
Baru kali ini ditampar, rasanya pipi begitu sakit sekali. Mungkin tangan Alena yang berbobot itu bikin berdenyut kian ngilu sekarang.
Didalam kamar tangan terus mengelus pelan pipi yang sakit.
"Awas Alena, perlakuanmu ini akan selalu kuingat," guman hati yang begitu kesal.
"Tapi--? Ahhh ya, sudahlah. Ini memang murni kesalahanku.
Tok ... tok, sebuah ketukan bersuarakan kecil berhasil mengagetkanku yang tengah melamun.
"Bolehkah aku masuk sebentar," ucap suara Reynald.
"Ehh, Tuan. Ada apa, ya?" Sikap yang duduk disekitaran pembatas pembaringan kini berdiri tegak.
Kaki mulai melangkah kearah pacar keponakan majikan, yang sekarang tengah berdiri didekat pintu saat nenunggu jawaban izin.
"Tidak ada apa-apa, sih. Hanya sedikit ingin berbicara sama kamu. Apakah bisa?" tanyanya ragu.
"Bisa ... bisa, Tuan. Memangnya ada apa, ya? Kok kayak penting banget gitu."
Posisi kami sudah sejajar saling berhadapan ditengah-tengah pintu kamar.
"Aku tidak enak sama perlakuan kasar Alena tadi, jadi sebagai gantinya atas nama dia aku meminta maaf," Nada bicara yang sepertinya sedang tak enak hati.
"Ooh, masalah tadi? Kirain apaan."
"Iya, masalah itu."
"Tidak ada apa-apa, Tuan. Itu tadi memang murni atas kesalahan saya yang ceroboh."
"Iya, saya tahu. Tapi tidak seharusnya Alena langsung main tangan gitu."
"Wajar saja nona Alena melakukan itu, sebab memang nyata-nyata kalau baju itu saya rusak."
"Tapi tak secepatnya langsung main tangan gitu, jadi saya benar-benar minta maaf atas sikapnya tadi." Kedua tangan Arnald sudah bertangkup didepan dada.
"Iya, Tuan. Santai saja. Saya sudah memaafkan dia, kok."
"Baguslah kalau begitu. Saya sedikit khawatir dan takut saja, kalau sikapnya itu banyak orang yang akan menjauhi. Tapi rasanya susah untuk menegur dia agar tidak melakukan itu, sebab sifatnya memang agak keras dan suka emosi. Emm, mungkin ini efek ayahnya yang waktu kecil meninggalkan dia demi wanita lain," jelas Arnald yang bercerita ngalor ngidul.
"Ooh, begitu."
"Waduh, kenapa majikan aku yang satu ini bisa curhat begitu mudahnya mengenai pacar dia? Apa ngak takut kena semprot saat Alena memang suka emosian," rancau hati sedikit khawatir.
__ADS_1
"Sekali lagi minta maaf, ya?" Lagi-lagi tangan bertangkup.
"Iya, Tuan. Santai saja."
"Syukurlah, kalau kamu mau memaafkan kesalahan Alena itu."
"Iya, sama-sama. Memang sewajarnya aku memberi maaf. Selain memang kesalahan saya, yang jelas nona Alena juga adalah majikan, jadi harus tetap legowo juga hati ini untuk menerima akibatnya."
"Salut sama kamu. Masih muda tapi bisa mengerti akan keadaan dan mau bersabar dalam keadaan apapun itu," pujinya.
"Aah, Tuan bisa aja."
Senyuman yang terukir dibibir, telah berhasil terlempar ke arah Arnald. Anehnya dia membalas juga, sehingga membuat kerinduan pada suami semakin mengebu-gebu saja, saat sekelebat teringat akan kenangan kami ditambah lagi wajah Arnald sangat mirip.
"Baiklah. Semua sekarang sudah jelas dan tidak dipermasalahkan. Aku berharap kamu lain kali hati-hati jika menghadapi Alena lagi, sebab tahu sendiri sekarang jika sifatnya selalu emosian," ujarnya memperingatkan.
"Iya, Tuan."
"Semoga kejadian hari ini tidak terulang lagi."
"Hmm. Amiin."
