Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Sebuah kenyamanan


__ADS_3

Jika berada di dekatnya hati terus saja terasa sangat berdebar-debar tak karuan. Dia adalah Alex Prasojo, cowok yang sering memberikan perhatian lebih kepadaku dan selalu mengutamakan serta mengedepankan semua keinginanku.


Alex adalah cowok yang tubuhnya sedikit berisi agak atlentis, dengan warna kulit seputih susu dan bersih. Senyumnya yang manis dengan di tumbuhi lesung pipit di sebelah kanan dan kiri membuatnya semakin manis ketika tertawa melebihi bak gulali, hingga menambah nilai plus atas ketampanannya yang terus menawan.


Cewek mana yang ngak senang dan klepek-klepek melihatnya, yang mana buktinya saja ketika disekolahan semua mata cewek selalu tertuju padanya. Entah mengapa aku tak suka atas tatapan mereka hingga membuatku sering marah-marah dengan Alex tanpa alasan yang jelas. Mungkinkah ini yang dinamakan cemburu buta dalam mencintainya secara sembunyi-sembunyi?.


Rasa cintaku padanya tak dapat terbayangkan lagi.


Entah sejak kapan rasa ini mulai tumbuh dihati.


Saat sepi tiba-tiba hadir menyelimuti, hanya bayangan wajahnya menawarkan obat dengan sejuta rasa kehangatan dan kenyamanan.


Banyak kata yang bisa kugambarkan tentangnya.


Betapa engkau seharusnya tahu hati dan raga ini, yang seakan-akan selalu ingin merasakan kehangatan pelukan dan merasakan kehadiran di setiap saat ketika aku merindukanmu.


Kau terus saja membawa segudang rasa kepercayaan.


Didadamu pula kau tanami rasa kenyamanan terhadapku, sehingga di hatiku tumbuh sebuah rasa yang namanya kerinduan.


Tanpa terasa waktupun terus saja berlayar, membuat bertambahnya rasa cintaku kian mengebu untuk segera memilikimu.


"Kalian pulang bersama lagi?" ucap mamaku penuh tanya, sedang mencoba menginterogasi sebab sekarang aku pulang ke rumah bersama dengan Alex.


"Iya, mama," jawabku dengan nada santai.


"Kaki kamu kenapa? Kok ada plesternya? Kamu itu punya sopir pribadi yang bisa menjemput kamu. Kenapa juga sih Amel, Kamu itu selalu saja pulang bareng dengan Alex, anak pembantu kita?" ucapan ketus mama bertanya.


Mama telah menyambut berbicara pedas terhadap Alex, yang kini sedang memapahku untuk didudukkan disofa. Tak lupa juga mata mama kini menatap tajam sudah melotot seperti ingin meloncat melihat kami.


"MAMA. Alex hanya menolong Amel. Lagian pak Jono kemana, sih? Tumben-tumbennya lambat banget jemputnya?" jawabku tak suka atas ucapan mamaku.


"Benarkah itu Alex?" tanya mama tak percaya.


"Iya nyonya besar, pak Jono tadi lambat menjemput non Amel, jadi karena kasihan ada luka di kakinya dengan terpaksa kami pulangnya bareng saja," jawab Alex dengan kepala tertunduk tak berani menatap wajah mamaku.


"Iya ma, tadi pak Jono sedang kusuruh sebab ada pekerjaan untuknya, jadi gak bisa jemput Amel tadi. Kenapa sih mama mempeributkan hal-hal kecil? Lagian Alex gak ngapa-ngapin atau berbuat macam-macam sama Amel juga," ucapan pembelaan papaku kepada kami yang baru saja pulang kantor.


"Betul itu, pa. Alex niatnya baik. Jangan suka marah-marah tanpa sebab gitu kenapa, ma?," celetuk ucapku menimpali perkataan papa.


"Kok kalian jadi nyalahin mama, sih."


"Habisnya mama tadi Amel datang langsung ketus bertanya yang enggak-nggak!" jawabku.


"Iya ... iya, mama salah tadi."


"Heeeeh. Dan ngapain kamu masih disini? Cepat pergi ke dapur sana! Bantuain ibu kamu untuk menyiapkan makanan," perintah mamaku masih berbicara kasar pada Alex.


