Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kasih sayang ibu


__ADS_3

"Sini kamu Amel," pekik mamanya menarik lengan, untuk membawa Amel yang sudah sempat membantuku.


"Aku ngak mau, ma!" cegah Amel berusaha berontak saat mamanya memaksa untuk ikut.


"Ma, buka ... mama, aku mohon buka. Aku ingin menemui Alex, buka ma!" suara Amel teriak-teriak.


Amel sedang mengedor-gedor pintu, Mungkin akibat nyonyaku telah menguncinya dari dalam kamar. Aku hanya diam tidak bisa menolong, karena kesalahan kami yang sudah fatal mengakibatkan semua orang kini sedang dalam keadaan marah.


Keserakahan atas kebahagiaan cinta telah melukai orang-orang disekitarku. Nasi sudah menjadi bubur, takkan bisa memutar lagi kejadian yang sudah terlanjur terjadi.


Tubuhku sudah limbung ke lantai, akibat rasa sakit dipunggung berdenyut-denyut terasa sakit sekali. Sungguh-sungguh terasa nyeri dan pedih sekali, sebab saking kuatnya ibuku tadi memukul memakai sapu lidi. Tak terelakkan wajahku sekarang sudah pucat pasi bercampur dengan kelemahan tubuh, sehingga membuat tubuh ini sudah terkapar lemas di lantai tak berdaya. Pak Jono yang melihatku langsung saja menolong, mungkin akibat merasa kasihan dan sekarang beliau mencoba membantuku berdiri serta ingin mamapah tubuh ini untuk dibawa ke kamar yang berukuran amat kecil, yang hanya dapat bermuatkan satu kasur dengan meja belajar.


"Ya allah Alex. Ayo sini, bapak akan bantu!" suara sendu pak Jono saat melihatku semakin lemah tak berdaya.


"Bawa Alex ke kamar pak Jono. Dan usahakan obati luka Alex secepatnya!" titah tuanku pada bawahannya.


"Baik tuan," jawaban pak Jono.


"Maafkan kelakuan mama Amel tadi, Alex? Aku hanya dapat mematung tak bisa menolong dan hanya bisa diam saja menyaksikan adegan penyiksaaan tadi!" penyesalan papa Amel yang sekarang ikut memapahku.


"Gak pa-pa tuan. Mungkin ini adalah ganjaran yang pantas atas hukumanku," sahutku lesu dalam kelemahan.


Di saat pak Jono dan tuanku memapah, airmata tiba-tiba luruh tak tertahan, akibat melihat dua orang yang paling kucintai kini terluka yaitu ibu dan Amel. Sebuah penyesalan hanya bisa terjadi belakangan, akibat sebuah kebahagiaan semata atas kecerobohan. Apalah daya diri ini, semuanya tak bisa kembali seperti sedia kala sebelum penyiksaan terjadi.


"Jangan lupa obati, Jono!" ujar tuanku sambil memberi obat pil dan salep.


"Terima kasih tuan," ucapku pada majikan, yang sudah melihat beliau sedang belalu ingin keluar dari kamar.


"Sama-sama, Alex!" balasan ucap majikan.


"Isssh ... Aww ... aaa, pelan-pelan, Pak!" desisku merasa kesakitan, saat pak Jono mulai membantuku membuka baju.


"Oh, iya ... iya ... Alex maaf-maaf. Bapak akan pelan-pelan melepaskannya," jawab beliau setuju atas ucapanku.


"Iya Pak, pelan-pelan rasanya sakit sekali ini."

__ADS_1


"Hihihiikks," suara parau pak Jono menangis, melihatku saat menahan kesakitan akibat olesan obat salep.


"Maaf Alex. Pasti ini sakit sekali," tutur beliau tak enak hati.


"Ngak pa-pa, Pak. Teruskanlah!" suruhku.


"Aaaa ... iiisssh ... mmmph," suaraku tertahan sakit.


Olesan obat salep secara perlahan-lahan yang diberikan pak Jono, ternyata malah menambah rasa pedih dan sakit. Dan terasa sekali membuat wajahku tak henti-hentinya kini terus nyengir, sebab sakit yang sudah tak terkira lagi bentuk rasanya.


"Maafkan aku Alex. Tadi bapak tak bisa berbuat apa-apa, saat ibumu bertubi-tubi melayangkan pukulan cambuk sapu," ucap pak Jono menyesal.


"Bapak gak perlu minta maaf. Itu semua murni hukuman yang sepantasnya untukku, karena memang semua kesalahan yang telah kuperbuat," timbak balik ucapku pada pak Jono.


"Bik Sari?" panggil pak Jono yang sudah merasa kaget.


Kedatangan ibuku secara tiba-tiba masuk ke dalam kamar, membuatku langsung saja ingin cepat bangkit dari tengkurap.


