
Sekujur badan terus saja kupijit, saat merasakan pegal diseluruh persendian. Kejahatan ibu tiri yang selalu jahat memperlakukanku sebagai pembantu, membuatku sering kali merasa kelelahan.
Genap setahun sudah aku lulus sekolah. Semenjak Alex dan orang tuaku meninggal, hidupku sudah tidak berwarna lagi ditambah penyiksaan keluarga tiri, membuat hari-hariku begitu terasa suram penuh oleh penyiksaan. Tidak ada kebahagiaan yang bisa kurasakan, hanya bik Sarilah semangatku saat ini. Karena tak tahan atas perlakuan keluarga baruku, sekarang aku mencoba kabur dari rumah sendiri bersama bik Sari.
"Apa tindakan kita ini ngak salah, non?" tanya bik Sari sudah merasakan ketakutan.
"Ngak, bik. Ini sudah benar. Kita harus cepat pergi dari sini, sebelum nyawa melayang akibat penyiksaan tiap hari," jawabku mantap.
"Baiklah kalau begitu, kita harus berkemas secepatnya," Akhirnya bik Sari setuju juga atas ideku ini.
Foto dan barang-barang yang berharga kubawa semua, jika ada keperluan mendadak nantinya bisa kujual. Koper rasanya sudah penuh tidak muat lagi oleh barang-barang peninggalan kedua orangtuaku. Keadaan rumah sedang sepi, karena keluarga tiri sedang ke luar kota untuk liburan jalan-jalan, jadi inilah kesempatanku untuk menjalankan aksi yaitu kabur dari rumah.
"Ayo non, cepat ... cepat. Nanti keburu keluarga tiri non, datang juga!" suruh bik Sari agar aku cepat membereskan pakaian.
"Iya bik, ini sudah hampir selesai," jawabku gugup akibat ketakutan.
Kami berdua akhirnya memberanikan diri untuk kabur, yaitu menginjakkan ke kota baru yaitu Semarang. Rasa nyaman akibat meninggalkan orang-orang yang kejam, terasa menyenangkan sekali buatku. Kami pergi menjauh untuk mencoba mencari kebahagiaan dan peruntungan hidup dikota yang baru.
"Selamat tinggal rumah kenangan. Untuk sementara aku aku pergi tak bisa menjagamu, tapi aku berjanji suatu saat nanti pasti akan kukembalikan kamu jadi milikku," ucap janjiku dalam hati.
Dengan sejumput keberanian dan rasa percaya akan kuasa Allah, aku menguatkan hati dan membulatkan tekad, bahwa kebahagiaan akan tetap menyertai perjalanan kami dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Begitu kuatnya tekad ini, untuk segera keluar pergi dari rumah sendiri. Walau terasa berat meninggalkan rumah yang menjadi saksi biksu perjalanan kehidupanku, diri ini harus tetap merelakannya.
Teringat atas sosok-sosok yang tidak mau atas keberadaanku membuat sakit hati saja atas perlakuan mereka, lebih baik kubuang jauh-jauh ingatan yang menyakitkan itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah kehidupan kita sudah aman dari para penyiksa itu?" ucap syukur bik sari.
"Iya, bik. Alhamdulillah kita akhirnya dijauhkan dari mereka. Semoga saja mereka tak mencari kita lagi supaya tak menyusahkan," balas jawabku merasa lega.
"Iya, non. Benar."
Betapa kehidupan kami yang keras, harus ditanggung diusiaku yang masih tergolong masih muda, apalagi selama ini aku selalu dimanjakan dan bergantung pada orang terdekatku. Mulai detik inilah hidup baruku akan dimulai yaitu belajar untuk mandiri.
Aku tidak ingin menjadi beban bik Sari dan harus berkewajiban membantu meringankan pekerjaan beliau, dengan cara menempuh mencari pekerjaan. Keadaan kami sekarang sedang sulit, membuatku bertekad suatu saat nanti bisa membalikkan keadaan, yang membawa kebahagiaan khusus untuk bik Sari.
Kehidupan berjalan seperti biasa. Aku masih melanjutkan pendidikan, yaitu berkuliah mengambil jurusan bisnis manajemen sambil bekerja paruh waktu di Supermarket.
Bik Sari kini merawatku dengan baik dan sudah mengangap sebagai anaknya sendiri, tak ayal sekarang akupun memanggilnya sebagai ibu. Beliau senang sekali kuanggap sebagai orangtua, karena setelah kepergian Alex beliau juga kesepian sendirian. Tapi berkatku beliau bisa semangat hidup lagi, karena mempunyai anak lagi walau beliau tak mengandungnya.
