Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kegalauan memikirkan cinta


__ADS_3

Apa yang terjadi padanya sungguh membuatku tak percaya, sebab tak mengira dia kemarin-kemarin yang menolak diriku, sekarang betapa dia menunjukkan sikapnya yang tak suka alias cemburu.


"Hihiihi, rasain kamu Alex!" Mulutku tersenyum sendiri dalam kamar.


"Seandainya kamu bisa memahami cintaku, yang masih tetap sama seperti dulu terhadap kamu, pasti kita sekarang akan merajai bahtera kebahagiaan cinta," Pikiran bermimpi untuk Alex berkata dalam hati.


Rasanya tak terbendung lagi diri ini sedang menangis sesegukan, akibat mengenang masa-masa yang terindah atas rajutan cinta kami kemarin.


Betapa aku harus menahan rasa rindu dalam cinta.


Padahal dia dekat sekali padaku, tapi keadaan yang mustahil 'lah, yang tak akan bisa mengapai tubuhnya.


Rasa ingin dipeluknya saat diri ini tertimpa masalah, begitu kuinginkan sekali.


Tapi hanya tangisanlah yang dapat mewakili, betapa aku ingin dipeluknya dalam kerinduan.


"Aku begitu menginginkan kamu lagi, Alex. Tapi kenapa kita tak bisa berjuang kembali lagi seperti dulu. Cinta kasihmu begitu abadi terkunci dalam hatiku, hingga aku begitu tersiksa akan rasa yang engkau suruh menghilang ini," ucapku dalam hati dengan santai berbaring didalam kamar.


Terlalu mahal sekali keputusannya, yang harus kubayar dengan penuh deraian airmata.


Begitu sayangnya sebuah duri itu kini telah menusuk hati, atas perpisahan yang dia minta.


Walau kami tak pernah akur saat berbicara, aku sebagai wanita tak mau mengalah begitu saja atas ucapan Alex. Rasanya ingin sekali terus menang, mematahkan semua ucapan dan rasanya begitu ada kesenangan sendiri, saat dia marah dan kalah ucapan. Apalagi saat cemburunya datang melanda terlihat begitu coolnya dia. Tampangnya yang selalu ngegas saat marah dalam berucap, begitu lucu atas melihat mimik wajahnya itu. Ketika dia marah terasa nyaman sekali padaku, sebab ada orang lain juga yang peduli atas kesalahan-kesalahan yang kubuat.


"Amel, sini sebentar. Tolong aku untuk pegangi anak tangganya," suruh Alex yang ingin membenahi lampu yang rusak.


"Aah, merepotkan saja. Tangga kuat begini, masih manja saja minta dipegangi," ucapku kesal.


"Mau bantuin ngak? Kalau gak mau, pergi sana! Kalau ibu bertanya kenapa bisa gelap, pokoknya yang bertanggung jawab adalah kamu sebab tak mau bantuin," alasan Alex melempar kesalahan.


"Iiihh, benar-benar pria bermulut ember. Contohnya seperti kamu itu, selalu dikit-dikit ngaduin sama ibu, dasar manusia super aneh," Tak mau kalahnya ucapku.


"Biar 'lah aku ngadu sama ibu, memang kenyataannya kamu ngak mau bantuin," jawab Alex dengan entengnya.


"Iya ... iya, aku bantuin sekarang. Cepetan naik sana, kalau mau aku bantuin. Cepat-cepat pulak mengerjakannya, sebab aku ada kerjaan yang penting, nih!" suruhku padanya.


Karena atap rumah agak tinggi, masang lampunya harus memakai tangga. Mataku mencoba menatap langkah Alex, yang sekarang sudah pelan-pelan menaiki tangga satu persatu.


"Jangan lama-lama memperbaikinya," keluhku mengingatkan.


"Iya ... iya, ngak sabaran banget sih," balik keluh Alex.

