Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kegalauan


__ADS_3

Aku hanya bisa duduk termenung di kursi ruang tengah ditemani ibu. Kata-katanya yang tidak mencintaiku lagi, begitu tergiang-giang ditelingaku sekarang. Diri ini sungguh tak ingin dia melupakan cinta kami, tapi keinginanku sebenarnya hanya agar dia bisa menjauhiku, tapi semua berakibat fatal. Karena dia sudah terikat akan menjadi milik orang lain, maka dari itu aku harus putus dengannya, dan tak disangka Amel sudah berucap memutuskan untuk melupakan semuanya tentang kisah cinta kami dulu.


"Kenapa lagi kalian ini, sampai-sampai harus bertengkar sehebat itu?" tanya ibu.


"Maafkan Alex, bu. Jika telah membuatmu khawatir," jawabku, sambil kusandarkan kepala dibahu ibuku.


"Ibu tahu, kamu masih mencintai Amel. Tapi kenapa juga semuanya dipersulit, dengan mengorbankan perasaan kamu sendiri," ujar beliau binggung sambil mengelus pelan kepalaku.


"Alex memang masih mencintai Amel, tapi wajah dan pertunangannya cukup membuat diri Alex tahu malu, bu. Aku tidak ingin menyakiti orang lain, cukuplah diri ini saja yang merasakan sakit, sebab tidak ingin orang lain lebih terluka daripada kami!" Kasihannya ucapku.


"Dari dulu hatimu selalu lembut dan baik hati. Ibu bangga mempunyai anak sepertimu, yang selalu mementingkan kebahagiaan orang lain dulu, dibandingkan kebahagiaan dirimu sendiri yang selalu saja tersakiti dan terluka," ujar beliau memuji dengan rasa bangga.


"Terima kasih, bu. Engkau memang orang yang selalu mengertikan anakmu ini, dengan sejuta rasa selalu memberiku semangat saat aku sedih. Tuhan tak salah menjadikan engkau sebagai ibu tercintaku," ucapku sambil mencium pelan tangan beliau.


"Bagaimana selanjutnya rencana kamu tentang Amel, yang sudah benar-benar akan melupakanmu?" tanya beliau.


"Entahlah, bu. Yang jelas biarkan Amel seperti itu sekarang. Walau dia tidak mau menerima keputasanku, lama-lama nantinya dia akan mengerti juga atas alasanku!" terangku.


"Kamu harus sabar menghadapi Amel. disetiap manja dan kemarahannya, dia itu masih mau memperdulikan dan mencintaimu. Perasaannya begitu lembut untuk terus mengasihi orang-orang yang dia sayangi, jadi dia mungkin akan kesulitan melupakan kamu begitu saja. Kamu harus hati-hati, sebab kelihatannya Amel tak akan menyerah begitu saja agar kamu kembali padanya. Jaga perasaan Iwan, sebab kalian adalah teman serasa keluarga," Nasehat ibu dengan sedihnya.


"Iya, bu. Alex paham."


Bergelayut akan rasa bersalah terhadapnya cukup menyiksa bathin ini, bagaimanapun dia adalah gadis yang sempat singgah tersimpan dalam dihatiku.

__ADS_1


Sekarang semuanya terasa sudah pupus berakhir. Diri ini hanya mampu terdiam, tak mampu lagi menimpali ucapan, saat keinginannya untuk melupakanku.


Dada kupegang erat, akibat jantung berdetak kuat sakit sekali rasanya, dimana kini harus merelakan wanita yang kucintai pergi dari ingatan.


Hati begitu terasa tercubit, saat lelehan airmatanya sudah menetes disudut pelupuk netra, dengan ucapan yang ingin meninggalkan perasaannya padaku.


"Ya Allah, apakah tindakanku sudah benar, atau justru telah salah, sebab telah memintanya agar menjauhiku? Perasaanku tak bisa dipungkiri bahwa hatiku masih mencintainya, tapi rasa ingin menjauhi sangat kuat saat tahu dia sudah ada calon," penyesalan hati bertanya.


Diri ini amat sakit merasa bersalah. Jika seandainya kejadian masa lalu tak terjadi padaku, persoalan pelik tentang cinta takkan ambyar macam ini.


Ternyata hubungan yang terjalin lama, membuat rasa itu kian menguat akan cintaku padanya.