"Baik nyonya, tuan, non Amel. Saya permisi dulu untuk pergi ke belakang," ucap Alex dengan sopan mengangukkan kepalanya pelan tanda bahwa setuju atas perintah mamaku.


Akhirnya Alex telah hilang dari pandangan kami, untuk pergi ke arah dapur.


"Mama jangan terus-menerus nyalahin Alex begitu, kenapa. Dia itu 'kan anak baik. Pasti dia bisa menjaga dengan baik anak kita satu-satunya yaitu Amel," ucap papa yang berusaha menasehati mama.


"Mama itu gak marah, pa. Cuma ngasih peringatan saja, bahwa harus sadar diri atas batasannya dia itu siapa dan anak kita itu dari golongan apa? Itu aja kok," jawab mama berbalik ketus.


Hanya geleng-gelengan kepala papaku tidak menjawab lagi, atas ucapan mama yang tak mau mengalah atas sudah kelewatan berbicara di luar batas. Diamlah yang dapat kulakukan selarang, tanpa banyak pembelaan terhadap Alex karena selamanya akan kalah terhadap mulut mamaku yang super duper cerewet dan keras kepala.


*******


Rasa bosan dalam kamar mulai menghampiri. Kini aku mencoba berjalan melangkah ke arah jendela yang terbuka gordennya, yang sudah menampakkan seseorang yang tengah berdiri asyik sedang memegang selang air untuk mencoba menyirami bunga-bunga di kebun halaman depan rumahku.


Bibirku tersenyum-senyum hanya melihat sebuah pemandangan seorang pria yang lihai dengan macconya sedang menyirami bunga-bunga.


"Hi ... hi ... hi," senyumku yang sudah gila membayangkan karena bisa jatuh cinta pada pembantu sendiri. Dan kini pikiran mulai kotor membayangkan apabila bisa jadian beneran sama dia, benar-benar serasa bak kisah cinta antara Romeo Juliet, semoga saja.


Dia tidak pernah menolak atau membantah perkataanku, entah karena aku ini majikannya atau dia memang ada rasa hati padaku. Setiap detik bayangannya selalu kurindukan, tapi sayangnya mamaku selalu mengekang untuk kami selalu saling berjauhan.


"Alex?" panggilku, yang sudah duduk di ayunan taman saat melihatnya menyirami bunga.

__ADS_1


"Eeh, ada apa non? Ada perlukah?" tanya balik Alex padaku.


"Gak ada apa-apa. Cuma ingin lihat kamu saja, sebab rindu," ucapku yang tanpa terasa sudah keceplosan.


"Maksud non apa ya?" polosnya suara Alex bertanya.


"Eeh ... he ... ehh ... ngak kok Alex. Kamu salah dengar aja tadi kali. Lanjutkanlah perkerjaanmu sekarang," ujarku memungkiri.


Aku berusaha menghindari sebisa mungkin pertanyaannya, sebab bisa malu jika diriku yang ketahuan pertama kali mengungkapkan perasaan padanya.


"Alex?" panggilku lirih.


"Iya non Amel, ada apa? Kenapa manggil-manggil terus, tapi ketika ditanya gak kenapa-napa!" tanya Alex balik, disertai dengan wajah kebingungan atas namanya yang terus saja kupanggil.


"Ngak ada apa-apa, sih. Oh ya, nanti ketika aku ulang tahun, boleh ngak minta hadiah special sama kamu?" tanyaku.


"Memang non Amel mau hadiah apa dariku? Tapi jangan mahal-mahal minta hadiahnya, lagi ngak ada uang lebih, nih!" jawab Alex dengan tangan masih sibuk menyirami tananman.


"Aku gak mau hadiah barang, sudah basi semua hadiah-hadiah itu. Eemmm ... ajak aku jalan-jalan keluar dari rumah ini, boleh ngak?," ucapku dengan nada pelan takut Alex tak setuju atas permintaanku.


"Apa non? Ngak salah?" ucap Alex dengan kaget yang langsung saja mematikan kran air.


"Enggak Allllleeexxx!" jawabku santai yang berusaha mengayunkan ayunan dengan cepat.


