Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kerinduan ngobrol


__ADS_3

Sering kali mencuri untuk memperhatikan lamat-lamat wajah pria yang kucintai itu, dulu dia selalu memandang diri ini dengan tatapan kasih sayang, tapi seakan-akan sekarang sudah luntur hancur seketika. Dan dulu, dialah orang yang membuatku percaya atas pilihan yang tepat untukku menuju sebuah keabadian cinta, tapi semuanya sekarang hanya mimpi dan angan-angan belaka.


"Huuuf, apa yang harus kulakukan, apa ... apa?" Kegalauan hati dalam kebingungan.


Netra telah menatap seksama Alex, yang baru saja turun dari motor. Saat helm penutup kepala terlepas dan menampakkan wajahnya, yang mana seakan-akan pesona Alex kini telah berhasil mendesirkan sebuah perasaan rindu yang ingin sekali dipeluknya.


"Alex sini ... sini!" Panggilku menepuk kursi luar rumah.


"Ada apa Amel?" tanyanya heran ketika ingin berjalan masuk rumah.


"Tidak ada apa-apa, cuma kangen saja mau ngobrol sama kamu. Sudah lama kita tak pernah ngobrol berdua begini. Bisakah menemani aku ngobrol sebentar?" alasanku.


"Ooh."


"Boleh ngak aku curhat sama kamu?" basa-basiku padanya.


"Benarkah kita sudah lama tak pernah ngobrol bersama lagi? Memang kamu mau curhat apa sekarang? Sepertinya serius amat," balik tanyanya.


"Tentang pernikahanku dengan Iwan," jawabku memandang lurus kedepan, tanpa melihat wajahnya.


"Lalu?" imbuh tanyanya heran.


"Huuff, menurut kamu bagaimana? Aku sebenarnya tidak mencintai Iwan, kira-kira apakah kami bisa menjalani rumah tangga bahagia, yang akan terjadi diantara kami nantinya," keluh kesahku yang binggung.


"Ya, itu terserah kalian bagaimana nanti menjalaninya. Memang cinta kamu masih sama hanya untukku?" tanyanya gamblang tanpa rasa malu.

__ADS_1


"Kalau iya, kenapa?" jawabku santai.


Alex menatapku melotot seperti terkejut, dan terasa netranya begitu manis sekali, yang membuat diri ini semakin menyukai untuk terus melihatnya. Sungguh tatapan netra yang tajam namun tersirat sebuah harapan, seakan-akan telah mengartikan bahwa kemungkinan rasa cintanya masih ada untukku.


"Biasanya rasa cinta itu bisa menyusul belakangan, kalau sudah bersama menjalaninya. Kamu harus tetap menikah dengan Iwan dan lupakanlah diriku, sebab tak baik lama-lama menyimpan rasa itu sedangkan kamu akan bersanding dengan orang lain?" nasehat Alex.


Tak kudengarkan lagi atas ucapan Alex, senyumanku sekarang begitu terlempar sinis terhadapnya.


"Kamu pelan-pelan harus mencintai Iwan, dan buanglah rasa cintamu padaku jauh-jauh. Rasa cinta bisa datang saat kita selalu bersama, jadi aku yakin sekali kalau pelan-pelan bisa mencintai Iwan," imbuh tuturnya menasehati.


"Aku tahu, Alex. Mengucapkan sesuatu itu memang mudah, tapi untuk menjalaninya itu sangatlah sukar. Aku tak tahu lagi apa yang harus kukakukan pada Iwan. Yang jelas aku masih belum bisa membuka sepenuhnya hati ini untuknya. Apakah aku berdosa telah membohongi Iwan, dengan membalas cintanya akibat rasa kasihan?" balik tanyaku lagi.


"Masalah dosa atau tidak, bukan urusan manusia melainkan pada yang menciptakan alam semesta ini. Kemungkinan kamu tak berdosa terhadap Iwan, tapi lebih tepatnya akan menyakiti hatinya, saat mengetahui hatimu telah kosong tak menyimpan namanya," jelas Alex santai.


"Lalu aku harus bagaimana, Alex?" tanyaku lagi.


"Heem, pergilah!" jawabku menyetujui.


