Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Dikurung dalam kamar mandi


__ADS_3

Rasa lelah habis menginjakkan kaki dirumah usai menuntut ilmu, membuatku kini harus berbaring santai saat dikamar akibat badan terasa lelah.


"Amel ... Amel?" teriak mami tiri memanggil.


"Ada apa ... ada apa, mami?" tanyaku gondok kesal tapi bisa kusembunyikan darinya, saat menghampiri beliau segera.


"Keluarkan perhiasan mama kamu, aku ingin meminjamnya untuk kondangan!" suruhnya tegas.


"Tapi, mi. Itukan punya mama, aku tidak menginzinkan mami memakainya?" tolakku padanya.


"Apa? Dasar anak ngak tahu diuntung, plaak!" Kemarahannya yang sudah menampar keras pipiku.


Tangan sudah memegang perlahan pipi yang terasa panas berdenyut nyeri.


"Sekarang cepatan ambil! Jangan kamu menolaknya lagi, atau tanganku ini akan menghajar kasar kamu lagi" teriak perintahnya.


"Pinjam satu set saja, pelit betul. Cepat ... cepat ambilkan, sana!" bentaknya lagi.


Bentakkannya membuatku jadi ketakutan, sehingga diri ini langsung saja berlari tergopoh-gopoh untuk segera mengambil perhiasan didalam kamarku.


"Ini, mami!" serahku dua set perhiasan dalam kotak.


"Bagus ... bagus. Sini sekarang! Aku akan memilihnya mana yang cocok untuk kupakai," ucapnya senang saat perhiasan telah kuberikan.


"Sekarang setrikan baju yang berwarna hitam kugantung dalam kamar," perintahnya lagi.


"Baik, mi!" Jawabku dengan menundukkan kepala pasrah menerima perintah.


Aku yang baru pulang sekolah, sudah disuruh ini itu oleh mami tiriku. Badan merasakan letih yang sudah tak terkira lagi. Lemas membuat tenagaku semakin melemah saja, sebab pulang dari sekolah perut belum terisi sama sekali oleh makanan. Jatah makan siang ditambah lagi berangkat sekolah tadi hanya diberikan sarapan sepotong roti saja.


"Amel ... Amel?" panggilnya lagi.


"Iya, mi! Nanti, sebentar dulu" teriak jawabku dari kejauhan.


Aku yang sedang menyetrika baju, langsung saja kutaruh alat itu dan secepatnya menghampiri mami tiriku yang sedang memanggil.


"Lelet banget dateng, ngapain aja, sih!" ujarnya tak sabar.


"Maaf, tadi sedang menyetrika!" jawabku yang sudah cepat-cepat datang.

__ADS_1


"Pinjam higheels punya mama kamu juga, ngak mantap kalau hanya perhiasan mewah saja, harus ada setelan anggun biar tambah cantik yaitu higheels," pintanya lagi.


"Baik, mi. Akan aku ambilkan dulu," jawabku yang kini mau menuju ke rak sepatu dalam lemari.


Heuh ... heuh ... heeeh, hidung mamiku mengendus-endus menghirup udara seperti mencium sesuatu.


"Bau apaan, nih? Seperti bau gosong!" tanyanya.


"Hah, memang apaan, mi? Heuuh ... hee'eh!" tanyaku yang kini ikut mengendus juga.


"Sepertinya--? Ya Allah, baju mami ... baju!" ucapku kaget teringat baju yang kusetrika.


Kini aku berlari secepat kilat agar sampai menuju tempat penyetrikaan yang sempat kutinggal tadi.


"Matilah ... matilah aku. Haah, baju untuk kondangan telah hangus terbakar dan bolong ditengahnya begini pulak," gumanku dihati yang telah sampai ditempat penyetrikaan.


"Aah, gimana ini? Matilah ... mati aku, bisa-bisa mami akan marah besar bajunya rusak begini," guman hati yang sudah ketakutan.


Rasa takut akan mengatakan baju yang bolong, membuatku cukup gelisah dan khawatir. Diri ini mondar mandir melangkah, akibat mulai diliputi rasa takut-takut akan mendapatkan hukuman lagi nantinya akibat kecerobohan. Pasti kemarahan si nenek lampir alias mama tiriku akan semakin brutal membabi buta. Tapi dengan keterpaksaan harus ngomong juga atas kejadian sesungguhnya.


"Ma ... ma ... mami!" Suaraku terbata-bata memanggil.


"Heh, ada apa? Apa sudah beres menyetrikanya?" Pertanyaan santainya saat sibuk mewarnai kuku tangan.


"Apaan sih!" jawabnya kelihatan kesal.