"Memangnya non mau jalan-jalan ke mana? Nanti kalau tuan dan nyonya sampai tahu bisa gawat dan pastinya kita akan kena marah," jawab Alex yang sudah ikut duduk di ayunan bersamaku.


"Iiiihh Alex. Kamu inikan pintar, jadi pasti tahu 'lah caranya gimana kita bisa kabur diam-diam untuk keluar dari rumah ini," tuturku memberi sanjungan.


"Ya ... Alex ... ya ... please! Sekali ini saja, ajak majikan kamu ini jalan-jalan," ucapku dengan mengoyang-goyangkan lengan Alex sebab sedang merayunya.


"Tapi non, aku beneran ngak berani," Penolakan Alex.


"Ya udah kalau kamu gak mau, jangan pernah berbicara lagi sama aku," ketus ucapku dengan berpura-pura marah.


"Ahhh .. non ini, kok pakai ngancam gitu sih." ucap Alex yang tak terima atas ancamanku.


"Non, apa gak ada hadiah yang lain yang bisa kuberikan selain itu, kayak barang-barang atau hal lain yang mudah gitu?" rayu Alex berusaha membujukku.


"Heeeh, Iya ... iya deh! Aku akan penuhi semua permintaan non, tapi janji jangan pernah mencuekkanku apabila berhasil nanti," ujarnya berusaha membujuk lagi.


"Benarkah mau? Kamu ngak bohong 'kan?" tanyaku masih tak perrcaya.


"Iya ... ya, aku janji!" jawab Alex penuh keseriusan.


"JANJI," ucapku dengan berusaha menautkan jari-jari kelingking kami.


"Janji," balasan ucapan Alex.


"Ah ... Alex, kamu memang laki-laki yang bisa kuandalkan. Bertambah sayang dan cinta saja aku padamu," gumanku dalam hati.


Diri ini tetap berusaha memberikan senyuman termanis padanya, dimana Alex masih setia duduk bersamaku diayunan.


Aku sudah terlanjur menabur rasa, menginginkan rasa yang terbaik untuk kuberikan padanya.


Sampai getaran-getaran dan panah asmara mulai bergelayutan menumbuhkan cinta, yang kian tak terkontrol untuknya.


Di mana saat rasa itu mulai berdesiran, dan mengalun syahdu.


Cintaku selamanya hanya akan dapat tercurah untukmu seorang.


Aku tak tahu apakah dia juga sama akan merasakannya.


Seluas apapun hasratku dan separah apapun rasa itu, akan kuberikan cahaya cintaku seutuhnya untukmu, wahai pujaan hatiku Alex.


*****


"Hei Alex," panggilku ketika dia sedang duduk manis di bangku sekolah sedang membaca mata pelajaran sejarah.


"Eh ... iya non, ada apa?" tanya Alex.

__ADS_1


"Nanti temenin aku makan di kantin, ya."


"Tapi non, bukankah ada teman kamu yang lain yang bisa menemani?" ujarnya menolak.


"Iccch ... Alex, selalu saja tapi ... tapi! Gak usah banyak alasan kalau kamu sekarang ngak mau," ucapku yang sudah sewot kesal.


"Turuti saja Alex, atas permintaan tuan putri Amel. Nanti bisa-bisa kamu setahun dicuekin dan ngak diajak bicara," ucap Iwan memberitahu, yang sedang duduk di bangku depannya Alex untuk berusaha membelaku.


"Insyaallah non," jawabnya santai, tanpa ada rasa salah.


"Kok Insyaallah? Berarti kamu ada peluang ngak mau mengikuti keinginanku, gitu?" ucapku yang sudah sebal dan kecewa atas jawaban Alex.


"Bukan ... bukan, bukan begitu non."


"Ah ... tahu ah! Kamu itu selalu saja nolak ... nolak ... nolak, gak pernah ada kata-kata ngak nolak," ujarku dengan melangkah pergi ke kursi bangku sekolah.


Kepala kini berusaha kugolekkan di bangku tertutup oleh buku, yaitu menatap ke arah yang berlainan dari kursi Alex yang tengah didudukinya.


Entah mengapa penolakannya begitu terasa sakit, membuatku mulai menjatuhkan buliran air mata.


