ini, sebab aku tidak ingin orang tahu terlebih lagi Alena."


Alis sudah bertaut naik ke atas, sebab benar-benar dibuat penasaran sampai dia berani melakukan ini.


"Maksudnya apa ya, Tuan?" imbuh lagi.


"Eghem, aku tidak ada maksud apa-apa, cuma ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu saja. Takut orang akan salah sangka jika berbicara terang-terangan sama kamu, makanya aku terpaksa harus berbicara empat mata sama kamu," tarangnya.


"Tapi kenapa harus pakai cara begini segala."


"Ok, aku bisa menerima alasannya. Sekarang bicaralah, sebab saya tidak ingin orang lain salah sangka atas sikap kita ini," pintaku.


"Sebenarnya aku hanya penasaran sama kata-kata kamu kemarin."


"Maksudnya kata-kata yang mana, ya?" tanyaku lagi.


"Kata saat membenahi lampu kemarin, yaitu kamu memanggilku dengan sebutan Mas," jelasnya.


"Waduh, beneran 'kan dia akan menanyakan hal itu," Kepanikan hati.


"Oh itu, aku cuma keceplosan dan tidak sadar saja mengucapkan itu, sebab sudah lama saya tidak bertemu suami dikampung dikarenakan bekerja disini terus," Penjelasan berbohong.


"Benarkah itu? Tapi hatiku mengatakan kalau kamu melontarkan itu benar-benar begitu dalam dari hati. Maksudnya bukan mengada-ada berbicara itu, karena perasaanku juga mengatakan kamu itu sangat berkaitan sekali denganku," ucapnya masih tidak percaya.

__ADS_1


"Wah, maksudnya apa, ya! Berkaitan yang bagaimana dulu ini."


"Maksudnya berkaitan sama kehidupanku yang tidak kuingat sama sekali."


"Kalau itu saya tidak tahu, sebab baru pertama kalinya kita bertemu. Lagian status kita sangat berbeda jauh, jadi mana mungkin saya akan berkaitan dengan tuan. Sangat lucu sekali dech tuan ini!" pungkirku berbohong.


"Emm, benar itu. Tapi anehnya, kok hatiku selalu saja mengatakan kalau kita ini begitu kenal baik."


"Maafkan aku, Tuan. Kalau masalah itu saya benar-benar tidak tahu. Mungkin hanya firasat tuan saja."


Rasanya ingin menitikkan airmata saja, saat kata-katanya ini ingin sekali kudengar, tapi apalah daya seperti keteranganku bahwa mustahil kalau orang didepanku sekarang adalah Alex. Statusnya yang benar-benar kaya, kemungkinan kecil kalau dia memang bukan suami yang selama ini kucari.


Tok ... tok, tanpa diduga ada orang yang berusaha mengetuk.


"Shuuuttttsss!" Telunjuk majikan sudah tertempel dibibirku, yang tengah bergetar akibat menahan tangisan.


Aku nurut saja untuk diam. Seperti dari suara itu adalah Bik Arni. Ganggang pintu terus saja diputar-putar paksa yang sepertinya ingin sekali menerobos masuk.


"Adakah orang didalam? Hallo?."


"Wah, kenapa pintunya tidak bisa dibuka ini? Tok ... tok ... tok!" keluh Bik Arni dari luar.


Kami berdua sama-sama terdiam, dengan sorot mata terus saja saling memanahkan tatapan tajam.


"Maafkan saya, Tuan. Aku harus keluar sekarang, sebab banyak kerjaan yang harus saya selesaikan," pamitku yang sudah membawa peralatan mengepel.


Suara bik Arni sudah menghilang, makanya aku berani ingin keluar sekarang.


"Huuufff, ya sudah. Maafkan aku, yang sudah menganggu kamu."


"Iya, Tuan. Maafkan saya juga, karena tidak bisa membantu anda."


"Iya, tidak apa-apa."

__ADS_1


Karena tidak enak berposisi berduaan begini, maka secepatnya aku harus keluar sekarang, agar tidak ada yang salah sangka apalagi fitnah.


__ADS_2