Dengan cekatan secara kasar, mami tiri mengambil baju yang kusodorkan padanya. Baju mulai dibuka perlahan, yang terlihat ekspresi mami tiri begitu melongo kaget pada baju yang dipegangnya.


"Amel! Kamu? Hiiih, kamu ini. Dasar anak ngak becus sama sekali, ini yang diajari sama mama kamu, hah ... hah?" ujarnya marah dengan telunjuknya mendorong-dorong kepalaku kuat kebelakang.


"Huhuuhu, baju kesayanganku telah bolong begini?" cakap mami tiri sedih.


"Aaa ... sakit, mi. Sakit ... sakit," ucapku saat cubitan tiba-tiba terus mendarat.


"Rasakan ... rasakan ini, dasar anak tak tahu diuntung dan berguna," ujar beliau emosi.


Tangan beliau tak luput juga terus menjewer telinga dan mencubit lenganku, hingga sampai puncaknya sekarang menjambak rambut untuk mengikuti langkahnya berjalan.


"Maaf ... maafkan aku, mi! Sakit ini, aaa ... aww," ucapku ketakutan diiringi buliran airmata dengan tersedu-sedu.

__ADS_1


"Dasar anak ngak becus, bisanya cuma membuat ulah saja. Sungguh-sungguh merepotkan saja kamu itu!" ucapnya ngomel-ngomel terus, yang masih menjambak rambutku kuat.


"Sini kamu ... sini! Aku akan memberi pelajaran sama kamu, bagaimana cara melakukan pekerjaan yang sesungguhnya itu secara benar," ujarnya masih marah-marah.


Bhuugh, suara tubuhku sudah didorong kuat jatuh dilantai kamar mandi.


"Inilah akibatnya jika melakukan apa yang kusuruh tapi tak becus melakukannya," tutur beliau masih dalam keadaan emosi.


"Sini kamu. Rasakan ini ... rasakan," Kemarahan beliau saat sudah menyalakan air shower untuk menguyur tubuhku.


"Aa'ap, hentikan ... hentikan, mi!" pintaku sudah gelagapan mengambil nafas.


"Rasakan itu, dasar ... heheh!" ujar beliau sudah menghentikan penyiksaan.


Braaak, pintu kamar mandi dibating kuat untuk segera ditutup beliau.


"Mami ... buka ... buka. Aku mohon maafkanlah aku, mami?" pintaku meminta.


Sekarang aku dikurung di kamar mandi, dengan pakaian basah kuyub, sebab sebelum mengkunci kamar mandi, mami tiri tadi telah memandikanku dengan menguyur tubuh ini dengan pakaian masih lengkap.


"Ya Allah, nyonya. Apa yang kamu lakukan pada non Amel?" suara bik Sari di luar, yang kemungkinan sedang ingin membelaku.


"Bibi, gak usah ikut campur. Urus saja pekerjaanmu. Biarkan saja dia didalam menerima hukuman. Kalau bibi berani menolongnya, bik Sari nanti juga akan kusiksa dan secepatnya bisa angkat kaki dari rumah ini, paham!" ancam mami tiri, yang terdengar ditelingaku dalam kamar mandi.


"Baba--baik, nyonya."


Habis marah-marah pada bik Sari, kini suara deru langkah yang kuat semakin jauh dari kamarku, yang kemungkinan mami tiri sudah keluar dari kamarku.


"Tok .. tok. Non, non Amel! Kamu ngak pa-pa 'kan?" tanya bibi dari luar.


"Iya bik, Amel baik-baik saja, kok!" jawabku yang sudah beruraikan airmata.


"Bibi tetap akan ada disini untukmu, non! Jadi jangan sedih," ucap suara lirih bik Sari sendu dari luar kamar mandi.


"Iya, bik. Terima kasih."


Suara bik Sari terus saja bertanya tentang keadaanku, mungkin sudah khawatir tentang siksaan yang diberikan. Bik Sari mencoba mendampingiku diluar, saat mami tiri yang marah tak terdengar lagi suaranya, mungkin beliau sudah sibuk jadi pergi untuk ke kondangan.


Aku luruh di lantai dengan memegang kedua lututku, agar segera menumpahkan sesak didada, yang tanpa henti terus saja netra ini pilu mengeluarkan airmata.

__ADS_1


"Mama, papa! Amel kangen banget pada kalian. Seandainya kalian masih hidup, nasib Amel tidak akan seperti ini," Tangisan dalam ikhlas menerima cobaanku.


Setelah kejadian terkurung dalam kamar mandi, dendam dan kebencian kini tertanam tertancap dihatiku terasa mengebu kuat sekali. Rasanya cepat-cepat ingin memberi pelajaran pada mereka begitu kuatnya, ingin rasanya diri ini menghancurkan mereka tanpa ampun.


__ADS_2