Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Aku yang kejam


__ADS_3

Aku adalah papi kandung Amel yang sudah lama menghilang. Kehidupanku yang miskin setelah perceraian dengan mama Amel, membuat diri ini semakin stres terpuruk akan rasa kemiskinan, sehingga membutakan diri ini untuk mengusai harta.


"Aku harus mencari tahu dimana mantan istriku dan anakku itu? Enak saja, masak aku yang miskin ini, mereka bisa hidup enak-enak. Walaupun aku sudah bercerai, harus bisa ikut menikmati hartanya, walapun dengan secara kasar mendapatkannya," guman hati yang sudah dibutakan hati untuk merebut harta.


Mantan istriku yang sudah sukses dengan segudang harta kekayaan, yang takkan habis tujuh turunan, membuat diri ini nekat untuk bertindak kejam. Dengan berbekal ide gilaku, kemarin-kemarin telah berhasil menculik mantan istri dan anaknya. Penculikan itu terlakukan, agar dapat mendapatkan tanda tangan atas hakku, yang ingin mengusai hartanya yaitu sebagai pemilik tunggal yang sah. Semuanya menjadi runyam dan berakibat fatal yang tak sudah karuan, akibat kebodohan-kobodohan orang suruhanku, yang telah lengah membuat sebuah kesalahan.


"Aaah ... ahh, bodoh ... bodoh sekali kalian ini. Kenapa bisa melakukan hal bodoh, dengan kerjaan semudah ini saja. Dasar pada ngak becus!" keluhku marah-marah pada anak buah.


"Maaf ... maafkan kami, bos!" jawab aalah satu anak buah.


Para anak buah sudah menundukkan kepala takut, akibat melakukan kesalahan dengan membunuh orang, serta ada korban lainnya yang masih hidup, tapi telah kabur tak ditemukan dengan beberapa jumlah luka akibat goresan pisau.


"Bagaimana ini bos? Mayatnya akan kita apakan? Kalau kita tak melenyapkan mayatnya, bisa-bisa jejak kita akan diketahui nanti," tanya anak buahku berambut cepak.


"Kita akan membuang, supaya mayatnya hilang bagai ditelan bumi tanpa ada orang yang mengetahui," jawab rencanaku.


"Baiklah, bos!" jawab anak buah setuju.


Sret ... sret, satu orang mayat kini sudah mulai diseret anak buah, untuk segera dimasukkan dalam mobil agar bisa dibuang segera.


"Hei, kalian siapa? Ngapain di gudangku?" Seseorang tiba-tiba muncul, melihat kami sedang berkumpul.


"Aah, sial. Kenapa juga ada orang yang datang kesini?" ucapku pada anak buah kesal.


"Gawat nih, bos."


"Kita beri pelajaran dia saja," jawabku memberi arahan.

__ADS_1


"Emm, baik bos."


Kami yang awalnya fokus sibuk mau membuang orang yang sudah terbunuh, kini berbalik badan menatap pada orang yang barusan datang.


"Apa yang kalian lakukan disini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini? Hah, apa ini?Darah? Darah apa ini?" ucap orang itu bertanya-tanya dengan ekspresi terkejut.


"Kamu itu, siapa? Mau mencampuri urusan kami?" ucap anak buahku yang mulai mendekati pria yang baru datang.


"Mau apa kalian, jangan macam-macam kalian, atau ... atau aku---," ucap pria itu mulai ketakutan.


"Atau apa? Sini kamu ... sini, jangan lari," tantang anak buah berani, ingin terus memepet pria itu.


"Jangan dekat ... dekat kesini lagi," Kegusaran pria itu yang semakin takut.


Wajahnya kini seketika mulai berubah ketakutan, dengan langkah mundur-mundur menjauhi kami. Dia terlihat begitu cemas, saat melihat ada orang yang sudah tergeletak di depan kami bersimbahkan darah, akibat ulah anak buahku yang telah membunuh.


"Kalian siapa? Dan apa yang telah kalian lakukan pada orang itu, sehingga banyak sekali darah berceceran?" imbuh tanyanya dalam ketakutan.


Wajahku dan anak buah menyeringai tak suka, atas pemilik gudang yang memergokki kami telah membunuh.


