Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Tidak Bisa Membela Pembantu. Seosan 2


__ADS_3

Lagi-lagi pandangan kami harus ditakdirkan bertemu. Jiwa terus saja berdesir, ketika tatapan bola mata bik Amel mampu menyihir hati yang terlalu lama hilang tak tentu arah.


Posisi kami begitu dekat, sehingga berulang kali hembusan nafasnya yang hangat perlahan menyapu pandangan. Tangan tadi tidak sengaja menarik kuat. Entah apa yang terjadi padaku, rasanya tangan ada yang mencoba menyetir sendiri, untuk menarik kuat pembantu yang setiap kali membuat jantung terus berdebar.


"Wajahmu begitu meneduhkan dan aku suka sekali memandangnya."


"Entah apa yang terjadi padaku, yang jelas nyaman sekali denganmu, Bik. Tak jemu-jemu ingin berdekatan dan terus bersama. Maafkan aku jika melakukan ini diam-diam sama kamu," Hati terus bergulat atas perasaan yang mulai aneh.


Suara decit ganggang pintu membuat Bik amel merubah posisi kami. Dia bangkit begitu kilat. Aku hanya pasrah masih terlentang ditempat tidur, dengan netra terus memandangi langit-langit atap. Debaran jantung yang hebat berusaha kuredakan. Mata hanya bisa menerawang atap, mencoba berpikir untuk mengartikan segera keadaan kami tadi.


"Bibik? Kamu?" Sapa suara Alena terdengar kaget.


Aku yang mendengar suara kekasih, langsung merubah posisi menjadi duduk.


Wajah Bik Amel sudah tertunduk seketika, dengan tangan mulai diremas-remasnya. Wajahnya nampak gelisah. Jawaban harus mencari yang tepat agar Alena tidak salah sangka dan marah.


"Apa yang kamu lakukan dikamar ini?" ketus Amel.


"Ssss--yy?."


"Dia ada disini karena memang aku yang menyuruh," jawabku cepat mendahului, sebelum Bik Amel mengatakan sepatah kata.


Bik Amel hanya bisa melirik, dan tanpa sengaja pandangan kamipun bertemu lagi.


"Maksudnya apa?" cecar Alena lagi.


"Tadi aku haus habis balik kerja, jadi kusuruh dia untuk buatkan segelas teh!" jelasku.


"Benarkah itu?" Alena sepertinya masih tidak percaya.


"Saya beneran hanya mengantarkan teh kok, Nona."


"Tapi sayangnya aku tidak percaya, sebab waktu Arnald tadi berbaring dikasur sepertinya kamu telah lancang menatapnya terus," tuduh Alena.


"Bukan ... bukan begitu kejadiannya."


"Halah, aku tadi melihat sebentar apa yang bibi lakukan. Jangan banyak alasan dan mengelak. Sekarang pergi dari hadapanku!" usirnya yang mengacungkan tangan ke arah pintu.

__ADS_1


"Kamu jangan kasar-kasar begitu, sayang."


"Diam kamu."


"Sudah. Tidak apa, Tuan."


"Tapi, Bik. Kamu tidak salah."


"Tidak salah gimana, sedangkan dengan mata kepalaku sendiri tadi melihatnya. Dia dekat sekali dengan posisi kamu yang sedang baring tadi. Pembantu jangan dibela, lama-lama bakalan ngelunjak nanti."


Kepala bik Amel hanya bisa tertunduk dengan mulut membisu.


Bik Amel kelihatannya harus mengalah, sama situasi kami yang sedikit rumit. Aku ingin membela atas kenyataan, tapi takut Alena akan semakin merah besar.


Mau tidak mau, sekarang hanya bisa menatap pasrah pembantu melenggang paksa dari hadapan kami. Ada rasa bersalah yang bersemayam, sebab ini semua murni atas kecerobohanku.


"Kamu kenapa sih, harus belain si pembantu itu?" tanya Alena masih marah.


"Bukan gitu, sayang. Aku tidak membela, tapi memang dia tidak salah."


