
Dalam keadaan mata terpejam tanganku kini berusaha bergerak-gerak, mencoba mengembalikan kekuatan tubuh ini. Tapi entah mengapa terasa berat sekali, seakan-akan tulang ditubuhku ini sudah mulai ada rasa remuk rendam. Tangan dan Kaki kutarik mencoba untuk pengerakan, tapi tetap saja susah sekali diri ini melakukannya. Entah apa yang terjadi padaku sekarang, kepala terasa berdenyut pusing hebat saat mata mulai sayu-sayu antara terpejam dan terbuka.
"Ada dimana aku sekarang? Kenapa semuanya terlihat asing bagiku? Apakah ini nyata aku masih hidup, setelah kejadian mengenaskan kemarin-kemarin?" tanyaku dalam hati bingung.
Rasa sakit yang ada ditubuh, terasa sekali lukanya sudah begitu parah. Pikiran mulai mencerna, mencoba mengingat kejadian yang tengah membuatku terbaring lemas tak bertenaga sekarang ini.
"Eeehh ... ehhhh!" Suara lemah mencoba sadar.
"Alhamdulillah sekarang kamu sudah sadar!" Suara orang asing terdengar ditelingaku.
"Iya pak, alhamdulillah dia sudah sadar," saut jawab suara seorang perempuan.
"Nak ... nak ... kamu sudah sadar?" panggil seseorang, dengan tangannya melambai-lambai didekatkan ke arah mataku.
Mataku perlahan-lahan membuka lebar, tapi rasanya lekat sekali seperti ngantuk tidak ingin dibuka. Saat mata mulai pulih terbuka perlahan-lahan, kini mencoba menerawang disekitar rumah, yang membuatku masih merasa asing tentang dimanakah aku berada sekarang? Tangan masih tetap berusaha bergerak-gerak kecil, untuk mencoba membangkitkan tenaga yang seakan lemah sekali. Tubuh ingin sekali bangkit, tapi saat mulai ingin bergerak rasanya tak mampu menopang tubuh sendiri. Bhuugk, suara tubuhku tergolek lagi dipembaringan kasur, saat mencoba bangkit dari tempat tidur.
"Hati-hati, nak. Jangan kamu memaksakan diri!" ucap suara bapak-bapak itu.
Dalam keadaan lemah sekarang diri ini mulai tersadar, saat terasa ada sebuah kain kasa yang telah membungkus disekitar wajah sudah menutup seluruh mukaku ini yaitu hanya menyisakan bagian mata, hidung, mulut, dan kening.
"Ya Allah, ada apa lagi dengan mukaku sekarang!" tanyaku dalam hati kaget sebab muka telah terperban.
"Aaaa ... aww," Tiba-tiba kepalaku merasa pusing.
__ADS_1
"Jangan paksakan tubuhmu untuk bangun, badanmu sekarang sedang lemah." ujar seorang bapak-bapak ramah yang tidak aku kenal.
"Oh ya, namaku pak Ahmad dan ini istriku namanya Asih dan yang kecil itu anak kami namanya Budi," ujar keluarga yang sudah menolongku sedang mencoba memperkenalkan siapa diri mereka.
"Hai kak!" sapaan bocah kecil bernama Budi.
Wajah anak pak Ahmad terlihat begitu imut-imut seperti perempuan, yang padahal dia adalah laki-laki. Mungkin wajahnya yang putih bersih seperti susu, membuatnya tampan sekaligus mengemaskan serta imut, yang nampak umurnya mungkin sekitar 7 tahunan.
"Kakak, aku boleh kenalan 'kan? Kita nanti main sama-sama ya, kak. Budi janji ngak akan nakal dan rewel, apalagi ngerepotin kakak!" celoteh suara kegemasan Budi.
"Budi, kakaknya lagi sakit dan sedang lemah. Nanti saja bicaranya dan mengajak main. Sekarang keluar main sama teman-temannya, ya! Kasihan sama kakaknya yang ingin istirahat, kalau Budi bicara terus nanti bisa-bisa menganggunya. Kalau ganggu kakak istirahat nanti bisa lama sembuhnya, kalau lama nanti ngak bisa main sama Budi" ucap lembut bu Asih pada anaknya.
"Baik bu. Kakak ... kakak aku tunggu, ya. Budi doakan kakak cepat sembuh dan bisa bermain bersama Budi," imbuh celoteh Budi.
"Baik, Pak!" jawab Budi setuju.
