Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Melamar teman


__ADS_3

Teman baik selalu saja dibutuhkan disaat lara hati sedang menganga. Kebahagiaan yang tak terperi, dapat mengobati kesusahan yang terasa sekarang ini. Iwan begitu baik selalu ada waktu menjegukku disela-sela waktunya sibuk kuliah dan bekerja dalam bisnis barunya.


Rasa tak enak hati sering menyelimuti sebab saking seringnya dia berkunjung, yang bolak-balik ditempat tinggalku yaitu Semarang sedangkan dia kini tinggal di Jakarta. Dia sering kali banyak membantu. Jika tak ada beras yang dimakan ataupun barang-barang lainnya yang dibutuhkan kami, dengan mudahnya dia bisa membelikannya.


"Iwan, kamu ngak capek apa sering-sering berkunjung ke sini? Kamu itu selalu saja bolak-balik Jakarta-Semarang. Aku ngak mau orang tuamu nanti marah padaku, karena kamu seperti sedang menghamburkan-hamburkan uang demi untuk bertemu denganku," cakap tak enak hati yang tengah duduk bersama Iwan di teras rumah kosku.


"Biasa aja kali. Macam ngak kenal Iwan saja. Anak orang kaya sampai tujuh turunanpun tak akan habis. Untuk bertemu denganmu bukanlah hal sulit. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu, sebab tak tega rasanya diri ini jika melihatmu dalam kesusahan yang semakin membuatmu menderita," terangnya santai.


"Aku faham, Iwan. Tapi walau aku menjalani kehidupan sehari-hari dalam kesusahan, kehidupan kami pasti akan baik-baik saja asalkan tidak ada yang membebani dan menggangu kami terus. Pasti kehidupan kami tak perlu ada yang dikhawatirkan. Aku ucapkan terima kasih atas kebaikkanmu, jadi aku mohon padamu jangan terlalu berbaik hati padaku, sebab tak ingin menjadi orang yang menjadi bebanmu," ucapku tak enak.


"Iya aku tahu, Amel. Tapi walau kamu menyuruhku seribu kali untuk tak membantumu, karena kita adalah teman baik dari sejak kecil, aku tak ingin kehilangan kamu lagi seperti kemarin-kemarin yang tak ada kabar sama sekali," kekuh ucapnya tetap ingin menolong.


"Tap-,"


"Aah, sudahlah. Kita lupakan saja tentang kebaikkanku itu. Sekarang ini ada sesuatu untukmu. Nanti malam pakailah ini dan aku akan menjemputmu jam delapan malam nanti," ujarnya memberikan sebuah paper bag.


Aku begitu terperangah membuka paper bag, karena tak percaya atas barang yang diberikan Iwan, yaitu sebuah gaun berwarna pink muda. Mataku mendelik melihat ke arah Iwan, mencoba mencari jawaban atas apa yang dia berikan sekarang.


"Maksudnya apa ini, Iwan?" Binggungnya diri ini bertanya.


"Pokoknya nanti malam pakai saja baju itu, karena ada suprise untukmu, oke!" jawabnya santai dengan mengacak-acak rambutku.


"Tapi, Iwan. Aku perlu penjelasan dulu sebelum pergi," kekuhnya pintaku.


"Nanti saja, ok! Nanti kamu akan tahu kalau sudah sampai disana. Kalau begitu aku akan pulang dulu dan jangan lupa nanti malam pakai itu," ujarnya sambil berpamitan ingin pulang.


"Heeh, baiklah kalau begitu."


*******


Malampun tak terasa sudah sampai pada waktunya mengelapkan hari. Dan kini aku tengah bersiap-siap untuk melakukan apa yang diminta Iwan. Tak butuh waktu lama untukku berdandan. Diriku sekarang tengah disibukkan mematut di depan cermin, untuk mencoba melihat apakah aku masih cantik apa tidak seperti dulu ketika masih kaya. Sudah lama sekali tidak memakai gaun yang diberikan seperti Iwan sekarang ini, rasanya sungguh begitu malu dan aneh. Kerena sudah janjian dengan Iwan, mau tak mau gaun pemberiannya tetap kupakai. Badan kucoba bolak-balik miring ke kiri dan kanan, yang ternyata pantulan yang ada dicermin menampakkan diri ini semakin menawan. Dengan gaun selutut yang pas dibadan, membuat bentuk lekuk tubuhku lebih terlihat semakin anggun. Tak sadarnya diri ini ketika melihat kecantikkan, sampai-sampai ada seseorang yang sedang memperhatikanku sedang penuh senyuman manis.


