
Pekerjaan yang telah membantu ibu untuk membersihkan rumah majikan kini telah selesai kujalankan. Tubuh seakan-akan terasa lemah sekali, hingga akupun terpaksa harus masuk kedalam kamar.
Senja menyapa saat wajahnya tak dapat lagi terlihat didepan mata.
Betapa jarak yang tercipta diantara kita, takkan menyurutkan perasaanku untuk terus mencintainya.
Walau kenyataannya tak begitu terlalu mengerti, apa itu arti cinta yang sesungguhnya, agar tetap abadi selamanya?.
Entah rasa penyesalan atau rasa cintaku yang belum usai, terasa sekali ada luka yang mengores rongga dada.
Rasa sakit namun tak berdarah yaitu di saat cinta begitu mengebu tapi harus bisa menjauhinya.
Tiada kata yang indah selain kerinduan saat cinta yang berjauhan telah hadir menyapa, tanpa ada lagi dia didepan mata.
Badan ingin sekali berebahan. Tubuh yang begitu lelah telah membuat bertambahnya akan rasa malas dikarenakan banyak kejadian yang akhir-akhir ini begitu menguras pikiran dan tenaga. Mata enggan sekali rasanya untuk secepatnya terpejam. Pikiran kini sedang kalut, telah memikirkan pujaan hati di seberang kota sana. Badan sudah bolak balik ke kanan dan kiri mencari tempat yang ternyaman agar mata secepatnya terpejam, tapi rasanya sia-sia saja. Pikiran sekarang cukup stres memikirkan tentang jalan cinta agar bagaimana aku bisa tetap memilikinya? Belum genap satu bulan kami jadian, tapi kenyataan sungguh begitu pahit karena sebuah keadaan yang mengharuskan kami untuk berpisah.
"Aakgh ... apakah aku bisa menjauhi Amel selamanya?" guman hatiku berbicara dalam kekesalan.
******
Sudah beberapa jam mataku terus saja melihat layar gawai yang sudah lama tidak berdering. Rasa cemas yang tak kunjung mendapatkan kabarnya cukup menghantuiku dengan rasa kegelisahan.
"Ada apa Alex? Sepertinya kamu sedang gelisah sekali? Kuperhatikan dari sembari tadi, penglihatanmu terus menerus hanya tertuju dilayar gawai saja? tanya Iwan dibarengi Niko dimana kami sedang berada didalam kelas.
"Gak ada pa -pa, Iwan!" jawabku.
"Pasti lagi nungguin kabar Amel, hayoh ... hayoh ngaku?" goda suara Niko.
"Entahlah, emm ... memang iya, sih!" jawabku malu-malu tak tahu.
"Kenapa Amel tiba-tiba pindah sekolah mendadak begitu, sih? Kalian sedang ada masalah 'kah?" tanya Iwan penasaran.
"Heeeh, entahlah Iwan."
"Sebenarnya kami memang ada masalah sedikit, sebab kedua orangtuanya sudah mengetahui kalau kami sudah jadian, yaitu sebagai sepasang kekasih!" jawabku dalam kelesuan.
"Oo ... ooh, begitukah?" suara Iwan dengan mimik muka seperti tidak suka atas jawabanku.
"Lha, terus sekarang gimana atas hubungan kamu sama Amel?" tanya Niko.
"Masih begitulah," jawabku lemah.
"Kamu yang sabar, Alex. Aku yakin hubungan kalian akan baik-baik saja," imbuh ucap Niko.
"Makasih Niko," jawabku pasrah, dengan mata telah melirik Iwan yang sembari tadi hanya menyimak obrolan kami.
Di dalam kelas pikiran sudah kacau hanya menanti sebuah kabar darinya. Beberapa kali guru memanggilku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, tapi tak satupun bisa terjawab. Teman dan guru sudah merasa dan menatapku cukup aneh, sebab selama ini aku begitu mudahnya menjawab soal pelajaran sekolah karena aku orangnya memang murid terpintar di sekolahan, tapi kali ini cukup lain sekali tak bisa menjawab.
Terkadang mencintai seseorang, tidak harus dari kecantikan ataupun kekayaan.
Namun dari hati yang sama-sama sudah saling mencintai serta kenyamanan di antara sepasang kekasih, seperti terjadi padaku sekarang yaitu begitu terasa nyamannya saat-saat bersama.
