Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Teman yang baik


__ADS_3

Tugasku selain sebagai siswa teladan, kini beban berat sebagai ketua osis telah kuemban. Banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktu belajar, hingga badan sering kali kelelahan akibat ada tugas-tugas penting dari sekolahan. Kaki kini berusaha melewati koridor sekolahan, yang akan menyerahkan beberapa lembaran kertas persetujuan orang tua dari semua para siswa siswi untuk berpergian karya wisata.


"Suuit ... suiit ... huhu ... hhu," Suara siulan dan nyayian dari beberapa anak sepantaranku tapi berbeda dari kelas lain.


"Wah ... wah, kebetulan ada ketua osis lewat, nih. Tanpa susah payah untuk mencari murid lain. Ternyata kini ada rejeki nomplok bakalan untuk kita," ucap salah satu dari anggota mereka yang sudah menghadang jalanku.


"Kalian mau apa? Jangan macam-macam terhadapku, sebab kalau kalian berulah yang tak baik, maka akan aku laporkan ke pihak sekolah," ujarku yang ciut mundur-mundur, akibat empat orang didepanku sepertinya berniat tak baik.


"Kamu jangan takut ketua osis, yang sok pintar dan jago segalanya. Kami tak akan melukai kulitmu, asalkan kamu menuruti omongan kami, agar tangan kami yang bersih ini tidak mengotori tubuh kamu untuk kami hajar," ancam ucap salah satu dari mereka yang kemungkinan adalah ketua geng.


Diriku hanya sedikit bringsut ketakutan, sebab mereka ada banyak anggota yang sepertinya akan mengroyokku. Aku tak mau membuat keributan disekolah, oleh sebab itu kini berusaha menghindari masalah. Didekat gudang barang-barang yang tak terpakai kini aku begitu tersudut oleh kelakuan mereka, sebab disekitaran area ini jarang sekali ada orang yang lewat, kecuali orang-orang yang ada kepentingan dengan bapak kepala sekolah.


"Kalian jangan macam-macam, atau---?" Suaraku tertahan akibat sudah terpojok dikunci oleh mereka, yang kelihatan tak mau melepaskanku.


"Atau apa? Atau kamu ingin menghabisi kami? Ha ... ha ... ha, jangan mimpi. Sebab kalau kamu melawan kami, namamu 'lah yang akan tercoreng sebagai ketua osis yang mengajarkan siswa-siswa lain berkelahi, bener ngak? Ha ... ha ... ha," gelak tawa mereka merasa menang.


"Haissst, kalian ini. Cepetan katakan, apa mau kalian yang sebenarnya?" ujarku penuh berani.


"Kami ngak perlu apa-apa ketua osis. Kami hanya ingin kamu menyumbangkan sedikit uang kamu untuk kami, itu saja sih! Sebab kami tengah kelaparan, nih. Mau makan tapi uang kami sudah habis untuk membeli sarapan pagi tadi," terang cakap mereka.


"Uang? Tapi maaf sekali kalau masalah itu, sebab aku sedang tak punya itu," jawabku tak menyetujui.


"Ha ... ha ... ha, benarkah? Oo ... ooh, iya. Aku lupa kalau kamu itu hanya anak pembantu. Ha ... ha ... dasar orang miskin anak pembantu!" Hinanya dengan suara lantang.


"Ha ... ha ... ha, tahu aja kamu bos. Kalau anak pembantu memang selalu miskin," gelak tawa anak buahnya ikut-ikutan mengejek.


"Tahu 'lah."


"Dasar kalian ini!" ujarku penuh berani, mendorong tubuh bosnya hingga tersungkur duduk dilantai akibat ada sulutan emosi.


Bhuugh, dorongan kuat telah berbalik dibuat oleh anak buah mereka, hingga badan terasa mulai sakit akibat terbentur dengan tembok.


"Apa? Apa?" tanya mereka saat mataku melotot kearah mereka, karena tak suka atas kekasaran tangan mereka.


Tangan sudah mengepal begitu kuatnya, tapi diri ini tak mau melawan sebab takut-takut nanti ada gosip tentang ketua osis, yang telah memberikan contoh yang tak bagus terhadap siswa lain sebab berkelahi.


"Cepetan serahkan uangnya sekarang. Banyak b*c*t sekali mulut kamu tadi," ucap anak buah yang kini tangan mereka mulai mengrayahi kantong saku milikku dibaju dan celana.


"Lepaskan! Aku sudah bilang bahwa tak ada uang, kenapa kalian tak mengerti," kekesalanku untuk menyuruh mereka pergi.

__ADS_1


"Aku beneran ngak ada! Lepaskan," kekuh jawabku berusaha meronta akibat, dua tangan kanan kiri dipegang anak buahnya.


"Aaah ... dasar, bhuughk!" ujar bos mereka yang tiba-tiba datang, dengan menonjok pipi sebelah kananku.