"Ibu?" Keterkejutanku.


"Kenapa lama sekali dandannya? Anak ibu selalu cantik, kok. Ditambah pakai gaun seperti ini. Pasti tetap bertambah super duper cantiknya," puji beliau.


"He ... he, iyakah?" tanyaku tak percaya.

__ADS_1


"Iya, Amel anakku sayang."


"Makasih atas pujiannya, bu. Kalau begitu Amel mau berangkat sekarang saja," pamitku pada beliau sambil mencium tangan punggung.


"Iya, hati-hati."


Dengan rasa hormat dan takzim kucium tangan punggung ibu sambungku.


Agar tampil sempurna kini kaki memakai higheeels yang senada dengan baju. Sekarang tangan sibuk juga berusaha menyelempangkan tas kecil dibahu kiri, yaitu tas kecil berwarna hitam yang kelihatan membuatku cukup bertambah semakin menawan. Saat sudah di ujung pintu untuk keluar, mobil Irfan ternyata perlahan-lahan sudah memasuki area pekarangan rumah kosku.


"Wah ... wah, kamu cantik sekali," pujinya saat sudah turun dari mobil dan kini aku menghampirinya.


"Terima kasih atas pujiannya!" ucapku saat dia membukakan pintu mobil.


"Emm."


Dengan wajah terpana Iwan memadangku seakan terkagum-kagum atas kecantikan diri ini. Sekarang dia mempersilahkan masuk mobilnya, saat matanya tak lepas jua untuk terus memandangiku.


Bhugh, pintu mobil ditutup secara halus.


"Kenapa menatap begitu terus?" tanyaku berbicara dalam mobil saat berkali-kali Iwan mencuri-curi pandang.


"Masak sih? Perasaan dari dulu aku tetap sama seperti ini. Mungkin saja kita sudah lama tak ketemu, jadi kamu merasa tak mengenaliku lagi seperti waktu sekolah dulu," jawabku santai.


"Mungkin kali itu jawabannya," ujar Iwan.


Cuma setengah jam kami dalam perjalanan menuju sebuah restoran. Kini berbalik aku yang dibuat terpana atas kemewahan restoran. Saat kaki mulai menginjak masuk, tak disangka-sangka kedatanganku telah disambut oleh alunan musik. Nuansanya begitu romantis, bunga-bunga mawarpun berwarna-warni begitu indahnya mengisi seisi restoran, hingga tak luput juga balon yang berbentuk love dan bundar ikut andil mengiringi betapa indahnya restoran sekarang.


"Kok, sepi sih Iwan?" tanyaku penasaran.


"Sengaja kuboking! Tempat ini khusus hanya untuk kita berdua," jawab Iwan santai.


"Ada acara apaan sih? Kok, suasananya romantis banget?" tanyaku terus sebab sudah merasa heran.


"Nanti juga akan tahu."


Iwan tak memjawab pertanyaanku yang sedang ingin duduk, tapi dia malah cekatan mengeser kursi dan mempersilahkan untuk segera didudukki olehku. Kini Iwan mengelilingi meja makan untuk segera duduk berhadapan denganku.

__ADS_1


Pok ... pok, suara tepuk tangan Iwan.


Seketika para pelayan restoran keluar dari ruangan, dengan tangan-tangan mereka begitu banyaknya membawa makanan mewah. Dari sekian makanan yang tersedia di meja, ada udang, spagetti dan yang lainnya hanya steaklah yang kupilih, sebab rindu akan rasa yang sudah lama sekali tidak memakannya. Padahal dulu ketika masih kedua orangtua hidup, mereka selalu saja mengajakku untuk makan steak.


