
Aku meronta-ronta dengan terus mengedor-gedor pintu supaya mamaku membukakan pintu kamar, tapi pada kenyataannya semua hanya sia-sia. Aku sudah luruh ke lantai di balik pintu kamarku dengan memegang lutut menangis tersedu menumpahkan segala rasa akibat tak bisa menemui Alex.
Badan mulai bangkit mecoba menenangkan diri untuk menuju kamar mandi. Satu dua tetesan embun dimata mulai mengalir deras, bersamaan dengan guyuran air dari shower yang membasahi tubuh. Demi merendamkan isak tangisanku, tangan kuletakkan di wajah mencoba menahan air mata yang kian menjadi-jadi, yaitu disaat mengenang kembali kejadian siksaan pada Alex. Kamar mandi adalah merupakan tempat yang terbaik untukku saat hati tak bisa menahan lagi rasa kesakitan atas kesalahan yang dilimpahkan pada Alex.
Raga mencoba tetap ingin terlihat baik-baik saja, saat cintaku ternyata tak semulus yang diharapkan. Karena letih menumpahkan isak tangis, kini badan kuusakan berbaring dikasur sambil memandangi cahaya dari jendela kamar.
"Kamu besok harus pindah sekolah," ucap mama yang sudah nyelonong masuk ke dalam kamarku.
"Pindah? tapi, ma! Apa ini ngak keterlauan sampai pindah segala?" tanyaku kaget.
"Pokoknya harus. Kamu harus segera pindah, jika kamu tak ingin melihat mama menghancurkan kehidupan Alex dan ibunya," Ketegasan ucapan mama mengancam.
"Mama memang sangat kejam. Pekerjaan Alex kamu jadikan senjata untuk memisahkan kami," ucapku kesal dalam tangisan yang sudah pecah.
"Ingat Amel. Kamu adalah anak satu-satunya yang mama miliki dan menjadi harapan dan tumpuan kami. Jadi turuti dan dengarkan apa kata mama, sebab ini semua demi kebaikan kamu. Masa depanmu masih panjang dan kami tak ingin hancur begitu saja untuk kehidupan yang akan kamu jalani dimasa mendatang. Jadi mengertilah, nak!" penjelasan mamaku yang kini ikut-ikutan menangis.
"Tapi, ma!."
"Ngak ada tapi-tapian, Amel. Mama tak ingin berdebat sama kamu lagi. Yang jelas mama melakukan ini semua demi kebaikan kamu," ucapan tegas mama.
"Iya ma, maafkan kelakuan Amel" jawabku lesu yang akhirnya menyadari atas kenakalan yang kini membuat kedua orangtua merasa kecewa.
"Bagus Amel, ini yang kami harapkan."
"Kamu untuk sementara ini jauhi Alex dulu, jika tak ingin melihat mereka segera cepat-cepat angkat kaki dari rumah ini. Maka turuti semua ucapan mama," ancam mamaku lagi.
"Iya ... iya, ma. Maafkan Amel yang telah membuat mama kecewa," imbuh ucapku pelan.
"Ia sayank, mama bisa memakluminya. Kamu melakukan sama Alex adalah kekhilafan masa remaja kalian. Yang terpenting kamu baik-baik saja dengan semua itu," ujar beliau pelan sambil memelukku.
"Iya, ma. Makasih atas pengertiamu memaafkan kesalahan anakmu ini!" jawabku pilu.
Malam ini aku masih menerima hukuman yang tak diperbolehkan untuk keluar, hingga dengan terpaksa makan malam kulakukan dalam kamar. Rasa ingin bertemu Alex rasanya begitu memuncak dan sekarang hanya bisa mengalah dan sabar, untuk mencoba menjalani hukuman. Mungkin ini adalah cobaan agar diri ini bisa mengertikan apa arti cintaku pada Alex yang sesungguhnya.
*******
Dimalam hari yang kelam, tanpa perlawanan akhirnya aku pindah kota bersamaan dengan pindahnya sekolah, yang diantar oleh kedua orangtuaku. Mama menempatkanku disebuah apartemen pribadi milik keluarga yang ditemani oleh satu pembantu perempuan, sehingga aku tak akan terepotkan dengan segala kebersihan apartemen. Rasa tak senang atas semua ini tetap kulakukan demi kebaikan Alex.
Rasa bersalah tak pamit pada Alex sudah sangat menghantuiku, sebab mama awal-awal telah melarangku agar tak berpamitan padanya, yaitu untuk segera langsung pergi . Semua harus tetap terjalani dengan semua rencana mama, yang tak memperbolehkan untuk memberitahu Alex, dimana diri ini sudah pindah secara diam-diam. Kata mama ini semua demi kebaikan semua orang. Kemarahan mama tak boleh memuncak lagi, sebab jika semuanya terjadi maka Alex dan ibu'nyalah yang akan kena imbasnya.
"Awas saja kalau kamu membantah ucapan kami. Maka kamu akan menerima akibatnya tentang Alex," ancam mama memberitahu saat beliau mengantar dalam perjalanan ke apartemen.
"Heeem," jawabku singkat sambil melihat pemandangan lampu malam dari balik kaca mobil.
Di dalam hatiku ini ada debar yang rasanya tak kalah kacau, yaitu sebuah kerinduan.
Namun ada juga rasa takut akan kehilangan membuatku cukup gelisah, galau, dan merana.
__ADS_1
Namun sebisa mungkin hanya dapat menyimpannya dan kututup erat-erat semua dalam relung rindu hatiku.
Untuk saat ini cukup diriku sendiri dapat menyemangati.
Hanya sementara ini aku tak ingin mendengar rayuan cinta darinya, karena dapat mengoyahkan hatiku yang tengah mencoba menghindarinya.