Tapi rasa sayang sekarang ini berbanding terbalik yaitu hambar.


Aku tak tahu akan rasa yang mulai hilang.


Terlebih lagi kehadiran orang ketiga yaitu Iwan, yang sudah bisa mewarnai hari-hari Amel, yang sempat kosong, seakan-akan telah mentertawakanku***.


Mereka terlihat antusias sekali bercanda tertawa riang bersama, seakan-akan diri ini tak berguna lagi jika tetap berada disisinya.


Kesedihan tak mampu lagi diungkapkan lagi, walau sekedar dimaknai dengan menangis, sebab cinta yang terluka dapat tersayat berlapis-lapis akan rasanya.


"Kenapa aku yang meminta putus, kenapa pulak aku yang merasakan hati ini sakit sekali. Apakah Amel beneran atas ucapannya yang akan melupakan semua kenangan tentang kami? Walau dia akan jadi milik orang lain, tidak seharusnya dia menghilangkan memory kenangan manis itu," guman hati yang menyesal diantara galau.

__ADS_1


Meski dengan masa lalu yang sedemikian tragis, diri ini akan selalu terjerat selamanya atas bayangan.


Keadaan waktu itu begitu terasa membuat jiwa tergores.


Mungkin betapa mendarahnya pikiran diri ini kala itu, saat hujaman sebatang pisau mengiriskan luka di sekujur tubuhku.


"Andai saja wajahku tak rusak, mungkin aku tak akan meninggalkanmu, Amel. Tapi Iwan yang sudah mengikatmu rasa-rasanya akan sulit bagiku untuk mendapatkamu kembali. Heeh, takdir ... takdir yang menghalangi, rupanya engkau sungguh membuat kepala ini terasa pecah memikirnya. Takdir memang tak bisa diubah jika Allah sudah berkehendak, dengan sedimikian rupa pada sang pemilik yang jadi tujuan," rancau hati mencoba menerima ikhlas akan takdir.


Amel dan aku sering kali bertemu, saat diri ini bertandang kerumah kos ibu. Kelakuan kami yang tak saling menegur, semakin membuat jarak diantara kami yang kian menjauh.


"Apakah kalian masih saling marahan?" tanya ibu saat bertandang ke rumah kosku.


"Ya, bu. Yang seperti ibu lihat sekarang?" jawabku santai.


"Tak baik terlalu berlarut-larut dalam diam atas rasa amarah yang mengusai jiwa. Bukankah Allah adalah maha pengampun untuk semua umatnya, jadi kamu harus segera membuka hatimu untuk memberikan pintu maaf pada Amel. Kalian dalam fase kemarahan yang berapi-rapi, hingga melupakan siapa kalian ini awalnya. Jangan sampai kemarahan ini akan jadi sebuah permusuhan, hingga kalian akan lebih saling berjauhan," tutur lembut ibu mengingatkan.


"Iya bu. Aku bisa saja berbaikan dengan Amel, tapi belum tentu dia akan menerimaku begitu saja. Bukan aku yang memulainya, tapi dia saja yang ingin menciptakan permusuhan itu sebab tak terima atas keputusanku, hingga kami harus berdiaman kayak gini," terangku.


"Kamu harus selalu tabah menghadapi masalah yang pelik ini, sebab jika kamu terburu-buru menyelesaikannya maka yang akan terjadi ya seperti ini, ada yang tersakiti hingga rasa tak saling menyapapun terjadi," imbuh nasehat beliau.


"Iya, ibu. Aku akan usahakan tetap baik pada Amel, walau kami diliputi sakit hati dan tak terima," jawabku setuju.


Kami sering kali tak sengaja berhadapan, hanya ada tatapan sorotan-sorotan mata yang kadang sama-sama saling mencuri pandang. Walau diamnya Amel tak bersuara, terlihat sekali dia seakan masih menginginkanku.

__ADS_1


"Apakah kamu masih menginginkanku, Amel. Aah, rasanya iya. Terlihat dari cara-cara kamu yang terus saja menatapku tanpa berkedip dengan hawa penuh terpesona. Aku yakin kamu masih ingin kembali padaku, tapi karena aku menolak kamu jadi lebih diam tak berbicara begini," guman hati yang curiga.


Sifatnya sekarang terasa mulai terlihat dingin, dan kami hanya berbicara seperlunya saja jika tak sengaja bertemu.


__ADS_2