Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Tak menyerah


__ADS_3

Aku pulang membawa kekecewaan, rasanya ingin sekali diri ini berlari ke dalam lautan yang mengemuruhkan ombaknya, untuk menceburkan diri agar keluar dari masalah, dan terhindarkan dari kenyataan yang telah ada. Namun kepala ini sudah berpikir bahwa kesadaran atas satu masalah tidak akan selesai begitu saja, pasti akan memunculkan sebuah masalah baru.


Kini aku sedang menghadapi resiko terpahit, untuk berusaha membuat sebuah keputusan, walau nantinya akan ada yang tersakiti, jika hal yang kuinginkan bisa tercapai. Aku tak peduli lagi akan arti sebuah kegilaan, yang terpenting semua itu dapat kudapatkan demi hasrat bisa kembali pada Alex.


Kecewanya diri ini atas sikap Alex yang minta putus atas cinta kami, membuatku terus saja melamun. Tak ada sesuap nasi yang masuk dalam perutku sejak kemarin. Ibu memberi perhatian lebih terhadapku, agar diri ini pulih bersemangat lagi, tapi usaha beliau sia-sia saja sebab aku tak merespon perhatian itu, yang kubutuhkan sekarang adalah perhatian Alex. Jiwa ini begitu merintih kesakitan, tidak bisa menerima kenyataan semua ini.


Alex memanglah sudah keterlaluan, tak memberitahu bahwa dia masih hidup, dan sekarang dia malah berulah terus saja menghindar dan menjauhiku. Bahkan saat kami bertatapan bertemu, saat dia mengunjungi kami di Semarang kemarin, sikapnya hanya biasa-biasa saja seakan telah melupakan serta tak mengiginkanku.


"Aaaah, Alex. Apakah aku akan kesulitan jika mendapatkan cinta kita lagi yang sempat harmonis seperti dulu? Bukankah kamu mencintaiku lebih dari apapun dari dulu? Tapi kenapa semua telah berubah seratus derajat melupakan diriku?" keluh kesahku dalam hati masih dalam kesedihan.


"Amel?" panggil ibu saat masuk kamarku.


"Ya, bu!" jawabku lemah.


"Bolehkah ibu masuk," izin beliau.


"Masuk saja, bu."


Beliau langsung menghampiriku yang kini tengah duduk bersandar pada papan pembaringan, dan tanpa ragu beliau kini ikut-ikutan duduk juga.


"Sudahlah nak, kamu jangan begini. Ibu jadinya ikut bersedih jika kamu terus-terusan begini. Baiklah, bagi kamu wajah Alex tak masalah, tapi apakah kamu lupa, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri? Mungkin Alex melakukan itu semua demi kebaikan kalian. Lagian kalian bertiga sudah seperti saudara, walau hanya sekedar berteman. Mungkin langkah Alex untuk memutuskanmu adalah suatu kebenaran yang mutlak, agar kalian semua tidak merasakan sebuah kesakitan dalam hati kalian," ucap ibu Alex mencoba membujuk dan menenangkanku.


"Tapi, bu. Aku benar-benar masih mencintai Alex. Hidupku yang sempat tak bernyawa kini hidup kembali, tapi kenapa harus menelan pil pahit begini?" tanyaku sendu.


"Kamu yang sabar, nak. Mungkin ini adalah demi kebaikan semua orang agar tak terluka," Lembut suara ibu berbicara.


Beliau memberitahu begitu, supaya diri ini bisa memahami keputusan anaknya. Tanpa disuruh lagi, aku memeluk beliau dengan tangisan sudah memilukan.


Jelas akan terasa sulit bernafas, ketika hati kehilangan separuh rasanya. Sungguh sekarang harapanku cuma hanya Alex, untuk memberikan kesempatan agar hubungan kami kembali lagi.


"Tunggu saja, Alex. Akan kubuktikan bahwa engkau masih mencintaiku, akan kulakukan semua cara agar engkau dapat kembali merajut cinta kasih kita. Tunggu saja, pasti akan kubuktikan. Walau rintangan besar telah menghadang, tak akan menyurutkan niatku untuk mendapatkanmu kembali," Kata-kataku dalam hati dengan amarah yang telah menguasai.


Aku hanya membisu dalam kamar, mulut ini terlalu diam untuk berbicara. Aku kehilangan semangat dan sekarang otak sedang berpikir keras mencari cara. Pikiran sudah berputar-putar tapi tak kunjung jua mendapatkan ide, rasanya sungguh-sungguh buntu.


Saat takdir sudah ditentukan Allah, manusia hanya bisa menjalani semuanya.


Kesulitan hidup yang menimpa diriku, membawa sebuah takdir yang tak terduga.