Tangan langsung saja memegang pipi yang rasanya telah berdenyut sakit, sebab kepalan tangan yang barusan melayang melukaiku begitu kuat terasa.


"Kamu itu telah banyak tingkah dan omong, heh!" Kekesalan bos mereka berucap sambil mencengkram kuat pipiku.


"Jangan pikir aku takut sama kamu. Oleh aku ketua osis saja, pasti kalian akan babak belur kuhajar," cakapku ingin melawan tak takut.


"Dasar ketua osis miskin dan tak ada guna!" jawab sang bos, yang kini ingin melayangkan tonjokan lagi.


Mata dengan cepat langsung terpejam, sebab sang bos akan menghajarku tanpa ampun.


"Hentikan!" teriak seseorang.


Tangan sang bos ternyata sekarang ini hanya mengambang diudara tak jadi memukul, saat diri ini melirik mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang kalian lakukan kepada ketua osis? Apa kalian tak takut jika nanti kena sangsi hukuman kepala sekolah," cakap Iwan yang tiba-tiba datang menolongku.


"Kamu siapa? Tidak usah ikut campur urusan kami. Ini semua gara-gara ketua osis yang selalu banyak tingkah," jawab sang bos menyalahkanku.


"Heeh, memang kami duluan sih yang memulai. Sebenarnya kami ngak bermaksud kayak gini, jika ketua osis langsung segera memberikan uang, pasti kami dari tadi tak akan menganggunya," terang sang bos.


"Ooh, itu masalahnya. Aku akan berikan sekarang, tapi kalian cepat pergi dari sini," balik cakap Iwan.


"Jangan Iwan," cegahku.


"Diam kamu," bentak salah satu dari mereka.


"Ini! Sekarang pergilah dari sini. Apakah cukup itu?" suruh Iwan yang sudah memberikan lembaran merah.


"Sangat-sangat cukup. Nah, dari tadi kayak gini, kek. 'Kan masalahnya tidak akan jadi panjang lebar sampai ada pemukulan segala. Terima kasih banyak ya, bro!" cakap sang bos tersenyum sumringah.


"Sudah ... sudah, pergi sana. Huus ... husst!" suruh Iwan mengusir.


Akhirnya siswa yang sudah berbuat jahat memalak dan memukulku telah pergi juga.


"Kamu ngak pa-pa 'kan, Alex?" tanya Iwan yamg kini membantu memungut kertas-kertas yang sudah berserakan dimana-mana, akibat ada ketegangan tadi.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Iwan!" jawabku yang ikut sibuk memungut kertas juga.


"Tapi lihat! Pipimu kelihatan sedikit memar, apa tidak sakit itu?" tanya Iwan khawatir.


"Sedikit, tapi ngak terlalu sakit, kok!" jawabku berpura-pura.


"Kamu tunggu dibangku itu saja. Biarkan aku yang mengumpulkan surat pernyataan ini," suruh Iwan.


"Tapi, Iwan!" jawabku mencoba tak setuju.


"Ngak pa-pa, Alex. Lihat lukamu itu! Kamu tunggu disana saja, jangan kemana-mana sebab nanti aku akan kembali," terang Iwan.


"Baiklah. Kalau kamu memaksa," jawabku pasrah.


Iwan kini sudah berjalan hilang dari pandangan mataku. Sekarang aku hanya bisa menuruti kemauan Iwan, untuk menunggunya duduk dibangku yang disediakan sekolahan.


"Ini ambil 'lah!" cakap Iwan memberikan sebuah kain berbentuk bulat.


"Apa ini, Iwan?" tanyaku tak mengerti.


"Itu batu es, untuk mengompres pipi kamu yang sakit itu," terang Iwan.


"Makasih kawan," ujarku pada Iwan.


"Sama-sama, Alex."


"Seharusnya kamu tadi ngak usah memberikan uang itu, mereka itu terkenal berandalan suka memalak siswa lain. Pasti mereka berbohong untuk membeli makanan, padahal pastinya untuk hal lain," ujarku.


"Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi. Yang penting kamu tidak diapa-apain mereka lebih parah lagi. Kalau kamu babak belur, 'kan aku juga nanti yang susah akibat kena semprot kemarahan Amel," jawab Iwan menjelaskan.


"Iya ... iya, maaf ya merepotkan kamu. Terima kasih atas pertolongannya," cakapku tak enak hati.


"Iya, sama-sama."


"Oh ya, gimana kabar kamu sama Amel? Apakah baik-baik saja, sementara kalian sekarang berkomunikasi lewat handphone saja?" tanya Iwan.


"Alhamdulillah, kami masih baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu."

__ADS_1


Teman yang selama ini tak menyangka akan kebaikannya, membuat diri semakin menyayanginya sebagai sahabat. Walau kami mencintai wanita yang sama, untung saja kami berdua bisa menahan ego agar tak jadi perpecahan teman diantara kami.


__ADS_2