"Apa yang akan kalian lakukan padaku?" tanyanya dalam ketakutan akut.


"Kami akan memberi pelajaran kepadamu, sebab kamu telah berani datang pada kami, untuk mengantarkan sesuatu yang tak terbayangkan oleh kamu," ucap anak buah mencoba menakuti.


"Jangan ... jangan, jangan apa-apakan diriku. Aku janji akan merahasiakan ini semua, tapi izinkan aku pergi dari sini dan lepaskan aku," Ketakutan pria itu sudah mundur-mundur kian menjauh.


"Jangan harap. Hahahaha, karena kami akan menghunuskan pisau ini ke jantungmu," ucap anak buah berambut cepak, menampkakkan silauan pisau tajam.

__ADS_1


Dengan gerakan kepala memiringkan kekanan pada anak buah, kusuruh dia untuk segera mengambil nyawanya sekalian.


Diri ini adalah orang yang kejam, siapa yang berani menganggu untuk menghalangi jalanku menuju sukses, akan kutebas sampai mamp*s orang-orang itu walau dengan kekejaman membunuh. Tak kupedulikan lagi rasa atas hukuman yang akan didapatkan nantinya, yang terpenting sekarang adalah harta mantan istri dapat kukuasai dengan mudah.


"Ampuni aku ... ampuni aku, maaf ... maaf," pinta pria itu memohon.


"Jangan harap."


Jleeb, suara sebuah pisau anak buahku, sudah terhunus diperut sang pemilik gudang, dengan darah merah segar mulai menetes perlahan-lahan jatuh diubin keramik.


"Inilah akibatnya kalau malam-malam kamu datang ke sini, dan telah berani ingin menghalangi jalan kami," ujar anak buah mencengkram kuat pipi pemilik gudang, saat dimana dia sekarang sedang sekarat, yaitu untuk menghembuskan nafas untum yang terakhirnya.


"Apa yang harus kita lakukan lagi, bos?" tanya anak buah binggung.


"Kumpulkan dua mayat itu jadi satu dan hilangkan jejak kita dengan cara membakar mereka," ucapku memerintah.


"Baik, bos!" jawab kompak semua anak buah.


Mayat sudah diseret saling berdekatan, untuk segera menjalankan aksi kami sesuai rencana atas perintahku.


"Bagus ... bagus, sekali kerjaan kalian," pujiku sambil menatap api, sebelum kami melenggang pergi.


"Ayo kita pergi dari sini, sebelum ada orang lain lagi yang datang," imbuh ucapku menyuruh anak buah.


Tanpa berpikir panjang lagi, kami bakar gudang itu bersama dengan dua mayat, yang sudah dihilangkan nyawanya oleh anak buahku. Betapa menyala-nyalanya api, yang sudah mengepulkan asap hitam melambung ke udara. Si jago merah itu, begitu lahapnya menelan semua benda yang ada digudang kayu, dimana sudah mulai usang.


Kini kami berlalu pergi dari gudang yang terbakar, meninggalkan si jago merah yang masih enaknya memakan isi gudang. Seutas senyuman manis telah terukir disudut bibir ini, sebab telah berhasil mempunyai sebuah kertas, yang dapat memberikan bukti bahwa diri ini telah sah atas semua harta kepemilikan mantan istri.

__ADS_1


Dalam kesenangan hati terasa ada sedikit kegelisahan, jika seandainya anak tiri dan mantan istriku akan melaporkan ke pihak kepolisian. Tapi semua bisa kutepis dengan mudah rasa kecemasan itu, karena dalam penculikan orang suruhanku tidak memperlihatkan wajahnya, sehingga mereka tidak akan berani melaporkan lebih jauh, jika bukti-buktinya nanti kurang akurat.


Yang jadi ketidaksenanganku sekarang adalah saat pemuda yang penuh luka telah berhasil melarikan diri, sebab dia telah sempat mengenali beberapa wajah anak buah. Diri sungguh berharap dia akan mati, agar bisa lebih memuluskan aksiku merebut harta, tanpa ada halangan dari orang-orang yang tak diinginkan.


__ADS_2