Sekarang diri ini hanya bisa memberikan senyum paksa penuh kekecewaan. Hati ini terasa sakit begitu menjerit-jerit menangis, sehingga disudut pelupuk mata rasanya ingin sekali mengeluarkan air bening. Bagiku cukup paham atas nasehatnya tadi, bahwa dia benar-benar sudah merelakan diriku untuk orang lain.


"Aku sekarang pasrah jika kau tak menginginkan aku lagi, Alex. Rasa hati saat ingin berbaikan atas cintamu, ternyata kini sudah ada jawabannya, bahwa cintamu sekarang sudah pupus hilang tak tersisa lagi. Aku sangat tahu jika kau kini sudah mati rasa atas kekecewaan, tapi haruskah secara gamblang begitu mengatakan bahwa diriku bisa bahagia bersama orang lain? Sakit, ya aku sangat kesakitan sekali atas delima dalam cinta yang tak berkesudahan ini," rancau hati menatap kosong lurus kedepan.


Diri ini hanya bisa mendengus kesal, tak terperi lagi akan rasanya. Aku begitu termenung menatap tanaman di pekarangan rumah, yang mana nafas berkali-kali terus terhempaskan, sebab kekecewaan begitu terasa menyekat dalam jiwa.


Pikiran selalu saja mencari akal mendapatkannya lagi dan lagi, sampai lelahnya jiwa ini berusaha, agar keinginan membatalkan pernikahan bisa tercapai.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya diri ini terus saja berucap bahwa aku tak mampu hidup tanpamu, Alex.


Entah berapa banyak lagi kata cinta yang bisa mengembalikan dirimu.


Rindu akan hadirmu selalu saja mengaitkan hati, yang terus saja berpacu akan rasa berpisah dalam keadaan.


Begitu anehnya diri ini, atas penikahan yang sebentar lagi diadakan. Biasanya orang menikah akan menyambut rasa senang dengan suka cita, tapi lain denganku yang justru itu semua adalah kegalauan yang sungguh menyiksa, sebab akan menikah dengan orang yang tak kucintai dan tak begitu kuharapkan.


Rasanya akal sudah buntu, tak kunjung jua mendapatkan ide membatalkan pernikahan yang tinggal menghitung hari.


"Aah, apakah Alex akan menerimaku lagi, jika benar-benar diri ini bisa membatalkan pernikahan?" Pernikahan yang terjadi sungguh membuatku semakin terpuruk, atas rasa delima yang mendera. Apa yang harus kulakukan?" Rancau hati yang terus saja berpikir.


Galau hati yang semakin akut, membuat rasa makanpun cukup tak berselera. Kerjaan hanya berpikir dan berpikir terus mencari jalan.


"Ada apa, Amel? Kamu semakin hari semakin murung saja? Tak baik calon pengantin terlalu banyak melamun," sapa ibu saat kaki kini tercebur mengantung dalam kolam renang.


"Heeh, ibu tahu sekali kalau Amel lagi banyak yang pikiran. Entahlah, bu. Rasanya aku tak semangat untuk melakukan pernikahan itu," jawabku lesu.


"Memang ada apa? Bukankah pernikahan itu adalah hari bahagia dan paling dinanti-nanti


oleh setiap pasangan?" tanya beliau lagi.


"Iya, bu. Amel paham sekali. Ibu pasti tahu jawabannya kenapa Amel bisa kayak gini. Hatiku begitu sukar sekali untuk dibuka oleh Iwan, dan kini membuatku semakin delima bagaimana jika Iwan tahu kebenarannya bahwa hati ini tak mencintainya," keluhku menjelaskan.


"Kamu jangan begitu, Amel. Semua sudah terencana dan akan segera terlaksanakan. Ini adalah awal dari keputusan dan akhir dari masalah kamu, jadi jangan biarkan semua orang menjadi kecewa apalagi dengan Iwan. Berusahalah sedikit demi sedikit belajar mencintanya, insyallah kamu akan membuka hati itu untuknya," nasehat ibu.

__ADS_1


"Iya, bu. Makasih."


Lagi dan lagi, bukannya ibu bisa memecahkan masalah, namun malah membuat diri ini kian bingung atas delima percintaan dalam ikatan pernikahan yang sebentar lagi akan datang. Rasanya semua orang kini tak mendukung dan mengerti akan perasaan ini, dan apakah aku harus melupakan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain untuk mengagalkan semua?.


__ADS_2