"Ya sudah. Kalau begitu saya permisi dulu, takutnya lama-lama kalau disini maka Alena akan makin ngambek," cakap ingin izin pergi.
"Makasih, ya."
"Iya."
Tubuhnya mulai berbalik membelakangiku, tapi anehnya langkah kakinya tak kunjung jua diangkat untuk segera meninggalkan kamar khusus pembantu.
"Oh, ya."
"Iya, ada apa, Tuan? Apa ada lagi yang ingin dibicarakan?" tanyaku heran.
"Iya. Ini masalah sama kamu. Apa kita sebelumnya pernah ketemu?" Wajah majikan Arnald sudah berkerut, sambil netra menatap seksama tubuhku dari atas sampai bawah.
"Ketemu yang bagaimana ya, Tuan?" Pertanyaan majikan yang membuat makin bingung.
"Ahh, gimana menjelaskannya, ya!" Tangan sudah mengusap tekuknya sendiri.
"Maksudnya itu ketemu seperti, apa?" Pertanyaan yang kian tidak mengerti.
"Aku hanya merasa kenapa melitat wajahmu itu seperti sudah mengenal lama, tapi lupa dimana kita itu ketemu. Anehnya sampai-sampai bayangan wajahmu itu nampak tak asing lagi," ungkapnya malu-malu.
__ADS_1
"Hah, apa maksud majikan sekarang, ya? Apa dia beneran Alex suamiku? Tapi, kenapa dia seperti mengingat wajah ini, tapi tak mengenaliku sama sekali. Aneh betul semua ini," rancau hati sedang heran.
"Masak sih, Tuan. Perasaan baru pertama kalinya kita bertemu hanya dirumah ini "
"Iya juga, sih. Tapi anehnya kayak kenal lama banget sama kamu."
"Mungkin itu hanya perasaan Tuan saja."
"Tapi ini memang sungguhan." Ngototnya dia berbicara seperti benar saja yang dia bilang.
"Emm, saya juga tidak tahu."
"Ataukah mungkin Tuan ketemu sama orang yang seperti saya, namun lupa akan keberadaannya sekarang."
"Mungkin saja, sih. Tapi ini beneran aneh sama kamu saja. Baru ketemu tapi kayak sudah lama mengenal dan pernah akrab," kekuhnya mengungkapkan.
"Wah, saya juga kurang tahu kalau masalah itu."
"Aneh juga, sih. Benar-benar bikin penasaran."
"Eghem ... hem ... hmm!" Tiba-tiba ada suara deheman seorang wanita.
Memeriksa sumber suara itu bikin netra terbelalak, saat tahu kalau Alena kini tengah berdiri tepat dibelakang Arnald.
"Kamu ngapain disini sayang!" sapanya yang tengah bermanja ria langsung meraup pergelangan tangan Arnald.
"Heheehe, enggak kok sayang. Tadi cuma mau minta bantuan Bibi untuk minta dibuatkan teh dan bawa camilan kedalam kamar. Soalnya para pembantu pada sibuk sama kerjaan masing-masing, dan kebetulan hanya Bik Amel yang sedang nganggur," jawab Arnald berbohong.
"Ooh, kukira ada hal penting apa!" Tatapan Alena sudah sinis tak suka ke arahku.
"Iya itu, Nona."
"Hmm. Ya sudah, kita pergi saja dari sini. Lagian ngapain juga berlama-lama disini. Biar pemesanan kamu dibawa menyusul saja nanti," ketus perkataan Alena.
"Ok 'lah."
"Ya sudah, Bik. Jangan lupa bawa permintaan saya ke kamar nanti." Netra Arnald sudah memberi kode mengedipkan mata sebelah, tanda agar tidak membocorkan percakapan kami tadi.
"Oh iya, Tuan. Akan saya bawa kesana segera." Kepala sudah mengangguk pelan.
Drama kami berdua benar-benar hebat, bisa membohongi Alena tanpa dia mencurigai kami sama sekali.
Setelah berpamitan, mereka berdua benar-benar sudah pergi. Akupun langsung melakukan pekerjaan yang disuruh. Kalau terlambat saja, pasti mulut Alena akan terus saja memgoceh seperti burung.
__ADS_1