Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kepala Yang Sering Sakit


__ADS_3

Kepala sering kali merasakan sakit yang luar biasa. Tidak tahu apa yang terjadi padaku. Yang jelas aku sekarang hanya mengingat satu nama orang saja yaitu Alena.


Saking sakitnya sampai harus dibantu dengan meminum pil, yang telah aman diresepkan oleh dokter. Kata semua orang ini efek kepala kena benturan, sebab kemarin habis mengalami kecelakaan.


Sedikitpun aku tidak mengingatnya. Bahkan kapan aku kecelakaan, dan bisa cedera parah begini tidak tahu sama sekali. Alena yang selama ini disampingku sangat membantu untuk memulihkan keadaan, tapi sayangnya dia juga ada penyakit akut yang mulai mengrogoti tubuh kurusnya. Katanya hanya akulah sekarang penyemangat hidupnya . Para keluarga sangat berharap diriku selalu ada disamping Alena.


Yang begitu membuat Aneh Alena didekatku, tapi perasaan mengatakan kalau dia itu orang asing yang tidak kukenali. Tapi dia terus menekankan bahwa kami ini adalah sepasang kekasih dan sudah bertunangan. Untuk sementara aku anggap iya saja, sambil menunggu waktunya tiba apakah kehidupan sekarang adalah kenyataan yang sebenarnya.


"Emm, kenapa bik Amel tadi memanggilku mas? Apa yang sebenarnya terjadi?" guman hati yang sedang berpikir.


"Kenapa wajahnya begitu tidak asing dan aku seperti dekat saja padanya? Tapi anehnya kenapa aku tidak mengingat apapun tentangnya," Hati terus saja bergulat atas kejadian yang terus saja aneh.


Pikiran terus beputar-putar mencoba mengingat, namun yang kutemui hanyalah kepala terasa berdenyut kesakitan.


"Aaahhh!" teriakku kesakitan sambil memegang kepala.


Dengan sigap langsung mengambil beberapa butir pil yang tersimpan didalam nakas kamar pribadi. Ada sekitar tiga buah pil yag berbeda-beda warna dan harus kuteguk sekarang. Air putih tak luput sebagai pendorong, agar pil itu segera mau masuk ke dalam tenggorokan.


Rasa lega dan sakit sedikit berkurang. Badan sudah kubanting dikasur. Wajah menatap fokus kearah langit-langit platfon yang bercatkan biru. Semua nampak terlihat sama padahal ada sedikit coraknya, mungkin efek pusing memikirkan jati diri membuat tidak bisa serta merta penglihatan tajam dan nyaman.


"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa semua ingatan tidak ada satupun kenangan yang bisa aku ingat? Aku ingin sekali kembali ke masa kehidupanku, tapi kenapa setiap ingin mengingatnya kepala begitu nyeri sekali?" Keluh berbicara pada diri sendiri.

__ADS_1


"Kenapa semua orang yang sekarang dekat tapi merasa asing saja. Sedangkan bik Amel baru pertama kali aku berjumpa dengannya, tapi mengapa perasaanku mengatakan kalau kami itu dekat sekali. Siapa sebenarnya dia?."


"Aaaah, apa yang harus kulakukan sekarang?" Rambut sudah kujambak kuat, sebab masih saja tidak bisa mengingat apapun itu.


"Apakah perasaan bathin ini benar? Apa aku harus mendekati bik Amel, agar aku bisa menguak jati diriku yang masih menjadi misteri ini," Keyakinan agak mantap.


"Ya, aku harus mencari tahu?" Mantap jiwa.


Karena begitu penasaran akut, maka langkah tergesa-gesa mencoba menuju dapur. Namun sepertinya harus dikecewakan oleh keadaan, sebab tidak ada siapapun ditempat para pembantu menyiapkan segala masakan.


Mencoba mencari ke segala ruangan, tapi sayangnya tidak ada satu orangpun yang dapat aku temukan.


"Kemana semua orang ini?" cakap pada diri sendiri kebingungan.


"Ada apa, sayang!" sapa Alena.


"Eeh, kamu sayang!" Kekagetan saat wajah masih clingak-clinguk mencari.


"Emm, ada apa? Kenapa kamu sepertinya sedang mencari sesuatu?" Kecurigaan Alena.


"Hehehe, tidak ada, sih! Aku hanya sedang mencari para pembantu saja!" jawab jujur.

__ADS_1


"Ooh, mereka. Kamu mau mencarinya sampai memutari rumah inipun tidak akan ketemu, sebab mereka sedang dilantai atas bersama paman dan bibi," terang Alena.


"Lha, memang ngapain mereka disana?" tanyaku


"Tidak ngapa-ngapain, cuma ini akhir bulan waktunya mereka menerima upah," imbuh Alena.


"Oowwwhhh."


"Memang ada apa, sih!"Alena sudah memicingkan mata ada guratan kecurigaan.


"Beneran ngak ada apa-apa, cuma hanya ingin sesuatu dan minta tolong saja," jawab berbohong.


"Hmm. Tapi gelagat kamu kelihatan tetap aneh 'lah. Masak mau minta tolong saja sampai mencari dari ruang sana sampai kesini," Alena sepertinya tidak percaya.


"Aahhh, sudah sayang. Kita tidak usah bahas lagi, tapi tadi sunggguhan aku mencari mereka, sebab ada sesuatu yang kumintai tolong," Kebohongan lagi.


"It's ok 'lah. Tapi awas kalau bohong."


"Iya ... iya." Pundak Alena sudah kupegang dan mencoba menuntunnya duduk bersama disofa.


Keinginan untuk mencari apa yang menjadi rasa penasaranku jangan sampai Alena mengetahuinya, sebab pasti dia akan marah besar dan itu sangat berpengaruh besar sama penyakitnya. Aku tidak tega jika dia drop dan terus-menerus harus dirawat dirumah sakit, dengan tangan selalu terpasang infus.

__ADS_1


Alena adalah wanita baik, namun sikapnya yang tidak bisa mengontrol diri akibat amarah kadang bikin kesal, namun aku sekuat tenaga tidak menunjukkan kemarahan padanya, sebab pasti Alena akan ambruk jatuh sakit lagi.


__ADS_2