
Mobil terus saja menghilang dari lokasi penculikan dan kini aku hanya bisa terdiam terpaku melihat kearah belakang lewat kaca mobil.
"Ma, ayo kita kembali, kita selamatkan Alex. Ayo ... ma ... mama!" regekku dalam tangisan.
"Tenang Amel ... tenang. Kita akan membawa bala bantuan, dengan melaporkannya pada pihak kepolisian segera," jawab mama sambil memeluk mencoba menenangkanku.
"Iya amel, tenangkan dulu dirimu. Kita akan menyelamatkan Alex dan pak Jono secepatnya," saut ucapan Iwan sambil fokus menyetir mobil.
"Tapi aku takut kalau terjadi sesuatu sama mereka," Kegundahan diri ini menjawab.
"Iya kami paham, Amel. Jadi sekarang tenangkan dulu dirimu, ok!" ujar mama memeluk tubuhku.
"Baiklah, ma!" jawabku lemah.
"Ayo cepat Iwan, kita harus cepat-cepat keluar dari area ini dan segera melaporkan pada polisi, biar secepatnya bisa membantu Alex dan pak Jono!" Kegelisahan perintah ucapan mama.
"Iya tante, ini sudah ngebut, nih. Sebentar lagi kita akan sampai di kantor polisi terdekat, sesuai petunjuk oleh para warga tadi," jawab Iwan yang ikut-ikutan juga dalam gelisah.
"Ya Allah, selamatkanlah mereka. Semoga tak terjadi apa-apa sama mereka, amin ya robbal alamin," Doaku dalam hati.
Dalam kegelapan malam setelah berkutat dalam perjalanan agar secepatnya keluar dari area kebun serasa hutan, akhirnya kami bertiga sampai juga di markas kepolisian terdekat. Tanpa mengulur-ulur waktu lagi, secepatnya kami bergegas turun dari mobil yang segera masuk ingin melaporkan kejadian yang sedang menimpa kami.
"Pak ... cepat pak, selamatkan teman kami Alex?" rengekku memohon pertolongan pada pak polisi dengan tak sabarnya.
"Tenang Amel ... tenang! Biarkan mama bicara pada pihak mereka," ucap mamaku memotong ucapan.
"Ada apa ini, Bu? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya pak polisi kelihatan bingung.
"Kami semua mau melaporkan atas kasus kejadian yang menimpa kami barusan, yaitu sebuah inseden penculikan. Dan sekarang kami ingin meminta tolong agar pihak kepolisian segera membantu kami, yaitu untuk membantu menyelamatkan dua orang lagi yang masih tertinggal disana. Kami begitu panik dan bingung sehingga mereka tertinggal, dimana saat mereka berdua mencoba membantu kami untuk meloloskan diri," penjelasan panjang lebar mamaku.
"Para pelaku itu, apakah semuanya ada yang anda kenali?" tanya pak polisi yang duduk didepan kami mencoba mendalami laporan.
"Tidak, Pak. Kami tidak mengenali mereka. Wajah mereka telah ditutupi oleh topeng masker dan salah satu dari mereka ada yang dipersenjatai oleh benda tajam," jawab mama serius.
"Baiklah, kami menerima laporan anda. Pihak kami akan segera menyusuri dan secepatnya mendatangi lokasi kejadian." jawab pak polisi.
"Ayo Pak, secepatnya kita harus ke sana! Ayo ... ayo Pak, kita harus menyelamatkan mereka," Rengekku lagi yang sudah tak sabar.
__ADS_1
"Iya nona, sabar dulu. Pihak kami secepatnya akan ke sana, tapi kami harus bersiap-siap dulu untuk membekali senjata keamanan jika ada sesuatu yang tak diinginkan nanti," pak polisi mencoba menenangkanku.
"Baiklah pak," jawabku lemah akibat pasrah.
"Oh ya pak, bolehkah kami meminjam telephonennya sebentar? Aku ingin mengabari suamiku," pinta mama mencoba meminjam.
"Silahkan, bu!" jawaban balik pak polisi.
Tut ... tut, tangan mama mencoba menekan-nekan tombol nomor untuk segera menelpon papaku.
[Hallo pa, cepat kesini, pa?]
Suara mama bergetar panik, saat terdengar ada rasa gelisah dan kekhawatiran.
[Ada apa sih, ma? Kamu sekarang dimana?]
Suara tanya papaku diseberang sana, kelihatan seperti binggung atas maksud mama.
[Mama dan Amel kini berada di kantor polisi. Ceritanya panjang tak bisa bercerita langsung, nanti kalau papa sudah datang ke sini mama akan jelaskan. Jadi papa harus cepat ke sini karena kami sudah ketakutan ini]
[Iya ... iya ma, papa akan secepatnya meluncur ke sana menemui kalian]
"Mama!" pekik papaku yang sudah datang.
"Kalian baik-baik saja 'kan? Sebenarnya ada apa ini? tanya papaku khawatir.
"Iya kami baik, kami semua tadi sedang diculik!" Penjelasan suara mama terdengar bergetar.