Walau jarak sudah memisahkan kita dengan kota yang menjulang tinggi serta sungai yang terbentang panjangnya, tidak begitu menyurutkan kisah kami untuk tetap saling mencintai.
Dia begitu meluluhkan hatiku dengan memanahkan asmaranya yang tersimpan dalam hati, sehingga diri inipun terbuai akan cinta itu, dimana semakin kuatnya rasa yang tak ingin kehilangannya.
Tutur katanya sungguh membuatku terlena dalam panahan asmara.
Dia bagaikan racun cinta sebagai pembunuh nestapa duka, tapi bisa menumbuhkan akan rasa cinta.
Parasnya yang amat mempesona, cukup menggoyahkan jiwa raga dan menaklukkan semua atas nama cinta.
__ADS_1
Tin ... tin ... tin, suara klakson mobil seperti memanggilku, saat aku keluar dari gerbang sekolah yang sempat ingin segera pulang ke rumah.
"Heeem, siapa sih yang tengah mengklakson mobil taxi untuk memanggilku?" ucapan hati yang bertanya-tanya.
"Alex ... Alex, sini?" panggilnya melambaikan tangan supaya aku datang padanya.
"Non Amel?" keterkejutanku yang kini melihat Amel tengah berada di sekolah.
Sepeda sugera kutuntun cepat-cepat, untuk segera menghampiri kekasih hati yang sudah memanggil-manggil.
"Non Amel? Kok kamu--? Kenapa kamu bisa ada disini?" tanyaku penasaran.
"Ya, untuk menemui kamulah? Memang ada hal penting selain ingin bertemu dengan kamu?" jawabnya enteng.
"Heeeh, iya ... ya!" jawabku binggung dengan mengaruk kepala yang tak gatal.
"Bantuin dulu, kenapa? Bayarin taxinya dulu, ya. He ... he ... he, aku lagi ngak ada uang, nih. Tahu sendiri 'kan! Kalau mama sekarang membatasi semuanya termasuk keuanganku," ucap Amel malu-malu.
"Haruskah ini? Beneran 'kan ini?" sahutku agak ragu.
"Iya, Alex. Cepetan kenapa! Bapak taxinya lama nungguin untuk dibayar, nih!" jawab Amel tak sabar.
"Iya ... iya. Sebentar, aku ambilkan uangnya," jawabku mencari dompet, kemudian secepatnya memberikan uang pada Amel
"Nih, cepatlah bayar!" suruhku menyodorkan uang.
"Makasih, Alex."
"Iya."
"Ini pak uangnya!" ujar Amel memberikan uang pada pak sopir.
"Terima kasih, pak!" ucap Amel.
Taxipun sudah semakin lama semakin hilang dari pandangan, dan kini Amel berbalik badan menghadapku yang tengah memegang sepeda.
"Kita duduk disana saja, non?" tawarku menunjukkan tempat depan sekolahan yang sudah ada taman kecil dengan bangku kosongnya.
"Siip."
Kami berduapun sudah berjalan beriringan, dengan langkah pelan-pelan menuju tempat yang dimaksud.
"Non Amel, kenapa ada disini? Memang sudah diizinkan sama nyonya?" tanyaku penasaran.
"Ya enggaklah. Mana berani aku meminta izin sama beliau, sedangkan hukuman masih berlaku untuk menjauhi kamu. Aku ini sedang menjalankan aksi dengan cara kabur!" penjelasan Amel padaku.
"Kabur? Wah ... wah, nyali non Amel besar juga ternyata!" godaku padanya.
"Demi cinta apa yang enggak sih!."
"Heem, aku percaya."
"Oh ya. Non Amel sudah makan 'kah?" tanyaku berbasa-basi.
"Sudah tadi, makan dikantin!."
"Kalau minum? Kalau haus, biar aku pergi belikan sebentar," imbuh tanyaku.
"Eeh ... eeeh ngak usah, aku ngak haus kok!."
"Kalau begitu camilan aja dech atau makanan ringan gitu?" tawarku bertubi-tubi.
__ADS_1
"Ya ampun, Alex. Aku ke sini bukan untuk makan ataupun minum, tapi ingin menemui kamu karena sudah kangen. Memang kamu gak merasa rindu, kepadaku?" tanyanya dengan suara kemanjaan yang mulai muncul.
