
Pilu hati kian menyayat, tidak ada satupun yang tahu akan hal itu. Sentuhan tangan yang kurasakan sangat menyiksa. Kenapa semua harus sama yang ada pada dirinya? Kenapa kau harus mendekatiku? Apakah takdir mulai berlaku untuk kami, tapi semua masih samar-samar dan menjadi misteri.
"Kenapa Tuan Arnald berkata begitu? Ingatan apa yang ingin kau coba ingat? Kenapa harus melibatkanku? Apakah kamu memang mengenal, tapi kenapa sedikitpun tidak kau ingat sama sekali," guman hati yang terus bertanya-tanya dan gelisah.
"Aahhh, nanti saja aku pikirkan. Daripada bikin pusing kepala saja. Kalau memang dia mas Alex semoga saja semuanya bisa terungkap segera. Amin ya robbal alamin," Doa dalam hati.
Tangan ini tidak pernah mengeluh maupun lelah, untuk mengerjakan semua kerja yang menjadi kewajiban. Peluh yang mulai menetes membasahi kening, mulai kuelap dengan kain yang terselip diantara leher. Mengepel juga pekerjaan yang melelahkan, sebab tangan dan kaki bergerak terus ditambah lagi harus membungkukkan badan.
"Amel, bahan dapur semuanya habis. Apakah kamu bisa berbelanja membelikannya," suruh Bibik sesama pekerja.
"Ooh, bisa ... bisa, Bik. Tapi tunggu kerjaan mengepel kelar dulu. Tanggung nih, tinggal dikit lagi," jawabku.
"Baiklah kalau begitu, nanti kamu minta uangnya sama tuan Arnald."
"Loh, kenapa harus minta sama dia. Kenapa tidak minta ke Alena saja?" Keheranan bertanya.
"Alena tadi sedang keluar entah kemana, dan kebetulan tadi uangnya dititipkan sama tuan Arnald," jawab beliau.
"Ya sudahlah, nanti saya akan minta sama dia."
"Baik. Kamu hati-hati dijalan nanti."
"Baik, Bik."
Beberapa sudut ruangan yang belum kubersihkan, secepatnya kudatangi agar bisa menyelesaikan dengan cepat. Tangan sudah maju mundur untuk menjalankan sapu pelnya. Air yang sudah dibubuhi sabun mulai keruh warnanya.
Fuuuuh, akhirnya selesai juga pekerjaan. Sekarang tinggal membersihkan diri, untuk segera bersiap atas permintaan berbelanja tadi. Walau hanya pembantu, tapi penampilan harus dijaga, agar orang lain tidak jijik maupun merasa aneh terhadap kita.
"Maaf, Tuan. Kalau menganggu sebentar," sapaku saat dia sibuk membaca koran diruang tengah.
__ADS_1
"Oh, iya, Bik. Ada apa, ya? Tidak ada menganggu, kok! Aku lagi nyantai saja ini," jawabnya ramah.
"Kata bik Arni disuruh belanja dan katanya uang itu harus minta sama, Tuan!" cakap sudah dalam kondisi gugup.
"Oh, itu benar. Alena tadi nitip. Sebentar, akan aku ambilkan uangnya dikamar."
"Iya, Tuan."
Arnald sudah bangkit dari duduk. Langkahnya mulai menuju kamar. Aku menunggu dengan cara berdiri. Tidak berselang lama dia kembali dengan pakaian sudah rapi. Kening sudah berkerut sebab aneh melihat penampilannya.
"Ayo!" ajaknya.
"Maksudnya ayo kemana, Tuan?" Kebingungan bertanya.
"Biar saya saja yang antar."
"Tidak ... tidak usah, Tuan. Biar saya sendiri saja belanja naik angkot."
"Tapi ... tapi itu?" Keraguan menjawab.
"Tidak usah tapi-tapian. Ayo berangkat sekarang. Hari mulai siang dan matahari terus meninggi, nih!" suruhnya tak sabar.
"Hmm, baiklah kalau begitu, Tuan."
