Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Melarikan diri


__ADS_3

Pak Jono ambruk terduduk ke lantai, dengan tubuh sudah lemas terkulai tak berdaya.


"Rasakan itu, mampus!" umpat si penculik puas.


"Ha ... ha ... ha!" gelak simbatan yang lain merasa menang.


"Pak ... pak Jono," Panggilku dengan nada suara kekhawatiran.


Aku tak sempat menolong dan menahan orang yang menusuk pak Jono, karena kejadiannya terjadi begitu cepat.


"Kabur Alex ... cepetan kabur!" titahnya menyuruhku dalam kondisi lemah.


"Cepat Alex ... cepat ... cepat ... aaaaaah!" perintahnya lagi.


Dalam keadaan binggung sesuai perintahnya, kini akupun berusaha berlari menjauhi para penculik.


"Hei, mau kemana kamu!" cegah ucap sang penculik.


Saat kaki belum sempat berjalan jauh, naasnya preman berambut cepak berhasil mencekal pundakku. Bruuughgk, suara tubrukan tubuh pak Jono secara mendadak mencoba menghalangi penculik, sehingga cekalan tangannya telah lepas memegangku.


"Cepat Alex ... pergi ... cepat!" pekiknya lagi.


"Jangan harap kamu pergi kamu, sini kamu!" cakap preman berambut cepak.


Criiis ... sring, lagi-lagi pisau itu kembali mengiris bagian tubuhku tapi sekarang beralih mengenai betisku, hingga rasanya urat begitu pedih sekali mungkin irisannya sudah terlalu dalam melukai. Si penculik melukaiku saat tangan panjangnya dapat mengapai betis ini, padahal kakinya sedang dipegang pak Jono.


"Tunggu kamu ... tunggu, jangan pernah coba-coba untuk kabur!" penculik berkepala botak mencoba ikut untuk mengahadangku juga.

__ADS_1


"Cepat Alex ... lari ... Alex, jangan hiraukan mereka!" ucap pak Jono.


"Jangan harap untuk kabur kamu," ancam penculik berkepala botak yang kini telah berjalan menghampiriku.


"Jangan harap kamu bisa mendapatkan anak itu," ujar pak Jono penuh berani.


"Ayo pergilah ... cepat Alex," ujarnya lagi saat tangan pak Jono berhasil mencekal kaki berkepala botak.


Rasa senang menghampiriku bahwa pak Jono kini sudah sigap telah memegang kedua kaki para penculik, sehingga membuat mereka terhenti sejenak untuk tidak mengejarku lagi. Kaki kini berusaha sekuat tenaga berlari sejauh mungkin terhadap orang-orang yang mencoba menginginkanku.


Sebelum berlari jauh kini aku terngungu didekat pintu utama, dengan perasaan teriris iba dan tak tega saat melihat tanpa henti para penculik memukul dan menendang bertubi-tubi memakai tangan dan kaki mereka di sekujur tubuh beliau. Dalam terkaparnya pak Jono yang masih terluka mereka terus saja memukul tanpa henti, mungkin dengan maksud agar terlepaskan cekalan tangan pak Jono yang telah memegang kaki mereka. Aku sudah menangis berderaikan airmata sebab tak tega telah meninggalkan pak Jono menghadapi penculik itu sendirian.


Kini diri ini berjalan tertatih-tatih untuk terus melangkah kabur. Akibat tak kuat dan lemah sekarang berusaha secepatnya bersembunyi di balik semak-semak, karena dari kejauhan terdengar suara penculik sedang berbicara keras yang telah berhasil menyusulku untuk mengejar, mungkin dengan tujuan ingin mendapatkanku kembali.


Kelelahan akibat pelarian membuat banyaknya tenagaku yang sudah terkuras, di tambah lagi oleh tangan, wajah, dan kaki sudah terluka akibat sabetan pisau, yang semakin lama membuat kekuatanku semakin melemah.


"Huuf ... heeeeh ... huuf, suaraku menghela nafas tersedat-sedat akibat kelelahan oleh kehabisan nafas.


"Haaaaah, dimana bocah itu? Awas kalau dia dapat, akan tambah kucincang-cincang tubuhnya," ucap ancam salah satu dari mereka.


Para penculik berlari kesana sini dengan sikap bolak balik sedang mencariku. Untungnya hari kian gelap, sehingga mereka tidak tahu bahwa aku sedang bersembunyi tepat dibelakang mereka yaitu di balik dedaunan semak belukar.


"Mampuslah kita, kalau bos tahu," keluh salah satu penculik.


"Benar ... benar, kita bisa dihajar habis-habisan oleh bos," simbatan yang lain.


"Kita harus secepatnya mendapatkannya kembali untuk memberi pelajaran. Ayo kita cari dia disebelah sana saja?" ucap para penculik.

__ADS_1


"Baiklah, ayo."