"Terima kasih, Bu. Kamu telah sudi berbaik hati merawatku," ujarku pada bik Sari.
"Kalau ibu tidak memiliki kamu, mungkin ibu tidak akan sadar akan rasa kematian Alex dari kesedihan yang begitu melelahkan, terima kasih Amel. Sekarang kamu sudah hadir dikehidupan ibu, dengan kelembutan hatimu yang juga kini sedang rapuh," isak tangis ibu dengan memeluk erat tubuhku.
"Iya, bu. Kita harus saling menguatkan satu sama lain, untuk terus melanjutkan hidup dimasa depan," ucapku kini pilu juga.
Aku hanya bisa memeluknya kembali secara erat, untuk bisa meredakan kesedihannya.
Bagiku sekarang ini adalah hari-hari yang terasa begitu melelahkan dan menguras emosi, ditambah akan rasa patah hati sekaligus mencari cara untuk mengobatinya. Hanya dengan sabarlah aku akan menjalani semuanya walau terkadang terasa susah dan berat.
Aku mencoba tersenyum tipis, dengan buliran airmata yang menetes. Kini aku tidak bisa berbicara sepatah katapun, rasa sakit dalam hati kini membuatku sangat lemah, tapi juga harus kuat untuk menjalani segala rintangan. Kutatap lekat netra ibu dan menghapus airmatanya dengan lembut dengan penuh kasih sayang. Kupegang bahunya dan kuusap perlahan-lahan ke atas bawah, agar membuatnya terasa nyaman supaya tidak bersedih lagi.
__ADS_1
"Terima kasih, Amel! Kamu mau menjadi anak ibu dengan kehidupan miskin seperti ini," ucap beliau tak enak hati.
"Iya, ibu. Amel akan belajar cara menjalani kehidupan ini walau dengan kemiskinan. Yang terpenting sekarang adalah kita bisa bahagia tanpa ada gangguan dari orang-orang itu," jawabku yang terus memeluk beliau.
"Heeh, benar Amel."
Begitulah hari-hari kami menjalani kehidupan sebagai anak dan ibu walau tak sedarah.
*******
Sudah setegah tahun lamanya kami meninggalkan kota kelahiranku. Kehidupan baru telah menyambut dengan baik dan gembira walau dengan cara suka cita. Walaupun ini adalah tempat baru, tapi alhamdulillah sekali sama teman dan para tetangga yang baik hati semua. Kehidupan kami yang miskin hanya bisa mengekos di tempat yang kecil, namun semuanya tetap ramah dan selalu baik kepada kami.
Bik Sari atau ibu baruku kini berprofesi sebagai penjual gorengan keliling. Kadang ketika belum berangkat kuliah, kusempatkan waktu luang untuk membantu beliau di dapur. Kadang kalau cuti kuliah, maupun kerja masuk shif malam, kusempatkan diri ini untuk membantu berjualan keliling, agar terpenuhinya kebutuhan sehari-hari kami yaitu makan.
Kini aku baru menyadari, ternyata hidup jadi orang kaya tak selamanya enak, banyak sekali rintangan dan musuh yang ingin menguasai harta kita. Walau kami sekarang hidup serba pas-pasan, kami tetap bersyukur menerima apa adanya riski yang diberikan Allah.
Kadang banyak teman terus mencemooh kehidupanku, yang katanya cantik-cantik kok dagang gorengan, tapi kuacuhkan semua rasa malu itu demi kebahagiaan kami berdua. Dagangan ibu kadang kutitipkan di kantin tempatku kuliah.
"Amel, kamu cantik dan pintar, kok mau sih jualan gorengan. Gak malu apa?" tanya temanku gamblang.
"Disini ngak ada yang seperti kamu, lho! Banyak yang gengsi dan tajir semua mahasiswa sini," celetuk teman lain saat aku tengah menyetor gorengan ke kantin.
"Ngapain harus malu, nyuri saja ngak. Aku bukan orang yang gaya-gayaan seperti kalian, apalagi menghambur-hamburkan uang. Bagiku uang 500 perak sudah berarti untukku dan ibu, untuk mengisi kekosongan perut," jawabku santai namun penuh penekanan.
"Heeeh, dasar anak orang miskin," hina mereka.
__ADS_1
Mereka jadi malu sendiri atas jawabanku. Aku tidak malu menjalani ini semua, karena dulu sudah merasakan hidup kaya selalu berfoya-foya, tanpa memikirkan orang yang sedang membutuhkan bantuan. Jadi sekarang ini barulah bisa menyadari, apalah arti sebuah kekayaan harta, bila dibawah kita masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita