
Banyak kerjaan yang terganggu sekarang. Majikan asli yang sering keluar kota, harus menyerahkan semuanya kepada Alena. Semua pembantu sekarang banyak diam, tidak banyak ulah maupun tingkah, sebab jika kami sedikit saja melakukan kesalahan pasti Alena akan marah habis-habisan kepada kami.
"Gimana nih, Amel! Kenapa lampu tiba-tiba padam begini? Mana para pria dirumah ini pada keluar," keluh Bik Arni.
"Sebentar, Bik. Biar aku saja yang benahi. Kayaknya mudah, kalau hanya menganti bola lampu saja," jawabku agar beliau tidak panik.
"Emm, baiklah. Kalau kamu memang bisa mengantikannya.
"Iya. Bentar, aku akan ambil tangga dulu."
"Sipp, Bibi akan siapkan lampunya yang masih tersimpan di lemari sana."
"Oke."
Keadaan dapur kini benar-benar gelap gulita. Untung saja ruangan lain masih menyala lampunya, sehingga sorot cahayanya masih bisa sedikit menyinari arah dapur. Langkah sudah menuju ke arah luar dapur, untuk mengambil alat yang bisa membantu menganti bola lampu.
Besi yang berbentuk tangga agak sedikit berat. Bahu sudah kupakai untuk memanggulnya. Dengan berjalan tertatih-tatih berusaha menuju dapur lagi.
"Awas, Bik!" ucapku saat sudah sampai.
"Hati-hati, Amel. Keadaan gelap nih, takutnya kamu nanti jatuh."
"Iya, Bik. Tahu."
Tangga sudah kubuka, untuk membentuk menjadi huruf V terbalik.
"Nanti kalau aku sudah naik ke atas serahkan bola lampunya, tapi tolong Bibi pegang baik-baik tangganya dulu," suruhku yang sedikit agak takut.
Karena tidak ada yang membantu, terpaksa akulah yang harus membenahi. Pekerjaan utama adalah didapur, takutnya kalau tidak terang akan menghambat pekerjaan kami. Lagian kalau malam Alena kadang minta cemilan, tidak dilayani pasti kena semburan omelan.
"Iya, Amel. Hati-hati, jangan sampai kamu jatuh."
"Iya, Bik. Kamu pokoknya pegang yang kuat itu tangga."
__ADS_1
"Sipp."
Alunan kaki perlahan-lahan mulai menapakki anak tangga. Walau betis kaki terasa gemetar, semua harus kutepis demi kelancaran pekerjaan. Setelah mengeluarkan sedikit keringat sebab ketakutan, akhirnya sampai juga ke pucuk dekat lampu yang rusak.
"Sini, Bik. Kasih bola lampunya!" suruh yang sedang sibuk memutar bola lampu yang rusak.
"Iya, Amel. Ini ambil 'lah."
Bola lampu sudah diberikan. Tangan berusaha mengapai, namun sayangnya tangan Bik Arni yang terlalu pendek agak menyusahkan diriku meraihnya.
"Waduh, Amel. Sepertinya tidak sampai. Gimana, nih!" Kepanikan beliau.
"Sebentar, aku akan turun satu anak tangga lagi."
"Ya sudah, hati-hati!" jawab beliau yang telah menyerah saat ingin memberikan lampu.
Dengan hati-hati kaki sebelah kiri mulai terjulur. Sret, tanpa diduga licinnya besi sudah bikin terpeleset.
"Aaah ... aaah," teriakku saat tangga mulai goyang-goyang.
Tubuh yang goyah kali ini benar-benar akan oleng jatuh diarah kanan. Mulut berteriak keras sekali, saat inseden malapetaka mulai hadir.
Sedetik kemudian, tanpa diduga ada sebuah tangan berhasil menangkap tubuhku. Aroma keringat yang menguar begitu membuat candu. Aromanya begitu khas, sampai-sampai sepertinya aku sangat mengenal.
"Mas, aku sangat merindukanmu," Tanpa sengaja mulut terlontar kata-kata yang tidak terkontrol.
"Amel, kamu tidak apa-apa!" Kepanikan Bik Arni dengan suara bledeknya.
"Aku baik, Bik!" jawabku lemah dan tersadar.
Akibat kaget, jantung sampai berdetak kuat sekali. Rasanya sudah meloncat keluar saja ini jantung.
"Tuan, terima kasih!" jawab Bik Arni tak enak hati.
__ADS_1
Cahaya yang remang-remang sudah mengaburkan pandangan, sehingga tidak tahu siapakah yang berhasil menyelamatkanku barusan.
"Iya, bik. Ngak pa-pa."
"Astagfirullah, ini adalah suara Tuan Arnald. Apa yang kamu ucapkan tadi, Amel? Kenapa kamu memanggilnya, Mas? Wah, bisa gawat nih!" Kepanikan hati.
"Kamu tidak apa-apa l, Bik Amel?" tanyanya yang sudah menurunkan tubuhku.
"Ehh, iya Tuan. Aku baik-baik saja, kok!" jawabku yang sudah merasa malu dan sungkan.
"Baguslah kalau begitu. Untung saja aku tadi sigap menangkap kamu. Kalau tidak, pasti akan banyak luka disekujur tubuhmu itu," terang Arnald.
"Iya, Tuan. Terima aksih."
"Sama-sama."
"Ya, sudah. Aku saja yang mengantikan bola lampunya."
"Oh, iya Tuan. Maaf merepotkan."
"Lain kali hati-hati. Jangan coba-coba melakukan ini lagi, biar para pembantu laki-laki saja yang melakukannya. Untung saja aku tadi segera datang saat mendengar suara kamu berteriak," nasehat Arnald.
"Iya Tuan. Maafkan kami. Kami melakukan ini sebab tidak ada orang yang dimintai tolong untuk menganti, padahal didapur adalah pekerjaan utama kami," Pembelaan bik Arni.
"Tapi, kalian 'kan bisa menunggu sebentar. Pastinya mereka tidak akan lama pergi," kekuh Tuan Arnald.
"Iya, Tuan. Maafkan kami yang sudah ceroboh."
"Yah, sudah. kalau gitu pegang tangganya saja, aku akan naik mengantinya," suruh dia lagi.
"Baik, Tuan!" jawabku dan bik Arni kompak.
Lampu yang rusak sudah di ganti Arnald. Ruangan kembali terang. Rasanya malu saja melihat wajahnya yang tersenyum manis kearahku. Panggilan Mas yang sempat terlontar, sekarang jadi alasan utama sikapku yang berubah menjadi salah tingkah.
__ADS_1
Walau semua ada melekat padanya, tidak seharusnya panggilan itu kutujukan padanya. Apa kata dia nanti, saat tak sengaja telah memangilnya dengan tidak biasa? Pasti dia akan banyak bertanya akan hal itu, dan ujung-ujungnya aku harus memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawabnya.