Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Ketemuan dengan pengacara bagian 2


__ADS_3

Braak ... brak, tiba-tiba pintu rumah pertemuan kami, telah didobrak paksa berkali-kali yang sepertinya telah ditendang.


"Siapa itu, Alex?" Ketakutan Amel yang kini telah bersembunyi dibelakangku dengan mengenggam erat lengan tangan.


"Aku tidak tahu, yang sepertinya kita akan kedatangan tamu yang tak diundang. Bersiap-siap dan hati-hatilah kalian," ucapku memperingatkan.


"Simpan surat itu baik-baik, Amel!" suruhku.


"Emm," jawabnya setuju.


Surat yang penting kini telah dimasukkan Amel dalam tas selempangnya yang memanjang bertengger dibahu.


Brak ..bruuuk, untuk kesekian kalinya pintu telah didobrak, dan akhirnya kini telah menampakkan tiga orang yang tak dikenal, kini mereka telah memaksa masuk main nyelonong saja dengan jalannya yang tergesa-gesa.


"Siapa kalian? Untuk apa datang kesini?" tanyaku marah.


"Minggir, tak usah banyak tanya kamu. Kami kesini hanya perlu dengan pengacara itu? Jadi cepatlah minggir sekarang, paham!" Gertak para orang-orang yang berpakaian preman, dengan sedikit memberi dorongan padaku.


"Minggir ... minggir, kamu!" gertak mereka tak ramah.


Wajah tiga preman itu telah bertutupkan masker yang sama sepertiku. Rasa-rasanya sekarang diri ini begitu tak asing dengan preman yang berambut cepak, saat terlihat dari bentuk poster tubuhnya.


"Apakah dialah orang yang telah mencelakai dan menghajarku dalam penculikan kemarin?" rancau hatiku yang bertanya-tanya.


"Tunggu ... tunggu, kalian!" ucapku berusaha mencegah.


Saat orang-orang itu mulai maju untuk menghampiri sang pengacara. Diri ini yang tak terima atas perlakuan mereka, yang main seenaknya saja. Langsung saja aku mencoba menghadang dan mencegah perlakuan mereka.


"Minggir Amel, menjauhlah sebentar kamu," pintaku.


"Baik, Alex. Hati-hati."


"Sini ... sini kamu, ayo sini ... sini," Paksa orang-orang itu menarik paksa tangan sang pengacara pak Bobi.


"Lepaskan ... lepaskan aku, mau apa kalian!" tolak pak Bobi tak menurut.


"Lepaskan beliau, jika kalian tak ingin babak belur kuhanjar sampai bonyok muka kalian itu," ujarku sudah emosi.


"Diam kamu. Ayo sini ... sini kamu, pengacara!" gertak mereka padaku, dan masih sibuk memaksa pak Bobi agar mau ikut.


"Aaah, dasar kalian ini. Bhuuugh ... bhaagh," Dengan kuat langsung melayangkan kaki jenjangku pada mereka, yang sedang mengenggam paksa lengan pak Bobi.


"Aaah ... aaaaw," suara kesakitan preman, saat salah satu dari mereka kuplintir telapak tangannya, dengan cara terbalik kebelakang.


"Jangan coba-coba melawan! Dan pergilah secepatnya kalian dari sini" gertakku pada salah satu preman.

__ADS_1


"Lepaskan dia," Salah satu preman itu berkata.


Sebab ingin membela temannya yang kuplintir tangan, dengan tak mengenal takut preman yang lain kini telah maju ingin melawan.


"Lepaskan tangan temanku, kamu tidak usah ikut campur urusan kami, atau kamu akan menerima akibatnya karena telah berani mencampuri urusan kami," gertak preman berambut cepak mengancamku.


"Kalau aku tak mau, masalah untuk kalian," jawabku meledek.


"Haiias, dasar kau ini. Rasakan ini, hah!" ancam mereka yang siap melayangkan tinjuan kearahku.


Karena aku tak langsung saja menyerah dan takut, kini segera melepaskan cekalan plintiran tangan salah satu preman, dan berusaha untuk melawan yang lainnya.


"Aku tak takut," ucapku penuh berani, siap menantang mereka.


"Minggir kamu," Kudorong tubuh preman yang sempat kucekal tangan, untuk segera melawan preman lainnya.


"Haaah, dasar kau ini. Berani sekali melawan," cakap berambut cepak tak suka.


Dengan penuh ancang-ancang kini aku siap untuk menyerang. Bhugh, tendangan saltoku yang memutar badan, tepat mengenai wajah si berambut cepak, dan berhasil membuat dia bergelimpungan di lantai. Dia terlihat kesakitan sekali, saat nampak tangannya memegang pipi yang masih bertutupkan masker. Matanya kini begitu menyorotkan kemarahan. Dengan wajahnya yang sudah terluka, kini tangan kirinya terangkat keatas, memberi isyarat pada kedua temannya untuk segera maju melawanku.


"Minggir Amel, bawa keluar pengacara untuk pergi sekarang," titahku memberi perintah.


"Baik, Alex. Ayo pak!" jawab Amel setuju, yang telah tergesa-gesa mengajak.


Tak mau kalah dari mereka, kepalan tangan yang tadi sudah siap, kini telah terdaratkan di wajah dan pipi mereka. Bugh ... hiat ... bhugh, kini mereka telah berhasil kubuat terduduk tersungkur dilantai. Si berambut cepak nampak tak terima atas keganasanku pada temannya, dan kini dia maju sendirian dengan melayangkan kakinya ketubuhku.