Iwan terus saja memandang wajahku, dengan mimik wajah berseri tersenyum-senyum.


"Ada apaan sih, Iwan? Ada yang salah dengan wajahku? Kuperhatikan dari tadi kamu terus saja memandang wajahku dengan cara senyam-senyum?" tanyaku penasaran sambil meneguk air minum.


Iwan tak serta merta menjawab pertanyaan dariku langsung, tapi anehnya dia kini malah berjalan mendekatiku dengan tangan sibuk mengambil sesuatu dari kantong saku celananya. Betapa terkejutnya diri ini saat Iwan kini sedang bersimpuh sujud dihadapanku.


"Apa yang kamu lakukan sekarang, Iwan?" tanyaku tak enak hati.


"Maafkan aku, Amel. Tujuan dan maksudku mengajak kamu ke sini adalah ini. Maukah engkau menikah denganku?" tawarnya memohon sambil memberikan sebuah kotak berwarna merah yang belum terbuka.


Mataku terbelalak mendengarkan ucapan Iwan dan belum sempat reda keterkejutan diri ini, Iwan menambahkannya lagi dengan menyodorkan sebuah cincin ada permata warna merah ditengahnya.


Kini aku tidak bisa santai seperti awal-awal baru saja datang tadi. Entah mengapa jantung berdetak dengan cepat. Mungkin ini wajar saja terjadi karena baru pertama kali ini aku telah dilamar seseorang laki-laki yang tak kucintai.


Aku mencoba menenangkan diri dan menormalkan kembali keadaan detak jantung. Sebelum memberi jawaban pada Iwan, sungguh aku benar-benar tak suka dan ragu jika ingin mengatakan sebuah penolakan. Tapi mau bagaimana lagi saat hati masih belum bisa mantap. Walaupun laki-laki yang melamarku sekarang memiliki kelebihan-kelebihan yang bisa membuatku terpesona, tapi hatiku belum tertata untuk mencintainya. Sungguh aku sedang disituasi sulit untuk mengatakan tidak. Rasa tak enak hati sebab dia adalah temanku, rasanya tak mau membuatnya terluka apalagi kecewa. Tapi jika aku mengatakan setuju, aku tak mau terjebak dalam membohongi atas perasaanku yang masih mencintai Alex.


"Gimana Amel? Maukah kamu menikah denganku?" tanyanya lagi sebab aku sedang melamun lama tak memberi jawaban.


"Maafkan aku, Iwan. Aku tak bisa menerima ini semua," ucap tolakku.


"Kanapa? Apa maksud kamu ini, hah?" teriak ucapnya yang sudah bangkit dari bersimpuh dihadapanku tadi.


"Maaf ... maafkan aku," ujarku sendu.


"Kenapa ... kenapa, hah? Apakah Alex masih di hatimu?" tanyanya melengkingkan suara.


Tak ada satu patah kata yang keluar dari mulutku, rasanya sungguh kelu sekali ingin memberi penjelasan.


"Kenapa diam? Berarti dugaanku benar, bahwa kamu masih mencintai, Alex. Iya 'kan?" tebaknya marah-marah.


"Apakah kamu belum sadar-sadar juga, Amel? Bahwa Alex itu sudah mati dan tak akan bisa kembali mencintaimu lagi." ngegasnya suara Iwan marah.


Plak, tanganku menampar Iwan tiba-tiba, akibat ucapannya yang telah menyinggung dan menyakiti perasaanku. Iwan terlihat kesakitan, mungkin aku terlalu kuat menamparnya. Sorot mata kami sudah sama-sama melotot menatap tajam.

__ADS_1


Akibat tak mau ada perdebatan lebih maupun pertengkaran, tanpa banyak kata lagi aku langsung melenggang pergi meninggalkan Iwan yang sedang tersulut emosi juga.


Prang ... prank ... preng, suara-suara gelas dan piring pecah yang kemungkinan telah dibanting Iwan, sebab mungkin kecewa atas jawabanku yang menolak lamarannya.


__ADS_2