Menolak takut marah sama kata-kata dia yang ada benarnya, tapi kalau menuruti perkataan rasanya tidak enak saja ketika pembantu harus diantar majikan. Takut ada kesalahpahaman saja nanti, apalagi dimata pacarnya Alena.
Mobil mewah milik majikan utama menjadi kendaraan kami. Belanja yang biasanya dipasar sekarang harus diantarnya ke mall. Sedikit kebingungan sebab dipasar tinggal comot dan tawar menawar, sekarang sayur serba dibungkus dan harus benar-benar memilih kesegaran dan masih ok, untuk dimasak dan disimpan beberapa hari kedepan.
Rasanya risih sekali setiap langkah harus diikuti Arnald. Walau dia tidak menganggu, tapi sikapnya yang membuntuti bikin kesel saja. Tidak lupa dia ikutan juga memilih-milih sayuran. Cukup membantu juga, tapi status kami yang berbeda bikin tidak nyaman.
__ADS_1
Kaki sampai pegal memilih ini itu dari tempat yang berbeda. Beberapa kali harus memutar-mutar mencari tempat yang ada barang yang kami cari. Kalau dipasar sudah kenal dimana tempatnya, jadi tidak memakan waktu lama dan sedikit melelahkan. Namanya juga wong deso belanja dimall bikin kikuk saja, karena jarang-jarang berbelanja ditempat kayak beginian.
"Gimana? Apa sudah semua yang dibutuhkan sesuai catatan?" tanya Arnald.
"Emm, kayaknya sudah semua!" jawabku sambil meneliti catatan dari atas ke bawah.
"Baguslah. Kalau begitu kita langsung pulang saja," suruhnya yang siap mendorong trolli.
"Baik, Tuan."
Aku hanya bisa menunggu diluar sebelah kasir. Arnald yang membayarkan semua belanjaan. Lagian uang yang dititipkan tadi dipegang sama dia. Satu persatu barang mulai masuk kantong kresek. Aku segera membantu membawa, setelah dihitung sama pihak kasir.
Belanjaan begitu banyak, membuat kami berdua agak sedikit kesusahan membawa.
Barang sudah kutaruh diubin keramik, sambil menungu jemputan dari Arnald yang sedang mengambil mobil ditempat parkiran.
Tin ... tin, bunyi klakson telah berbunyi, dan aku tahu siapa pemilik didalamnya.
Arnald sudah turun. Aku yang kesusahan membawa barang belanjaan untuk dibawa masuk mobil sudah dia bantu. Satu-persatu mulai masuk.
Bhugh, akibat berat tiba-tiba tali kreseknya terputus, sehingga membuat beberapa barang kini jadi berserakan jatuh dilantai depan gedung mall.
"Waduh, kenapa harus putus juga, sih!" keluhku yang ingin memengut barang itu.
Tanpa disangka telapak tangan kami sudah bersentuhan, sama-sama ingin mengambil barang. Pandanganpun tak luput saling mengkunci. Sorot mata itu begitu hafal dengan bola mata kecoklatan penuh aura kebaikan. Mimik muka sudah sama-sama terpana, sampai lama sekali saling berpandangan tanpa mengedipkan netra sama sekali. Wajah mulai panas terkena api, kalau tersentuhpun pasti dikira sedang demam.
"Ehh, maafkan aku, Tuan!" cakapku memulai membuyarkan lamunan kami yang saking lama memandang.
"Eehh, iya tidak apa-apa." Arnald nampak malu-malu juga apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
Kepala seketika menunduk, tidak berani menatap wajah Arnald lagi. Arah memungut sudah membelakanginya disebelah kanan. Rasanya tatapan itu membuat jantung berpacu tidak tentu arah lagi.
"Astagfirullah, apa yang kamu lakukan tadi, Amel? Kenapa kamu terbuai untuk menatap terus sorot mata itu? Janganlah tuan Arnald nanti salah sangka atas kelakuanmu tadi," guman hati yang mulai khawatir.