Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kena Semprot Kemarahan Majikan. SEASON 2


__ADS_3

Ada rasa takut juga saat melakukan kesalahan, namun harus tetap jujur untuk mengakui kesalahan itu. Menerima setiap cacian adalah sikapku agar tetap bertahan bekerja disini.


"Apapun yang diucapkan majikan Alena nanti kamu harus tahan. Jangan mudah lemah untuk sakit hati, sebab ini murni kesalahan kamu Amel," guman hati berbicara pada diri sendiri.


Berkali-kali langkah hanya mondar-mandir didepan pintu kamar Alena. Rasa khawatir akan kena semprot dan pecat begitu menghantui. Majikan tadi berpesan untuk menjaga dengan baik, tapi karena keteledoran membuat harus bertaruh sama pekerjaan.


"Bismillah. Semoga saja tidak akan berpengaruh sama pekerjaan, amin!" Kamantapan hati ingin segera membicarakan masalah baju yang sudah rusak.


Tok ... tok, pintu kamar Alena telah kuketuk pelan.


"Hemm, masuk saja."


"Bismillah!" guman hati yang masih ada keraguan untuk masuk.


"Maaf, Nona. Kalau saya menganggu!" ucapku tak enak hati.


"Ada apa, sih?" tanyanya.


"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan kepada anda," Kegrogian hati berbicara pelan, menghampiri majikan yang santai duduk sofa..


"Mau bicara penting apa? Pembantu saja sok sibuk," ketusnya berbicara.


"Ii-iiin-ni!" cakapku gagap.


Alena sudah menatap tajam kearahku dengan kebingungan. Netranya mulai melirik kearah kain yang tergenggam ditangan.


"Kalau berbicara yang jelas." Awalnya yang duduk sekarang telah berdiri.


"Apa baju yang kusuruh sudah selesai menyetrikanya? Kok, cepat dan sudah kamu bawa sini?" Keheranan Alena.

__ADS_1


"Maafkan aku, Nona." Kepala telah tertunduk tak berani menatapnya balik.


"Maaf, apa yang kamu maksud?."


Tanpa diduga Alena secara kilat sudah menyambar kain itu dari tanganku. Awalnya kutahan agar dia tak bisa melihat, namun Alena telah merebut dengan mengerahkan tenaganya begitu kuat.


Baju sudah dia bentang. Dia bolak-balik pakaian itu, sampai pada akhirnya netra nampak ingin meloncat keluar, saat mengetahui apa yang terjadi.


"Apa yang kamu lakukan, hah!" bentaknya emosi.


Baju itu langsung dibuang Alena dilantai. Wajahnya yang tersulut emosi sungguh menakutkan. Langkahnya sudah menghampiriku yang mulai gemetaran takut.


"Dasar pembantu tak becus!" umpatnya marah.


Plak, secara kasar Alena berhasil melayangkan satu tamparan tepat pada pipi kanan.


Panas sedikit sakit telah kurasakan. Untuk meredakan sakit itu telapak tangan sudah menutupinya.


"Maaf ... maaf. Enak saja kamu kalau berbicara."


"Saya tadi beneran tak sengaja telah membuat rusak baju itu."


"Kalau ngomong enak benar. Tidak sengaja? Memang kerjaan kamu dari tadi ngapain, kok bisa tidak sengaja? Dasar pembantu tak tahu diuntung, sudah dapat pekerjaan yang layak tapi melakukan pekerjaan mudah saja tidak becus," hinanya lagi.


"Apa kau tahu harga baju yang kau rusak itu, hah! Mungkin kerja disini selama setahun kamu tidak akan bisa membayarnya."


Mulut hanya diam tak menangapi ocehan Alena. Mulutnya yang bawel terus saja melontarkan kata-kata kasar. Telinga rasanya panas saat terus dihina. Pekerjaan yang sangat kubutuhkan untuk menyambung nyawa, membuat hanya berdiri terpaku dihina.


"Ada apa ini, sayang?" Suara Arnald sudah datang menghampiri kami.

__ADS_1


"Ini lho sayang pembantu yang tak becus mengerjakan apa yang kusuruh."


Arnald melirik ke arahku dengan seksama.


Nampak samar-samar saat aku balik mencuri melirik dia juga, Arnald begitu mengerutkan kening seperti ada yang dia curigai.


"Sudah. Jangan marah-marah terus kamu itu. Setiap manusia tidak selalu harus sempurna, pasti pernah melakukan kesalahan juga," Pembelaan Arnald.


"Tapi, sayang. Dia sungguh keterlaluan telah merusak baju untuk nanti malam kita pergi ke pesta," keluh manja Alena sudah bergelayut manja dilengan Arnald.


"Hmm. Masalah baju itu mudah, nanti akan aku belikan yang lebih bagus lagi dari baju yang rusak itu," Akhirnya Arnald telah menyelamatkan posisiku yang salah.


"Emm, okelah kalau begitu." Alena luluh juga.


"Ya sudah, Bik. Lebih baik kamu pergi dari sini juga," Majikan Arnald memberi aba-aba dengan mengayunkan tangan.


"Baik, Tuan."


"Sekali lagi maafkan aku, Nona!" ucap sebelum undur diri dengan kepala mengangguk sekali.


"Iya, Bik. Kami maafkan!" jawab Arnald ramah.


"Maaf. Saya permisi dulu!" pamitku.


"Ciiiieh," decih Alena terdengar masih tak suka dan ada kemarahan.


Kaki telah melangkah tergesa-gesa dari kamar yang memuakkan ini. Nafas akhirnya bisa lancar kembali untuk menghirup udara. Tadi didalam begitu terasa sesak akibat ketakutan, apalagi pas Alena tak henti-hentinya terus mengoceh dan menghina.


"Alhamdulillah, ya Allah. Engkau telah menyelamatkan diriku dari pemecatan pekerjaan, walau tadi Alena sempat marah-marah," Kelegaan hati saat berada didapur.

__ADS_1


"Untung saja tuan Arnald tadi datang menolong segera. Seandainya dia tidak datang tepat waktu, pasti pekerjaan selama berpuluh tahun ini akan melayang begitu saja hanya gara-gara sebuah kesalahan kecil. Aku harus mengucapkan terima kasih kepadanya nanti jika bertemu," guman hati yang berjanji.


__ADS_2