Setelah terasa aman dari pengejaran para preman itu, aku kini mencoba keluar dari persembunyian dan secepatnya mencoba berjalan mencari keamanan untuk berusaha menyelamatkan hidupku. Darah bercampur keringat sudah mulai menetes didedaunan yang kering bagaikan ingin meninggalkan jejak, namun aku tidak memperdulikan itu semua sebab yang hanya dalam pikiranku sekarang mencoba terus berlari menjauhi para penculik.


Mata mulai sedikit kabur berkunang-kunang untuk memandang. Nafaspun kini kembali tersenggal-senggal, dengan muka dan tanganku terasa dingin padahal sedang panas berkeringat. Bibirpun menjadi terasa kering juga, mungkin akibat mukaku yang sudah pucat pasi kehabisan darah.


"Huuf ... aaakh ... heeeeh ... huuf ... huuuffff," desahanku dengan pelan seperti sudah tidak kuat lagi untuk berjalan, yang entah sudah berapa lama aku terus berjalan sempoyongan.


Kakiku terus saja berjalan maju memasuki semak-semak tanpa berhenti diiringi niatan untuk tidak berbalik ke arah belakang lagi, yaitu tetap mencoba mencari jalan yang tepat untuk mencari keamanan.


Badan seakan-akan mulai terasa bergoyang ke kiri dan kanan, yang rasanya ingin terjerembab jatuh, namun diri ini sekuat tenaga harus tetap bisa menahannya.


Cara jalanku yang masih dalam keadaan terpincang-pincang terus saja melajukan kaki kedepan dan akhirnya sampai juga ke sebuah perkampungan saat sudah menampakkan kerlap-kerlip lampunya penerangannya.


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menemukan sebuah kampung juga," ucapku dalam hati di mana kini aku berdiri tepat ditepi jembatan.


Rasa tak kuat lagi berjalan sudah menghampiri, hingga tangan mencoba berpegangan di pembatas tembok sungai, yang bentuknya tak terlalu tinggi pembatas itu hanya sebatas lututku. Aliran sungai yang terlihat begitu deras memperlihatkan betapa keruhnya air itu. Diri ini sekarang sudah benar-benar mulai kehabisan tenaga hingga pada akhirnya membuat kepalaku berdenyut pusing yang seakan-akan dunia sedang berputar-putar dan rasa lemas disekujur tubuh membuat mataku semakin lama semakin sayu.


"Aku harus kuat untuk terus tetap berlari sejauh mungkin, supaya para penculik itu tak dapat menemukanku," guman hati yang menyemangati diri sendiri.


Byuuuur, suara tubuhku sudah limbung jatuh ke sungai, hingga saat ini terasa sekali tubuhku mulai melayang tenggelam dalam air.


Rembulan yang membulatkan bentuknya, nampak indah sekali didalam air yang keruh. Cahaya bulan yang tak begitu terang, seakan-akan mencoba sinis untuk menyinari tubuhku yang sudah jatuh ke dalam air. Tubuh terasa ringan sekali terbang mengambang di udara. Dalam keadaan tubuh yang  sudah lemah ini, lama-lama mulai merasa jatuh tenggelam ke dasar sungai. Nafas mulai melemah, sebab air mulai masuk dari hidung, telinga, dan dari segala arah lainnya, hingga berambahnya jantung yang mulia terasa menghentikan pompaannya.


"Ya allah, apakah hidupku akan berakhir didalam air ini? Jika sudah tiba saatnya engkau memanggilku dalam menuju duniaMu yang baru, maka rindhoilah amal-amalku yang sudah banyak maksiat dan berdosa ini. Namun jika engkau masih menyayangi dan memberiku kesempatan, diri ini memohon padaMu berilah aku ampunan, agar bisa membenahi semua kesalahan-kesalahan yang telah berani mengingkari atas semua perintahMu. Aku hanyalah orang lemah yang sudah banyak sekali berbuat dosa dan kekhilafan, maka terimalah jasadku nanti secara khusnul khotimah, seandainya jika nyawa ini sudah bercerai dari badan," doaku dalam air.


Air seakan mulai keruh kemerahan, akibat bercampurnya dengan darahku. Byuuurr, terdengar suara tubuh seseorang melompat datang menghampiri tubuhku, yang sudah kian tercekatnya tenggorokan merasa sesak. Dari kejauhan terlihat samar-samar olehku bahwa itu adalah Amel yang sekarang tengah mendekatiku, mungkin dengan maksud mencoba untuk menyelamatkanku. Tangan kini mencoba terulur lemas berusaha mengapai orang yang berusaha menyelamatkanku.

__ADS_1


"Benarkah itu engkau Amel? kalau itu benar kamu, kuucapkan terima kasih telah menolongku, Amel kekasihku!" gumanku dalam hati saat mata kian tertutup tak berdaya.


Seakarang aku sudah benar-benar terpejam sekarat, yang tak tahu lagi berbentuk apa dunia ini sekarang.


__ADS_2