Kekasih hati yang selama ini sudah kuanggap meninggal, ternyata dia masih hidup.


Sungguh bahagia hati ini, mengetahui dia masih sehat-sehat saja, namun diatas kebahagiaan, ternyata sudah tertoreh oleh rasa kekecewaan.


Saat pujaan hati tak mau meneruskan kisah cinta kami, karena hanya sebuah alasan teman dan wajahnya yang rusak.


Saat melihat wajahnya yang sedikit cukup mengerikan seperti monster hantu sempat membuatku syok, tapi sekarang aku tak memperdulikan semua itu, yang terpenting kubutuhkan darinya adalah hati. Wajah yang rusak bisa diperbaiki dengan operasi, tapi kalau hati sudah rusak tak mencintai lagi, itu akan sulit sekali terobati walau dengan rasa kelembutan atas nama cinta.

__ADS_1


Aku masih bisa bersabar menerima keputusannya saat ini, tapi karena rasa cintaku padanya yang masih tersimpan rapi dalam hati, semakin kuatnya rasa perjuanganku untuk mendapatkannya.


"Walau berkali-kali kamu menolaknya, niatku untuk memilikimu tak akan hilang begitu saja, akalku ini akan segera menemukan cara. Heuueh, akan kubuktikan Alex, tunggu saja!" Semangatku berbicara sendiri dalam hati.


Rasa kecewa yang mendalam, membuat diri ini semakin tak terkontrol atas kegilaan yang sudah singgah dalam diri ini.


"Amel, kamu mau kemana Malam-malam begini?" tanya ibu heran.


"Hei Amel ... Amel, kamu mau kemana?" panggil beliau kembali bertanya-tanya.


Aku tak menjawab pertanyaan itu, langkah sudah tergesa-gesa keluar rumah, yaitu agar secepatnya sampai kerumah Alex.


********


Untung saja malam ini aku masuk rumah kos Alex begitu mudahnya, mungkin saja dia belum tidur sehingga rumahnya belum terkunci.


Braak, suara pintu kamar Alex kubuka secara paksa. Terlihat sekali dia begitu kaget melihat kedatanganku. Ceklik, suara kunci telah berhasil kuputar, dan kubuang ke arah kanan dari tempat berdiri. Kudekati dia yang sedang santai berbaring dikasur.


"Amira, apa yang ka--?" Suaranya tertahan.


Kaki secepat kilat melangkah menghampiri Alex yang masih tertegun berdiri. Tanpa ada persetujuan darinya. Cuup, bibir manisnya kulumat dengan lembut dan ganasnya. Kucengkram kuat kepalanya, biar dia tak menghindar dari ciumanku. Alex, terlihat begitu meronta ingin segera menjauh dari aksiku, terlihat dari caranya yang ingin sekali mendorong diri ini agar menjauh.


"Amel, hentikan?" Bentaknya dengan suara melengking marah.


Tetap tak kupedulikan ucapannya. Aksiku terus saja mengila, dengan mencumbui mulutnya penuh gairah. Terlepas dari situ, kini beralih ke lehernya, dan terus saja tetap kucium bibir seksinya dengan mesra. Jantungku merancau berdetak tak karuan, wajahku terus saja menempel untuk tak melepas ciuman kami. Alex terlihat menikmati dan tak menolak sama sekali.


"Amel, hentikan ... hentikan ini semua! Apa yang kamu lakukan?" ucapnya marah.


"Aku tak akan berhenti sebelum mendapatkanmu," jawabku santai menolak.


Sekarang Alex mencoba menahan tanganku, supaya menghentikan tingkahku yang membuka baju. Sheerk, suara lengan bajuku terkoyak lebar akibat berlawanannya tanganku dengan dia.


"Hentikan Amel!" teriaknya lagi dalam emosi.


"Aku tak mau," Ulangku menolak.


"Cukup! Hentikan ini," lengkingan suaranya marah.


"Kamu bohong, Alex. Katakanlah, bahwa kamu masih mencintaiku, karena terlihat sekali dari caramu yang tak mau melepaskan ciuman tadi," Airmataku luruh saat berbicara.


"Sudah! Jangan kamu ungkit lagi cinta yang sudah hilang," jawabnya tak berperasaan.


"Aaah, pers*t*n dengan semua itu!" jawabku tak peduli.


Saat Alex mulai lengah dari menahanku untuk tak membuka baju, aksi gilaku kembali terlakukan yaitu untuk membuka semua baju. Diri yang sudah kuat merindukannya, untuk ke sekian kalinya bibirku kembali merayu untuk menciumnya lagi

__ADS_1


"Hentikan, aku bilang hentikan semua ini," bentaknya yang kelihatan emosi.