Semua itu menjadi beban berat buatku atas nama kerinduan, namun biarlah semua berjalan apa adanya. Hanya waktu yang dapat memutuskan, bagaimana kisah cinta kami selanjutnya.
"Kami pamit dulu. Kamu hati-hati dan jaga diri sendiri," ujar mama saat kuantar didepan pintu apartemen mau pulang.
"Heeem, baiklah!" jawabku ketus sebab masih menyimpan kemarahan.
"Bye ... bye, hati-hati!" cakap beliau lagi sambil mencium pipi dan keningku.
Aku hanya bisa diam tanpa kata-kata, akibat rasa kesal masih menyelimuti. Kedua telapak tangan orangtua sudah kucium takzim, saat mereka benar-benar akan meninggalkanku sendirian di apartemen.
********
Sudah seminggu aku telah pindah sekolah, rasa rinduku yang jauh terhadap Alex semakin lama semakin menjadi-jadi tak tertahan lagi. Rasa tak melihat wajahnya sungguh sangat-sangat menyiksaku. Tubuhpun mulai drastis turun beberapa kilo akibat tak berselera makan, yang diiringi tiap malam selalu hanya ada tangisan di sebalik bilik kamar.
"Aaah Alex, apakah hatimu sama denganku yang ingin bertemu dalam kerinduan yang sudah tak karuan rasa mengebunya ini? Aku rasanya sudah tak tertahan lagi ingin bertemu dengan kamu?" Ucapku dalam hati termenung dalam kesendirian dalam kamar apartemen.
"Bagaimana caranya aku bisa menghubungi Alex, sementara handphone telah di sita mamaku?" gumanku dalam hati.
Tapi aku tak kehabisan akal begitu saja, agar bisa mendengar suaranya segera. Dengan berbekal ingin meminjam handphone nokia jadul milik pembantuku, aku ingin sekali mendengarkan suara kekasih hatiku diseberang kota tempatku tinggal disana.
"Tapi, non."
"Ayolah, bik. Pleeeaseee!" imbuh pintaku lagi.
Pembantu sangat menolak akibat ancaman mamaku, sebab jika mama bisa mengetahuinya pembantu baru ini akan kehilangan pekerjaannya. Namun dengan rayuan dan sedikit iming-iming atas kegigihanku, akhirnya hanphonenya bisa kudapatkan juga.
Tut ... tut, nada gawai yang kupegang tak ada balasan panggilan dari Alex. Namun bagi Amel tak akan menyerah begitu saja, sampai panggilan yang ke tiga kali, akhirnya Alex mengangkat juga.
[Hallo Assalamualaikum, Alex]
[Walaikumsalam, maaf dengan siapa ya ini? ]
[Ini aku Amel, beb. Masak kamu sudah lupa denganku? Padahal kita baru seminggu tak bertemu lho, sudah main lupa saja nich!]
[Eehh ... maaf non, aku kirai'in ini tadi siapa? Soalnya nomor yang tertera adalah nomor baru]
[Ada apa ya, non?]
[Aaah ... sudahlah Alex. Matian-matian aku mencari cara supaya bisa mendengarkan suaramu, tapi kamu cuma nanya ada apa? Hadeh kamu ini, ngak salah apa yang terlontar dari mulut kamu sekarang? Kalau begitu maaf-maaf saja, jika aku telah menganggu kesibukanmu]
Tut ... tut ... tut.
__ADS_1
Satu, dua, tig- ... dert ... dert. Suara gawai n pembantuku sedang berbunyi sekarang.
"*Rasain kamu Alex, hi ... hi ... hi," Rasa puasku dalam hati akibat sudah mengerjai A*lex dengan cara pura-pura ngambek.
Rasa rinduku yang sudah tak karuan menahan hanya ingin mendengarkan suaranya, tapi sekarang dia malah bertanya sesuatu yang membuatku sebal setengah mati.
Dert ... dert ... dert, tiga panggilan telah dilakukan Alex secara terus menerus. Dan baru yang keempat kalinya, baru kuangkat gawai hasil pinjam dari pembantuku.
[Hallo non, jangan marah dong, non! 'Kan tadi ngak sengaja nanya begitu. Jadi maafin aku ya ... ya!]
[Heeem]
[Non Amel, ceritanya masih marah 'kah ini?]
[Hallo non ... non Amel]
[Hem]
[Kok jawabnya hem doang? Beneran marah, nih! Ya udah kalau marah, aku akhiri saja percakapan kita ini]
[Eeh ... eeeh, tunggu Alex. Iya...iya, aku lagi marah sama kamu, habisnya nyebelin banget kamu itu]
[Ya maaf, non Amelku sayang ]
[Hi ... hi ... hi]
[Kok malah tertawa?]
[Habisnya lucu, kamu memanggilku sayang! Sudah lama aku tak mendengarnya. Kamu gak kangen sama aku, Alex?]
[Yang pastinya kangenlah. Tapi kita sementara ini tak bisa mengikari dan membantah semua ucapan mama kamu]
[He'eh, iya Alex! Janji terhadap mamaku, kita tak akan bisa mengingkarinya. Oh ya, gimana kabar kamu?]
[Alhamdulillah aku baik. Kamu, non?]
[Syukurlah kalau begitu. Aku juga baik]
[Oh ya, kamu masih mencintaiku 'kan, Alex? Walau kita sedang berjauhan begini?]
[Pasti itu, non Amel. Cintaku tak akan pernah pudar untukmu selamanya]
[Alhamdulillah, baguslah kalau begitu]
[Eeh ... Alex udahan dulu ya. Ini hasil meminjam gawai pembantuku. Udah duluan, nanti kita sambung lagi. Da ... da ... da, Assalamualaikum. Emuuuuaach]
[Bye ... bye juga. Walaikumsalam]
__ADS_1