Terlihat anak kecil yang imut itu, telah berlari hilang dari pandangan tanpa ada rasa marah, sebab tak bisa mengajakku bermain yang tengah terbaring lemah.
"Pulihkan badanmu dulu nak! Istirahatlah banyak-banyak biar lukamu cepat sembuh. Tidurlah, kami nanti akan kembali lagi membawakan makanan untukmu," Imbuh ucapan pak Ahmad.
Hanya anggukan kecil yang dapat kuberikan pada pak Ahmad sekarang. Kini netra mencoba melihat diseluruh sekeliling ruang pembaringanku. Begitu sederhananya keluarga mereka, terlihat dari barang-barang yang mereka miliki tak nampak ada yang mewah, hanya ada benda-benda penting berjejer rapi pada tempatnya.
"Aaaa ... ada apa ini? Kenapa tubuhku susah sekali untuk digerakkan? Apakah lukaku begitu parah, hingga badan terasa sakit semua? Heeh, Sudah berapa hari aku telah pingsan?" tanyaku dalam hati merasakan sakit yang luar biasa.
__ADS_1
"Ya tuhan, kenapa nasib yang begitu berat telah menimpaku sekarang? Apakah ibu dan Amel baik-baik saja sekarang? Apakah mereka akan mencariku, yang sudah terluka ini? Aaah, Amel, apakah kau akan merindukanku? Kekasihmu ini sudah terluka, apakah ada rasa kekhawatiranmu padaku, wahai Amelku? Aku sangat merindukan kalian semua, apakah mereka akan sama halnya dengan diriku yang tengah merindukan mereka?" guman hati dengan pikiran sedang bertanya-tanya.
Tanpa sadar bulir-bulir air bening telah berhasil menetes dipipi. Aku terisak pilu saat mengenang kembali kejadian yang membuatku terpisah dengan orang-orang yang kusayangi sekarang.
Rasa khawatir begitu menelusup menghantuiku, atas kerinduan pada ibu dan Amel datang melanda. Rasa tak kuat atas kelemahan luka-luka pada diri ini, sekarang mencoba belajar menerima semuanya dengan sabar.
Ini semua adalah rahasia Illahi, Allah maha tahu mana yang terbaik untuk hambanya. Jangan sampai diri ini lebih terisak, ketika menangisi sebuah nasib yang ditentukan Allah.
"Ya Allah, yang maha pengasih dan maha penyayang, jika semua ini adalah ujian dan cobaan darimu, aku akan sabar dan ikhlas menerimanya, walau sebenarnya hatiku terasa berontak atas kehendakMu, tapi mau hendak nak berkata apa lagi? Semua sudah menjadi rencanaMu serta suratan takdirMu untukku. Aku akan berusaha mencoba menjalani ini semua dengan hati ikhlas dan berlapang dada," ucapan hati berdoa mencoba menerima ujian hidup ini.
*******
Sudah tiga hari aku terbangun sadar dari tidur panjang, tapi keadaanku masih saja belum sepenuhnya pulih. Lengan, kaki, dan wajah yang terluka akibat goresan pisau, hingga membuatku kesusahan untuk lebih leluasa bergerak.
"Alex, bagaimana keadaanmu? Ini makanlah dulu!" ucap pak Ahmad menghampiri diriku yang masih tergolek lemah dikasur.
"Alhamdulillah, aku semakin baik, Pak!" jawabku ramah.
"Syukurlah kalau begitu," jawab pak Ahmad tersenyum senang.
Sebelumnya aku sudah bercerita siapa namaku dan dari mana asal-usulku. Pak Ahmad mengatakan tempat tinggal beliau sekarang jauh sekali dari kediamanku yaitu rumah Amel. Katanya hampir setengah hari lebih perjalan ke rumah itu. Untuk sementara diri ini tidak bisa langsung kembali ke rumah segera, karena keadaanku yang benar-benar sakit dalam kepayahan untuk berdiri saja tidak bisa apalagi berjalan untuk pulang.
Pak Ahmad begitu sabar dan telaten menyuapiku, katanya sudah mengangap diri ini sebagai anaknya sendiri. Aku sering kali merasa malu dan tak enak hati pada mereka atas semua kebaikan. Tanpa ada sungkan pak Ahmad sering menyeka tubuhku dengan hati-hati, tanpa pamrih beliau begitu telaten merawatku yang sakit ini. Rasa senang dan nyaman atas sikap keluarga mereka, membuatku betah berlama-lama untuk tinggal dirumah mereka.
__ADS_1