"Diculik?" Kekagetan suara papa.
"Benar diculik. Kami semua untungnya bisa selamat, tapi Alex dan pak Jono masih tertinggal disana, yaitu saat mencoba menyelamatkan kami!" ucap keterangan mama.
"Apa?" Keterkejutan papa lagi.
"Iya, Pa. Pihak kepolisian sekarang sedang menuju ke sana untuk mencoba menyelamatkan mereka," imbuh terangku.
"Baiklah kalau begitu, kita tunggu saja kabar selanjutnya dari pihak kepolisian," ujar papaku menenangkan.
__ADS_1
Cukup lama sekali kami menunggu, mungkin hampir sejam lebih. Semuanya akibat gelapnya malam dengan medan jalanan yang begitu sulit dan jauh dari pemukiman penduduk, sehingga ada kemungkinan membuat pihak kepolisian dalam proses penyelamatan sedikit terkendala.
"Maaf Pak, Buk. Apakah kalian yang melaporkan ke pihak kepolisian atas laporan penculikan?" tanya pak polisi lain menghampiri, yang melihat kami sedang berkumpul duduk.
"Oh ... iya, Pak! Benar ... benar," jawaban kompak kami cemas sebab penasaran menunggu jawaban kabar.
"Maafkan atas pihak kami karena terlambat, sebab gudang penyekapan saat penculikan kini sudah hangus terbakar tanpa ada sisa," Penjelasan pak polisi.
"Apa?" ucapku terkejut.
Kepalaku terasa mulai pusing berputar-putar, diiringi oleh wajah yang mulai pucat. Mata terasa mulai mengaburkan pemandangan dan akhirnya aku limbung lemas tak berdaya sehingga membuatku sekarang pingsan tak sadarkan diri.
"Amel ... Amel!" panggil mamaku yang sudah menepuk-nepuk pipi kuat.
Semua orang terdengar sudah kebinggungan mendengar kabar yang mengejutkan ini, ditambah diriku yang sedang tak sadarkan diri. Bau minyak kayu putih begitu terasa menyeruak di hidung sehingga diri inipun sudah membuka mata perlahan, untuk segera tersadar dari keadaan pingsan.
"Alex ... Alex? Hik ... hiks," panggilku yang sudah tersadar dengan wajah seperti orang kebinggungan.
"Tenang Amel ... tenang! Hik ... hiks," mama mendekap tubuhku kuat diberengi tangisan beliau yang sudah pecah sendu.
"Pa ... papa! Antarkan Amel ketempat penculikan itu, aku mohon, Pa!" pintaku yang sudah tersedu menangis sejadi-jadinya.
"Baik ... baiklah, Amel! Kita akan segera ke sana," jawab papa dengan nada khawatir juga.
"Iwan, kamu saja yang mengemudikan mobil, kita secepatnya harus meluncur pergi ke sana!" perintah papaku.
"Baik om, Ayo?" jawab Iwan setuju sambil mengajak.
Dalam mobil aku tak henti-hentinya menatap ke arah depan terus, mencoba melihat sudah sampai belumnya ditempat kejadian perkara.
Dalam pelukan tubuh mama, tangan tak henti-hentinya meremas-remas ujung kaos pakaian akibat rasa khawatir begitu mendera, takut-takut jika terjadi sesuatu pada orang yang terkasih.
Walau jalanan begitu terjal dan gelap, karena ingin cepat sampai semua yang menghadang kami hantam begitu saja, sampai-sampai tadi sempat menabrak semak-semak belukar. Akhirnya netra begitu fokus saat bau asap telah terasa diindra penciuman, yang tandanya sebentar lagi akan sampai ditempat tujuan. Kini kaki begitu terasa mulai lemas terkulai, yang rasanya tulang-tulang akan segera bercerai dari badan, hingga sekarang sudah tak bisa menahan tubuhku sendiri dan akhirnya akupun kini terduduk terkulai lemas ditanah.
"Hik ... hik ... hiks ... aaa ... aahhh," Kini aku meraung-raung menangis begitu kuat dalam jeritan.
Tangisan histerisku terdengar begitu memilukan, sehingga tak kuasanya mama dan papa untuk segera memelukku erat. Mereka tak ayalnya juga ikut-ikutan menitikkan airmata, yang melihat keadaan diriku sudah tersiksa menyaksikan kejadian yang tak bisa dipercaya.
__ADS_1
Dunia ini terasa seakan-akan sudah runtuh menimpa badan, saat melihat kekasih hatiku sudah tak ada lagi untuk menampakkan batang hidungnya. Gudang tempat penculikan kini sudah hangus terbakar tak tersisa lagi. Apinya sekarang sudah mulai agak mereda, tapi ada beberapa yang masih menyala. Entah berapa lama api di gudang melahap dengan ganas tempatnya dan kini asap begitu mengepul-ngepul melayang di atas udara, tanda si jago merah telah sukses dan menang melahap semuanya, dimana memang di dalamnya banyak sekali kayu yang sudah lapuk sehingga memudahkan semuanya untuk habis terbakar.