"Ah ... cengeng betul kamu Amel, baru penolakan mengajak makan saja sampai nangis gitu, apalagi kalau penolakan cinta, bisa-bisa setahun beruraikan air mata." ucapku dalam hati yang berbicara sendiri masih gondok dan kesal.


"Non ... non Amel?" panggil Alex mengoyang-goyangkan lenganku.


Tapi aku tak mengubris dan meresponnya, sebab wajahku sedang kututupi buku kuat-kuat untuk menyembunyikan wajah sedang menangis.


"Non ... non Amel ... non?" Panggil Alex lagi dengan tangannya mengelus-elus rambutku yang sedang tergerai memanjang.


"Non ... jangan begini, ah! Maafin aku ya, non. Iya ... iya dech, nanti kita akan makan ke kantin bersama-sama," rayunya sekali lagi padaku.


"Tahu ah! Hik ... hik ... hik," ketus suaraku dalam tangisan.


"Ya ampun non Amel! Non menangis?" tanyanya yang kemungkinan sudah mendengar atas isak tangisku.


"Amel ... Amel ... oh Amel?" panggil Iwan yang kini ikut berusaha mambujukku.


"Plak ... pletak. Lihat! Sudah kuberikan hukuman pada Alex, masak bisa-bisanya dia membuat wanita secantik kamu itu menangis," imbuh suara Iwan yang mungkin sudah memukul Alex pakai buku.


"Aku gak mau lihat dan mendengarkan ucapan kalian berdua, pergi sana!" ucapku kesal, dengan mengusir Alex dan Iwan.


"Ya ... sudah, kalau non mau kami pergi. Tapi janji, maafkan aku atas penolakan tadi, ya! Aku berjanji tak akan menolak perintah non Amel lagi nanti, suuuueer!" bujuk rayuan Alex.


Setelah keheningan tak ada suara Alex dan Iwab, buku mulai kubuka dan berusaha mengusap-usap airmata. namun begitu badan mulai akan menegakkan tubuh kembali, begitu terkejutnya diri ini saat melihat Alex tersenyum manis sedang duduk di hadapanku.


"Alex? Bukankah kamu tadi--?" ucapku tertahan sebab terkejut.


"Kenapa non? terkejut aku masih duduk disini?."


"Aku tak akan meninggalkan non Amel, sebelum bisa memaafkan kesalahan diriku," ucap Alex.


Tangannya kini berusaha terulur di pipiku, seperti ingin mengusap menghapus airmataku.


"Aaah ... awas! Aku gak pa-pa, tahu!" jawabku ketus dengan memalingkan muka mencoba menghindari tangan Alex.


Dan langsung saja tanganku sendiri berusaha untuk mengusap airmata.


"Gak usah merasa bersalah begitu, aku masih baik-baik saja tanpa kamu," ucap ketusku marah.


Tubuh berusaha langsung bangkit dari duduk, untuk berusaha melenggang melangkah pergi meninggalkan Alex.


Bhuugh, tanpa aba-aba Alex ternyata langsung saja memelukku dari belakang, membuat diri ini tersontak terkejut atas tak siapnya pelukan Alex terhadapku.


"Maafkan aku non, jangan katakan kamu baik-baik saja tanpaku dan jangan pernah mengacuhkanku lagi. Sungguh semua itu membuatku rasanya begitu sangat sakit hati," ucap Alex dalam posisi masih memelukku yang kini mulai terdengar di telingaku seperti sedang menangis.


"Alex? Alex? Heeh ... iya ... sudah ... sudah, jangan bersedih lagi, aku sudah memaafkanmu! Jadi sekarang lepaskan pelukannya, malu nanti jika teman-teman melihat kita," Kata-kataku berusaha melepaskan diri.


Rasa ketakutanku begitu kuat, sebab bisa mati bila teman sekelas memergokki kami akibat datang dari selesai makan siang.


"Semenit lagi aja non, izinkan aku memelukmu," suara parau Alex terdengar tersedu sedang menangis.

__ADS_1


"Sudah Alex, maafkan aku juga, pok ... pok ... pok," suara tanganku menepuk-nepuk kepala Alex pelan sebab posisi dia masih memeluk dari belakang, yaitu supaya segera meredakan tangisannya.


__ADS_2