Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Penculik yang menakutkan


__ADS_3

Kejadian begitu cepat terjadi, hingga orangpun sampai tak tahu keadaan kami yang menakutkan ini. Aku dan mama sudah saling berpelukan. Badan begitu gemetaran melihat segerombolan orang yang memakai baju preman dan bertopeng hitam hanya bisa memperlihatkan hidung dan mata, yang mana kini telah menculik kami. Hanya ada tiga orang yang masuk dalam mobil mama dan penculik lainnya berada tepat dimobil yang melaju depan kami.


"Kalian itu siapa dan mau apa menculik kami? Kalau kalian menginginkan harta, aku bisa memberikan secepatnya yang kalian butuhkan!" ucap mama memecah ketakutan untuk mencoba mengajak bernegosiasi.


"Diam kamu! Ngak usah banyak bicara. Ikuti saja perintah kami mau dibawa kemana kalian nanti!" jawab salah satu penculik berambut cepak.


Tak banyak pertanyaan lagi dari mulut mama, membuat kami semakin ketakutan. Pak Jono hanya diam dengan wajahnya begitu tegang, mungkin sudah sama dengan kami yang merasa ketakutan.


Penculik berkepala plontos mengantikan kemudi mobil, untuk membawa kami yang tidak tahu lagi mau dibawa kemana. Akupun tak lepasnya terus berpelukan pada tubuh mama, dengan peluh mulai bercucuran membasahi bajuku, akibat sebuah rasa ketakutan yang luar biasa. Aku dan mama duduk dikursi belakang, ditemani dan dijaga secara ketat oleh para penculik yang duduk di samping kiri dan kanan kami. Pria yang berkepala cepak tak lepas-lepasnya memegang pisau, yang mungkin terasa tajam sekali terlihat dari putihnya pisau yang tengah bersilau-silau mengkilat akibat terkena sinar matahari, membuat kami semakin bergindik ngeri ketakutan.


Dari kaca spion aku dapat melihat seperti motor Iwan yang sedang kencangnya melaju, yang kemungkinan mencoba mengerjar mobil kami. Karena aku tahu bentuk tubuh mereka, sehingga tak sulit bagiku untuk mengenali Alex dan Iwan. Perasaan lega terasa sekali untukku sekarang ini, akhirnya ada juga orang yang bisa menyelamatkan kami. Tapi pikiran sedang kacau, tak habis pikir akibat memikirkan ulah mereka berdua.


"Aaah ... kenapa dengan bodohnya kalian mengejar mobil kami, seharusnya kalian itu melaporkan ke pihak kepolisian," guman hati merasa kesal.


"Ma, lihat ... lihat itu," tunjukku ke kaca spion.


"Heem, ada apa Amel!" tanya mama berbalik berbisik-bisik.


"Dibelakang sepertinya ada Iwan dan Alex yang mau menyelamatkan kita," jawabku memelankan suara lagi.


Nampak sekali bahwa itu memang Alex dan Iwan, yang masih mengikuti mobil kami di belakang tanpa diketahui oleh para penculik.


"Syukurlah kalau begitu, Amel," lirih suara mama berbisik lagi.


"Semoga saja mereka tak kehilangan jejak kita dan bisa mengejar," imbuh mama lagi.


"Iya, ma. Semoga saja mereka bisa menyelamatkan kita," Timbal balik ucapanku.


"Kenapa kalian berbisik-bisik? Apa yang sedang kalian bicarakan?" gertak preman berambut cepak


Sang preman berambut cepak berusaha mengasahkan jari-jarinya dipisau tanpa ada darah yang keluar maupun luka. Sepertinya sang preman mencoba ingin menakuti kami, terlihat dari sorot matanya yang tajam, sehingga membuatku meringsuk menunduk takut mengeratkan pelukan pada mama.


"Gak ada apa-apa om!" getaran suaraku karena ketakutan.


"Kalian pasti bohong," nada teriaknya.


"Beneran apa yang dikatakan anakku tadi. Kami hanya membicarakan masalah ingin ke toilet, tapi karena belum sampai ke tempat tujuan, jadi aku sebisa mungkin menahannya biar nanti tak mengompol dalam mobil. Jadi masih lamakah kita sampai? Dan mau dibawa kemana kita?" penjelasan mama memecah ketegangan.


"Diam kamu, cerewet sekali mulutmu, hah. Kalian gak usah banyak tanya, akan di bawa kemana kalian nanti!" bentaknya dengan pisau sudah diancamkannya ke leher mamaku.

__ADS_1


"Om ... ma ... af ... oo ... om. Apa yang dikatakan mama memang benar dan tidak sengaja, yang sebenarnya beliau benar-benar ingin ke toilet," jawabku terbata-bata ketakutan.


"Kamu juga harus diam. Kalau banyak tanya- tanya lagi, tak segan-segan kami akan membunuh kalian disini langsung, mengerti?" gertak ancamnya lagi.


"Iya ... iya Om, kami akan diam. Kami akan menuruti semua perintah kalian dan tidak akan bertanya-tanya lagi," jawabku tegang.


Aku mulai mengeluarkan airmata, akibat sudah benar-benar gemetaran ketakutan yang tak bisa dikatakan oleh kata-kata lagi bagaimana perasaan takutnya kami sekarang. Melihat kekarnya tubuh para penculik dan bersifat bringas, membuatku semakin bergindik ngeri akan rasa takut.


"Ha ... ha ... ha, lihat ... lihat betapa bodohnya mereka! Ha ... ha ... ha, dasar perempuan cengeng," suara gelak tawa para penculik.


"Ha ... ha ... ha, bener bos."


Tak tahu apa yang lucu dalam diriku. Padahal aku menagis tersedu-sedu akibat ketakutan, tetapi mereka malah tertawa puas seakan-akan itu semua sebuah kelucuan.