Bhugh, tubuhku jatuh terduduk dilantai, sebab Alex sudah mendorongku. Kini isak tangisku seakan tersayat ketika kelakuan kasarnya muncul yang tak selembut lagi seperti dulu.


"Maafkan aku, Amel!" ucapnya lemah dalam kesenduan.


Kini Alex mendekati dan berusaha menaruh tangannya dipundakku, tapi kuhempaskan dengan kuat agar tak menyentuhku. Sorot mataku kini menatap tajam melihat dia, sebab rasa marahku sudah terasa diubun-ubun atas sikapnya barusan.


"Jangan katakan maaf ... maaf terus. Aku tak mau mendengarkan kata-kata itu lagi, yang kuinginkan hanya kata cinta, paham!" ujarku kesal dengan tangan menutup telinga, biar tak mendengar kata-kata Alex yang membosankan itu.


"Pakailah ini," ucapnya menyodorkan jaket.


Dia manaruh jaketnya untuk menutupi tubuhku yang hanya memakai bawahan rok, dengan tubuh atasku hanya tertutup sebuah kacamata wanita.


"Aku tidak bisa, Amel. Diri ini kemarin-kemarin sudah bilang bahwa sudah tak mencintaimu lagi, cintaku padamu seakan sudah mati," ucapnya gamblang.


"Kenapa?."


"Apa karena Iwan dan wajahmu itu? Apakah tidak ada alasan yang lain lebih tepat, yang menjelaskan mengapa cintamu hilang?" tanyaku membuncahnya amarah.


"Sudah kubilang tidak ada alasan yang lain, hanya Iwan dan wajahku yang tepat untuk menjadikan alasan kuatku," ujarnya sambil memalingkan muka.


"Aku ingin kamu, Alex. Kenapa engkau tak mau mencintaiku lagi, bukankah janji itu nyata kau ucapkan, kenapa ... hah, kenapa? Aku sudah tidak ada kekuatan hidup lagi karenamu, dan sekarang kamu ingin lari dari tanggung jawab itu?" tanyaku, dengan nafas kembang kempis tak karuan akibat emosi merajai jiwa.


"Bukan ... bukan, bukan aku tidak mau tanggung jawab. Tapi ah-- , sekarang aku benar-benar tak bisa mencintaimu lagi," ungkapnya kesal.


"Terserah apa yang menjadi keinginanmu, yang jelas aku tak akan menyerah dan berhenti mencintai kamu," ucapku emosi yang kini sudah bangkit saat sempat terduduk.


Brak ... praang ... preng, kulempar vas bunga dan barang-barang yang lainnya yang tertuju ke arah Alex.


"Aaaah ... Aaaaaaa," teriakku marah, akibat kegilaan yang sulit terkontrol mendengar penjelasannya.


"Amel, kumohon tenanglah ... tenang," ujar Alex berusaha membujukku.


Tok ... tok, "Amel, Alex? Kenapa kalian? Kita bicarakan baik-baik, tok ... tok, Amel!" Ibu ternyata menyusulku dan sekarang beliau berkali-kali mengetuk pintu.


Tapi kami masih beragumen dalam pertengkaran, soalnya aku masih kekuh menuntut hak untuk dicintai Alex lagi.


Brak ... preng, tanpa henti tangan terus melempar barang yang ada dalam kamar Alex.


"Hentikan Amel. Kenapa kamu susah sekali mengerti, bahwa aku sudah tak menginginkan kamu lagi," bentak Alex supaya aku berhenti menyentuh barangnya yang terus kubuang.


"Baiklah, Alex. Kalau itu mau kamu, bagiku sudah cukup jelas, bahwa kamu sudah tak mencintaiku lagi. Mulai detik ini, hari ini, aku tidak akan mencintaimu lagi, selamat tinggal. Semoga kamu bahagia atas keputusanmu," ucap ketusku beruraikan air mata, kemudian berlalu pergi meninggalkannya.


"Amel tunggu ... Amel?" Panggilnya yang ingin menghentikanku.

__ADS_1


Ceklek, pintu ku buka dengan kunci yang sempat terlempar olehku, ibu hanya memandangiku dengan tatapan aneh saat keluar. Langkah terus saja melenggang lari, dengan terus mengusap-usap bulir-bulir yang sudah deras menetes.


Tak kuhiraukan lagi panggilan Alex dan ibu yang terus saja memanggil. Bagaimanapun kesalahan Alex sebelumnya masih bisa kumaafkan, dan berharap dia akan merubah keputusannya, tapi ternyata semua tak sesuai dengan harapanku.


__ADS_2