
Tidak ada yang membahagiakan selain menyambut kedatangan si kecil, yang sebentar lagi akan melihat dunia ini. Aku dan Ibu, begitu was-was saat Amel sudah dibawa ke rumah sakit. Beberapa suster sudah berlarian ke dalam ruangan persalinan, yang sudah ada Amel sedang merintih kesakitan.
Disampingnya, tangan sudah kegenggam erat. Dengan tenang, kurasa Amel dapat melaluinya. Sikap yang menurutku patut diacungi jempol. Walau berulang kali meringis merasakan sakit, namun dia tetap saja santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Berulang kali keningnya kukecup mesra, saat berkali-kali dia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyambut si kecil. Rasa bahagianyalah, yang kemungkinan menguatkan dia agar tidak mengeluh sama sekali.
Setelah sekian menit berjuang, pada akhirnya suara tangisan bayi begitu mengema terdengar, dari ruangan yang menjadi saksi bisu lahirnya anak pertama kami. Wajah kami semua berubah kebahagiaan. Ibu langsung saja memeluk tubuhku, saat bayi yang masih belumuran darah kini hadir menjadi bagian keluarga kami.
Ibu tidak henti-hentinya mengeluarkan airmata bahagia, saat tahu perjuangan cinta kami penuh dengan drama lika-liku cinta.
"Selamat ya, Pak. Anak anda telah lahir dengan jenis kel*m*n perempuan," ucap suster yang mengendong bayi yang masih memerah.
"Alhamdulillah, iya Suster, terima kasih!" jawabku bahagia, yang langsung mengambil alih anak saat dalam gendongan suster.
Alunan adzan sudah kukumandangkan ditelinganya. Sikap si kecil yang tenang dengan keadaan tertidur, membuat apa yang kulakukan cepat selesai tanpa halangan.
Wajah yang cantik, dengan kulit putih bersih. Hidungnya sedikit mancung, dengan kedua alis menghitam tebal. Jari-jarinya yang kelihatan kecil, nampak sedikit memanjang ruas-ruasnya.
"Alhamdulillah, Alex kecil ternyata sudah lahir. Selamat ya, Nak!" ucap Ibu sudah mengecup pelan pipi bayiku.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu. Semoga kehadirannya akan membawa berkah dan kebahagiaan pada kami," cakapku antusias gembira.
"Amiin. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
Keadaan Amel yang melemah, membuatku repot untuk mengurusnya. Sejauh ini dia sudah berjuang mati-matian agar anakku tetap sehat, mungkin inilah giliranku sebagai suami untuk menjaganya. Lagian sikapku ini akan membuat rasa nyaman untuk Amel, bahwa aku adalah suami yang baik dan selalu siap siaga untuknya.
Setelah kebahagiaan ini ada, semoga saja tidak ada kesedihan maupun kesusahan lagi seperti hari kemarin-kemarin. Masa-masa yang terjadi ditahun belakang, sangat membuatku terpuruk, sehingga sempat tidak ingin lagi bangkit dalam hidup. Namun, berkat teman dan saudara yang selalu mendukung, semangat yang hilang bisa kembali pulih.
******
Setelah dirasa membaik dan kesehatan anak baik-baik saja, akhirnya Amel hanya menginap dua hari saja dirumah sakit. Mobil sudah melesat perlahan-lahan, untuk memboyong kehadiran keluarga baru untuk pulang.
Terlihat banyak tetangga dan kerabat, yang sudah berkerumunan didepan rumah kami. Pasti Ibulah yang sudah heboh memberitahukan semua orang. Sikap beliau yang ramah dan selalu ikut acara pengajian kampung, membuat banyak tetangga yang semakin akrab kepada keluarga kami.
"Ayo! Cantik, kita turun dulu. Lihat! Banyak orang yang sudah menunggu kedatanganmu," tunjukku pada anak, sambil mencoba mengajaknya berbicara.
"Alhamdulillah ya, Pa. Ternyata banyak yang ingin melihat putri Mama yang cantik ini," saut Amel mengucap rasa syukur.
"Emm, benar itu."
__ADS_1
Bhugh, pintu mobil sudah kubanting pelan.
Mereka semua begitu antusias langsung menghampiri kami. Semua orang sumringah bahagia, sambil mengelus pelan pipi anakku yang sedikit chubby.
"Wah, anaknya sedikit gemoy dan cantik sekali," puji salah satu Ibu-ibu.
"Benar itu. Papa dan Mamanya saja tampan dan cantik, ya pasti anaknya akan cantik bak bidadari juga," simbat yang lain.
"Alhamdulillah, Ibu-ibu!" jawab Amel ramah.
"Terima kasih atas pujiannya. Mari kita masuk ke dalam rumah dulu. Tidak enak jika kita bercengkarma diluaran begini, apalagi ada bayi yang baru saja lahir," ajakku pada semua orang.
"Benar itu, Ibu-ibu. Mari masuk dulu, tidak enak dilihat orang. Didalam banyak camilan yang sudah disediakan," saut Ibu kandung yang ikut-ikutan mengajak mereka.
"Baik ... baiklah. Terima kasih atas keramahan kalian. Padahal kami hanya ingin melihat si dedek kecil, sebab penasaran saja sama wajahnya," jawab salah satu tetangga.
"Tidak apa-apa, kok. Seperti orang lain saja kita ini. Kita semua sudah lama bertetangga dan sudah kami anggap sebagai keluarga, jadi tidak usah sungkan-sungkan begitu. Mari kita ngobrol ke dalam dulu," pinta Ibu lagi.
"Baiklah, Bu. Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama."
Akhirnya kami semua masuk ke dalam rumah. Tetangga yang sudah baik hati dan ramah, kini mengikuti keinginan kami. Semua kelihatan bahagia, saat tawa canda mereka sedang bergurau.