Mungkin hampir sejam lebih mobil kami berputar-putar, memasuki area pohon yang menjulang tinggi dengan daunnya yang begitu lebat. Jalanan begitu tak enak terasa sekali berliku-liku. Dapat terasa sekali mobil yang kami naiki tengah bergoyang-goyang ke kiri dan kanan. Tak ada rumah satupun yang ada disekitarnya membuatku semakin ciut akan ketakutan, karena tempat tujuan para penculik sepertinya jauh sekali dari pemukiman penduduk, sungguh menyulitkan kami semua jika ada kesempatan untuk kabur.


Pelan-pelan mobil didepan mulai berhenti, yang diikuti bersamaan mobil kami yang sudah terhenti juga.


"Cepetan keluar kalian!" suruh para preman membentak kasar pada kami.


"Ayo cepetan, haiiiist lambat sekali kalian ini," suruh mereka yang tak terima.


Kami hanya bisa pasrah dengan mulut membisu tak ada kata. Dengan teriak-teriak para penculik menyuruh kami untuk secepatnya keluar dari mobil. Sesekali tangan mereka mendorongku, mama, dan pak Jono, untuk segera berjalan cepat-cepat.


Karena tak sabarnya menunggu langkah kaki kami yang berjalan sedikit lambat, mereka terus saja mendorong-dorong dengan paksa dan kasar pada kami.


Saat memasuki sebuah ruangan, ternyata sudah ada tiga kursi yang berjejer rapi namun telah terpisah-pisah. Kami di suruhnya duduk dikursi itu dengan tangan dan kaki telah mulai diikat diantara kayu kursi, membuat kami sekarang susah sekali bergerak apalagi kabur.


Mataku tak lepas berkeliling melihat keadaan sekitar, sepertinya ini adalah gudang kayu yang sudah lama terbengkalai. Terlihat sekali, banyak kayu-kayu besar yang tersusun rapi saling bertumpukan, tapi kayunya sudah mulai berbubuk dan lapuk yang tak berbentuk lagi keutuhan kayunya.


"Aaah, apakah Alex bisa menemukan kami?" hati mulai berbicara sendiri.


Rasa takut-takut mulai menghampiri kalau-kalau Alex dan Iwan tak bisa mengejar kami. Semenjak perjalanan menuju gudang usang ini, tak terlihat lagi motor Iwan dari belakang mengikuti kami.


"Ya Allah, selamatkanlah kami semua dengan aman. Bantulah Alex dan Iwan mengetahui persembunyian tempat ini, biar mereka bisa menyelamatkan kami dengan aman," gumanku dalam hati mulai berdoa.


Preman mencoba mendekati mama, dengan melepaskan tangan dan sumpalan kain di mulutnya.


"Sini kamu ... sini," perintah sang preman kasar, akibat mama mulai berontak mengoyangkan badannya.

__ADS_1


"Kamu tanda tanganilah ini?" pintanya secara kasar.


"Aku ngak mau," tolak mama.


"Haisst, cepat ... cepat!" pinta preman kasar lagi sambil menyodorkan pena.


"Maksud kalian apa? Kenapa aku harus menandatangani ini?" tanya mama penuh kebingungan atas berkas-berkas yang dipegang penculik.


"Gak usah banyak tanya! Cepat tanda tangani saja?" bentak salah satu penculik yang lain.


"Aku gak mau. Cuuuiiih!" air liur diludahkan di wajah penculik yang sedang memegang berkas.


Pena yang disodorkan para penculik, di buang mamaku ke sembarang arah sehingga membuat hilanglah pena itu sekarang.


"Dasar kurang ajar. Plaaak ... plakk!" sebuah tamparan bertubi-tubi sudah berhasil terdarat di pipi mamaku.


"Heem ... emm," suaraku tertahan, akibat tersumpal kain tak tega melihat kesakitan mama.


"Cepat tanda tangan sekarang. Bawakan tinta ke sini!" suruh penculik kepada temannya.


"Iya, bos."


Anak buah sudah berlari menghilang dari pandangan, untuk mengambil apa yang disuruh.


"Ini ... ini, bos!" secepat kilat anak buah yang disuruh sudah kembali.


"Ayo sini ... ayo ... ayo! Masukkan jarimu ke tinta ini," suruh kasar bos preman.


Rambut mama sudah ditarik kebelakang, dengan posisi terpegang erat tangan untuk segera tercelup ditinta. Tanpa ada perlawanan lagi dari mama, jempolnya dengan paksa disuruh menyentuh kertas dengan dipegangi oleh preman yang sudah terkena ludah. Jari jempol kini telah selesai di capkan di kertas, yang entah tak tahu isi didalamnya itu apa?.


"Ha ... ha ... ha, ternyata urusan kita cepat selesai. Ayo kita berikan ini pada bos besar," ujar sang bos preman tertawa puas.


"Kamu akan hancur saat ini juga dan inilah akibatnya kalau kamu tak sopan. Berani-beraninya sudah meludahi wajahku," ucap penculik dengan menjambak rambut mama secara kuat lagi.


"Kalian ini sebenarnya mau apa?" tanya mama penasaran.


"Sudah, jangan banyak tanya kamu. Yang jelas kamu akan menerima penyesalan, ha ... ha ... ha!" tawa riang sang bos preman.


"Ha ... ha ... ha, bener itu bos!" simbatan preman yang lain ikut tertawa.

__ADS_1


"Jaga mereka semua jangan sampai lepas, ikat dia lagi. Oh ya, jaga mereka baik-baik sampai perintah bos besar diturunkan," perintah sang bos preman.


"Baik bos," jawab para penculik secara kompak.


__ADS_2