
Adakalanya mentari yang sedang bersinar terang, harus melewati beberapa badai, dalam mengelegarnya hujan, untuk mengoyahkan semua harapan yang diimpikan
Namun kenyataannya, dunia akan selalu ada pelangi, di sebalik badai awan hujan.
Semoga saja kisah cinta kami setelah ini akan tetap bersatu, dengan penuh warna kebahagian seperti indahnya warna pelangi yang mempesona selalu dapat menentramkan jiwa disaat melihatnya.
[Hallo Iwan]
[Eeh kamu ternyata Amel? Tumben-tumbenya kamu masih ingat padaku]
['Kan kamu adalah teman terbaikku, teman yang selalu kusayang]
[Benarkah?]
[Iya Iwan. Oh ya, boleh ngak kali ini aku minta tolong padamu?]
[Memang minta tolong apaan, sih? sepertinya penting banget]
Terdengar sekali suara Iwan ketus menjawab seperti sedang dalam keadaan marah, mungkin kesal akibat berkeluh kesahnya atas permintaan tolongku padanya.
[Ikhlas ngak sih mau menolong? Kalau kamu ngak mau juga gak pa-pa. Mungkin lain kali jika kamu bertemu denganku, anggaplah kita seperti orang asing yang tak kenal satu sama lainnya, ok!]
[Wah .... wah, jangan begitulah Amel! Jangan 'lah sampai begitunya. Tega amat, sih. Masak bertemu tapi tak menyapa apalagi berbicara, 'kan nanti rasanya aneh . Heeh, ya sudah cepetan minta perlu bantuan apa?]
[Tolong bawakan kekasih hatiku Alex kepadaku. Please ... ya ... ya! Bisa ya ... ya?]
[Tapi Amel. Memang kamu gak takut jika ketahuan tante sama om nantinya?]
[Sebab itulah Iwan, aku meminta bantuan sama kamu, karena hanya dirimulah yang bisa membantuku membawa Alex dan merahasiakan semua ini. Kamu adalah satu-satunya teman sejati yang terbaik di dunia ini]
[Wah ... pujianmu telah membuatku jadi berkepala besar, nih! Ha ... ha ... ha. Baiklah kali ini aku akan membantu kamu! Kirimkan pesan alamatnya, agar aku bisa membawa Alex secepatnya dan nanti kalian bisa bertemu]
[Sippp, ok. Terima kasih Iwan]
[Iya, sama-sama]
Klunting, handphone berbunyi akibat tanda bahwa gawai pembantuku telah berhasil mengirim satu pesan kepada Iwan, untuk mengirimkan lokasi janjian yang ingin sekali bertemu Alex.
Cinta? Mengapalah engkau sudah singgah di hatiku, salahkah bila aku menilai orang dan waktu.
Aku begitu menahan rasa yang cukup tertahan, sungguh membuatku tersiksa akan semua itu.
Memang berat sekali bagiku, sekarang telah berpisah darimu, wahai Alex.
*******
Hari yang dinanti-nanti akhirnya telah tiba, agar bisa menemui kekasih hati yang sudah lama tak manatap wajah tampannya.
Ditaman bawah apartemen, kini aku duduk di bangku yang telah tersediakan. Tatapan yang sudah kosong mencoba menerawang berpikir, atas ingin tahu apa arti sebuah keabadian cinta?.
__ADS_1
Di dalam keindahan bunga-bunga yang sudah bermekaran, seakan-akan mereka tahu bahwa hatiku kini sudah berbunga-bunga indah seperti mereka karena adanya cinta.
Sudah sejam lebih aku menunggu, tapi Iwan belum juga menampakkan dirinya untuk menepati janji datang dengan membawa Alex.
Tin ... tin ... tin, bunyi keras klakson motor seperti memanggilku. Ternyata benar saja itu adalah motor Iwan, yang tak ketinggalan ternyata Iwan telah menepati janjinya untuk membawa Alex sekalian. Tampak sekali mereka baru pulang sekolah langsung ke sini, terlihat dari baju seragam putih berlengan pendek dengan celana panjang berwarna abu-abu kini sedang di pakai mereka. Tidak lupa jaketpun telah berhasil menutupi seragam mereka.
"Alex, sini ... sini?" Teriakku memanggil.
Akupun langsung berlari menubruk dan memeluk tubuhnya. Padahal Alex sedang melepaskan helm, namun diri ini tak sabar ingin segera menemuinya. Alex terasa begitu terkejut saat aku memeluknya dari belakang, sehingga secepat kilat dia telah membalikkan badannya yang masih tetap ingin memelukku. Karena rindu yang sudah tak tertahan rasanya begitu menderu mengepul, hingga tanpa malu dan basa-basi lagi langsung saja kupeluk dia dengan erat.
Kami berpelukan dengan kasih mesra, sulit sekali menanggung rindu yang ingin sekali menjumpai dirinya.
Begitu rindunya diri ini, hingga tak mau melepaskan pelukan dari Alex. Tentunya membuat diri ini kini begitu bersorak ria, karena senang sedang menyelimutiku yang akhirnya bisa berjumpa kekasih hati.
"Ekhm ... heemm," suara Iwan berdehem, hingga mengacaukan kemesraan pelukan kami.