"Baring saja Alex!" suara ibuku sudah terasa pilu.


"Kalau begitu permisi dulu bik, Alex!" ucap pamit pak Jono.


"Iya Pak, terima kasih," ucapku.


"Sama-sama, Alex."


Beliau terlihat sudah pergi menjauh, yang mana ibulah yang kini menggantikan beliau untuk mengobati.


"Maafkan ibu tadi, Alex! Yang sudah bersikap kasar dan telah mencambuk memukulmu. Semua itu terlakukan karena kondisi emosi ibu yang sedang tak stabil akibat terbakarnya sebuah amarah." ujarnya beliau pelan.


Tangan tak lepas mengobati lukaku. Dengan tangan kecil lembut dan lihai, beliau terus saja mengoles obat perlahan-lahan. Rasa sakit dipunggung mendadak hilang seketika, sebab tak sebanding dengan hatiku yang sudah sakit telah membuat ibu kecewa.


"Justru Alexlah yang harus meminta maaf sama ibu. Alex telah membuat ibu kecewa, hingga cap sebagai anak baru yang sudah tak berbakti padamu sudah tersemat untukku. Alex tahu ibu sangat menyayangiku, karena kecewa atas salahku pasti ibu tadi dengan terpaksa melakukannya. Ibu sudah melakukan hal yang benar, untuk memberi hukuman padaku," ucapku dalam keadaan masih tengkurap.


Terdengar suara tangisan ibu mulai sendu dengan airmatanya telah terasa sudah jatuh, hingga membasahi badanku yang sedang tak memakai baju.

__ADS_1


"Ibu maafkan anakmu ini, yang telah mengecewakanmu!" ucapku lesu.


Langsung saja diri ini bangkit dari pembaringan, yang tadi masih sempat bertelungkup akibat mendegar tangisan yang sudah pecah. Tanpa terasa airmataku kini ikut meleleh keluar, saat hati begitu sakit melihat ibu yang sudah mengandung selama 9 bulan, kini terluka menangis. Kami berdua terhanyut berpelukan hingga membuat airmata sendu pecah saling menangis.


"Sudah Alex. Kamu jangan menagis lagi, sebab ibu sudah memaafkanmu. Yang terpenting sekarang minta maaflah pada kedua orangtua non Amel, karena merekalah yang lebih sakit dibanding dengan ibu," ujar ibuku memberi nasehat.


"Iya Bu, aku akan meminta maaf pada mereka segera."


Maafkanlah anak yang sudah menyakiti hatimu, bu.


Engkau adalah pelita dalam hidupku.


Sering kali kurasakan belaian tanganmu, saat-saat dalam ke kamar, dan aku berpura-pura telah tidur terlelap, hanya ingin menikmati elusan lembutnya tanganmu.


Perhatian acap kali sering kau lakukan, saat aku begitu terpuruk dalam kesusahan. Begitu dosanya diri ini membuatmu sudah menitikkan airmata.


Aku akan berjanji menjagamu, dan selalu menghormati, serta mencintaimu di sisa sepanjang hidupku.


"Kamu sekarang belajarlah yang rajin, biar nasibmu tak susah seperti ibu. Hanya kamulah penyemangatku dan tumpuan ibu sekarang, untuk mengubah nasib kita agar lebih baik suatu saat nanti," nasehat panjang lebar ibu.


"Iya bu," singkatnya jawabanku.


"Kamu pasti belum makan. Sekarang ibu sudah masak makanan kesukaanmu. Kamu mau ibu ambilkan makanan?" tanya beliau.


"Boleh ... boleh itu, bu!" jawabku kegirangan saat mendengar lauk makanan kesukaanku, yaitu ayam balado berbumbukan cabe merah pedas.


"Baiklah, akan ibu ambilkan. Kamu tunggu disini!" suruh beliau.


Begitu telatennya ibu menyuapiku seperti anak kecil. Aku mencoba makan sendiri, tapi beliau menolaknya, katanya sekarang beliau ingin sekali menyuapiku, hingga tak terelakkan kini kami sedang makan sepiring berdua. Wajahku tersenyum manis sekali kepada ibu, agar beliau tak khawatir atas keadaanku. Biarlah dia menduga aku baik-baik saja, membuatku merasa cukup untuk menyenangkan hatinya, akibat rasa sakit sebuah kemarahan dan kekecewaannya.


Ibu, engkau adalah nafas hidupku yang selalu memberi keamanan dan kenyamanan hatiku.


Nyaman disaat bercanda dan berbagi cerita, serta memecahkan masalah dari badai ujian-ujian yang sudah menimpa kita, membuatku terus saja untuk menyayangimu melebihi semua nafas hidupku.


Terima kasih ibu, doamu yang mujarab, selalu membuat diri ini tanpa ragu dan halangan untuk menghadapi semua rintangan masa depan.

__ADS_1


__ADS_2