
Cinta bisa mengalahkan semua. Pria yang selama ini selalu kujaga agar tidak lepas, kini mulai berubah sikapnya saat kami berada di Indonesia sekarang. Awalnya aku menolak untuk ketempat kelahiran namun Arnald terus memaksa, jadi aku hanya bisa pasrah dan mengalah.
"Kamu kenapa banyak berubah sekali, sayang? Kamu kelihatan sangat menjauhiku. Apakah aku sudah tak layak lagi untukmu?"
"Aku sangat mencintaimu, maka jangan pernah melepaskan. Mungkin aku tak akan bisa hidup tanpamu, jadi sedikitpun jangan lagi berubah sikap. Aku tahu kamu ingin mencari tahu jati diri, tapi tidak bisakah kamu menjagaku sebentar saja, sebelum ajal ini datang menghampiri." Tangisan terus saja meluap-luap.
Dalam kamar aku menangis tersedu-sedu, meluapkan segala sesak dada yang tertahan sejak kejadian dikamar Arnald tadi. Aku melihat dengan mata kepala sendiri, kalau sikapnya sedang aneh pada bik Amel. Tanpa sengaja melihat dia sedang diatas tubuh Arnald. Walau itu tidak disengaja, tapi kenapa mereka begitu menikmati moment itu.
Sempat geram dan kesal, namun aku ingin membuktikan dan menunggu jawaban kebenaran dari Arnald sendiri. Sungguh diluar dugaan kalau dia berani berbohong. Kecewa dengan luka, itulah yang terjadi padaku. Kenapa orang yang selama ini kujaga dan percaya, tega berbohong hanya demi wanita pembantu itu.
Apakah dalam diri Arnald masih menyimpan kenangan lama? Sehingga dia belum bisa menerima keberadaanku sekarang? Tapi sudah lama sekali kami bersama dan menapakki jalan hidup bersama ditahun-tahun terakhir ini. Kalau dilihat dimanakah kekuranganku yang sudah berbaik hati padanya? Ah, sudahlah mungkin hanya takdir masa depan, yang suatu saat nanti bakalan bisa menjawabnya.
Tok ... tok, suara ketukan pintu.
"Alena ... Alena?" Suara panggilan Arnald.
Tok ... tok, kembali lagi pintu diketuk. Gangang berkali-kali bergerak, mungkin Arnald mencoba masuk, tapi tidak bisa sebab memang sedang aku kunci dari dalam.
"Sayang, Alena ... Alena? Bolehkah aku masuk?" tanyanya.
Rasa enggan menjawab sedang terjadi, sebab masih merasa dongkol saja atas kebohongan Arnald tadi.
__ADS_1
Suaranya terus saja memanggil, namun sepatah katapun tidak ingin menjawabnya.
"Ayolah, Alena. Buka sebentar saja."
Tok ... tok.
"Kamu jangan mengurung diri begini. Aku tahu kamu didalam. Sekarang keluarlah. Kamu belum makan 'kan?" pinta Arnald.
Suara ketukan terus bergema, namun usaha Arnald hanya sia-sia saja untuk membujukku. Tubuh lemah hanya bisa tergolek dipembaringan. Sambil bercucurkan airmata, sikap masih cuek tak ingin segera membukakan.
"Alena ... Alena, sayang! Ayolah, buka pintunya. Kita makan bersama-sama ke bawah," bujuknya lagi.
"Suara kamu kok lemah begitu. Apa kamu sedang sakit?" Kecurigaannya.
Brok ... brok. Klek ... kleeek. Pintu terus dipaksa ingin dibuka.
"Aku baik-baik saja. Sekarang kamu pergilah, jangan berisik lagi sebab aku mau istirahat."
"Tidak bisa. Kamu pasti sedang tidak baik sekarang, jadi bukalah sebentar pintunya."
Arnald terus memaksa karena sedang tidak percaya.
__ADS_1
"Sekarang kamu buka pintunya dulu. Kalau tidak ingin kamu buka akan kudobrak pintunya," paksa Arnald.
Rasa pusing dikepala kutepis. Ancamannya terdengar memuakkan, sehingga badan yang lemah terpaksa bangun untuk menuruti permintaannya.
Badan terasa ingin ambruk saja, namun sekuat tenaga kutahan. Badan sudah berjalan terhuyung-huyung. Kaki berat sekali hanya sekedar untuk melangkah.
Ceklek, pintu langsung kubuka ketika anak kunci sudah kuputar.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu buka juga. Apa kamu baik-baik saja," Kecemasan Arnald langsung memegang bahuku.
"Aku baik," jawab dalam kelemahan.
"Astagfitullah. Apa yang baik. Lihat! Hidung kamu mengeluarkan darah."
"Mana? Tidak ada?" ucap tidak percaya.
"Sebentar. Kamu tunggu disini."
Tangan sudah ingin membuktikan, dengan cara meraba sekitaran bawah hidung. Ternyata benar saja jari-jari sudah dipenuhi oleh darah segar.
Pusing berat kepala langsung datang melanda. Pandangan kabur seketika. Berkali-kali mengelengkan kepala sebentar, agar bisa memulihkan kesadaran sepenuhnya. Badan mulai ringan ingin terbawa oleh hembusan angin.
__ADS_1