__ADS_1


Ngung ... ngung, suara nyamuk tiba-tiba datang berdengung sudah menempel dipipi, yang kemungkinan mencoba menghisap darah.


"Aah, nyamuk. Kenapa kamu datang mau mengigitku? Fuuuh ... fuuh, pergi sana nyamuk" kekesalanku dalam hati meniup-niup pakai nafas mulut.


Karena sudah berkali-kali diusir memakai tiupan nafas masih tak mau pergi.


Plak, tanganku menepuk nyamuk biar secepatnya pergi.


"Aaaa .... aaa," suara Alex takut saat tangga goyah, akibat tanganku telah terlepas dari memegang tangga.


"Pegangi kuat Amel," keluh Alex.


"Apaan?" tanyaku yang masih sibuk sama nyamuk.


"Aaaa ... awas," Suara teriak Alex.


Bhugh, suara tubuh Alex tiba-tiba jatuh, tak sengaja sudah menindih tubuhku.


Rasa sakit yang sempat singgah, kini hilang seketika.


Saat rasa getaran-getaran tubuh kami, melekat berdekatan.


Mata kami sama-sama saling bergerak, menatap tajam bulatan netra hitam kecoklatan.


Lama sekali kami dalam posisi ini, membuat jantung deg-degkan terasa tak karuan lagi akan detakannya, wajah Alex yang sebelah rusak dan sebelah tampan memulus kulitnya, kutatap lamat-lamat mencoba mengartikan sebuah isi tatapan itu, yang kini kami sama-sama terbuai mengunci. Hatipun bertanya-tanya akan hatinya, apakah dia masih saja mencintaiku seperti dulu?.


"Haching ... haching," Suara ibu bersin yang tiba-tiba sudah masuk rumah.


Karena kaget, seketika kami merubah serta membenahi posisi, yang sempat tak mengenakkan dan menegangkan itu.


"Kalian sedang ngapain?" tanya ibu yang sudah datang dari kondangan.


"Oh ... ooh, kami lagi ngak ngapa-ngapain kok, bu. Alex tadi cuma mau membetulkan lampu yang rusak, dan aku mencoba membantunya memegangi tangga," ujarku menerangkan.


"Hati-hati saat menaikinya, nanti bisa jatuh," pesan ibu.


"Memang tadi sudah jatuh!" Ceplosnya ucapanku.


"Tapi kamu gak pa-pa 'kan Alex? Pasti ngak sakit 'kan ... 'kan? Iyakan?" tanya ibu menyiratkan sesuatu.


"Iya bu, beneran ngak sakit kok waktu jatuh tadi," jawaban Alex.

__ADS_1


"Ya iyalah, sebab tadi ada kasur yang empuk menahanmu," goda ibu berbicara pada kami.


"Hehehehe," suara Alex cegegesan saat kepergok oleh ibu, dengan mengusap pelan tengkuknya.


Rasanya akupun jadi malu juga, saat ibu yang kami kira tak melihat aksi jatuh tadi, ternyata tanpa sengaja melihat adegan yang membuat kami berdua sama-sama tersipu malu.


******


Kian hari pernikahan yang sudah direncanakan kian dekat saja, tapi hati seakan masih belum siap, sebab pikiranku selalu tertuju pada Alex seorang.


Diri ini tak tahu, apakah tindakan menikah dengan Iwan adalah tindakan yang salah atau benar. Impianku dari dulu ingin sekali menikah dengan Alex. Kini pikiran terus saja berpikir, "Apakah diri ini bisa membatalkan pernikahan dengan Iwan, tapi bagaimana caranya? Kalaupun terlakukan, bagaimana cara mendapatkan Alex lagi, dia 'kan sudah tak mau melanjutkan hubungan cinta lagi?" hati berpikir keras mencoba mencari jalan.


"Amel, kamu lagi ngapain?" panggil ibu saat aku duduk didepan teras kos rumah.


"Iya bu, lagi ngak ngapa-ngapain. Duduk santai saja sekarang."


