Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kecemasan hati pada suami. Season 2


__ADS_3

Dari tadi hanya diam dengan perasaan tidak enak dan nyaman. Berulang kali melakukan kerjaan rumah tidak fokus. Ada sesuatu yang rasanya begitu menganjal dihati.


"Ada apa ini? Kenapa perasaanku dari tadi tidak enak begini?" guman hati kebingungan.


Tangan sudah sibuk membersihkan beberapa barang-barang yang kotor akibat debu.


"Ffhuuuyh ... huff," Berkali-kali nafas sudah meniup beberapa barang agar lebih kinclong lagi.


"Amel?" Suara Ibu memanggil.


"Iya, Bu. Ada apa?" teriakku menjawab.


"Tolong bantuin Ibu sebentar," saut beliau mengeraskan suara dari arah dapur.


"Iya, Bu. Sebentar."


Alat untuk membersihkan segera kutaruh dan sekarang mencoba melangkah menghampiri Ibu mertua.


Braaak ... krontang, tanpa sengaja foto pernikahanku dengan Alex telah jatuh dilantai.


"Astagfirullah, kenapa aku bisa tidak hati-hati, sih!" Kekesalan hati sebab kaget.


"Heeh, jadi berantakan begini, 'dah!" keluhku.


Kaca pecahan sudah berserakan dimana-mana, jadi aku sekarang sudah duduk berjongkok dengan tujuan untuk membersihkannya.


"Aaaaa!" Terkejutnya diriku saat tangan telah teriris oleh pecahan kaca.


"Astagfirullah, ada apa ini, Amel?" tanya Ibu yang sudah menghampiriku, sedang mengenggam erat jari yang luka.


"Tidak tahu, Bu."


"Kok, bisa tidak tahu. Pecahan sudah berantakan begini."


"Tadi niat hati ingin segera memenuhi panggilan Ibu, tapi tidak sengaja telah menyenggol foto yang terbingkai ini," jelasku.


"Ya sudah, biarkan saja ini berserakan dulu. Obati saja lukamu itu, takutnya kalau terlambat nanti akan infeksi. Biar Ibu saja yang membersihkan," suruh beliau.

__ADS_1


"Tapi, Bu."


"Sudah, tidak apa-apa."


"Lihat! Darahnya keluar terus itu," tunjuk beliau ke arah tangan, yang terus saja menitikkan darah merah segar.


"Iya, Bu. Baiklah kalau begitu. Terima kasih."


"Emm, sama-sama."


Terasa luka sudah perih sekali, mungkin akibat sayatannya terlalu dalam. Ibu kutinggal begitu saja tanpa membantu, sebab ingin segera masuk kamar mengambil beberapa obat.


"Astagfirullah, ada apa ini? Kenapa setelah menjatuhkan foto itu perasaanku malah tidak karuan dan menjadi-jadi? Apa ada sesuatu terjadi pada suami?" gumam hati yang kian gelisah saat habis selesai membalut jari dengan plaster.


"Eem, aku coba menghubungi dia saja. Kata tadi pagi sudah berangkat, tapi kenapa sudah siang begini masih belum ada tanda-tanda dia datang," imbuh hati bertanya-tanya.


Tut ... tut, gawai berusaha menyambungkan panggilan. Namun setelah beberapa detik tak kunjung jua suami mengangkatnya.


"Apa mungkin masih dalam perjalanan, sehingga mas Alex belum bisa mengangkatnya."


Tut ... tut, lagi-lagi panggilan tidak diangkat.


"Ayo mas, angkat ... angkat telepon kamu, biar istrimu ini tenang."


Anehnya tersambung, tapi tidak ada jawaban sama sekali.


"Apa perasaanku benar, jika sedang terjadi sesuatu sama kamu, Mas!" Kecemasan hati yang terus saja sibuk mengotak-atik gawai, untuk berbalik haluan dengan mengirimkan pesan saja.


[Mas, kamu baik-baik saja 'kan?]


[Kenapa telephone kamu tidak diangkat?]


[Ayo angkatlah sebentar, aku sangat mencemaskanmu sekarang]


Tiga pesan sudah terkirim, namun tidak ada satupun balasan.


"Aah, bairkan saja. Paling-paling mas Alex lagi sibuk menyetir beneran ini," guman hati mencoba menenangkan diri sendiri.

__ADS_1


Karena tidak ingin terganggu oleh rasa cemas, maka mencoba menyibukkan diri untuk membantu Ibu memasak didapur.


Beberapa jam kemudian>>>


Warna kemerahan pada awan semakin nampak ingin mengelapkan harinya. Ayampun sudah mulai masuk kadang, namun berbeda dengan diriku yang masih setia menunggu kedatangan suami didepan pintu.


Rasa cemas yang akut membuat diriku berkali-kali harus berjalan mondar-mandir. Wajah terus saja menyembul mencoha mengintip sebentar, saat suara mesin mobil orang lain melaju didepan rumah.


"Huuuf, lagi ... lagi itu bukan mobil mas Alex?" Kesabaran hati tetap menunggu.


"Labih baik kamu menunggu didalam saja, Nak!" perintah Ibu yang tiba-tiha datang menghampiri.


"Iya, Bu. Sebentar saja."


"Tapi ini mau magrib, tidak baik menunggu diluar."


"Amel, sangat cemas sama keadaan mas Alex, Bu. Kenapa dari tadi pagi dia belum datang-datang juga. Padahal perjalanannya hanya butuh waktu enam saja, tapi kenapa belum sampai juga ke rumah?" jelas perkataan masih diliputi kekhawatiran.


"Iya tahu. Doakan yang baik-baik saja. Mungkin Alex datang terlambat, sebab ada halangan ditengah jalan," ucap Ibu mencoba menenangkan.


"Amin. Semoga saja, Bu."


"Kalau begitu ayo masuk. Tidak baik disini terus," ajak beliau.


"Iya, Bu."


Walau berat hati, tapi tetap ikut saja perintah Ibu mertua. Walau sudah didalam rumah rasa itu tidak bisa hilang juga. Berulang kali kaki terus bolak-balik kiri kanan untuk bisa menangkan diri, tapi semua itu percuma saja sebelum melihat tubuh suami datang.


"Ya Allah, selamatkan suamiku. Lindungilah dia jika memang ada sesuatu hal yang terjadi pada dirinya sekarang. Hindarkan dari segala marabahaya, jangan sampai ada hal yang tidak diinginkan terjadi," rancau hati yang terus saja berdoa.


"Tenang ... tenang, Amel. Suamimu hanya terlambat pulang. Tidak akan terjadi apa-apa sama dia. Amin ya robbal alamin."


Tangan kini sibuk menutupi mulut yang terus menerus selalu menguap. Rasanya ngantuk mulai menyerang, saat jam sudah menunjukkan diangka sembilan.


"Tahan ... tahan, Amel. Suami kamu belum pulang, jangan sampai kamu ketiduran. Jangan sampai kamu lupa kalau hari ini kamu akan bertemu suami," Hati selalu merancau yang bukan-bukan.


Mata terasa berat sekali, sampai-sampai untuk menyangga kepala saja tidak kuat lagi. Ujung-ujungnya akibat tidak tahan terpaksa tidur di sofa ruang tamu. Tubuh mulai meringkuk memeluk badan sendiri, akibat angin yang berhembus kuat menerpa kulit.

__ADS_1


__ADS_2