Akibat tak sedap dilihat, akhirnya kami berdua secepat kilat melepaskan pelukan.
"Kalau sedang kasmaran, jangan diperlihatkan padaku. Jadinya aku ngiri dan ngenes ngeliat kalian! Mentang-mentang aku jomblo, asal main peluk aja, bikin iri saja tahu," keluh kesah Iwan.
"He ... he ... he," cegegesan kami tertawa malu Iwan.
"Iya ... yaa, Fan. Oh ya, terima kasih sebelumnya karena kamu telah berhasil membawa Alex ke sini! Bolehkah aku pinjam Alex dulu, sebab ada yang ingin kubicarakan?" ucapku meminta izin.
"Heeem, oke .... oke, cepetan sana! jangan lama-lama tapi," suruh Iwan menyetujui.
"Siip," jawabku.
"Bagaimana kabarmu, Alex?" tanyaku sendu.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Sudah sebulan lamanya diri ini tak melihat wajahmu, sehingga membuatku sungguh-sungguh rindu akan kehadiranmu!" Balasan ucapan Alex.
"Benarkah itu?" tanyaku tak percaya.
"Alex?" seruku terisak bercucuran airmata, yang dilengkapi dengan hidung sudah memerah.
Alex hanya diam langsung memelukku, akibat sudah termangu mendengarkan isak tangisan diri ini.
"Sudah ... sudah. Sudah non Amel jangan bersedih lagi, nanti jadinya aku akan ikut-ikutan bersedih juga," ucap Alex tengah mencoba menenangkanku.
"Iya Alex!" jawabku lemah.
Aku menarik nafas dari mulut dan mencoba menghembuskannya secara panjang. Wajah seakan ingin tertawa tapi terasa sekali hati kini sedang bersedih, karena ternyata Alex juga merindukanku. Begitu kuatnya kupeluk dia, rasa ingin menyalurkan hasrat atas segala kerinduan begitu mengebu yang sudah tak tertahan lagi.
"Non gak pa-pa 'kan? Selama sendirian disini, ngak sakit atau deman gitu?" tanyanya.
"Apa kamu gak lihat, aku baik-baik saja sekarang. Wah ... wah, jangan-jangan kamu nyumpahi supaya aku sakit, ya?" sautku kesal mengodanya.
"Eeeh, enggak non. Tadi beneran aku bertanya, bukan mau nyumpahin! Tapi kalau non sakit, juga gak pa-pa," ucapnya seperti mengoda balik.
__ADS_1
"Wah ... wah, kamu ini bener-bener parah mendoakan pacar sendiri sakit. Kalau aku sakit terus mati, kamu bisa cari yang lain gitu?" celetukku marah.
"Aduh, kok jadi salah paham gini, yak! Aku bukan nyumpahin maupun doain. Maksudku kalau non Amel sakit, mungkin aku bisa menjadi penawar obat untuk sakitmu dan diri ini bisa merawatmu, biar kita bisa lama-lama berduaan, PAHAM!" ngeles rayun mautnya.
"Heem, benarkah itu?" tanyaku tak percaya.
"Iya, non."
Alex kini sudah mengusap kepalaku dengan lembut dengan sapuan tangannya. Rambut yang telah tergerai begitu terasa nyaman saat dia membelai rambutku dengan penuh kasih sayangnya.
"Gombal!" jawabku tersenyum-senyum.
"Kok gombal sih? bukankah gombal itu kalau orang jawa bilang pakaian bekas yang tak terpakai!" pertanyaan rayuan konyolnya.
"Tahu ... ah, susah ngomong sama kamu!" jawabku ngambek.
"Ha ... ha ... ha, lucu kalau bibir kamu monyong cemberut gitu, tambah cantik aja. Ha ... ha ... ha," gelak tawanya senang.
"Iiiih .... Alex," pekikku tak suka karena dia sedang puas mentertawakanku.
"Iyaa non, iya ... Maaf."
"Heeh, iya dech!."
Tin ... tin ... tin, bunyi bel motor Iwan sudah memanggil, yang sudah menunjuk-nunjukkan tangannya ke arah jam tangan, tanda bahwa Alex harus segera pergi. Tanpa terasa menit demi menit waktu telah berlalu, yang tak rela rasanya jika terpisahkan lagi oleh kotayang membuat jarak diantara kami membuat semakin jauh tak bisa bertemu.
"Alex, Ayo kita pulang! Hari sudah mau gelap nih!" teriak Iwan.
"Iya, sebentar dulu!" timbal balik jawaban Alex memekik.
"Maafkan aku non, aku harus pulang sekarang!" ucap pamit Alex mau pergi.
"Tapi Alex, aku masih merindukanmu," jelasku.
"Nanti insayaallah, kalau ada kesempatan dan waktu kita akan bertemu lagi. Oke!" jawabnya santai.
"Benaran, ya!" ujarku.
"Ia, bebeb Amelku."
"Bye ... bye."
"Bye ... bye juga. Kamu hati-hati dijalan," tanganku melambai-lambai.
"Iya, bye .. bye."
Alex dan Iwan sudah mulai menghilang dari pandanganku.
Takkan pernah kulepaskan engkau dalam ingatan.
__ADS_1
Wajahmu takkan begitu saja bisa terlupakan olehku, aku sungguh benar-benar jatuh cinta padamu, Alex.