"Aaaaa," pekik suaraku kesakitan.


Badan sedikit oleng ingin jatuh ke arah kanan, tapi untung kaki kiri bisa kuat menahan tubuh, sehingga membuat badan ini urung untuk jatuh. Braass ... bhuuugh, kakiku kini berbalik menendang, yang ternyata si rambut cepak sigap pula menghindari tendanganku.


Siku tangan kanan mencoba kuayunkan dengan badan memutar, dan lagi-lagi si preman itu bisa menghentikan sikuku, dengan tangkapan telapak tangannya.


Tak kehabisan akal begitu saja, badan kuputar ke kanan mencoba melayangkan tinjuan tangan kiri, dan akhirnya tinjuan itu telah berhasil mengenai tepat di hidungnya, dan tubuh preman berambut cepak perlahan mulai mundur-mundur terkuda-kuda duduk di lantai.


Ilmu bela diri dari pak Ahmad, sungguh kuat untuk membekali diri ini. Akhirnya semua para preman telah kukalahkan, mereka telah bergelimpungan berguling kekanan dan kiri, merasakan sakit disekujur tubuh, akibat hajaranku yang tanpa ampun terus memukuli mereka.


Tak membuang-buang waktu, diriku kini secepatnya berlari melenggang pergi meninggalkan mereka. Sekarang aku sudah menghampiri Amel yang telah menunggu di samping motor.


"Ayo Amel. Cepat...cepat, kita harus pergi dari sini secepatnya!" ucapku menyuruhnya dengan kaki melangkah tergesa-gesa.


"Baik, Alex. Iya ... iya, ayo cepat," ujarnya yang sudah memakai helm.


Nampak pak Bobi sudah tidak ada ditempat, yang kemungkinan sudah disuruh Amel untuk pergi kabur.


Weeess, motor gede yang kupinjam dari Iwan, kini telah kulajukan dengan kecepatan tinggi. Amel begitu kuatnya memegang pinggang, saat kecepatan motor membuat kami seakan-akan terasa terbang.

__ADS_1


Pletak, dor ... kreek, tiba-tiba tembakan telah mengenai badan motor kami.


"Ahh, sial. Kenapa mereka bisa mengejar kita. Pegangan Amel, jangan sampai kita tertangkap oleh mereka," ujarku memekik, memberi kewaspadaan.


"Hem," jawab Amel dengan anggukan pelan.


"Woooy, berhenti kalian!" teriak mereka menyuruh kami.


"Aaah, sial. Mereka ternyata tak mau menyerah," gerutuku panik.


Para preman nampak telah dipersenjatai, dengan sebuah senapan angin berlaras panjang sudah siap meluncurkan pelurunya untuk kami .


"Aku harus lebih hati-hati, dan menyelamatkan nyawa kami, yang sudah agak terancam ini," imbuh gumanku dalam hati.


Pletak, dor ... dor, sebuah peluru mengenai badan mobil orang lain, yang sedang melaju disamping motor kami.


"Pegangan yang kuat, Amel!" teriak perintahku.


Wes ... wes ... shiiit ... wes, motor yang ditumpangi kami sudah melenggak-lenggok, sedang mencoba menyalip mobil-mobil orang lain tepat didepan kami, yang telah menghadang laju motor.


Dor ... pletak, untuk kesekian kali pelatuk yang meluncurkan amunisi, telah mencoba menembus badan kami, tapi lagi-lagi meleset mengenai mobil orang lain. Amel terlihat begitu ketakutan, dengan badan mulai gemetaran, yang terasa sekali saat tubuhnya memeluk erat ditubuhku dengan kuatnya.


"Jangan takut, Amel. Ada aku disini!" ujarku menenangkannya, yang sudah meletakkan tanganku diatas tangannya.


"Iya, Alex."


"Pegangan yang kuat, Amel. Kita akan melewati lampu merah," ucapku yang sudah melihat hitungan papan lampu merah, dengan menunjukkan diangka 3,2, dan---.


Weeess, motor kulajukan dengan kecepatan penuh, yang sudah berhasil menerobos lampu merah.


Sheeiiit, bruk ... bruk, suara mobil lawan nampak berhenti mendadak, dengan ditubruk beruntun oleh mobil-mobil lain yang tepat dibelakang mereka.


Mataku kini mencoba menengok ke belakang, dengan laju motor mulai berjalan perlahan-lahan. Akhirnya mereka sudah tak mengejar lagi laju motor kami. Perasaan sudah mulai merasa lega, tak ada kejaran ketengangan lagi dari penjahat-penjahat itu.


Rasa khawatir menyelimutiku atas keselamatan orang terdekat, sehingga Amel dan ibu langsung kuboyong kerumah Niko, agar ada yang bisa mengawasi keamanan mereka.


"Maafkan aku Niko, telah merepotkan kamu," ujarku tak enak hati.


"Tak apa, kawan. Ini juga demi kebaikan ibu dan Amel, atas terancamnya keselamatan nyawa mereka," jawab teman menerima baik.


"Pokoknya aku mengucapkam terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kamu," Ulangku berkata.


"Iya, Alex. Sama-sama."


Para penjahat sepertinya telah lama mengintai rumah dan gerak-gerik kami, terlihat dari cara mereka yang mengetahui pertemuan atas janjian dengan pengacara pribadi papa Amel kemarin, hingga mulai saat ini hidup rasanya tak tenang lagi untuk melindungi Amel dan ibu.

__ADS_1


__ADS_2