
Dari dulu aku sudah mengangap Amel sebagai kekasih, walau cerita hidup kami sebelumnya adalah sahabat. Rasanya masih malu-malu untuk diriku bersanding dengannya. Lagi pula aku selalu sadar, bahwa cinta yang kumiliki amatlah sederhana. Apalah daya diri ini jika dibandingkan dirinya, seorang putri yang cantik dengan segudang kekayaan kedua orang tuanya. Tak bisa terbantahkan lagi bahwa ada jarak yang membentang lebar diantara kami berdua. sulit rasanya mengatakan jika kelak impian cinta kami dapat bersatu dan menjelma menjadi kenyataan.
"Alex, ayo ke sana," tunjuk Amel mengarah ke sebuah taman.
Untuk kesekian kali aku kembali tak berdaya atas permintaan majikanku, jika tidak bisa menuruti keinginannya dia akan bertambah marah, karena gadis itu tak suka dengan perkataan ditolak. Bagiku menolak keinginan dirinya sama saja menjauhkan dan menepiskan rasa cintaku padanya. Dia begitu mudahnya meluluhkan hatiku, seakan tahu dimana letak titik kelemahanku berada. Dan sejujurnya baru dia saja wanita yang dapat menyentuh hatiku, yang sudah mengertikan tentang apa itu rasa cinta?.
Tak tega rasanya hatiku saat kelopak matanya begitu sedih mengeluarkan tetesan airmata dan aku tak menginginkan semua itu terjadi, karena bagiku kesedihannya adalah kesedihanku juga.
Sorot matanya yang teduh kini tertuju pada sebuah taman, yang sudah tertata rapi dengan penuh bunga dan dedaunan hijau yang menyejukkan jiwa. Dalam keadaan berdiri berjejer bersama, kami sudah terhanyut untuk tak menikmati keindahan alam yang begitu asri menyejukkan hati. Saat melirik memandangnya, senyum Amel begitu mengembang dengan manisnya, mambuatku tak secepatnya ingin lepas untuk melihat wajahnya secara terus-menerus.
Rambut panjang yang indah, sudah bergerak manja saat hembusan angin membelai wajahnya dengan lembut, sehingga tak dapat terhindarkan lagi rambutnya mulai berterbangan sedikit demi sedikit menutupi wajah ayunya itu.
Dalam teduhnya pohon beringin yang menjulang tinggi, karena lelah akhirnya kami mencoba duduk dibawahnya dengan ditemani camilan snack dan beberapa minuman kaleng. Di samping pohon beringin, mata sudah dimanjakan dengan kolam buatan yang berisikan ikan berwarna keemasan, membuat mata kami tak jenuh untuk memandangnya dari kejauhan.
"Alex, sini ... sini?" panggilnya yang sudah berdiri di samping pohon beringin.
"Kenapa non?" jawabku tak tahu lagi apa yang akan dilakukan majikan.
"Tolong cari'in benda yang tajam. Batu atau kayu yang penting ujungnya tajam," suruhnya.
"Sebentar ... sebentar, akan segera kucarikan!" jawabku sudah pergi menjauh untuk mencari
Mata sudah berkeliling mencoba mencari benda yang diinginkan majikan, tapi tak kunjung jua dapat. Hingga mata kini fokus ke tampat duduk yang kami singgahi tadi.
"Nih, ada!" keberikan tutup kaleng minuman, yang sudah selesai diteguk kami.
"Untuk apaan, sih?" tanyaku penasaran.
"Nanti juga tahu," jawabnya serius.
Dengan cekatan dan lihai, majikanku berusaha melukiskan namaku dan dia terpampang indah dipohon beringin.
"Nah, Alex. Namaku dan namamu sudah tertulis disini. Ini adalah simbol bahwa kita sudah jadian, jadi jangan pernah melupakan ini, ok!" ujarnya yang sudah selesai menuliskan nama lengkap masing-masing dengan ditengahnya ada simbol love.
__ADS_1
"Iya non. Ide yang bagus juga ternyata," pujiku.
"Non ... non ... terus manggilnya. Karena sudah jadian panggil yang romantis sedikit, kenapa?" keluhnya.
"Heeh. Iya ... iya sayangku, my honey sweetyku, puas sekarang?" ujarku mengodanya.
"Hi ... hi, puas ... puas. Kamu memang dari dulu cowok terkereeen abiz."
"Ingatlah Alex! Seandainya suatu saat nanti kita terpisah, janganlah lupa datanglah kesini untuk mengingat cinta kita, paham? Awas saja kalau kelupaan," ancamnya.
"Iya Amel, sayangku. Aku tidak akan melupakanmu, walau rambut sudah memutih dan kita terpisah aku akan tetap mengenang semuanya demi atas nama cinta kita," respon menjawab serius.
"Benarkah yang kamu katakan? Janji."
"Ia benar, janji!" ucapku dengan menautkan kelingking kami berdua.
Inilah kisah cintaku yang sedang dimabuk kasmaran dengan majikan sendiri. Dihati merasa tenang akibat Amel ternyata membalas cintaku, tapi disisi yang lain hatiku sedang gundah gulana takut akan kehilangannya sebab terbayang akan susahnya mendapat restu orang tua.
Tatapan matanya yang lembut dan memikat, selalu seperti ingin menyampaikan banyaknya cerita cinta untukku.
Perasaan nyaman saat-saat didekatnya, sehari tak bertemu ataupun tak melihat seyumnya serasa ada yang kurang di hidupku.
Walau dalam rumah dan sekolah kami sering bertemu, saat-saat bersamanya hatiku selalu saja terisi penuh oleh warna asmara.
Dan sekarang cintanya kini telah hadir menyapa, yang sudah tumbuh didalam sanubariku yang peling terdalam.
Tik ... tik ... tik, suara hujan tiba-tiba sudah jatuh, membuat kami berdua secepatnya berlari dan segera berteduh di bawah payung orang yang sedang berjualan aneka kue camilan. Tapi walaupun berteduh baju masih saja sedikit kena air hujan hingga basah.
Jedaaaar ... jeeedar ... duuuar, suara kilatan petir sedang mengkilat-kilatkan warna apinya saling bersahutan membunyikan gelegarnya. Sehingga membuat hujan semakin lama, semakin menderaskan airnya untuk terus mengalir membasahi bumi.
"Dingin ... hihhhi," ucap majikan dengan mendekap tubuhnya sendiri.
"Non kedinginan? Ini ambil 'lah," ucapku dengan memberikan jaket yang sedikit agak basah juga.
__ADS_1
"Iya Alex, ini dingin banget rasanya," jawab majikan dengan badan yang mulai mengigil.
"Aku tidak mau kamu sakit, kita cari tempat berteduh yang lebih aman saja, gimana?" tanyaku.
"Heem, baiklah."
Gerimis semakin lama sudah semakin lebat saja, hingga aku harus jadi penyelamat dan melindunginya agar demam tak segera menyerangnya.
"Kita cari penginapan saja, hari sudah mau gelap magrib, gimana Alex?" tawarnya.
"Tapi non, itu ... itu!" perasaan ragu-ragu sudah mulai menghampiri.
Diri ini sudah tak bisa membayangkan bila terjebak berdua ditempat yang sepi hanya ada kami berdua.
"Kalau kamu tidak mau pergi bersamaku, biarkan aku pergi sendiri saja dan kamu tunggulah disini sampai hujan ini berhenti." kekuhnya berkata dengan melihat kearahku karena sudah ada sebuah rasa keraguan.
Majikan sudah pergi berlari menjauhiku dengan menerobos hujan yang lebat. Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang yang langsung mengejarnya, akibat dia sudah tak terlihat lagi bayangannya. Sekarang aku mengejar mengikutinya berlari dari belakang, untuk segera mencari penginapan sesuai keinginannya.
"Kita harus berjalan terus, dengan mandi air hujan sekalian! Kita harus lari secepatnya untuk mendapatkan penginapan," ucapku berteriak memberitahu dalam ritikkan hujan.
"Benar Alex. Kita harus mendapatkannya segera, sebab hujan kian lama kian lebat saja!" saut jawab Amel berteriak juga.
Telapak tangan berada di atas kepalanya, mencoba memayungi wajahnya yang sudah berkali-kali mengerjap terpejam, akibat guyuran hujan yang sudah mulai lebat menguyur seluruh tubuh.
Beberapa menit berlarian, akhirnya kami menemukan penginapan hotel axx. Setelah memesan dan chek-in, sekarang kunci telah di berikan pegawai hotel. Tapi naasnya cuma hanya ada satu kamar yang tersisa, akibat banyaknya pengunjung taman hiburan yang terjebak hujan membuat mereka juga mencari tempat berteduh. Rasa ragu mulai datang menyelimutiku lagi, sebab bakal sekamar berdua dengannya yang bukan muhkrim. Tapi apa boleh buat sekarang ini, sebab baju sudah basah kuyup kedinginan membuat kami harus terpaksa mengikuti sebuah drama yang terjebak dalam satu kamar.
Sesampai dikamar aku dan Amel sama-sama membersihkan diri, yang sudah basah kuyup diseluruh badan. Berbekal baju kimono yang telah disediakan hotel cukuplah sangat berarti untuk kami untuk menganti pakaian yang sudah basah.
"Sudah mandinya Alex?" tanyanya karena sudah melihatku keluar dari mandi.
"Iya non."
"Sini kubantu mengeringkan rambutmu."
__ADS_1
Tanpa mengelak kuturuti tawarannya. Dengan tangannya yang cekatan, kini majikan sudah berusaha mengosok rambutku dengan cara mengoyang-goyang ke kiri dan kanan dengan handuk kecil. Pikiranku mulai melayang, seiiring dengan degupan jantung yang berdetak sangat cepat. Grogi akibat hanya berdua dalam kamar, membuatku seakan terus bergidik merinding akibat sikapnya yang perhatian denganku.