"Tidak salah gimana? Jelas-jelas dia tadi lancang memperhatikan kamu terus," tuduhnya masih tidak percaya.


Alena seketika menoleh ke arah yang kutunjuk.


"Kamu sekarang percaya 'kan?" Gantian bertanya.


"Enggak, sebab aku sudah lama curiga sama Bik Amel, yang lama-lama diperhatikan suka mencuri-curi pandang padamu. Sifat sangat baik, tapi tidak suka sama caranya itu."


"Heeh, ya sudah. Tidak usah kita perpanjang lagi. Kalau memang salah, maafkan dia. Mungkin dugaanmu itu salah, atau Bik Amel sedang memendam sesuatu yang tidak kita ketahui." Sifat yang masih menyimpan emosi, langsung kepeluk tubuhnya.


Mungkin konyol melihat apa yang kulakukan sekarang, tapi kalau tidak begini Alena akan terus mengoceh dan menuduh yang enggak-enggak pada pembantu. Semua berbanding terbalik yang dituduhkan Alena, sebab itu adalah awal mula salahku yang berusaha mendekatinya supaya tahu jati diri yang sebenarnya.


"Maafkan aku, Bik. Aku tadi yang salah, tapi kamu kena marah. Seharusnya aku yang disalahkan bukan kamu," Penyesalan dalam hati.


Alena akhirnya luluh juga balik mendekapku dengan erat. Dengan hati-hati kuajak mengobrol, agar Alena bisa melupakan segera kejadian tadi. Semoga tidak ada lagi tuduhan palsu yang menyalahkan bik Amel, sebab rasanya hatiku begitu terluka saat pembantu itu disalahkan.


Teh yang dingin sudah kuseruput. Rasanya memang tidak bikin nyaman lagi, tapi tenggorokan yang kering harus segera dialiri.

__ADS_1


"Emm, sayang."


"Iya, ada apa?"


"Kapan bisa memajukan acara pernikahan kita."


Uhuk ... uhuk, efek kaget teh yang sedang mengalir tiba-tiba membuat tenggorokan tersedak.


"Kamu ngak pa-pa."


"Iya, aku baik."


"Tapi kamu masih batuk gitu."


Alena pantas tidak percaya, sebab memang masih batuk tidak berhenti-henti.


"Aku baik betulan."


Sebisa mungkin menormalkan keadaan diri sendiri, agar Alena tidak semakin khawatir akut.


"Hmm, ya sudah. Terus gimana sama pertanyaanku tadi?" ulang perkataan.


"Hehehe, aku belum bisa kasih jawaban yang pasti, sebab masih belum berpikiran sampai ke situ."


"Gimana sih kamu?"


"Tapi aku belum bisa."


"Tapi, sayang. Harus sampai kapan aku menunggu. Sudah tujuh tahun lebih kita bersama, dan kamu terus saja mengantungkan hubungan kita," Alena mencoba mengeluarkan uneg-uneg.


"Kamu tahu sendiri alasannya, kalau aku masih belum bisa sukses dan mandiri sendiri. Makan dan tidur saja masih numpang sama kamu."


"Itu ... itu, terus alasan kamu. Sudah berapa kali mengatakan kalau tidak butuh kekayaan, tapi aku hanya butuh hati dan kamu ada disisiku."


"Cobalah kamu mengerti sedikit saja atas keadaanku yang tidak punya apa-apa, dibandingkan sama keluarga kamu yang kaya raya. Aku tidak mau kalau semua orang akan mencomooh diriku, sebab orang gembel bisa menikah sama tuan putri secantik kamu," Alasan yang sama seperti tahun-tahun kemarin.


Alena hanya diam tidak menanggapi. Kedua tangan telah menangkup pipi yang tyrus.

__ADS_1


Wajah sudah kutatap seksama, agar pandangan sama-sama memahami. Mungkin aku juga terlalu kejam mempelakukan Alena begini, tapi mau dikata apa saat hatiku belum sepenuhnya bisa menerima Alena seutuhnya sebagai pendamping hidup.


__ADS_2