"Terlihat sekali, belakangan ini kamu sering saja melamun. Kamu sedang memikirkan apa, nak?" Beliau bertanya yang ikutan duduk disampingku.


"Entahlah, bu."


"Kok entah, kamu adalah pelakunya," selidik ibu lagi.


"Huuuff, sebenarnya hatiku masih sangat mencintai Alex, tapi tak enak rasanya ingin membatalkan pernikahan bersama Iwan. Amel begitu pusing memikirkannya, yang sendainya saja ada jalan mempersatukan Amel dengan Alex lagi, pasti hati ini takkan sesedih dan menderita begini," Keluh kesahku pada ibu.


"Memang sepening itukah yang kamu rasakan?" imbuh tanya beliau.


"Heem," Anggukanku.


"Amel rasa-rasakan hati tak mencintai Iwan. Jika pernikahan kami nanti, tak didasari oleh rasa cinta, takutnya suatu saat nanti akan menyakiti hati kami masing-masing. Dan Amel tak ingin rumah tangga yang sudah terbina, akan hancur begitu saja, hanya gara-gara sebuah keegoisan rasa cinta yang tak ada," Pikiranku tentang masa depan selanjutnya.


"Menurut ibu bagaimana? Apakah Amel telah salah, sebab telah menyakiti banyak orang?" imbuh ucapku bertanya.


"Kamu ngak salah, tentang perasaan kamu! Tapi takdir yang digariskan oleh Allah tentang jodoh, tak bisa dipungkiri oleh manusia itu sendiri. Kalaupun kita lari bersembunyi dilubang semutpun, kalau sudah waktunya jodoh datang, pasti calon pendampingmu itu tetap akan menemukanmu. Mungkin Iwan adalah jodoh yang benar-benar dikirimkan Allah untukmu, jadi kamu harus bersamanya. Lupakanlah Alex, tak baik terus mengharapkannya. Anak ibu yang satu itu, sudah menolak kamu untuk tak kembali lagi padanya, apakah kamu tidak sakit hati setelah dicampakkan?" panjang lebar ucapan ibu.


"Sakit sih, bu. Tapi cinta Amel telah membutakan rasa hati ini. Walau terasa tak nyaman, dihatiku masih menyimpan kuat rasa cintanya!" ujarku serak pilu.


"Terus apakah kamu benar-benar akan membatalkan pernikahan itu?" imbuh tanya beliau.


"Ingin, bu. Tapi bagaimana dengan Iwan ya bu, nantinya? Aaah, rasanya aku tak tega sekali untuk menyakitinya," Kebimbanganku berkata.


"Ibu mengerti, memang tidak mudah melupakan cinta, seperti mudahnya membalik tangan, semuanya butuh proses untuk melakukannya. Semangatlah Amel, jangan patah semangat. Santailah sedikit, dengan semua beban yang sedang kamu pikirkan, maka kamu akan merasa lebih ringan menjalani kehidupan yang rumit dalam percintaan kamu. Semua keputusan ada ditanganmu, jadi ibu hanya bisa menyokongmu dari belakang. Semua keputusan yang kamu buat, mungkin adalah jalan yang terbaik yang diberikan Allah. Sholatlah istikharoh, pasti Allah akan memberi petunjuk jalan, tentang siapakah jodoh yang terbaik untuk kamu miliki," ujar ibu menasehati.

__ADS_1


"Terima kasih, bu. Kamu adalah ibu yang terbaik didunia. Tak salah aku menjadikanmu ibu sungguhan," ujarku menghampiri beliau, untuk memeluk dan mencium pipinya.


Sesuai pesan ibu tiap malam habis sholat tahajud kulakukan juga sholat istikharoh, untuk mendapatkan petunjuk, atas siapa yang pantas menjadi pendampingku nantinya. Semoga petunjuk itu dapat nampak secepatnya, agar kegundahan antara dua pilihan bisa berakhir kupilih, semoga.


__ADS_2