Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Membuat Sarapan Pagi. SEASON 2


__ADS_3

Tiga orang kini sudah disibukkan oleh aktifitas pagi untuk memasak sarapan tuan rumah dan tamunya. Permintaan hari ini harus banyak hidangan yang enak. Pagi masih nampak gelap, tapi kami sudah berkutat dengan pekerjaan walau mata rasanya masih ngantuk sekali.


Tek ... tek, tangan sibuk mengiris beberapa sayuran.


Sementara yang lain sibuk membuat bumbu dan mengoseng bahan yang dimasak. Kami harus segera menyediakan permintaan majikan sebelum mereka bangun dan turun sarapan.


Rasa hawa udara dingin tidak terasa, malah peluh terasa ingin terus menetes akibat panas. Waktu menjadi saigan kami agar secepatnya selesai.


"Kamu siapkan peralatan makanan dimeja saja, amel! Biar kami lanjutkan memasak, takutnya nanti keteteran karena waktu tidak sampai," suruh Bik Arni.


"Iya, bik. Akan Amel segera laksanakan."


"Bik Murti, lanjutkan memotong sayuran ini, aku mau ke depan menyiapkan segalanya," perintahku pada pembantu lain.


"Siap, Amel. Tinggal saja, aku akan teruskan," jawabnya setuju.


"Emm."


Tidak ingin lama-lama membuang waktu, kaki sudah melangkah segera ke rak tempat penyimpanan piring, garbu, gelas, dan terutama sendok.


Tangan ingin mengelar kain meja, tapi kacanya kuelap terlebih duhulu agar kinclong dan tidak ada debu yang menempel lagi. Satu persatu mulai kutata dengan rapi. Ada empat tempat yang sudah kusiapkan beberapa peralatan makanan itu.


Waktu tidak banyak, maka segera mengambil wadah untuk menuangkan menu lauk makanan yang sudah selesai. Tangan terus saja sibuk menata agar nampak sempurna dan perfect.


Kami bertiga dibuat kalang kabut. Selama ini yang makan hanya dua orang saja yaitu tuan besar dan istrinya, tapi kali ini karena ada tamu jadi harus masak banyak. Apalagi tuan besar mengatakan kalau tamu suka makanan Indonesia, jadi mulai sekarang kami diwajibkan harus memenuhi perintah itu.

__ADS_1


"Apakah sudah siap semua?" tanya Bik Arni saat menyusulku masih sibuk menata.


"Alhamdulillah, sudah siap semua, Bik."


"Syukurlah kalau begitu. Akhirnya kita bisa menyelesaikan ini semua dengan tepat waktu, walau sempat kalang kabut mengatasi. Semoga saja mereka menyukai masakkannya," simbat jawaban beliau.


"Iya, Bik. Alhamdulillah."


"Kita pergi kebelakang saja, siapa tahu mereka akan segera turun untuk sarapan."


"Baik, Bik."


Sinar matahari sudah nampak terang menyinari bumi. Kami bertiga masih saja sibuk sama pekerjaan dapur, yaitu mencuci semua bekas memasak tadi. Selain itu pekerjaan tidak akan ada habisnya sebelum semua rumah kelihatan kinclong dan bersih.


Terdengar suara riuh para majikan sudah mulai sarapan. Mereka terdengar bahagia saling tertawa terbahak-bahak.


Semua orang sedang dibelakang mengerjakan hal lain, jadi terpaksa akulah yang datang kepada mereka sekarang.


"Iya, Nyonya. Ada apa?" tanyaku habis berlarian kecil.


"Buatkan teh untuk, Arnald. Sebab biasanya dipagi-pagi hari dia suka minum teh," suruh majikan perempuan.


"Baik, Nyonya."


Akupun langsung melenggang pergi, untuk mengerjakan sesuai apa yang diperintahkan.

__ADS_1


"Oh jadi namanya, Arnald. Berarti aku salah orang. Tapi sifatnya sama persis kayak alex yang lebih suka minum teh dipagi hari daripada kopi."


"Huuff, mungkin ini efek tidak ketemu suami terlalu lama, jadi wajahnya yang sangat mirip aku sangka adalah Alex," guman hati.


Tangan terus saja sibuk mengaduk teh yang masih mengepulkan asapnya.


"Ini, Tuan." Tangan sudah menyuguhkan cangkir yang berisi minuman sesuai permintaan didekat Arnald.


"Oh, iya. Terima kasih."


"Emm," Senyuman manis telah terlempar ke arahnya.


"Saya permisi dulu mau kebelakang."


"Iya, Bik."


Hangatnya teh tak dihiraukan Arnald. Dia langsung saja menyeruput teh itu. Nampak dia begitu menikmati seduhan aroma khas teh wangi melati.


"Emm, enak banget ini. Harum dan takaran gulanya pas dilidahku," pujinya.


"Benarkah? Wah, baguslah kalau kamu suka!" simbatan majikan perempuan.


Pujiannya telah membuatku berbunga-bunga. Langkah belum jauh sangat, jadi bisa mendengar apa yang barusan mereka obrolkan.


"Takaran dan teh itu sama persis disukai alex. Ternyata kamu juga suka itu, Arnald. Tidak menyangka kalian tidak berbeda jauh, yang semua sifat dan gaya kalian sama persis. Aku berharap kamu bukanlah Alex yang selama ini kucari, agar hati ini tidak sakit saat kau sudah punya wanita lain yaitu Alena," guman hati terus saja kepikiran sama pria baru itu.

__ADS_1


Kegiatan demi kegiatan sebagai pembantu terus aku kerjakan. Walau peluh sudah membasahi baju, namun tenaga harus tetap kuat demi seutas recehan membiyai keluarga tercinta.


__ADS_2