"Tentunya kangenlah. He ... he ... he, habisnya aku kasihan sama non Amel yang sudah jauh-jauh datang sini, takutnya laper atau haus gitu! Memang benar gak haus dan lapar, nih?" tanyaku khawatir lagi.
"Beneran Alex. Ngomong membahas yang lain aja, kenapa? Aku sudah kangen banget sama kamu ini. Yang pastinya ingin ngobrol-ngobrol sebentar bersamamu!" alasannya.
"Wah ... wah, ternyata aku ini orang yang begitu penting dihatimu, sampai-sampai rela datang jauh-jauh dari kota yang ada diseberang sana, cuma hanya ingin menemuiku," godaku lagi.
"Iihh ... Alex. Jangan malu-maluin aku, kenapa? Tapi ... tapi, memang pada kenyataannya begitu sih!" jawabnya ragu tapi benar adanya.
"Kenapa harus malu sama pacar sendiri juga!" ujarku dengan menyentil hidungnya yang sedikit agak mancung.
"He ... he ... he, ya malu 'lah, sebab aku 'kan cewek yang nyamperin cowoknya duluan!" jawaban cengegesannya.
"Heeem."
"Bagaimana kabar kamu sekarang, Alex?" tanyanya basa-basi lagi.
"Alhamdulillah aku baik."
"Kalau non Amel sendiri?."
"Baik juga."
"Non, kok berani sekali datang kesini? Emang ngak takut kalau ketahuan sama nyonya?" tanyaku.
"Enggak Alex! Lagian mama lagi keluar kota sama papa untuk menemani bisnis, jadi aku punya waktu untuk menemui kamu," jawabnya.
"Wah, berarti bisa bebas kita ini," godaku dengan memonyongkan bibir minta dicium.
"Ciiiih, Gila kamu! Ngak malu apa? Jika nanti dilihat oleh teman-teman sekolah yang sedang memperhatikan kita, gimana?" ucapnya tak suka.
Memang benar pada kenyataannya, yaitu saat teman kami dalam perjalanan pulang sekolah tengah memperhatikan kami dengan tatapan aneh mereka.
"Ahh ... biarin saja mereka. Pasti mereka itu iri saja melihat kita sedang bermesraan," jawabku santai.
"Bermesraan? Siapa?" polosnya pertanyaannya.
"Kita 'lah! Memang ngak boleh apa bermesraan sama pacar sendiri?" ujarku.
"Siang-siang bolong begini? Mimpi kali kamu!" ucapnya dengan tangan mencubit mesra perutku.
"Aww ... aaaa," kepura-puraanku merasa sakit.
"Lebay banget. Nyubit gak kuat, tapi kesakitan," jawabnya ketus.
"He ... he ... he, habisnya gemes lihat tingkah non Amel," cakapku.
"Heeh, oh ya Alex. Lain kali kalau ada kesempatan seperti ini, kita bisa ketemuan lagi boleh ngak?" imbuh tanyanya lagi.
"Boleh, asal tidak ketahuan sama nyonya saja," ujarku sambil tersenyum.
"Semoga saja ngak ketahuan. Terima kasih Alex, sebab kamu masih setia menunggu dan terus mencintaiku walau kita dalam keadaan LDR'an begini," ucapnya pelan dengan aliran airmata mulai membasahi pipi.
"Sama-sama. Jika non Amel ikhlas dan tulus mencintaiku, aku akan membalas berlipat-lipat ganda cinta non padaku. Jadi janganlah khuwatir atas cinta ini, sebab selamanya takkan tergantikan oleh siapapun dan akan terus menjadi milikmu," ucapku sembari memeluknya.
"Makasih, Alex."
"Iya," jawabku mengelus pelan rambutnya.
"Tin ... tin ... tiiiiiiiiiin. Wooyy, kalau pacaran di tempat lain bisa ngak? Jaangan di depan sekolah," suara mengelegar Iwan telah meledek kami.
__ADS_1
"Uuupssss. He ... he ... he," cengar-cengir senyumku akibat ketahuan sedang berpelukan mesra dengan Amel.
"Biasa aja keles!" teriakku menjawab.